
"Tenang aja, aku nggak akan macam-macam, kita perlu bicara berdua." Jelas Ergan agar Amelia tenang dan tidak berpikiran buruk padanya.
"Ditempat lain bisa kan?" Tolak Amelia kembali.
"Hanya disini tempat yang aman. Ayo turun."
"Nggak!".
"Bisa nggak sih! kamu nggak melawan aku?"
"Nggak bisa."
"Turun, atau aku cium?" Ancam Ergan.
Rupanya jurus mengancam menjadi kata-kata ampuh untuk membuat Amelia menjadi penurut.
Amelia menghela napas kasar. Dirinya tidak bisa menolak lagi. Dengan berat hati ia keluar dari mobil saat pintu sudah terbuka lebar oleh supir. Ergan ikut keluar kemudian menyuruh supir menunggu disana.
Ergan menggenggam tangan Amelia menuju lift. Seolah takut Amelia lepas dari hidupnya.
"Nggak usah pegang-pegang, aku bisa jalan sendiri."
Amelia mencoba menarik tangannya dari Ergan tapi tetap tidak bisa lepas. Tangannya tetap bergandengan masuk kedalam lift dan keluar dari lift.
Ergan membuka pintu dengan memasukkan kode pasword yang hanya dia sendiri yang tahu, setelah itu masuk kedalam dan menyalakan lampu meskipun hari masih siang.
"Kita sudah sampai, kamu bisa lepas tangan aku nggak? sakit..!" Melas Amelia, rupanya Ergan terlalu erat memegangnya.
"Maaf." Ergan melepaskan tangannya kemudian mengajak Amelia duduk di sofa.
"Oke, kita bicara, tapi kamu jaga jarak dari aku dua meter." Ujar Amelia karena Ergan duduk pasa disampingnya. Ia selalu takut saat berdekatan dengan Ergan, jantungnya selalu memompa lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa aku menurut? Ini tempat siapa?" Tanya Ergan.
"Kamu." Jawab Amelia
"Apartemen siapa?" Tanya Ergan kembali.
"Kamu." Singkat Amelia.
"Trus, kenapa kamu yang ngatur aku duduk dimana?"
Amelia terdiam lalu menoleh menatap Ergan.
"Oke, terserah kamu saja, sebenarnya kamu mau ngomong apa? aku tidak punya banyak waktu karena harus kembali ke bandara." Ujar Amelia tidak mau membuang waktunya yang berharga.
Ergan mengambil tangan Amelia, mengecup penuh kasih lalu meletakkan dipangkuannya, netranya menatap Amelia penuh harap. Sedikit keraguan untuk mengungkapkan niatnya untuk melamar gadis yang telah menghabiskan malam dengannya. Meskipun belum ada rasa cinta untuknya, namun dia pria yang tidak pernah lari dari tanggung jawab
"Mel, maaf karena aku sudah menyakiti kamu. Aku tau perbuatanku tidak bisa dimaafkan, berikan aku kesempatan untuk menebus semua dosa-dosaku, WILL YOU MERRY ME?" Akhirnya kata-kata itu lolos juga dari bibir Ergan.
__ADS_1
Amelia diam, mencerna dengan baik kalimat yang dilontarkan dari mulut Ergan.
"Menikahlah denganku Amelia. Aku tidak suka menjanjikan sesuatu, tapi aku ingin bertanggung jawab dan membahagiakanmu. Aku ingin selalu didekatmu, menjagamu, dan hidup bersamamu." Ujar Ergan tulus.
Amelia tertegun, matanya berkaca-kaca, mulutnya sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Sangat teramat speechless dengan apa yang barusan ia dengar. Ergan melamarnya tanpa persiapan.
"Bagaimana? kamu mau kan menikah denganku?" Melas Ergan penuh harap.
"Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku masih terikat kontrak dengan perusahaan." Tolak Amelia.
"Berapa lama lagi?"
"Satu tahun."
Ergan diam sejenak, menekan pelipisnya sambil memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan sekarang.
Pucuk dicinta ulam tiba. Dalam sekejap raut wajah Ergan berubah tersenyum. Dengan alasan masih terikat kontrak di perusahaan, Ergan tidak perlu lagi mencari alasan pada Amelia agar merahasiakan pernikahan mereka.
"Kalau begitu kita menikah disini, kita rahasiakan dari kantor kamu sampai kamu selesaikan kontrak. Cukup orang tua kamu saja yang hadir, agar berita ini tidak bocor ke telinga teman-teman kamu, gimana?"
Amelia mengernyitkan keningnya dengan ide konyol Ergan. Tidak pernah telintas dipikirannya untuk menikah dalam waktu dekat apalagi menikah siri.
"Maksud kamu, kita menikah siri gitu?"
"Ya, kenapa? kamu keberatan? itu lebih baik dari pada kamu hamil sebelum menikah. Asal kamu tau aja, aku menyimpan benihku didalam."
"Hehehe... nggak usah kaget, wajahmu sangat lucu. Pikirkan baik-baik, apa kamu nggak malu jika hamil diluar nikah?"
Amelia kembali diam, sebenarnya dia juga takut jika hamil setelah melakukan itu dengan Ergan. Tapi saat ini dia masih menyimpan kebencian pada Ergan.
Ergan menangkup wajah Amelia, kini netra mereka kembali bertemu. "Hei, dengarkan aku, Aku tahu, kamu masih benci padaku, kesalahanku memang sangat besar padamu, tapi berikan aku kesempatan untuk menebusnya dengan menikahimu. Bukankah memaafkan itu lebih baik dari pada membenci?"
Ergan memang paling jago membuat hati wanita meleleh. Jika dia sampai gagal membujuj Amelia, bukan Ergan namanya.
Amelia kembali diam, dia belum siap menikah untuk sekarang ini. Masih banyak yang harus ia lakukan untuk masa depannya. Tapi bagaimana jika dia benar-benar hamil diluar nikah.
"Jawab Ya dulu, baru aku antar pulang." Tegas Ergan.
"Nggak." Tolak Amelia. Ia masih ragu jika dirinya akan hamil karena hanya sekali berhubung dengan Ergan.
"Kalau begitu kamu akan tetap disini sampai pesawat kamu terbang."
"Lho kok gitu?" Geram Amelia.
"Terserah saya dong." Jawab Ergan dengan santai.
Amelia berpikir sejenak, dari pada berlama-lama di apartemen Ergan, biarlah dia mengalah untuk saat ini.
"Oke, fine kita menikah!" Pasrah Amelia.
__ADS_1
"Deal, minggu depan kita menikah, ajukan cuti selama tiga hari. Aku akan mengurus semuanya." Jelas Ergan.
"Hah?! minggu depan? yang bener aja. Aku belum mempersiapkan apapun. Aku masih memiliki orang tua dan harus bicara dulu dengannya." Tolak Amelia tidak terima keputusan Ergan.
"Tidak masalah, bicaralah dengan orang tuamu, lebih cepat kamu bicara itu lebih baik. Aku nggak mau kamu hamil duluan. Yang pastinya kita menikah pekan depan. Deal..?"
Amelia menghela napas berat, "Kalau kau sudah memutuskan segalanya, kenapa mengajakku bicara, hah?" Geram Amelia kemudian beranjak dan mengambil sling bagnya.
"Apa kamu gila? mengajukan cuti juga butuh proses, tidak mungkin dalam seminggu aku bisa mendapatkannya."
"Kalau kamu tidak bisa, aku yang akan melakukannya." Tidak sulit bagi Ergan melakukan apa yang orang lain tidak bisa lakukan.
Ergan mengambil ponselnya disaku celana kemudian menghubungi Tirta.
"Tir, uruskan cuti untuk Amelia selama tiga hari untuk minggu depan. Kami akan menikah disini. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan."
"Siap bos!" Jawab Tirta kemudian sambungan telepon terputus.
Ergan tersenyum memperhatikan wajah kebingungan Amelia.
"Buatkan aku kopi."
"Kenapa nyuruh aku? ini kan Apartemen kamu."
"Itung-itung belajar jadi istri yang baik mulai dari sekarang."
Amelia mengerucutkan bibirnya, meletakkan tasnya kembali kemudian berjalan masuk menuju dapur.
Sepuluh menit kemudian, Amelia menuju ruang tamu dengan membawa segelas kopi diatas nampan. Ia masih ingat selera Ergan, kopi tidak pahit juga tidak terlalu manis sesuai dengan permintaan Ergan saat di pesawat.
"Aku hanya menyuruhmu buat kopi bukan petik kopi. Lama banget."
"Wajar dong, aku kan nggak tau dimana letak barang-barang dapur kamu." Ujar Amelia kemudian meletakkan kopi diatas meja.
Ergan mengambil kopi dari atas meja, meniupnya dengan pelan, kemudian menyesapnya penuh nikmat.
"Lumayan." Puji Ergan.
"Hah?! hanya lumayan? dasar nyebelin! sudah capek-capek buatin, komentarnya cuma gitu doang." Batin Amelia kesal.
"Kamu ngumpat aku ya?"
"Nggak." Sergah Amelia. "Apa sekarang aku boleh pulang? Karmen pasti khawatir." Melas Amelia.
.
.
Bersambung......
__ADS_1