Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Egois


__ADS_3

"Sampai kamu mau melepaskan aku."


"Kamu milikku, dan selamanya akan menjadi milikku! sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu."


"Jahat kamu Mas! jahat! Arghh..! hikss, hikss.." Teriak Amelia. Tangisannya pun semaki kencang.


"Sayang...!" Ergan mencoba menyentuhnya.


"Kamu laki-laki egois!"


"Kamu tau itu. Maka jangan melawanku."


"Aku tidak ingin pernikahan seperti ini Ergan!"


"Kamu pikir, aku mau?" Ergan balik bertanya.


"Ceraikan aku atau ceraikan dia?"


"Kau memintaku memilih?"


"Kenapa tidak!"


"Ckk..!" Decak Ergan. Ia tidak suka berada disituasi seperti ini.


Ergan keluar meninggalkan Amelia membuat Amelia kembali menangis. Hatinya kembali sakit, pedih dan perih. Bernapas saja rasanya begitu sulit dan sesak. Hatinya ingin menjerit berteriak sekencang mungkin. Tapi siapa yang peduli? Apa sebesar itu rasa cinta Ergan ke Rania hingga Ergan tidak ingin melepaskan Rania?


"Baiklah, kalau begitu aku yang mundur." Lirih Amelia setelah Ergan keluar dari kamar.


Amelia beranjak membersihkan diri, mengganti pakaiannya kemudian keluar dari Apartemennya tanpa sepengetahuan Ergan. Ia memesan taksi online, kemudian menuju kantor Butterfly Airlines.


Sebelum turun dari taksi online, ia memakai masker terlebih dahulu kemudian masuk ke dalam gedung menuju ruang HRD.


Tidak butuh waktu lama urusannya sudah selesai. Ia telah resmi resign menjadi pramugari. Beruntung tidak seorang pun yang mengenalinya saat di dalam kantor. Ia kemudian keluar dari gedung. Ia menghubungi Karmen, tapi sepertinya sahabatnya itu masih bekerja karena ponselnya tidak aktif.


Amelia berjalan menuju Cafe depan kantornya. Cuaca hari ini begitu panas hingga tenggorokannya ikut kering. Makan es krim adalah pilihan yang tepat untuk mencairkan suasana hatinya yang masih panas.


Saat sampai di Cafe, ia memesan es krim strawberry kesukaannya. Ia duduk di tepi dinding kaca transparan sambil menunggu pesanannya. Tidak lama kemudian es krim dua cup datang diantar seorang pelayan.


"Silahkan." Ujar pelayan kemudian meninggalkan meja Amelia.


Amelia membuka maskernya kemudian menikmati es krimnya. Rasanya begitu adem masuk kedalam tenggorokannya yang kering. Sementara asik menikmati kesendiriannya. Ponselnya berbunyi dan ternyata yang menelpon adalah Ergan.


Ergan terus menelponnya, tapi ponselnya ia biarkan berdering diatas meja. Ia ingin menikmati hari ini setelah seminggu mengurung diri di kamar.

__ADS_1


"Ahh, bodo amatlah dengan kamu Mas! Kamu tidak ingin melepasku? maka aku yang akan melepasmu. " Amelia meraih ponselnya lalu menonaktifkannya. Ia tidak ingin diganggu hari ini.


Biarlah manusia tak berhati itu marah. Amelia sudah tidak perduli. Hatinya sudah beku semenjak tahu Ergan sudah menikah.


Ergan kesal setengah mati, saat ia masuk ke dalam kamar memanggil Amelia untuk makan, istrinya itu tidak ada di kamar. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Amelia. Namun sayangnya, Amelia mengabaikan panggilannya.


"Bodoh! kenapa aku bisa lupa kalau aku sudah memasang aplikasi untuk menyadap lokasi Amelia diponselnya?" Senyum tipis tersungging di bibirnya. Jari-jarinya bekerja mencari keberadaan Amelia hingga akhirnya ia menemukannya.


"Tunggu aku sayang... aku akan membuat kejutan untukmu." Ergan mengambil kunci mobil kemudian menyusul Amelia di Cafe.


Ergan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah memarkirkan mobil ia segera masuk kedalam Cafe.


Ergan tersenyum saat melihat wanita dicintainya mulai tersenyum menikmati es krim di dalam cup. Ergan mengerutkan keningnya saat sadar berapa cup sisa es krim diatas meja.


Ada enam cup, itu Amelia lapar apa doyan?


"Khemm.."


Dehaman Ergan membuat Amelia melongo, wajahnya mendongak keatas, matanya melotot hampir saja lepas, sendok eskrim kayu tidak lepas dari mulutnya saking terkejutnya.


Bagaimana mungkin Ergan menemukannya semudah itu?


"Enak es krimnya?"


"Cobain dong! Aaaaa...." Ergan membuka mulutnya, menarik tangan Amelia membawa sendok dengan sedikit sisa es krim ke dalam mulutnya.


"Pantas kamu habiskan sebanyak ini. Ternyata es krimnya sangat enak." Godaan maut Ergan mulai meluluhkan hatinya yang membeku.


"Kok kamu bisa disini?" Tanya Amelia setelah sadar dari keterkejutannya.


"Kamu lupa siapa suamimu ini? aku bisa menemukanmu dimanapun kamu bersembunyi. Aku cuma butuh waktu sebentar untuk menemukanmu meskipun kau bersembunyi dilubang semut. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku." Jelas Ergan membuat Amelia mendengus kesal.


Amelia harus mengubah rencananya untuk marikan diri dari Ergan.


Amelia kembali diam, ia melanjutkan makan es krimnya karena masih ada satu cup yang tersisa.


"Kamu makan eskrim sebanyak ini?" Tanya Ergan.


Amelia memutar bola matanya dengan malas, Ia masih belum ingin memaafkan Ergan saat ini. Setelah eskrimnya habis. Ia berdiri ke kasir meninggalkan Ergan.


Ergan mengikutinya seperti anak ayam mengekori induknya.


Setelah membayar Amelia memesan taksi online, tapi Ergan tiba-tiba merampas ponselnya. Ia mengangkat tubuh Amelia ke pundaknya seperti koala keluar dari Cafe menuju parkiran.

__ADS_1


"Turunin! kamu gila ya?" Amelia memberontak, kakinya meronta melayang diudara, tangannya memukul punggung Ergan, matanya melirik kekiri dan kekanan. Amelia sangat malu melihat dirinya menjadi pusat perhatian pengunjung Cafe.


"Ia, aku memang sudah gila melihatmu diam!" Bentak Ergan langsung memasukkan Amelia kedalam mobilnya setelah tiba di parkiran.


Ergan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Amelia semakin tegang dan berpegangan pada seat beltnya.


"Mas, pelan-pelan, aku takut..!" Melas Amelia.


"Akhirnya kamu bicara juga. Apa harus aku mati dulu agar kamu mau bicara denganku?" Ergan masih melajukan mobilnya dengan kencang. Saat ini mobil mereka masuk ke jalan tol.


"Pelankan mobilnya mas! sebenarnya Kita mau kemana? kenapa harus lewat tol?" Tanya Amelia masih dengan tubuh menegang.


"Ini jalan tol sayang... mana bisa pelan, ada-ada aja kamu. Lebih baik kamu istirahat, perjalanan kita masih jauh."


"Hah?!"


"Ia sayang kita akan keluar kota." Jelas Ergan.


Amelia mulai merileks tubuhnya. Lebih baik ia menutup mata dari pada melihat jalanan yang menakutkan baginya.


Setelah satu jam melewati jalana tol dan pedesaan, akhirnya mereka sampai di sebuah villa. Villa di pegunungan yang sangat mewah dan menyejukkan. Ergan sengaja mengajak Amelia kesana untuk menenangkan pikirannya.


Mereka butuh waktu berdua untuk memperbaiki hubungan mereka yang renggang selama hampir dua minggu.


"Sayang bangun, kita sudah sampai." Ergan membuka seat beltnya kemudian seat belt Amelia. Ia mencoba membangunkan Amelia yang tertidur lelap, mulut setengah terbuka dengan napas beraturan. Ia kembali membangunkannya namun Amelia masih nyaman dialam mimpinya.


"Hah..! dasar kebbo, lucu juga kalau kamu seperti ini." Gumam Ergan.


Ergan keluar dari mobil mengangkat tubuh Amelia ala bridal style masuk kedalam villa. Mang Kokom menyambutnya di depan pintu rumah dan mempersilahkan mereka masuk.


Ergan langsung membawa Amelia masuk kedalam kamar dan membaringkannya diatas tempat tidur king size berwarna krem.


Ia memasang selimut pada istrinya, Ergan menuju kamar mandi membersihkan diri.


Tidak butuh lama, ia keluar dengan lilitan handuk dipinggangnya. Ia memakai pakaiannya didepan Amelia yang masih tidur pulas. Jika Amelia melihatnya, ia pasti akan mengomel karena Ergan sudah kebiasaan melakukannya didepan Amelia.


Kebiasaan yang buruk!


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2