
"Mungkin iya," jawab Brian.
"Apa maksud kamu? kamu memiliki hubungan dengannya?"
Brian mengangguk.
"Ck, rupanya sekarang kamu sudah pandai berbohong! sudah sejauh mana hubungan kalian sampai dia pergi menghindarimu?"
"Mungkin sekarang dia hamil," tebak Brian karena akhir-akhir ini ia merasa ada yang aneh dengan selera makannya. Sekarang dia lebih suka makanan yang kecut-kecut padahal sebenarnya dia tidak suka.
"Brengsek!" Ergan langsung berdiri berkacak pinggang dihadapan Brian.
"Sudahlah kak! aku lagi pusing mencarinya!" Brian terlihat frustasi, ia menjambak rambutnya hingga acak-acakan.
Ergan diam melihat adiknya mulai tidak waras. Ia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan karena pernah berada diposisi seperti itu. Ingin marah? ia merasa iba pada adiknya. Ingin senang? tapi Brian telah membuat kesalahan besar. Ergan menghela napas kasar, ia tidak ingin adiknya menderita. Mau tidak mau ia harus membantunya menemukan Karmen.
"Cari dia sekarang dan bawa kerumah Mama. Jangan terlalu lama jika kamu tidak ingin anak kamu dianggap anak haram. Jika kamu kesulitan, jangan takut menghubungi Kakak," ujar Ergan.
Brian langsung menatap Ergan, tentu saja ia tidak mau itu terjadi, tadinya ia berpikir jika Ergan tahu dia menghamili sahabat istrinya, Ergan pasti akan memukulnya habis-habisan. Tapi ternyata dugaannya salah. Ergan mendukungnya.
Belum tahu aja Brian jika hal ini yang paling ditunggu-tunggu Ergan agar adiknya tidak lagi memiliki perasaan pada Amelia.
"Makasih Kak, aku harus pergi sekarang," ujar Brian kemudian segera beranjak. Malam ini juga ia akan kerumah orang tua Karmen dengan jet milik keluarganya.
"Nggak mau makan malam dulu?"
"Nggak usah, masih kenyang habis minum kopi dan kue," ujar Brian kemudian menghilang dibalik pintu. Mana bisa Brian makan dalam keadaan menghawatirkan Karmen.
Setelah Brian pulang Ergan menuju ruang makan, disana sudah ada anak-anak dan istrinya.
"Brian mana Mas?" tanya Amelia.
"Sudah pulang,"
"Kenapa nggak ajak makan dulu?" tanya Amelia sambil menata makanan dan piring diatas meja makan.
"Masih kenyang katanya," jawab Ergan.
Amelia tidak bertanya lagi, ia mengambil makanan untuk Ergan dan Aqilah kemudian duduk dikursi menyuapi Azka.
"Mom, Azka sudah gede nggak usah disuap," protes Azka membuat Aqilah langsung tertawa.
"Hahaha, gede tapi masih duduk di kursi baby," ejeknya sambil tertawa.
"Hussttt... Kakak nggak boleh ketawain Dedek, ayo Kakak juga makan tapi baca doa dulu," ujar Amelia.
"Azka mau baca doa," ujar azka kemudian mangadahkan tangannya membaca doa sebelum makan. Aqilah, Ergan, dan Amelia juga ikut berdoa tapi hanya suara mungil Azka yang terdengar diruangan itu.
__ADS_1
Setelah berdoa mereka mulai makan. Azkka makan sendiri setelah Amelia meletakkan mananan didepannya.
Amelia membawa Aqilah dan Azka ke kamar setelah makan, sedangkan Ergan menuju ruang kerjanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Aqilah dan Azka sudah tidur. Amelia kembali kekamarnya namun tidak menemukan Ergan disana. Amelia kemudian memutuskan mencari diruang kerjanya. Amelia membuka pintu dengan pelan dan mengintip sedikit. Benar, suaminya ada disana dengan kacamata yang bertengger dihidungnya. Laptop didepannya terbuka menandakan dia masih bekerja.
"Masuk aja sayang..! sini," Ergan menepuk pahanya mengajak Amelia duduk dipangkuannya.
Amelia mendekat kemudian mengikuti permintaan Ergan. "Anak-anak sudah tidur?"
"Hmm," Amelia mengangguk memperhatikan apa yang sedang suaminya kerjakan dilaptopnya.
Ergan membuka kacamatanya, memeluk Amelia dari belakang, dagunya bertopang pada pundak Amelia.
"Hmm... wangi banget..." puji Ergan saat bibirnya menyentuh tengkuk mulus Amelia.
Ergan mengunci pintu dengan otomatis lewat tombol kecil diatas meja kerjanya, memundurkan kursinya dari meja agar lebih leluasa bergerak.
Amelia tersentak bagai terkena sengatan listrik, ia dapat merasakah bibir dan napas Ergan dikulitnya. Jantung mulai berdetak lebih kencang seiring napas Ergan yang mulai memburu.
"Ahh, sayang...!" Amelia melenguh merasakan gejolak didalam dada.
"Ya panggil seperti itu, aku suka," ujar Ergan dengan suara parau.
Ciuman Ergan berpindah ke bahu yang entah sejak kapan Ergan berhasil membukanya, dress yang dikenakan Amelia semakin turun kepinggang.
"Kita mencobanya disini, sepertinya akan menyenangkan," ujar Ergan.
Ergan kembali mencium Amelia, ciuman yang semakin lama semakin rakus dan menuntut, mulai memberikan sentuhan lembut diarea sensitif Amelia, membuat Amelia mengerang dan melenguh menyebut namanya.
Peluh membasahi tubuh keduanya hingga mencapai puncak kenikmatan. Ergan sangat tahu bagaimana cara memanjakan dan memuaskan istrinya. Ergan mencoba berbagai gaya dimanapun dan kapanpun begitu ada kesempatan. Seperti saat ini diruang kerjanya saat kedua anaknya dan ART sudah terlelap.
....................
Brian naik jet menuju Magelang. Brian meminta bantuan Tirta mengurus kepergian. Saat sampai di Magelang, Brian memesan taksi online dan menyewa langsung menuju rumah orang tua Karmen.
Butuh waktu tiga jam dari bandara untuk sampai kerumah orang tua Karmen.
Tok.. tok.. tok...
Brian mengetuk pintu rumah. Sepertinya rumah kosong karena Brian mengetuk pintu berkali-kali, bahkan sudah menunggu selama satu jam. Brian mengintip lewat kaca jendela untuk memastikan ada orang atau todak didalam, ternyata rumah memang sangat sunyi.
"Bu' maaf mengganggu, ini rumah Karmen kan?" tanya Brian pada ibu-ibu yang sedang lewat didepan rumah Karmen yang tidak lain tetangga Karmen yang bermulut julid dan pedas seperti cabe rawit.
Ibu itu memperhatikan penampilan Brian dari atas hingga ke bawah, dia yakin jika Brian orang dari kota karena di desa tidak ada laki-laki yang memakai setelan jas. Yang ada setelan ke sawah atau kuli pasar.
"Iya, benar," jawabnya.
__ADS_1
"Aku sudah mengetuk rumahnya berkali-kali tapi kok nggak ada orang ya?"
"Ya jelas nggak adalah, orang mereka sudah pindah dua hari yang lalu. Karmen hamil diluar nikah, makanya diusir paksa dari kampung ini. Begitulah kalau anak gadis merantau ke kota, ujung-ujungnya pulang hamil, bikin malu keluarga." ujar ibu itu dengan mulut julidnya.
Brian mengepalkan tangannya, rasa bersalahnya pada Karmen semakin besar. Disaat Karmen butuh sandaran dia malah diusir bersama keluarganya.
"Kira-kira mereka pindah dimana ya bu?" tanya Brian.
"Kamu ini siapa? kenapa mencari karmen? o... apa jangan-jangan kamu ini bapak dari anaknya ya?" tanya ibu itu membuat Brian mulai waspada, takut memanggil warga dan memukulinya.
"Saya... saya..." Brian terbata-bata, antara ingin mengatakannya tapi takut dimassa.
"Bapak-bapak, ibu-ibu...! nih laki-laki yang menghamili Karmen." Teriak ibu itu.
Satu persatu warga datang mendekat. Wajah Brian sudah menegang kala tatapan mereka seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Yang bener bu'?" tanya warga.
"Iya, gayanya seperti laki-laki terhormat tapi sayang kelakuannya bejat," sengit ibu itu.
"Ah, mending kita usir saja dia dari desa kita," teriak warga.
"Iya bener," lanjut yang lain.
Mereka kemudian menarik tangan Brian masuk kedalam mobil. Menyuruh supir membawanya sebelum mereka menghancurkan mobilnya.
"Arrrgggghhhh...! kemana lagi aku mencarimu Karmen?" geram Brian.
"Bapak baik-baik saja?" tanya supir sambil melirik kaca spion melihat keadaan Brian.
"Iya Pak saya baik-baik saja. Pak kita cati penginapan dekat sini," pinta Brian. Brian tidak akan pulang sebelum mendapatkan informasi kemana Karmen pergi.
"Baik Pak,"
Sangat susah mencari penginapan disana karena desa terpenci. Brian bahkan menghabiskan waktu selama satu jam hingga menemukannya, penginapannya sangat kecil dan hanya menggunakan kipas angin.
Brian meletakkan tas ranselnya di atas tempat tidur. Ia kembali keluar untuk mencari karmen dengan berjalan kaki karena supir itu sudah pulang.
Brugh!
Seseorang menabrak Brian dengan sepeda pada saat Brian menyerangi jalan.
"Maaf Pak," ujarnya sambil berjalan menghampiri Brian yang sedang memungut ponselnya yang jatuh ditanah.
.
.
__ADS_1
Bersambung......