
Tidak lama kemudian, Andi adik Karmen datang masih mengenakan seragam anak sekolah SMU. Andi sudah kelas dua belas, sebentar lagi dia ujian sekolah, itulah yang membuat Karmen masih bertahan tinggal dikontrakannya, karena dia harus menunggu Andi lulus sekolah baru mereka akan pindah.
Andi langsung memeluk Karmen karena khawatir. Saat sampai di kontrakan, rumahnya kosong dan dia keluar bertanya pada tetangga kemana ibu dan kakaknya.
"Bagaimana keadaan ibu Kak?" tanya Andi.
"Kakak juga belum tau, masih ditangani dokter," jawab Karmen dengan air mata membasahi pipinya.
"Ya Allah... cobaan apa lagi ini? tolong sembuhkan dan kuatkan ibu," lirih Andi seraya berdoa meminta pada sang Pencipta.
Andi melirik Brian yang duduk disamping Karmen. Pria asing itu menggenggam tangan Karmen seolah memberi kekuatan.
"Dia siapa Kak?" tanya Andi.
"Temen Kakak," jawab Karmen.
"Beneran cuma temen? tapi kok pegangan tangan?" tanya Andi melirik tangan Karmen.
Sontak Karmen melepaskan tangannya, tidak mau adiknya berpikiran yang tidak-tidak.
"Apa dia ayah dari bayi Kakak?" tanya Andi.
Karmen diam kemudian mengangguk membuat Andi segera berdiri melewati Karmen.
"Brengsek!" Geram Andi, ia menarik kerah baju Brian, tangannya yang lain mengepal kuat ingin melayangkan tinjunya. Namun kekuatannya kalah oleh Brian. Brian menepis tangan anak muda itu hingga tangannya terkunci.
"Jangan buat keributan, ini rumah sakit! aku kesini untuk bertanggung jawab, jadi jangan berbuat kasar!" ancam Brian.
"Ck!" Decak Andi, ia sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas perlakuan Brian pada Kakaknya. Brian telah menyakiti hati Kakak dan ibunya, tentu saja dia tidak terima jika ada yang menyakiti kedua perempuan yang dia sayangi.
"Sudah Andi! Kakak mohon kamu tenang dulu demi Ibu," ujar Karmen sambil menarik Andi duduk disampingnya.
Dengan malas Andi mengikuti Karmen duduk. Setelah itu pintu ruangan terbuka lebar. Karmen segera menghampiri dokter dan menanyakan keadaan ibunya. Brian dan Andi pun ikut berdiri di belakang Karmen.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Karmen.
"Rongga pembuluh darahnya mengalami penyempitan dan harus segera dioperasi," jawab Dokter.
"Operasi?" beo Karmen.
"Iya, pasang ring di jantungnya satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya, bagaimana?" tanya Dokter.
"Lakukan yang terbaik dokter, masalah biaya saya yang menanggung semuanya." Sela Brian, ia tahu jika Karmen
"Bisa saya melihat ibu saya dok?" tanya Karmen.
__ADS_1
"Iya, tentu, silahkan," ujar dokter kemudian kembali masuk ke dalam bersama Karmen.
...........................
Seminggu setelah operasi jantung ibu Rahmi, ibu Karmen telah sembuh dan keluar dari rumah sakit. Karmen sangat bersyukur karena semuanya berjalan lancar, mulai dari permohonanan maaf Brian pada ibunya, hingga lamaran dadakan dirumah sakit dan ibu Rahmi memberikan restu pada mereka.
Kini mereka sedang mengadakan akad nikah disalah satu hotel bintang lima di ibu kota.
Brian dengan setelan jas dan peci dikepalanya duduk dihadapan penghulu, sementara Karmen duduk di sampingnya mengenakan kebaya modern berwarna putih. Karmen begitu cantik dengan riasan tipis di wajahnya.
Ergan, Amelia, Aska, Aqilah, Karisma, Andreas, Ibu Rahmi, dan semuanya tampak bahagia. Mereka bersama-sama mengucapkan kata Alhamdulillah setelah kata 'SAH' keluar dari mulut para saksi.
Sekarang mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri. Brian tersenyum karena telah menemukan belahan jiwanya, begitupun dengan Karmen. Meskipun hatinya belum sepenuhnya mencintai Brian, tapi dia sudah berjanji akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarganya.
Pesta resepsi langsung digelar hanya mengundang keluarga terdekat, sahabat, dan beberapa kolega bisnis Brian, mengingat Karmen tidak boleh terlalu lelah berdiri diatas pelaminan karena sedang hamil muda.
Tirta dan Ayu juga hadir disana, bahkan Ergan tidak berhenti mengejek Tirta kapan menyusu Brian.
"Payah lo Tir, kalah cepat dengan Brian," Ejek Ergan membuat Tirta memutar matanya kesal.
"Ck, tunggu aja undangannya," decak Tirta.
"Kapan? bulan depan? tahun depan atau sepuluh tahun lagi? karatan lo, Tir!" ejek Ergan kembali.
"Dasar bos nggak ada akhlak!" rutuk Brian kemudian pergi dari Ergan dan mencari Ayu.
Begitu Tirta menemukan Ayu yang sedang bersama Amelia, ia langsung manarik tangannya.
"Nyonya, pinjem Ayu sebentar ya?" ujar Tirta pada Amelia.
"Iya, lama juga nggak apa-apa, silahkan," balas Amelia tersenyum.
"Permisi bu," pamit Ayu kemudian mengikuti Tirta kemana tangannya ditarik.
"Tir, bisa pelan nggak sih?!" kesal Ayu merasa malu dilihat beberapa tamu di pesta itu.
"Nggak bisa!" Tirta tetap menggenggam tangan Ayu kemudian menatapnya dengan sendu. "Yu, ini yang terakhir kali aku tanya, kamu mau menikah denganku kan? jika tidak maka aku akan mengakhiri hubungan yang tidak jelas ini," ujar Tirta membuat Ayu membeku ditempatnya.
Ayu menatap Tirta dengan tatapan teduh, berusaha melupakan masa lalu kedua orangtuanya, dan memulai kisah yang baru bukankah itu lebih baik? Jika pun keluarganya gagal mungkin itu adalah takdir yang harus ia terima.
"Aku.. aku mau menikah denganmu," jawab Ayu mengangguk membuat Tirta kegirangan dan tanpa sadar memeluk Ayu ditengah pesta.
"Tir, malu..." ujar Ayu sambil melihat sekelilingnya dengan wajah merona seperti buah strawberry.
"Maaf aku tidak bisa menahannya, terimakasih sudah siap menikah denganku, kita akan menikah bulan depan, bagaimana?" ujar Tirta kemudian melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Widihhh... ada yang lagi happy nih!" Sindir Ergan.
Ayu dan Tirta menoleh kebelakang, Ergan dan Amelia ternyata mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kenapa kalian ada di sini? bukannya tadi disana?" tanya Tirta heran bagai maling kepergok mencuri ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
"Nggak penting! kalian serius akan menikah bulan depan?" tanya Ergan.
"Lebih cepat lebih baik kan bos? sesuai motto kita," ujar Tirta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ck, bilang aja kalau sudah nggak sabar!" decak Ergan.
"Selamat ya Ayu, kalau butuh apa-apa jangn sungkan ke kita," ujar Amelia pada Ayu.
"Iya Nyonya, terimakasih sebelumnya," balas Ayu.
"Tentu saja kami butuh dukungan, terutama dukungan dari bos!" sela Tirta.
"Ck, lo urus aja pernikahan kalian, semua biayanya gw yang tanggung," decak Ergan kembali menatap Tirta dengan tajam.
Ergan tahu dukungan apa yang dimaksud oleh Tirta.
"Bener ya bos! ingat janji bos!" ancam Tirta.
Bugh!
Ayu langsung memukul lengan Tirta, ia cukup malu dengan ancaman Tirta.
"Apa sih yang..? nggak apa-apa, itu sudah kewajiban bos karena sudah janji, tenang aja pesta pernikahan kita lebih mewah dari kedua bos kita," bisik Tirta.
"Sudah, jangan bisik-bisik lagi. Ayo kita ke pelaminan, Mama sudah meminta kita berfoto disana," sela Amelia karena tadinya memang mereka ingin memanggil Tirta untuk berfoto bersama tapi malah mendengar Tirta melamar Ayu di sana.
Mereka menuju pelaminan memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai kemudian berfoto bersama.
Lampu camera terus menyoroti pasangan pengantin yang disampingnya sudah ada Karisma, Andreas, Ergan, Amelia, Aqilah dan Azka. Setelah itu giliran Tirta dan Ayu, kemudian sahabat-sahabat Brian, keluarga Karmen.
.............Tamat..........
Terimakasih untuk para readersku yang setia hingga akhir, dukung terus karya Author yang lainnya ...? 🙏🙏🙏
Jangan lewatkan baca novel Author yang lainnya ya...
__ADS_1