
"Nggak apa-apa." Jawab Amelia.
"Turun yuk, Jam terbang kita masih lama, masih nunggu empat jam lagi. Kayaknya masih sempat jalan-jalan deh." Ajak Karmen sambil melirik jam ditangannya.
Amelia ikut melihat jam tangannya, merasa memang waktunya masih lama dan dia butuh hiburan untuk menenangkan hatinya yang lagi galau merana akibat dicuekin. Ia pun mengangguk kemudian mengambil tasnya lalu turun dari pesawat bersama Karmen.
Saat keluar dari bandara, matanya tak sengaja melihat Ergan bersama beberapa pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam sedang menjemputnya. Ergan memberikan tas kecil yang dipeganya, sedikit bicara kemudian berjalan lebih dulu di ikuti enam orang dibelakangnya.
Amelia menyipitkan matanya, terus mengikuti kemana Ergan pergi. Tiga mobil mewah sudah menunggu di depan, Ergan masuk kedalam mobil Bantley keluaran terbaru setelah dibukakan pintu oleh supir, sedangkan pria di belakangnya naik di mobil yang lain.
Amelia diam ditempat hingga pandangannya tidak lagi melihat mobil Ergan. Dalam hati bertanya-tanya siapa Ergan.
"Hei, kamu kok ninggalin aku." Kesal Karmen karena Amelia mengikuti Ergan dan melupakan sahabatnya.
"Sorry."
"Siapa yang kamu kejar? kamu kenal mereka?" Tanya Karmen tahu jika Amelia sedang mengikuti seseorang tapi dia tidak tahu itu siapa.
"Kamu nggak liat siapa?"
Bukannya menjawab, Amelia balik bertanya.
"Malah nanya lagi! Kalau aku liat mana mungkin aku nanya, dodol! Yang aku lihat punggungnya doang, orangnya jalan terus kedepan bahkan aku liat nggak pernah menoleh sedikitpun. Apa dia artis korea? lihat cewek yang disana, mereka juga liatin orang itu terus." Jelas Karmen sedikit kesal.
"Syukurlah Karmen tidak melihatnya." Batin Amelia. "Ia, itu lee min ho." Jawab Amelia asal.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, tau gitu aku juga ikut kejar dia, trus minta tanda tangan, kan lumayan tambah satu lagi koleksi tanda tangan artis korea favoritku." Kesal Karmen mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah, dia juga sudah pergi. Ayo kita ke mall." Ajak Amelia sambil menarik pipi Karmen untuk tersenyum.
Mereka memanggil taksi menuju mall. Saat didalam taksi, mereka memakai jas untuk menutupi pakaian seragamnya.
Masuk dari butik yang satu ke butik yang lain. Mereka mencoba beberapa sepatu kemudian membawa dua pasang ke kasir.
"Mel kita kesana yuk!" Ajak Karmen sambil menunjuk salah satu toko brand ternama.
"Nggak ah, takut sakit kepala." Tolak Amelia.
"Maksudnya?" Tanya Karmen bingung.
"Kalau kita kesana, trus suka salah satu barang tapi kita nggak punya cukup uang untuk membelinya gimana? kan jadi kepikiran terus, bikin sakit kepala. Mending nggak usah deh! Tapi kalau kamu mau traktir aku, ayo!" Jawab Amelia.
"Ayo, kali aja ada diskon, hehehe...." Kekeh Karmen juga yakin itu tidak mungkin.
"Mana ada diskon di tempat seperti itu? yang ada barang limited edition." Sergah Amelia.
__ADS_1
"Udah, liat-liat aja dulu, nanti kalau ada uang baru kita beli." Karmen kembali mengajak Amelia, tapi sebelumnya membayar sepatu mereka terlebih dahulu.
"Kebiasaan."
Amelia menyerah, apa salahnya cuci mata untuk saat ini. Mereka juga masih punya banyak waktu.
Kini merek memasuki toko, melihat satu persatu barang yang menurut mereka bagus dan lucu untuk dipakai. Pegawai toko pun dengan ramah melayani mereka.
...............................
Di tempat lain, Ergan baru saja meeting dengan pemilik Mall di salah satu restoran. Baru saja mereka membahas tentang beberapa bagian dari mall yang akan di renovasi. Setelah meeting selesai, Ergan keluar dari Restoran bersama klien dan pengawalnya, tak sengaja matanya melihat Amelia sedang melihat beberapa barang dibalik kaca yang transparan.
Ergan menghentikan langkahnya, berpamitan pada kliennya dan menyuruh pengawal untuk menunggunya dibasemen. Setelah pengawalnya pergi, ia menghampiri Amelia.
"Kar, ini bagus nggak?" Tanya Amelia meminta pendapat Karmen sambil mengangkat tas yang dipegangnya.
"Bagus, apapun yang kamu pegang pasti bagus." Bisik Ergan.
Deg!
Amelia berbalik, ternyata bukan Karmen yang menjawab tapi Ergan. Pria itu tiba-tiba saja berdiri dibelakangnya. Nafas Ergan bahkan menyapu kulit lehernya dan membuatnya bergidik.
"Bagus Mel, Eh.. kamu kan pria yang..." Jawab Karmen kemudian melihat Ergan disisi Amelia.
"Iya, aku Ergan."
"Didalam pesawat."Jawab Ergan.
"Oh, iya kamu pria yang..." Karmen menghentikan ucapannya saat mata melihat mata Amelia melotot, seolah memberi isyarat untuk tidak banyak bicara. Amelia tidak ingin menambah masalah jika Karmen sampai salah bicara.
"Pria yang....?" Ergan mengernyitkan keningnya saat Karmen berhenti bicara.
"Yang.. yang di kelas bisnis maksudnya." Jawab Karmen gugup sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Astaga..! aku baru ingat, jika pria ini yang duduk di kelas bisnis saat itu, tapi kenapa Sindi bilang dia kerumah jalan kaki ya? Kali ini kamu salah Sindi, pria yang kamu bilang kere ternyata ada di Singapore dengan setelan jas mahal. Aku foto diam-diam ah.." Batin Karmen, kemudian mengambil gambar Ergan sembunyi-sembunyi.
"Oh.. kalian mau beli apa disini? ambil aja kalian suka, aku yang bayar." Ujar Ergan.
Tawaran yang menggiurkan kayak gitu siapa yang mau nolak? Apalagi Karmen, dia tidak akan melepaskan kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidupnya.
"Beneran nih?" Tanya Karmen dengan antusias memastikan tawaran Ergan. Sebenarnya ada sedikit keraguan dihati Karmen mengingat Ergan tidak memakai kendaraan saat ke mes-nya. Apa mungkin cowok kere yang dikatakan Sindi dapat membayar barang di toko itu? Ah, Sindi menepis pikiran buruknya, mencoba positif thinking dengan Ergan.
Amelia menyikut lengan Karmen. Temannya yang satu ini benar-benar nggak punya malu, baru aja kenalan tapi Karmen sudah menerima tawarannya.
"Apaan sih?" Kesal Karmen.
__ADS_1
Amelia mentap tajam pada Karmen kemudian melirik Ergan.
"Nggak usah, terimakasih." Tolak Amelia pada Ergan kemudian melangkah keluar.
"Mau kemana?" Ergan mencegah Amelia dengan menahan tangannya.
"Lepasin!" Berontak Amelia sambil menyentakkan tangannya.
"Nggak!"
"Kalian kenapa sih, tiap ketemu selalu berantem." Kesal Karmen kemudian menatap Ergan, "Apa kalian ada masalah?" Selidik Karmen.
Ergan tidak menjawab, ia mengambil dompet dari saku celananya kemudian memberikan kartu black card-nya pada Karmen.
Mata Karmen melotot, tangannya gemetar saat melihat kartu ditangannya.
"Beli apa aja yang kamu mau. Aku harus bicara dengannya." Ujar Ergan datar. "Ayo ikut aku!" Ergan menarik tangan Amelia secara paksa membuat Amelia meringis kesakitan pada pergelangan tangannya.
"Hah..?!" Karmen melongo, matanya tak berkedip, tubuhnya mematung, hingga tidak sadar jika Ergan dan Amelia sudah menghilang entah kemana.
"Lepasin! aku nggak mau ikut." Tolak Amelia masih berusaha lepas dari cengkraman tangan Ergan. Tapi Ergan tidak pernah melepasnya hingga tiba di basement.
Ergan melepaskan Amelia saat mereka tiba di samping mobil.
"Masuk."
"Nggak."
"Masuk!" Sentak Ergan dengan nada tinggi
"Nggak mau!"
"Masuk, atau aku menciummu disini." Ergan mendekatkan wajahnya membuat Amelia ketakutan dan terpaksa masuk ke dalam mobil.
"Jalan, antar aku pulang." Perintah Ergan pada supir, kemudian mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Kita mau kemana?" Tanya Amelia denga gugup, matanya tidak berhenti melirik keluar jendela.
Ergan hanya diam, hingga mobil berhenti di lobi Apartemen milik Ergan.
"Apartemen?" Amelia mengernyitkan keningnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung....