Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Ajak Makan Siang


__ADS_3

.............


Jam istirahat menunjukkan pukul dubelas siang. Amelia datang ke kantor Ergan bersama Azka. Amelia memegang tangan Azka dan satu tangannya lagi memegang kotak bekal untuk Ergan.


Dua jam sebelumnya Ergan menelpon Amelia untuk membawakannya bekal, dia ingin makan siang buatan Amelia. Karena tidak sempat pulang ke rumah, ia meminta Amelia datang ke kantornya bersama Azka.


Amelia tercengang melihat gedung yang dimasukinya begitu luas dan besar. Dalam hati ia bertanya apa jabatan Ergan di perusahaan itu.


Amelia menuju resepsionis, bertanya dilantai berapa ruangan Ergan.


"Mbak saya mau keruangan Pak Ergan, lewat mana ya?" tanya Amelia saat berada didepan tiga orang gadis yang bekerja sebagai resepsionis, Wirda, Anin, dan Laras.


Petugas resepsionis memperhatikan penampilan Amelia yang tertutup dengan hijab. Dia berpikir wanita yang ada di sampingnya ingin meminta sumbangan dan sengaja memanfaatkan anaknya untuk mendapatkan belas kasih.


"Sudah ada janji Bu?" tanya Wirda.


"Sudah," jawab Amelia.


"Sebentar ya Bu," Wirda kemudian mengambil telepon kantor menghubungi Ayu tapi Ayu sedang keluar kantor bersama Tirta.


"Eh, Jangan-jangan wanita ini mau minta sumbangan," bisik Anin dengan sinis menatap Amelia dan Azka.


"Huss.. jangan ngomong sembarangan, Ibu Ayu sudah titip pesan, katanya akan ada istri Pak Ergan dan anaknya yang datang kesini. Bisa saja kan itu mereka? bisa dipecat lo jika ketahuan nuduh istri bos," balas Wirda berbisik.


"Sepertinya Ibu Ayu sudah keluar. Ibu langsung aja ke ruangan Bapak dilantai dua puluh dua lewat lift yang disebelah sana." Wirda menunjuk ke arah lift.


Amelia melirik lift, sepertinya itu bukan lift karyawan karena tidak seorangpun yang keluar masuk disana. Amelia kemudian mengambil ponselnya kemudian menghubungi Ergan.


["Halo sayang, kok lama benget! kamu sudah sampai?"] tanya Ergan tidak sabar lewat sambungan teleponnya.


["Aku sudah sampai Mas."]


["Kamu dimana sekarang?"]


["Di lobi."]


["Oke, tunggu aku disana, jangan kemana-mana."]

__ADS_1


Sambungan telpon terputus. Ergan segera berdiri, ia keluar dari ruangannya sambil menggenggam ponsel ditangannya. Ia segera masuk lift menuju lobi. Ergan melangkah lebar menuju resepsionis saat melihat Amelia dan Azka berdiri disana.


Semua resepsionis diam saat melihat Ergan keluar dari lift menghampiri mereka.


"Mampus kita, gw juga bilang apa, dia itu istrinya bos!" gumam Wirda membuat mereka langsung pucat pasi.


Ergan langsung tersenyum, mengambil Azka naik ke gendongannya kemudian mengecup kening Amelia.


"Sayang.. kenapa tidak langsung naik aja? aku sudah titip pesan pada Ayu. Apa mereka mempersulit Kamu?" tanya Ergan. Satu tangannya menggendong Azka, tangan yang lainnya merangkul pinggang Amelia.


"Nggak kok Mas, mereka sudah menyuruhku naik lewat lift itu, tapi aku takut kalau hanya berdua dengan Azka didalam," jelas Amelia.


"Lain kali kalau istri dan anak saya datang, kalian antar mereka langsung naik ke ruangan saya, mengerti?!" perintah Ergan membuat mereka seketika mengangguk.


"Baik Pak." Serentak ketiganya dengan gugup dan wajah menunduk.


"Ya sudah, ayo!" Ergan mengajak mereka menuju lift.


Mereka bernapas lega melihat kepergian Ergan membawa istri dan anaknya. Bisa bayangkan bagaimana gemetar dan pucatnya wajah mereka ketika Ergan menatapnya penuh intimidasi.


Para karyawan melongo tidak percaya jika bos yang mereka kenal dingin dan datar bisa begitu hangat pada istri dan anaknya. Ergan, Amelia dan Azka masuk kedalam lift menuju ruangannya.


Siapa sebenarnya wanita ini?"


Yuni karyawan HRD yang selalu mencari perhatian Ergan menuju resepsionis yang baru saja Amelia temui, berharap mendapatkan informasi dari sana tentang siapa wanita itu.


Saat resepsionis memberi tahu jika itu adalah istri dan anak Tuan Ergan. Ia langsung kecewa, hatinya hancur sebelum berkembang. Pupus sudah harapannya mendapatkan Pria idola para wanita dikantor.


"Dad, ini kantor apa?" tanya Azka memutar bolanya matanya melihat isi gedung. Tangan mungilnya melingkar pada leher Ergan. Jiwa kepo Azka memberontak, segala hal yang baru tidak pernah lepas dari pertanyaan.


"Kantor untuk mencari uang yang banyak biar bisa beli robot-robot dan mainan Azka yang lain," jawab Ergan sesederhana mungkin yang bisa Azka pahami dengan mudah.


"Apa Azka boleh kerja disini juga, Dad? Azka pengen punya uang banyak," tanya Azka semangat.


"Boleh, tapi tunggu Azka besar seperti mereka tuh...!" Ergan menunjuk beberapa orang karyawannya.


Azka mengerucutkan bibirnya karena keinginannya tidak terpenuhi.

__ADS_1


"Hehehe, anak Daddy kok cemberut? Azka harus belajar yang rajin dan makan yang banyak, biar nanti kalau sudah gede bisa gantiin Daddy," jelas Ergan membuat Azka segera mengangguk seakan mengerti. Ergan mencium Azka kemudian membuka pintu ruangannya.


Amelia hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum, begitu masuk kedalam ruangan Ergan yang bertuliskan CEO di depan pintu. Amelia membulatkan matanya. Pandangannya menyisir seluruh ruangan kursi besar yang sangat nyaman dan empuk, meja besar dan tumbukan berkas diatasnya. Warna ruangan dominan warna abu-abu membuat ruangan terlihat tampak elegan dan berkelas.


"Mas sebenernya jabatan kamu disini apa sih?" tanya Amelia dengan wajah polosnya.


"Hah?!" Kamu beneran nggak tau siapa aku disini, sayang?" tanya Ergan kembali tidak percaya.


Amelia menggelengkan kepalanya. "Ya nggak lah."


"Kamu nggak nanya di resepsionis tadi?" Ergan menunjuk kearah pintu tapi Amelia tetap menggelengkan kepalanya.


"Nggak, makanya kamu bilang sekarang! trus kenapa bawa kami keruangan bos kamu? kalau kamu dipecat gimana?" tanya Amelia kembali.


"Nggak ada yang berani memecat aku disini sayang, karena aku pemilik perusahaan ini," jelas Ergan membuat Amelia tertegun.


"Hahaha, kamu ngeprank aku ya..? nggak lucu ah." Amelia langsung tertawa merasa Ergan sedang mengerjai dirinya.


"Kalau begitu menurut kamu aku ini siapa, hem?!" Ergan gemas mencapit hidung Amelia dengan dua jari.


"Mmm.... Manajer atau Kepala Direksi mungkin!" jawab Amelia asal setelah berpikir beberapa menit.


"Sudahlah, sekarang buka bekalnya, cacing diperutku sudah memberontak minta makan," melas Ergan sambil memegang perutnya yang sudah minta diisi.


"Hahahaha.. Daddy cacingan Mom, harus dibawa kedokter," sela Azka menetawai Ergan.


"Iya, nanti pulang kantor kita bawa Daddy ya? sekarang kaamu juga makan biar nggak cacingan seperti Daddy," ujar Amelia sambil membuka bekal yang ia bawa.


Mereka makan bersama diselingi dengan ocehan Azka yang menggemaskan.


"Oiya, Tirta kemana? kenapa nggak ajak dia makan bareng kita?" tanya Amelia sambil menyuapi Azka.


"Dia lagi makan siang diluar bersama sekertaris aku, namanya Ayu," jawab Ergan kemudian menyuapi Amelia makanannya.


Amelia menyuapi Azka dan Ergan menyuapi Amelia.


"Kamu juga punya sekertaris? trus Tirta asisten kamu?" tanya Amelia masih penasaran dengan jabatan Ergan.

__ADS_1


"Iya sayang," jawab Ergan.


"Kamu beneran milik perusahaan ini Mas?" Tanya Amelia dengan nada naik satu oktaf karena belum juga percaya.


__ADS_2