Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Menerima Keadaan


__ADS_3

Azan subuh di kumandangkan dengan suara salah satu santri yang sangat merdu ditelinga. Waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit. Saatnya mereka melakukan shalat subuh berjamaah.


Setelah shalat subuh para santri mulai kegiatan membersihkan halaman Pesantren, setelah itu olah raga kemudian kembali ke asrama untuk bersiap mengikuti pelajaran hari ini.


Ditempat lain, seperti biasa Amelia membantu Ibu Juminarti didapur setelah shalat subuh. Pukul tujuh pekerjaannya selesai, ia kembali ke kamar menunggu Azka bangun sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


Ketika Azka bangun, Amelia memandikannya kemudian membawanya keluar kamar.


Yuli sudah menunggu Azka untuk dibawa ikut mengajar.


"Duhh.. harum banget sih, Azka gantengnya Tante," puji Yuli saat baru melihat Azka keluar dari kamar.


"Azka udah mandi Tan, jadi sudah harum, pake sampo sama sabun," jawab Azka dengan suara kecilnya membuat Yuli makin gemes.


"Azka, ikut Tante yuk! kita belajar ngaji sama temen-temen," Bujuk Yuli sambil mengulurkan tangannya.


Azka berpindah ketangan Yuli, Amelia membiarkan Azka ikut karena Ergan belum pasti jam berapa menjemput mereka.


"Yul, Hari ini aku dan Azka akan pergi," ujar Amelia.


"Pergi kemana Mbak?" tanya Yuli sambil memainkan jari-jarinya yang dipegang Azka.


"Kami akan pulang ke Jakarta bersama Ayahnya Azka," jawab Amelia.


"Hah?! Ayahnya Azka?" Yuli membeo, ia tidak terkejut mendengar Ayah Azka disebut.


"Iya, dia akan menjemput kami hari ini," ungkap Amelia.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan Mbak Amel dan Kak Pras?" tanya Yuli.


"Pernikahan kami batal Yul, aku sudah bicara dengan Pras dan Ibu." Amelia berucap dengan lemas, nampak kesedihan pada raut wajahnya yang cantik.


"Pasti mereka sedih." Yuli ikut sedih.


"Iya Yul, mereka sangat sedih dan kecewa dengan keputusanku. Yu, jika aku punya salah dan selalu merepotkanmu maafkan aku ya?" Amelia memegang tangan Yuli, tatapannya sendu ingin mengeluarkan air mata.


"Kok ngomongnya kayak gitu. Udah mau nangis nih...!" Air mata Yuli lebih dulu keluar tidak tertahan. Amelia sudah seperti Kakak baginya, dan Azka sudah dia anggap seperti ponakan sendiri.


"Jangan sedih, aku akan sering-sering kesini membawa Azka. Jika Azka sudah besar, aku akan membawanya belajar agama disini." Amelia mencoba menenangkan Tuli, meskipun ia tidak tahu apakah Ergan masih membiarkannya ke Pesantren setelah tahu Amelia akan menikah dengan Pras.


Mengingat bagaimana sikap Ergan saat cemburu, sepertinya itu tidak mungkin!


"Bagaimana nggak sedih, Mbak akan pergi membawa Azka. Mana jauh sekali lagi. Yuli mainnya dengan siapa lagi?" Yuli mengerucutkan bibirnya. Ia tidak mau berpisah dengan Azka.

__ADS_1


"Tenang aja, kamu nggak akan kesepian, banyak anak santri kan?"


"Itu mah beda Mbak. Tidak ada selucu dan seimut Azka." Yuli mencium pipi Azka.


"Yul, jika aku sudah pindah, kamu temenin Ibu ya? kasihan sudah tua harus mengurus Rangga. Aku juga titip Pras."


"Loh kok titip Kak Pras? kalau Ibu dan Rangga sih nggak masalah, tapi kalau Kak Pras nggak mau, dia sudah besar nggak perlu dijagain lagi," tolak Yuli.


"Berikan perhatian sedikit, cuma kamu yang Mbak percaya bisa menjaga mereka."


"Iya deh, sudah dulu ya, nanti kita ngobrol lagi setelah aku ngajar. Aku pergi dulu Mbak, Assalamualaikum.."


"Assalamualaikum Mom.." Azka ikut pamit kemudian Yuli membawa Azka menuju kelas.


Amelia kembali masuk kedalam kamar, membersihkan diri kemudian memakai pakaian syar'i-nya lengkap dengan hijab. Tidak lupa sedikit merias diri dengan make-up tipis.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Amelia dari cermin. Amelia beranjak kemudian membuka pintu kamar.


"Pras." Amelia terkejut melihat Pras berdiri di depan pintu kamarnya. Laki-laki itu tidak pernah melakukan seperti itu sebelumnya. Jika ingin bertemu dengan Amelia, Pras akan menyuruh seseorang untuk memanggil Amelia.


"Kamu sangat cantik," puji Pras sambil menatap Amelia penuh damba, matanya tak berkedip melihat pujaan hatinya, "Astagfirullahaladzim...!" lanjut Pras takut dosa karena tanpa sadar memandang Ameli selama beberap menit.


"Jam berapa kamu dijemput?" tanya Pras.


"Belum tau."


"Kalau begitu kita ngobrol di kebun teh, bisa?" tanya Pras.


"Oke."


Amelia tidak ingin menolak ajakan Pras. Mungkin ini adalah kesempatan mereka bicara. Pras berjalan berdampingan dengan Amelia menuju kebun teh.


Gamang


Tidak satu kata yang keluar disaat mereka berjalan. Dalam situasi seperti ini Amelia merasa tidak nyaman. Apalagi saat pekerja kebun teh menggoda mereka sebagai pasangan serasi.


"Pras, mulai hari aku mengundurkan diri jadi pemetik teh di kebun kamu." Amelia berbicara sambil berjalan.


"Surat pengunduran diri kamu mana?" Pras mengadahkan tangannya seolah minta selembar kertas berisi surat pengunduran diri.


"Emang harus pakai surat gitu?" tanya Amelia sambil mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Tentu saja, semua pekerja aku tanda tangan kontrak sebelum bekerja," jawab Pras.


"Tapi sepertinya aku nggak pernah," ujar Amelia sambil berpikir mengingat apa pernah diberikan surat kontrak kerja.


"Hehehe, itu karena sampai sekarang aku nggak pernah anggap kamu sebagai karyawan. Kamu aja yang mau bekerja disana panas-panasan. Gaji kamu juga terpisah dari pekerja yang lain. Ya, bisa dikatakan kamu pekerja ilegal," Pras terkekeh mengingat betapa polosnya Amelia saat mulai masuk bekerja.


"Ya ampun... hehehe aku kok bego banget ya?" Amelia memukul jidatnya dengan telapak tangan mengingat kebodohannya. Senyum di bibirnya ikut menghiasi wajah cantiknya.


"Kamu nggak bego tapi terlalu polos," sergah Pras.


"Oya?"


"Iya."


"Hahaha..." Mereka tertawa bersama


Awalnya Pras menerima Amelia bekerja hanya karena permintaan Ibunya biar Amelia ada kegiatan dari pada melamun terus sepanjang hari. Melihat penampilan Amelia yang cantik dan elegan, Pras mengira wanita seperti Amelia terbiasa dengan suasana ruangan ber-AC dan tidak akan betah bekerja dibawah teriknya sinar matahari. Tapi ternyata Pras salah, Amelia bekerja dengan tekun seperti pemetik teh yang lain. Gaji yang Amelia terima untuk biaya persalinan dan menambah bahan makanan di dapur. Meskipun bahan makanan sudah terpenuhi dari Pras, tapi Amelia tetap belanja dipasar menggunakan uang pribadinya.


Suasana mulai membaik, rasa canggung diantara mereka mulai hilang melihat senyum Pras. Nggak apa-apa Pras menertawai dirinya, yang penting Pras tidak sedih lagi karena sebentar lagi mereka akan berpisah.


Amelia berdiri di sisi Pras menikmati pemandangan Kebun teh sepanjang mata memandang.


"Aku senang melihatmu tersenyum. Aku harap senyum itu akan selalu ada, meskipun aku sudah tidak ada disini. Kamu berhak bahagia Pras," ujar Amelia.


"Kamu yakin setelah kamu pergi aku masih bisa bahagia? Aku tersenyum karena masih ada kamu disini, disisiku." Wajah Pras kini serius.


"Pras, please... jangan membuat langkahku terasa berat. Aku sayang kamu, Ibu, dan juga Rangga. Sampai kapanku aku nggak akan melupakan kalian, kalian bagian dari hidupku."


"Amel, apa aku boleh menemui kalian jika sewaktu-waktu aku ke Jakarta?"


"Tentu saja boleh. Dengan senang hati aku menunggu."


"Syukurlah, jika seperti itu, aku merasa lega."


"Kamu bahagia bertemu dengan Ergan? sebenarnya saat di Kebun teh aku melihat kalian."


"Jadi, kamu..."


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2