Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Jatuh Sakit


__ADS_3

Tirta membawa Ergan menuju tempat tidur membaringkan tubuh Ergan kemudian menghubungi dokter Bram.


"Amel sayang... kamu dimana sih!" Ergan memukul batal dengan keras, "Aku nggak mau kehilanganmu." Ergan kembali meracau, pikirannya hanya pada Amelia, Amelia dan Amelia.


"Tir, kenapa anak buahmu belum menemukannya? cari tau di semua bus yang ada di terminal itu. Apa susahnya sih! bawa istriku kesini." Geram Ergan kemudian menenggelamkan kepalanya dibawah bantal.


"Ergan, apa yang lo lakukan? lo bisa mati karena kehabisan napas." Tirta menarik bantal dengan kasar, memindahkan dibawah kepalanya kemudian duduk di sisinya.


"Arghh..!" Teriak Ergan.


Sepertinya Tirta harus bekerja ekstra untuk merawat bayi besar ini.


Tidak lama kemudian Dokter Bram datang dan memeriksa keadaan Ergan.


"Kenapa lo ada disini? minggir, gw nggak sakit." Kesal Ergan saat melihat Dokter Bram memeriksanya.


"Tubuh lo memang nggak sakit, tapi hati lo! Diam dan biarkan Bram bekerja." Tirta ikut kesal, sambil berkacak pinggang ia membentak Ergan.


"Ck." Ergan berdecak kemudian pasrah, ia menutup mata untuk istirahat dan membiarkan Bram memeriksanya.


"Bagaimana Bram? nggak ada yang serius kan?" Tanya Tirta khawatir. Ia kecolongan menjaga Ergan. Tidak bisanya Ergan minum sendiri jika sedang galau.


"Hanya demam biasa, Minum obat dan istirahat juga sudah sembuh. Tapi lain kali jangan biarkan dia minum sebanyak itu."


"Iya Bram, gw kecolongan, gw pikir dia sudah tidur, ternyata dia minum sampai pagi."


"Masalah apa lagi yang membuatnya minum banyak?" Tanya Dokter Bram.


"Istrinya pergi."


"Istri yang mana? pertama atau kedua?"


"Yang kedua, namanya Amelia."


"Siapa suruh punya istri dua? satu aja sudah bikin kepala pusing, apalagi dua? cari penyakit!" Ejek Bram membuat Ergan seketika bersuara.


"Gw denger omongan kalian! kalian berdua mau gw pecat?!" Sela Ergan masih dengan menutup mata.


"Gw pikir lo sudah tidur setelah gw kasi obat. Masih sadar juga lo." Kesal Bram.


"Keluar sana, gw mau istirahat." Ergan membuka mata menatap Tirta dan Bram secara bergantian.


Tirta memberi kode pada dokter Bram untuk keluar. Lebih baik membiarkan Ergan tidur, dari pada harus mendengarnya meracau tidak jelas.


"Gw langsung pulang aja, gw ada jadwal operasi." Ujar Dokter Bram sambil melirik jam tangannya.

__ADS_1


"Oke, Terimakasih Bram."


Bram menepuk pundak Tirta, "Jaga bos lo baik-baik, sepertinya obatnya cuma satu. Amelia." Ujar Bram kemudian segera membuka pintu keluar dari rumah Ergan.


Tirta mematung, apa dikatakan Dokter Bram ada benarnya. Jika Ergan seperti ini karena Amelia, itu artinya dia hanya butuh Amelia disisinya. Dalam hati ia bersungguh-sungguh akan mencari Amelia sampai dapat.


Tirta menuju kamar tamu, ia membersihkan diri, mengganti pakaian kemudian berangkat ke kantor. Sarapannya ia bawa karena sudah tidak ada waktu. Ia harus menggantikan Ergan menyelesaikan pekerjaannya hari ini.


....................


Siang hari Rania dan Karisma datang kerumah Ergan menjenguknya. Karisma kaget saat Andreas menelpon dan memberitahunya bahwa Ergan sedang sakit dan sendirian dirumahnya. Andreas ingin menjenguknya tapi dia harus meeting bersama Tirta dan beberapa klien dikantor.


Sebenarnya Tirta ingin merahasiakan jika Ergan sedang sakit. Tapi pada saat bertemu dengan Andreas, Andreas langsung menanyakan dimana Ergan, kenapa tidak ikut meeting penting hari ini. Terpaksa Tirta jujur kalau Ergan sedang sakit karena terlalu banyak minum.


"Mah ini rumah baru Mas Ergan?" Tanya Rania.


"Setahu Mama ia." Jawab Karisma.


Rania mengedarkan pandangannya disetiap sudut ruangan. Rumah yang ditempatinya lebih besar dari pada rumah Ergan, hanya saja halaman rumah ini lebih luas dan sejuk.


"Lumayan." Lirih Rania kemudian mengikuti Karisma menuju kamar Ergan.


Untung pada saat mereka datang, ART yang biasa membersihkan rumah Ergan sedang ada dirumah, jadi mereka dapat leluasa dirumah itu.


"Mel... sayang.. jangan pergi." Ergan mengigau, matanya masih terpejam, kepalanya bergerak kekiri kekanan, mungkin dia sedang bermimpi bertemu Amelia saat ini.


Rania yang sedang duduk disofa memainkan ponsel sambil menunggu Ergan bangun mengalihkan pandangannya ke Ergan. Ia menatap Ergan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Brengsek! dalam tidur pun kamu masih menyebut nama pelakor itu?" Geram Rania.


Rania mendekatkan tangannya untuk mencekik leher Ergan, namun ia kembali menarik tangannya saat Karisma membuka pintu kamar lalu masuk membawa semangkuk sup dan segelas air diatas nampan.


"Rania, apa Ergan sudah bangun?" Tanya Karisma.


"Belum Mah, tapi panasnya sudah turun kok." Rania memegang dahi Ergan memperlihatkan perhatiannya pada Karisma.


"Kalau dia sudah bangun berikan ini padanya. Mama mau kembali kedapur buatkan cemilan untuk Ergan." Ujar Karisma sambil meletakkan nampan diatas nakas.


"Iya Mah."


Setelah kepergian Karisma, Rania duduk disamping Ergan, ia menatap wajah suaminya dengan lekat. Rasa takutnya kehilangan Ergan begitu besar hingga membutakan hatinya.


"Jika Aku tidak bisa memilikimu, maka Pelakor iti juga tidak akan pernah memilikimu. Aku akan melakukan apapun untuk menahanmu di sisiku." Batin Rania.


Ergan membuka mata perlahan, tangannya bergerak menekan kepalanya yang masih pusing. Matanya menyipit saat melihat Rania duduk di sisinya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mel.. kamu pulang sayang?" Ergan langsung bangun dan memeluknya. Menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam. "Jangan pergi lagi, aku tidak bisa hidup tanpamu." Lirih Ergan semakin mengeratkan pelukannya.


Rania tersenyum karena Ergan memeluknya dengan erat. Dia tidak perduli dianggap Amelia oleh Ergan, setidaknya dia dapat merasakan hangatnya tubuh itu lagi saat menyentuhnya. Sudah hampir dua tahun Ergan tidak melakukan kontak fisik dengannya hingga membuatnya merasa Ergan menginginkan dirinya saat ini.


"Kamu sudah bangun?" Karisma tiba-tiba masuk membawa cemilan membuat Ergan melepaskan pelukannya.


Ergan melihat arah pintu. "Mama." Lirih Ergan kemudian melihat Rania, "Rania." Pekik Ergan segera mundur memberi jarak antara dirinya dan Rania.


"Kenapa kalian ada disini?" Kesal Ergan.


"Kamu gimana sih! Mama kesini untuk merawat kamu karena kamu sakit. Sudah jangan marah! sekarang makan dulu." Ujar Karisma.


Karisma memberikan sup pada Rania untuk menyuapi Ergan, namun Ergan segera mengambilnya dari tangan Rania.


"Ergan sudah sembuh Mah, nggak usah berlebihan seperti ini. Sekarang Ergan mau mandi, Tirta sudah menungguku di kantor."


"Tidak bisa, hari ini kamu nggak ke kantor. Kamu harus istirahat."


"Ia Mas, lebih baik istirahat dulu." Timpal Rania.


Ergan mendengus kesal, ia terpaksa makan sup itu hingga habis.


"Ini minumnya Mas."


Ergan mengambilnya dengan tatapan dingin. Sekuat apapun Rania mencoba menarik perhatiannya, tapi Ergan tetap membalasnya dengan wajah datar dan dinginnya.


"Ergan sudah makan, sekarang Mama bisa pulang. Sebentar lagi Papa pasti pulang kantor." Ujar Ergan. Ia tahu jika Papanya pasti membutuhkan Mamanya jika sudah dirumah.


"Ya sudah, Tapi Rania nginap disini ya? buat jagain kamu, nanti Mama suruh supir bawa Aqilah juga." Ujar Karisma.


"Nggak bisa Mah." Tolak Ergan.


"Nggak apa-apa Mas, aku mau kok rawat kamu yang sakit, itukan sudah tugasku sebagai istri kamu." Sela Rania.


Ergan tersenyum kecut. "Kenapa baru sekarang kami sadar jika punya suami? bukannya selama ini kamu merasa diri kamu single?" Ejek Ergan.


"Mas, berikan aku kesempatan untuk merawatmu dan memperbaiki hubungan kita."


"Ck, sudah terlambat!"


.


.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2