
Drrtt.. drrtt.. drrtt...
Ergan mengambil ponsel didalam saku jasnya. Melihat Karisma menelponnya, ia langsung menghela napas berat. Pasti kedua orang tuanya sedah tahu berita ini. Ergan menekan pelisnya sambil berpikir, mungkin sudah waktunya semua orang tahu siapa Amelia baginya.
"[Halo]" Jawab Ergan setelah melihat wajah Karisma dilayar ponselnya.
"[Ergan! apa-apaan ini? wanita itu Amelia bukan?]" Cevar Karisma.
"[Iya Mah.]"
"[Hari ini Mama dan Papa pulang. Kamu harus jelaskan semuanya. Kami menunggumu di rumah jam dua siang.]"
"[Iya Mah, Ergan akan kesana.]"
Ergan menutup sambungan teleponnya. Ia menghela napas berat sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Arghh!"
Ergan mondar-mandir didepan pintu IGD, perasaan belum tenang sebelum mengetahui keadaan Amelia.
"Tir, kenapa dokternya lama?" Kesal Ergan.
"Sabar bos!"
"Berikan pengawal untuk Amelia selama di rumah sakit." Perintah Ergan.
"Siap boss!"
"Tir, sejak kapan Rania tau hubunganku dengan Amel?"
"Entahlah bos, tapi sepertinya nyawa Amelia dalam bahaya. Ini baru Rania yang mendatanginya, belum Tuan besar dan nyonya besar. gw jadi nggak kebayang, ngeri." Tirta bergidik ngeri mengingat jika hal itu terjadi.
"Jangan sembarangan! gw nggak akan biarin siapapun menyakitinya lagi. Termasuk Mama dan Papa."
Ergan segera menghampiri dokter saat melihatnya keluar dari ruang IGD.
"Dok, gimana dengan istri saya?"
"Pasien baik-baik aja, Luka di wajahnya juga sudah kami obati. Ada resep obat yang harus ditebus."
"Syukurlah. Apa istri saya boleh pulang dok?"
"Boleh."
"Terimakasih dok."
"Sama-sama, permisi." Dokter kembali masuk.
Setelah beberapa menit Amelia keluar bersama seorang suster. Beberapa bekas luka masih berbekas diwajahnya. Amelia menatap Ergan dengan sendu, matanya berkaca-kaca mengingat kejadian di kantornya.
Ergan segera menghampiri, memeluk dan mencium puncak kepala Amelia. Hatinya juga sakit melihat wanita yang dicintainya diperlakukan dengan kasar. Meskipun rasa cintanya pada Rania belum hilang, namun dia tidak membenarkan tindakannya dengan mempermalukan Amelia ditempat umum, apa lagi di medsos.
__ADS_1
"Kita pulang." Ergan merangkul pinggang Amelia dan membantunya berjalan.
"Jangan sentuh aku!" Sentak Amelia.
Ergan tetap kekeh tidak melepaskan tangannya. Ia tahu bagaimana perasaan Amelia saat ini padanya. Amelia pasti sangat marah padanya.
"Jangan membuatku marah! ini rumah sakit. Kita pulang di apartemen sekarang." Bisik Ergan membuat Amelia menghembuskan napas kasar.
"Kenapa jadi dia yang marah? dasar buaya! semuanya laki-laki sama saja. Tidak cukup hanya dengan satu wanita." Bathin Amelia.
Ergan membantu Amelia masuk kedalam mobil. Sejak menikah memang Ergan selalu memperhatikan kenyamanan Amelia. Mulai dari hal kecil hingga besar tidak pernah lepas dari perhatiannya. Itulah yang membuat Amelia dengan mudah jatuh cinta padanya.
Sepanjang jalan Amelia kembali diam menatap kosong keluar jendela, bahunya bergetar, air matanya terus mengalir menandakan dia dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sakit rasanya saat mengetahui suaminya telah menyimpan kebohongan besar. Bodohnya lagi dia terjebak dalam pernikahan rahasia.
Tirta memarkirkan mobil di lobi, ia langsung pulang setelah Ergan dan Amelia turun dari mobil.
Ergan membawa Amelia masuk ke dalam unitnya kemudian menuju kamar. Membaringkan tubuh Amelia dengan perlahan lalu memasang selimut sebatas perut.
Amelia berbalik membelakangi Ergan yang sedang duduk di sisinya. Air matanya kembali mengalir.
"Sayang...! aku mohon berhenti menangis." Ergan mengusap wajahnya dengan kasar.
Hening...
"Please..! jangan diam seperti ini. Maafkan aku." Rasanya begitu sakit melihat Amelia memilih diam. Sikap Amelia yang ceria dan selalu membuatnya tersenyum kini hilang begitu saja.
Hening...
"Keluar! biarkan aku sendiri."
Amelia butuh waktu untuk sendiri, pikirannya masih kalut. Ia bingung menghadapi hari esok. Bagaimana dia bertemu dengan orang-orang yang kenal dengan dirinya jika berita tentang dirinya heboh di medsos.
Ergan mencoba menggenggam tangan Amelia, namun Amelia segera menarik dan menyembunyikan tangannya dibalik selimut.
"Hikss, hikss... Jadi, ini alasan yang sebenarnya kenapa pernikahan kita dirahasiakan?" Lirih Amelia disela tangisnya.
Ergan menghela napas berat, bibirnya mendadak kaku, lidahnya keluh tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Setiap kata yang keluar dari bibir Amelia membuat dirinya semakin bersalah. Ergan berbaring di samping Amelia, merengkuh tubuhnya penuh kasih, ia sangat takut kehilangan Amelia.
"Maafkan aku sayang, tidak ada niat sedikitpun untuk berbohong padamu. Aku terpaksa melakukan ini karena tidak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri. Aku tidak akan melepasmu apapun yang terjadi. Aku mohon tetaplah di sisiku, maka kamu aman bersamaku." Ungkap Ergan.
"Cukup Mas! aku tidak mau denger apapun, semua sudah jelas. Aku tau diri dimana posisiku saat ini. Lebih baik kamu pergi dari sini dan urus keluargamu." Bentak Amelia dengan suara bergetar, tubuhnya tetap memunggungi Ergan.
"Apa maksud kamu? kamu menyuruhku kembali pada Rania? Lalu bagaimana denganmu? sedikitpun tidak pernah terbesit di pikiranku menyakiti hatimu. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Hening selama beberapa menit.
"Ceraikan aku Mas, itu yang terbaik!"
"What?! tidak semudah itu, Mel. Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi."
Ergan langsung berdiri dan pergi keluar dari kamar. Lebih baik dia memberi Amelia waktu untuk sendiri dan menangkan pikirannya. Jika dipaksakan terus menerus, bukannya menyelesaikan masalah, mereka malah berdebat. Niatnya ingin menjelaskan bagaimana rumah tangganya dengan Rania hingga pisah rumah, tapi kata-kata Amelia telah melukai hatinya.
__ADS_1
Ergan menuju rumah orang tuanya, disana sudah ada Rania, dan kedua orang tuanya. Ergan memarkirkan mobilnya kemudian segera masuk kedalam.
Plakk!
Sebuah tamparan yang cukup keras membekas di pipinya.
"Mama nggak pernah mengajarkan kamu menjadi laki-laki pengecut!" Geram Karisma.
Belum sempat Ergan duduk disofa, Karisma sudah meluapkan emosinya.
"Ma, biarkan Ergan duduk."
Karisma mundur kemudian duduk di sofa di ikuti Ergan duduk di hadapannya.
Ergan bersimpuh di hadapan Karisma, memegang kedua lututnya sambil menunduk, jidatnya menyentuh kedua tangannya.
"Maafkan Ergan Mah." Ergan kemudian menoleh kearah Andreas, "Pah."
"Kamu tau kesalahan apa yang sudah kamu lakukan son?!" Tanya Andreas matanya menatap Ergan penuh intimidasi.
"Aku tau Pah." Jawab Ergan yakin.
"Kalau kamu tau kenapa masih selingkuh?" Geram Andreas.
"Dia juga istriku Pah, aku mencintainya." Jawab Ergan menunduk. Ia tidak berani menatap wajah kedua orang tuanya.
"Kalian sudah menikah? Tapi kenapa harus dia Er, kamu tau kan adikmu Brian menyukai gadis itu." Sentak Karisma.
"Maaf Mah, terjadi kesalahan diantara kami yang membuat aku harus menikah dengannya." Jelas Ergan.
"Kesalahan?" Beo Karisma.
"Maaf Mah, Ergan khilaf."
"Hikss, hanya pernikahan siri kan? talak aja selesai Mas. Tinggalkan perempuan itu. Dia hanya duri dalam pernikahan kita." Melas Rania.
"Pernikahan kami sah dimata hukum Rania!"
"Ckk..! berani sekali kamu mas! aku akan menuntut kalian!" Ancam Rania dengan nada tinggi.
"Diam kamu. Aku seperti ini, itu juga karena kamu! Mau menuntutku atas dasar apa, hah?" Bentak Ergan membuat Rania membeku.
"Karena kalian menikah tanpa persetujuan ku. Pernikahan kalian tidak sah! Kita masih sah suami istri."
"Silahkan! aku tidak takut."
.
.
Bersambung........
__ADS_1