
Amelia mengangguk sambil tersenyum. "Aku sangat beruntung memilikinya Kar, dia penyemangat hidupku selama ini. Lihatlah wajah tidak berdosanya, begitu polos dan tenang. Karena dia aku dan Ergan kembali bersama. Dia adalah hidupku, belahan jiwaku, aku tidak bisa hidup tanpanya. Suatu saat jika kamu memiliki anak, kamu akan merasakan betapa bahagianya jika kita memilikinya," jelas Amelia.
"Aku nggak nyangka, setelah penderitaan yang kamu alami, sekarang kamu hidup bahagia," ujar Karmen.
"Alhamdulillah, Allah memiliki rencana yang lebih indah dari pemikiran kita," ujar Amelia.
"Aku ikut senang, melihatmu yang sekarang hidup bahagia bersama suami dan anakmu, rasanya aku juga ingin berkeluarga," ujar Karmen.
"Bagaimana kamu berkeluarga jika pacar aja nggak punya?" tanya Amelia, ia melirik Karmen yang hanya memikirkan kariernya.
"Kamu tau sendiri kan kalau aku sibuk? seandainya ada laki-laki yang mengejarku seperti Tuan Ergan mengejarmu dulu, mungkin aku akan menikah," ujar Karmen mengingat bagaimana Ergan mengejar cinta Amelia.
"Hehehe... cuma dia laki-laki gila yang bisa melakukan semua itu." Amelia geleng-geleng kepala
"Eh, tunggu! penampilan kamu beda banget? kamu makin anggun dan cantik meskipun memakai pakaian tertutup. Kemana Amelia yang dulu? apa karena kamu tinggal di pesantren jadi begini? tubuh seksi kamu nggak keliatan lagi," puji Karmen.
"Iya, sudah tiga tahu aku menutup aurat seperti ini. Kamu tahu nggak, dulu aku itu sangat senang kemana-mana selalu menjadi pusat perhatian. Dan sekarang, aku malah lebih tenang jika tidak ada yang memperhatikan penampilanku. Duaniaku sudah terbalik, Kar. Ternyata apa yang dulu aku kira benar belum tentu benar dimata Allah," jelas Amelia.
"Ya ampun...! Amelia, lo ceramahin gw?" tanpa sadar Karmen memukul lengan Amelia.
"Hehehe... akhirnya lo sadar juga," balas Amelia sambil tertawa.
"Nanti deh tobatnya, nunggu setelah nikah," ujar Karmen.
"Astagfirullahaladzim..... Karmen! nggak baik menunda-nunda menuju kebaikan. Kalau mau tobat nggak usah nungguin menikah dulu, atau apalah alasannya. Nggak ada yang tahu umur dan kapan kita mati. Masih bagus jika kamu masih sempat menikah baru tobat, bagaimana jika kamu meninggal besok atau sebelum menikah? nggak sempat tobat keburu mati kan?" jelas Amelia.
"Ih, lo nakut-nakutin gw deh.. gw bergidik nih..!" Karmen melihat bulu tangannya berdiri.
"Makanya jangan ngomong sembarangan. Eh, lo bawa apaan?" Amelia melirik paper bag yang dibawa Karmen.
"Gw beliin lo sesuatu di Singapore. Liat aja sendiri, lo pasti suka." Karmen mengambil paper bag didekat pintu kemudian menyerahkan pada Amelia.
"Masya Allah... makasih banyak bestie..!"
"Suka nggak?"
"Suka banget! apalagi yang ngasih itu lo, gw coba dulu ya?"
__ADS_1
Amelia memeluk Karmen kemudian mencoba mukena berbahan katun halus dan lembut. Satu berwarna peach, dan satu lagi berwarna mocca.
"Kamu makin cantik pakai itu, jangan lihat harganya ya? ah, gw jadi malu beliin kamu barang ," puji Karmen tersenyum tulus.
"Kamu juga lebih cantik jika memakainya. Kar, sesibuk apapun kamu, jangan tinggalkan shalat, gw pengen kita ketemu disurganya Allah diakhirat nanti. Sekali lagi makasih ya? gw pilih warna mocca aja deh," ujar Amelia.
"Oke deh!" Karmen menaikkan jempolnya kemudian menyimpan satu mukena berwarna peach ke paper bag kembali.
"Mom..." Azka terbangun, mengerjapkan matanya menyisir isi ruangan. Matanya tertuju pada Karmen, ditatapnya wajah yang biasa ia lihat diponsel Mamanya. Azka beringsut memeluk Amelia, tangannya melingkar pada leher Amelia.
"Azka udah bangun ya? masih ingat Tante Karmen kan?" Karmen mengelus kepala Azka.
"Iya," singkat Azka.
"Main sama Tente yuk! Tante bawain Azka mainan, bentar ya?" Karmen segera mengambil paper bag yang lainnya, membuka kemudian mengeluarkan isi didalamnya. Mainan Hulk, Iron Man, dan beberapa mobil hot wheels.
Mata Azka yang tadinya masih redup berubah berbinar begitu melihat mainan baru dihadapannya. Ia segera melepaskan Amelia kemudian mengambil mainan itu ketangannya.
"Semua mainan ini untuk Azka. Azka suka?" tanya Karmen.
"Duh... manis banget sih kamu, pengen bawa pulang deh..!" ujar Karmen dengan gemas. Karmen tidak menyangka akan mendapatkan kejutan dari Azka.
"Kalau lo bawa pulang Azka, gw gimana?"
"Ah, lo mah gampang kan ada Ergan," jawab Karmen dengan santainya.
Waktu terus berjalan mereka asik bermain dengan Azka. Karmen harus segera kembali ke bandara, satu jam lagi pesawatnya akan terbang. Kopernya dititip ke resepsionis sebelum menuju lift u tuk naik keruangan Ergan.
"Mel, sepertinya gw harus balik sekarang deh! pesawat gw sejam lagi terbang. Gw seneng banget bisa ketemu lo." Karmen melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, setelah itu memeluk Amelia dan mencium Azka.
Mereka keluar dari kamar, Ergan dan Tirta sama-sama menoleh.
"Mas, Karmen sudah mau pulang," ujar Amelia sambil menghampiri Ergan.
Ergan mengambil Azka duduk diatas meja kerjanya, kemudian membiarkannya bermain diatas meja. Ergan melirik Tirta yang kembali menatap berkas ditangannya.
"Tir, anterin Karmen ke bandara," perintah Ergan, membuat Tirta mengangkat wajahnya pada Ergan.
__ADS_1
"Hah?!" Mulut Tirta sedikit terbuka, tubuhnya condong kedepan memastikan jika Ergan memang sedang menyuruhnya mengantar Karmen.
"Nggak usah pura-pura kaget, emang itu kan yang lo inginkan? ini kesempatan lo buat deketin dia bro," bisik Ergan.
"Kenapa kalian bisik-bisik?" tanya Amelia.
"Nggak apa-apa sayang..! Karmen biar Tirta yang antar ke bandara. Pekerjaannya biar nanti dilanjutkan," jawab Ergan.
"Ya sudah, Karmen, lo nggak keberatan kan kalau Tirta yang anterin lo?" tanya Amelia pada Karmen.
"Nggak usah dianterin, takut ngerepotin, gw naik taksi online aja," tolak Karmen dengan halus.
"Nggak apa-apa, Tirta nggak repot kok, ia kan Tir?" tanya Ergan dwngan mata melotot tajam membuat Tirta tidak bisa berkutik selain menurutinya.
"I.. iya, nggak apa-apa, biar aku antar." Tirta langsung berdiri kemudian mendekati Karmen.
Karmen berpamitan pada Amelia, Ergan dan juga Azka. Sebenarnya Karmen masih ingin tinggal lebih lama lagi. Rasa rindunya pada Amelia belum juga hilang, tapi pekerjaanya lebih penting dan harus berangkat sebelum terlambat.
Setelah berpamitan, Tirta membuka pintu ruangan untuk Karmen. Karmen lebih dulu keluar kemudian Tirta menyusulnya hingga berjalan berdampingan.
"Paper bagnya biar aku yang bawain," tawar Tirta langsung mengambilnya, sedangkan Karmen hanya tersenyum memberikan pada Tirta.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatapnya dengan sendu melihat kedekatan mereka.
"Makasih Mbak, permisi," pamit Karmen dengan sopan pada Ayu.
"I.. iya," balas Ayu.
Ayu diam membeku ditempatnya, ia tidak menyangka jika Tirta akan secepat itu berpaling darinya. Baru juga beberapa jam sikap Tirta sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Matanya mulai berkaca-kaca, apalagi saat Tirta tersenyum dan bercanda dengan Karmen. Rasanya sakit melihat Tirta dekat dengan perempuan lain. Kenapa rasa itu baru hadir setelah dia menolak Tirta? Ayu menggelengkan kepalanya lalu kembali duduk dengan tubuh lemas. Dia kehilangan sosok Tirta yang selalu membuatnya kesal dan tersenyum dalam waktu yang bersamaan.
Apakah masih ada kesempatan untuknya bersama Tirta?
.
.
Bersambung.....
__ADS_1