Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Panggilan Sayang


__ADS_3

Matahari mulai meninggi, cahaya mulai menyinari dari balik kaca jendela. Sepasang pengantin baru masih terlelap dalam mimpi indahnya. Saling berpelukan seakan tidak ingin terpisahkan.


Di kamar lain, Lidya sudah siapa untuk sarapan, sedangkan Tirta sudah menunggu didepan pintu kamar Ergan.


Tirta bolak-balik kayak setrika didepan pintu kamar Ergan. Sesekali matanya menunduk menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Dengan ragu-ragu tangannya terangkat ingin memencet bel, tapi dia membatalkan niatnya takut Ergan terganggu dan bosnya marah. Tirta jadi dilema, mengetuk salah, tidak mengetuk juga salah karena Lidya harus sarapan sebelum berangkat. Sempat terlintas dikepalanya apa yang sedang Ergan dan Amelia lakukan didalam hingga belum bangun di jam delapan.


"Arghh... apa yang aku pikirkan!" Kesal Tirta setelah setengah jam menunggu tapi batang hidung bosnya belum juga muncul. Ia segera menepis pikiran kotonya kemudian menjernihkan pikirannya.


Sebentar lagi Lidya harus ke bandara sementara Ergan dan Amelia belum juga keluar kamar.


Tirta berpikir sejenak, kemudian pergi menuju kamar Lidya.


"Bodo amatlah dengan Bos yang nggak tau waktu ini!" Geram Tirta.


Ting.. tong.. ting.. tong..


Tirta memencet bel kamar Lidya.


Perempuan paruh baya itu keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Meski usianya sudah tua namun kecantikannya masih tetap terpancar. Tirta menilai jika kecantikan Amelia diturunkan dari ibunya.


"Maaf Tante, Saya menjemput untuk sarapan." Ujar Tirta sambil menunduk.


"Loh, Ergan dan Amelia nggak ikut sarapan?" Tanya Lidya sambil mencari keberadaan pengantin baru itu.


"Mmmm.. itu, anu.. mereka belum bangun." Jawab Tirta kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Lidya diam sejenak kemudian tersenyum, kini dia mengerti jika mereka pasti masih tidur.


"Sudah, biarkan saja mereka istirahat, mungkin mereka masih kelelahan. Ayo kita aja yang sarapan, jika mereka tidak sempat mengantar Tante ke bandara, kamu aja, bisa kan?" Ujar Lidya sambil menutup pintu.


"Bisa Tante, silahkan. "


Tirta mempersilahkan Lidya berjalan lebih dulu. Saat didepan pintu lift, Tirta segera menekan tombol lift kemudian mereka sarapan bersama.


Tirta dan Lidya hampir menyelesaikan makanannya, tapi tiba-tiba Ergan dan Amelia muncul dihadapannya kemudian mengambil kursi untuk ikut sarapan.


"Maaf, Mah, kami kesiangan." Ujar Ergan setelah duduk, membuat Amelia tersipu malu.


"Nggak apa-apa, Mama seneng, itu artinya nggak lama lagi Mama akan punya cucu. Ia kan Meli?" Goda Lidya.


"Ihh.. Mama." Amelia jadi salah tingkah, wajahnya semakin memerah karena malu, bagaimana tidak jika disana juga ada Tirta.


Tapi pria itu tidak bereaksi, dia tetap fokus pada makanannya.


"Ayo sarapan, kalian bisa antar Mama ke bandara kan?" Tanya Lidya.


"Tentu saja Mah, biar Ergan dan Meli yang antar Mama," Jawab Ergan kemudian beralih pada Tirta, "Tir, kamu selesaikan saja urusan kita disini." Perintah Ergan.

__ADS_1


"Siap Bos!" Singkat Tirta.


Beberapa menit kemudian mereka selesai sarapan. Ergan dan Amelia mengantar Lidya ke bandara kemudian mereka jalan-jalan di Mall.


Ergan memberikan satu black card, satu kartu debit gold, dan satu kartu kredit untuk Amelia, tapi Amelia menolaknya. Setelah perdebatan kecil karena masalah sepele, akhirnya Amelia mengalah, memasukkan tiga kartu itu kedalam dompetnya. Tak lupa Amelia mengembalikan kartu black card dari Karmen pada Ergan.


"Itu kewajibanku sayang..! Mulai sekarang semua kebutuhanmu aku yang penuhi. Itu hak kamu sebagai istriku. Kamu cukup membalasnya dengan melakukan kewajibanmu sebagai istri yang baik dan menurut pada suami. Kamu hanya boleh mendengar apa kata-kata ku, bukan orang lain. Kamu mengerti?" Ujar Ergan dengan menekan kata terakhirnya.


"Iya Mas." Singkat Amelia kemudian mereka berjalan bersama memasuki galeri yang ke yang lain.


Deg!


"Istri yang pintar. Aku suka panggilan Mas." Puji Ergan kemudian mengelus puncak kepala Amelia membuat rambutnya sedikit berantakan.


Amelia menghela napas kasar, memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Entah bagaimana rumah tangganya kedepan dengan pria yang arogan itu.


Amelia merasa hidupnya berubah seratus delapan puluh ribu derajat. Berjalan disamping Ergan membuatnya sedikit risih, bagaimana tidak, jika mereka menjadi pusat perhatian.


Drrtt.. drrtt.. drrtt...


Suara ponsel Ergan berbunyi, ia mengambil lalu mengangkatnya. Ternyata Tirta yang memintanya meeting.


"Sayang, kamu nggak apa-apa aku tinggal sebentar? aku harus meeting di cafe XX." Ijin Ergan.


"Nggak apa-apa." Jawab Amelia.


Setelah kepergian Ergan, Amelia masuk ke salah satu butik ternama.


"Amelia." Panggil seorang wanita.


Amelia sontak menoleh, Ia melihat wanita cantik dan berpenampilan modis dan glamor layaknya wanita sosialita kaya berjalan menghampirinya bersama dua temannya yang juga berpenampilan tidak kalah dengan Rania. Semua yang ada pada diri mereka semua barang-barang branded. Saat Amelia mengamatinya mungkin harga barang yang mereka pakai mencapai ratusan juta. Belum lagi berlian yang mereka pakai, wow pasti sangat mahal.


Amelia tersenyum manis sambil mengingat wajah Rania.


"Aku Rania, masa kamu lupa. Kamu belanja disini juga?" Tanya Rania ramah.


"Iya mbak." Jawab Amelia singkat.


"Say.. kenalin ini Amelia, temen aku. Dia pramugari lho."


Rania memperkenalkan Amelia pada teman-teman sosialitanya.


Kenapa Rania ada di Singapore? itu karena ia telah mendapatkan uang banyak dari Ergan. Ia mempergunakannya untuk jalan-jalan dan hura-hura bersama teman-temannya. Jika uang sudah habis, pasti ia akan minta lagi dengan alasan yang lain.


Mereka pun berkenalan.


Tiska dan Luna teman Rania menatap Amelia dari ujung kaki hingga ujung rambut, kemudian melirik paper bag yang ada ditangan Amelia. Ada yang aneh menurut mereka. Amelia memakai pakaian sederhana tapi memakai cincin berlian yang langka dan membawa paper bag dari toko yang hanya menjual barang branded. Tidak mungkin seorang pramugari mampu membelinya kecuali dia memang dari keluarga yang kaya raya.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan acara shopping dalam satu butik. Rania sangat antusias membantu Amelia memilih baju, padahal Amelia kurang setuju dengan pilihan Rania yang menurutnya sangat glamor. Sangat berbanding terbalik dengan pilihannya. Tapi sudahlah, Amelia terpaksa membeli satu baju pilihan Rania.


"Amel, kita mau makan nih, kamu mau ikut ya..? biar kita lebih akrab." Ajak Rania.


"Apa nggak mengganggu kalian?"


"Ya nggak dong."


Amelia berpikir sejenak, sebenarnya ia tidak mau bergabung dengan mereka, ia merasa insecure dengan tiga wanita cantik dan berkelas itu. Terpaksa ia mengangguk dengan perlahan.


Disinilah mereka duduk, disebuah cafe yang lokasinya masih dalam Mall. Sambil menunggu pesanan datang mereka saling bercerita kesibukan masing-masing.


Mereka menceritakan sedikit masalah rumah tangganya, sedangkan Amelia bercerita tentang pekerjaannya sebagai pramugari.


"Eh, ngomong-ngomong kamu ke Singapore dalam rangka apa?" Tanya Tiska kepo.


"Hanya liburan." Jawab Amelia.


"Enak ya jadi pramugari, bisa liburan kemana-mana tanpa harus membayar biaya pesawat." Ujar Luna.


"Ah, nggak juga. Semua pekerjaan ada enak dan tidaknya. Kalau aku enaknya ya karena bisa jalan-jalan saat pesawat transit di satu kota, tapi nggak enaknya harus jauh dari keluarga." Sergah Amelia.


"Orang tua kamu tinggal dimana?" Tanya Tiska.


"Di Surabaya."


"Oh, jadi orangtua kamu usahanya di Surabaya dan kamu tinggal sendiri di Jakarta?" Tanya Rania.


"Saya tidak tinggal sendiri, karena tinggal di mes perusahaan. Disana kami tinggal berempat, kadang pramugari yang lain juga mampir kesana jika pesawat transit. " Jelas Amelia.


Amelia tidak banyak bicara, dia hanya menjawab pertanyaan mereka seadanya saja. Ia merasa canggung berada diantara wanita dengan gaya berkelas.


Setengah jam berlalu, Ergan belum juga kembali. Ia mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada Ergan.


"[Mas, Aku lagi maka di Cafe Warna Pelangi, ada Mbak Rania disini. Kamu susul aku di sini ya?]" Isi pesan yang dikirim Amelia melalui salah satu aplikasi.


"[Oke, selesai meeting aku menyusul kesana, tapi kamu nggak ngomong kalau kamu sudah menikah kan?]" Balas Ergan.


"[Nggak.]" Amelia membalas kemudian meletakkan ponselnya.


"Pacar kamu ya?" Tanya Rania sambil melirik ponsel Amelia.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2