
Amelia naik taksi online menuju terminal bus. Ponsel Amelia berdering beberapa kali namun ia mengabaikannya. Ia mematikan ponselnya kemudian menuju toko handphone dipinggir jalan. Rupanya Amelia menjual handphonenya yang berlogo apel digigit separuh dengan handphone android biasa. Sisa uangnya dia simpan sebagai bekalnya di tempat lain. Ia juga mengganti kartu lamanya menjadi kartu baru.
Setelah urusan ponsel beres, Ia ketoilet mengubah penampilannya. Ia nerubah menjadi gadis cupu dengan tompel di wajahnya, rambut sebahunya diikat serta kaca mata tebal.
Ya, Dia harus merubah penampilannya agar Ergan tidak mudah menemukannya. Ergan memiliki banyak anak buah di sekitarnya, mungkin juga sedang mengawasinya saat ini. Setelah merasa cukup, ia naik salah satu bus tanpa menoleh yang entah kemana tujuannya.
Amelia bernapas dengan lega saat bus mulai berjalan meninggalkan terminal. Itu artinya dia berhasil mengelabui anak buah Ergan yang sedang mengawasinya.
Didalam Bus, Amelia duduk di kursi berdampingan dengan wanita paruh baya. Ia duduk melamun memikirkan bagaimana Ergan saat ini.
Mungkin laki-laki itu sedang kebingungan mencarinya saat ini.
Amelia sadar apa yang dilakukannya salah, menjadi orang ketiga membuatnya menderita tekanan batin, ia ingin mengubur perasaannya dalam-dalam untuk Ergan. Dan akhirnya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Ergan yang keluarganya yang hampir bercerai akibat dirinya. Air matanya terus mengalir, berat rasanya meninggalkan Ergan saat ia mulai merasa bahagia memilikinya.
Amelia memegang perutnya sedikit perih, mungkin karena ia lapar tidak sempat makan sebelum pergi dari Apartemen.
"Kamu sakit perut? wajahmu juga pucat nak." Tanya wanita paruh baya di sampinya sedikit khawatir.
"Mungkin ini karena saya lapar bu', saya belum makan." Jawab Amelia jujur masih memegang perutnya yang sakit.
Wanita itu mengeluarkan rantang kecil dari dalam tasnya kemudian memberikan pada Amelia. Ia memang selalu membawa makanan jika bepergian jauh. Apalagi perjalanan dari kota ke desanya butuh waktu sepuluh jam.
......................
Malam hari pukul delapan Ergan pulang dari kantor, Ia membuka pintu apartemennya dengan penuh semangat. Ia akan mengajak Amelia menemaninya meeting dengan Mr. Roland.
Sampai di dalam, ia tidak menemukan Amelia, hatinya mulai resah dan cemas. Ada sesuatu yang mengganjal didalam hatinya tapi ia tidak tahu itu apa. Kecemasannya semakin meningkat hingga ia membuka lemari pakaian Amelia. Ia tidak menemukan koper dan sebagian pakaian Amelia disana.
"Sayang... kamu dimana?" Panggil Ergan mulai panik.
Kini pandangannya tertuju pada kamar mandi, dalam hati ia berharap semoga dugaannya salah dan Amelia sedang mandi didalam sana.
Ergan berpindah ke kamar mandi, tanganya memegang gagang pintu seraya memasang telinga pada daun pintu
Tok.. tok.. tok..
"Sayang.. kamu didalam?"
__ADS_1
Tidak ada sahutan ataupun suara air dari dalam. Dengan jantung berdebar ia membuka pintu kamar mandi lebar-lebar, langkahnya pelan tapi pasti menuju bathtub, biasanya Amelia berendam hingga tidur, tapi tidak juga menemukan istrinya di bathtub.
Ergan mengusap wajahnya dengan kasar karena tidak menemukan istrinya, kemana dia? Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Amelia, tapi Amelia tidak mengangkatnya, bahkan nomor ponselnya tidak aktif. Ergan mencoba mencari lokasi Amelia lewat ponsel pintarnya, namun sepertinya kalinini Amelia lebih pintar darinya.
Ergan semakin panik berlari menuju balkon dan dapur, mungkin istrinya sedang memasak untuknya, namun Amelia juga tidak ada, bahkan meja makan masih kosong.
Ergan mengambil ponselnya memeriksa cctv Apartemennya. Betapa terkejutnya Ergan saat melihat Karisma dan Rania datang. Ergan memperhatikannya dengan wajah memerah, bahkan ia mengepalkan kedua tangannya saat Rania menampar wajah Amelia dan melempar Amelia dengan bantal.
Mata Ergan tak berkedip, netranya menatap tajam bagaimana istrinya diperlakukan, saat di berikan cek, saat menangis, saat ke kamar, saat dia menulis surat sambil tersedu-sedu, dan saat Amelia keluar menarik kopernya. Hatinya sangat sakit melihatnya, wajahnya memerah menahan amarah yang hampir meledak.
Ergan segera menuju ruang tamu, kenapa dia tidak melihat kearah meja sejak masuk apartemennya?Mungkin karena terlalu semangat, makanya ia langsung kekamar.
Ia mengambil surat yang Amelia tulis dan membacanya.
##########
Dear Mas Ergan.
Maaf untuk cinta yang datang diwaktu yang salah. Aku tidak ingin merusak rumah tangga dan kebahagiaan wanita lain karena obsesi dan ambisiku.
Hari ini aku pergi membawa cinta dan kenangan kita. Biarlah itu menjadi kesalahan terbesar dan titik terendah dalam hidupku.
Lupakan aku! Anggap saja semua yang terjadi diantara kita ,hanya mimpi indah disaat kita tidur. Saat bangun dan membuka mata, semuanya kembali seperti semula, sama seperti dua tahun lalu sebelum kita bertemu.
Kembali dan berbahagialah dengan keluarga Mas, bukalah lembaran baru dan mulai dari awal kembali. Sama seperti yang aku lakukan saat ini.
Sampaikan permohonan maafku pada Mbak Rania. Sungguh...! Aku tidak bermaksud merusak kebahagiaannya, aku menyesal karena telah menyakiti hatinya.
Maaf Mas, aku memilih pergi bukan karena menyerah, tapi inilah yang terbaik.
Saat Mas membaca surat ini, Aku sudah pergi jauh. Tolong, jangan mencariku lagi. Hubungan kita sudah selesai.
Semoga Mas selalu bahagia
From Amelia.
###########
__ADS_1
Hati Ergan pedih bagai tertusuk pedang beribu-ribu kali. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuhnya lemas tak bertenaga, separuh hatinya telah pergi meninggalkannya. Pandangannya kosong setelah membaca isi surat Amelia, tanpa sadar buliran air mata keluar dari sudut iris matanya.
"Tidak sayang...! jangan lakukan itu, jangan tingglkan aku. Arghh..!" Teriak Ergan sambil mengepal surat Amelia.
Ergan mengambil ponselnya kemudian menghubungi Tirta.
"Halo."
"Tir, batalkan meeting dengan Mr Roland. Aku harus mencari Amelia sekarang."
"Tunggu! Amelia pergi dari Apartemenmu?" Tanya Tirta sambil berpikir. Ia tidak mungkin membatalkan Meeting dengan Mr. Roland karena hanya ini kesempatan terakhirnya.
"Ia dia benar-benar pergi meninggalkanku."
"Dasar bucin tingkat dewa!" Batin Tirta.
"Biar anak buah gw yang mencarinya. Kita tetap meeting dengan Mr. Roland karena ini juga penting. Setelah meeting selesai, gw janji, temenin lo mencarinya. Gw jemput lo sekarang." Putus Tirta.Ia tidak memberi kesempatan lagi pada Ergan untuk bicara karena Ergan pasti lebih mengutamakan mencari Amelia.
Tirta tidak ingin Ergan kehilangan segalanya, Jika perusahaan bangkrut otomatis, Ergan akan kehilangan keduanya, Amelia dan perusahaan. Tapi jika Ergan memenangkan proyek ini, dia bisa membangkitkan perusahaannya dan bersama Amelia kembali.
Tidak lama kemudian Tirta tiba di apartemen Ergan. Betapa terkejutnya Tirta saat masuk dan melihat kekacauan yang dibuat Ergan. Semua hiasan di dinding jatuh, pecahan beling dimana-mana, semua perabot rumah sudah bergeser, bahkan Tirta tidak bisa berjalan karen terhalang kursi.
Apa separah itu jika sedang patah hati? ihh, Tirta bergidik ngeri sambil terus berjalan mencari keberadaan Ergan. Pria itu berada di dalam kamar, duduk di sisi tempat tidur memegang ponsel sambil melamun. Bahkan Tirta dapat melihat air mata di sudut matanya dengan pandangan kosong.
"Siapa yang mengawasi Amelia?" Tanya Ergan.
"Sebentar, gw hubungi Tommy." Tirta mengambil ponselnya kemudian menghubungi Tommy. Tommy memberi tahu jika Amelia ke terminal bus. Tapi dia kehilangan jejak dan masih berusaha mencarinya.
"Dia kehilangan jejak. Rupanya istrimu semakin pintar mengelabui kita." Puji Tirta membuat Ergan menatapnya tajam.
"Gw hancur, Tir! Dia pergi membawa separuh nyawaku." Lirih Ergan membuat Tirta yang tadinya ingin mengumpat menjadi iba.
Tirta menghela napas berat, bagaimana perusahaan akan maju jika bosnya bagai raga tak bernyawa?
"Siapa bilang lo hancur? ini baru awal perjuangan lo. Gw sudah ingatkan sebelum lo menikah bukan? Jika lo nggak ikut meeting malam ini, itu artinya lo menyerah dan kalah. Lo pasrah dan tetap harus bersama Rania." Jelas Tirta.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....