Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Bos Duda


__ADS_3

"Emang lo pernah kesana?" Selidik Ergan menyipitkan matanya.


"Hehehe, kebetulan lewat bos, nggak sempat mampir sih." Tirta langsung beranjak menuju kamarnya, ia sangat yakin jika Ergan sedang mengumpatnya karena terlalu sok tahu.


"Mau kemana lo?" Teriak Ergan melihat punggung Tirta semakin menjauh.


"Mau istirahat." Balas Tirta tanpa menoleh kemudian menutup pintu kamarnya.


.......................


Acara peresmian jembatan berjalan dengan lancar dihadiri Bapak gubernur, camat, lurah, kades, dan beberapa pengusaha desa setempat. Setelah acara pembuka, mereka masuk kedalam dua mobil dan melewati jembatan kembar yang siap digunakan mulai dari sekarang.


Ergan masuk kedalam mobil bersama Tirta, Pak Kades dan Pras, sedangkan di mobil yang satu lagi Bapak Gubernur, Lurah, dan Camat.


"Wah, jembatannya sangat besar dan lebar Pak Ergan, kuat dan kokoh, ini jembatan terbagus yang ada provinsi ini. Ia kan Pak Pras?" Puji Pak Kades lalu meminta pendapat Prasetyo.


Pras juga ikut dalam acara peresmian itu. Sebagai pegusaha kebun teh yang sukses dan pemilik pesantren, Prasetyo sangat dihormati di Desa Teratai, hingga dia juga diundang untuk menghadiri acara itu.


"Iya Pak"


"Terimakasih atas pujiannya Pak, ini semua tidak lepas dari hasil kerja keras para arsitektur kami yang handal dan bisa dipercaya. Saya hanya memantau pekerjaan mereka agar memberikan kualitas yang terbaik di setiap proyek yang kami kerjakan." Ungkap Ergan.


Mobil telah melewati jembatan dan memutar untuk kembali.


"Terimakasih banyak Pak Ergan, saya sangat puas dengan hasil kerja Anda. Senang bekerja sama dengan Anda. Saya akan merekomendasikan perusahaan Bapak untuk pembangunan jembatan berikutnya." Ujar Bapak Gubernur kemudian mereka saling bersalaman.


Begitu acara selesai, mereka makan siang bersama di villa.


"Pak Pras, tolong berikan oleh-oleh teh terbaik untuk Tuan Ergan." Pinta Pak Kades pada Pras.


"Iya Pak, tentu saja. Pak Ergan jika ada kesempatan mampirlah ke pesantren kami sebelum pulang. Kami akan menyeduhkan teh terbaik yang ada di Desa ini." Ujar Pras.


"Pesantren? anda juga memiliki pesantren?" Ergan sedikit tertarik, baru kali ini dia bertemu dengan pengusaha yang memiliki pesantren.

__ADS_1


"Iya Pak, tidak terlalu besar seperti dikota, tapi cukup nyaman lah untuk santri belajar ilmu agama." Ujar Pras.


"Aku salut dengan anda, di usia yang masih muda sudah mampu mengelola usaha kebun teh dan mendirikan pesantren. Benar-benar pekerjaan yang mulia." Puji Ergan.


"Terimakasih atas tawarannya, tapi sepertinya saya harus kembali besok pagi." Tolak Ergan dengan halus.


"Mumpung anda disini Pak, suatu kehormatan jika anda bisa berkunjung di pesantren kami, Bapak bisa memberikan motivasi pada anak-anak untuk menjadi anak yang mandiri dan maju dimasa depan."


Ergan berpikir sejenak sambil melirik Tirta, apa sempat jika mampir di pesantren sebelum pulang karena mereka harus meeting di kantor sebelum jam makan siang.


Tirta menaikkan kedua bahunya menandakan keputusan ditangan bosnya.


Bukankah memang selalu seperti itu? kenapa Ergan malah melirik Tirta. Ada-ada aja.


"Oke, sekalian saya mau melihat kebun teh milik Pak Pras."


"Boleh Pak, saya akan menyuruh orang untuk menjemput Bapak."


"Baik Pak, terimakasih." Pras sangat senang, ia merasa sangat beruntung karena Ergan mau menerima ajakannya. Kapan lagi bisa mengenal lebih dekat pebisnis kaya raya yang terkenal dingin dan mampu memenangkan tender triliunan dalam sekejap.


......................


Pagi hari Tirta sudah menunggu diluar villa, bersandar pada pintu mobil sambil menyilangkan kedua kakinya dan melipat kedua tangan didada.


"Arghh.." Tirta mengerang kesal. Kenapa ia menunggu diluar sedangkan Ergan masih didalam.


"Kamu kenapa?" Tanya Ergan dengan santai keluar dari villa, ia sudah lengkap dengan setelan jas dan koper ditangannya.


"Tidak kenapa-napa bos." Jawab Tirta sambil mengambil alih koper Ergan lalu memasukkan dibagasi mobil.


Mereka sengaja membawa kopernya karena rencananya akan langsung kembali ke ibu kota setelah dari pesantren dan kebun teh.


Mobil melaju dengan pelan menuju pesantren. Ergan sengaja meminta Tirta mematikan AC lalu membuka kaca mobil dan menghirup udara pagi hari yang menyejukkan tanpa polusi. Jika seperti ini rasanya tidak ingin meninggalkan suasana yang tidak pernah didapat di ibu kota.

__ADS_1


Di pesantren, suasana agak berbeda dari biasanya. Ibu Juminarti dan yang lainnya membuat makanan yang istimewa untuk menyambut kedatangan tamu Pras. Mereka juga sudah menyediakan teh spesial dan beberapa macam cemilan.


Kedatangan Bos besar yang membangun jembatan kembar di desa mereka sudah menggemparkan seluruh gadis Desa Teratai. Mereka sengaja menunggu di kebun teh karena kabarnya Bos akan kesana untuk jalan-jalan. Dari kabar yang beredar, Bos itu seorang Duda yang sangat tampan dan kaya. Ini adalah kesempatan untuk bertemu langsung dengannya.


Hanya ada satu wanita yang tidak perduli dengan orang hebat itu. Siapa lagi kalau bukan Amelia. Ia lebih memilih memasak didapur dari pada ikut berkomentar tentang seseorang yang tidak pernah dilihatnya.


Lima belas menit melewati jalan berliku dan agak sempit, akhirnya mobil yang dikendarai Tirta dan Ergan tiba di pesantren. Mereka disambut ole Pras, Juminarti, para guru dan serarus lima puluh anak santri dipintu masuk.


Tirta lebih dulu turun kemudian membuka pintu mobil untuk Ergan.


"Tir, kenapa gw jadi gugup ya?" Tanya Ergan saat keluar dari mobil.


"Ah, perasaan lo aja kali. Santai aja, kita bukan mau ketemu dengan musuh, tapi pemilik pesantren ingat itu." Tirta menggeleng-gelengkan kepalanya meminta Ergan menepis rasa gugupnya.


"Gw sendiri juga nggak tau tiba-tiba aja jantung gw rasanya mau copot. Apa gw sakit jantung ya? tapi perasaan gw sering olahraga. Sepertinya kita harus ke rumah sakit Bram untuk periksa sebelum kekantor." Ungkap Ergan.


Ergan dan Tirta tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih saat melihat orang-orang yang menyebutnya. Ergan tidak menyangka jika sambutan mereka akan semeriah ini.


"Silahkan Pak, ini Mama saya dan ini para guru di pesantren Darussalam Al-kharan ini." Pras memperkenalkan mereka pada Ergan dan Tirta.


Mereka saling bersalaman kemudian masuk ke dalam aula pesantren. Ergan duduk dikursi, berhadapan dengan anak-anak santri bersama Tirta dan Pras. Ergan diminta memberikan sedikit pengalamannya hingga menjadi sukses sebagai motivator untuk anak-anak di pesantren agar semangat belajar untuk mencapai cita-cita mereka. Anak-anak sangat senang dan bahagia dengan kedatangan Ergan.


Mata Ergan tak sengaja tertuju pada seorang anak kecil yang duduk dipangkuan Yuli. Tatapan mereka bertemu dan tak berkedip seolah saling mengintimidasi, sikap dingin dan datar tanpa ekspresi mendominan di keduanya. Entah apa yang ada di pikiran mereka.


"Bos, anak kecil itu menatapmu, tapi kok gw ngeri ya? tatapannya sama dengan bos jika sedang menguliti lawan." Bisik Tirta tapi Ergan tetap bergeming, "Eh, tunggu! kenapa makin gw melihatnya, dia makin mirip lo ya?" Tirta menatap Ergan dan Azka bergantian.


"Bawa anak itu kemari. Berani-beraninya dia menatapku seperti itu." Perintah Ergan.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2