
"Malah bengong, cepetan!"
Ergan semakin jengah dibuatnya, Tirta paling bisa mengulur waktu. Bayangkan saja, perjalanan yang seharusnya hanya dilalui dua puluh menit menjadi satu jam karena Tirta sengaja melewati jalanan macet. Tapi Ergan tidak terpengaruh, yang pasti malam ini Tirta harus masuk rumah sakit.
Setelah berganti pakaian, Tirta menghampiri Ergan.
"Bos, Ampun deh..! gw janji, nggak akan main rahasia-rahasiaan lagi, sumpah!" Tirta memelas dengan menutup kedua tangannya kemudian menaikkan kedua jarinya.
"Nggak ada alasan, cepat pakai sarung tangan lo!" Perintah Ergan membuat Tirta mendengus kesal sambil memakai sarung tangannya.
"Ayo serang gw."
"Nggak mau."
"Kenapa? lo nggak berani? Ck, kalau ngebohongin gw lo berani." Kesal Ergan.
Tidak mau membuang waktu lagi Ergan mulai menyerang wajah Tirta dengan tinjunya. Namun dengan cepat Tirta menahan tangan Ergan.
"Makin berani aja lo!" Ejek Ergan
Tirta tidak punya pilihan lain selain menahan pukulan Ergan.
Detik berikutnya Ergan kembali melakukan serangannya, kali ini gerakannya lebih cepat dari yang tadi, dia berputar kemudian menendang perut Tirta hingga Tirta membungkuk menahan sakit. Tidak mau melewatkan kesempatan Ergan kembali memukul pundak Tirta denga sikunya.
"Stop! lo gila ya? lo mau gw masuk rumah sakit."
Tirta menahan pergerakan Ergan dengan satu tangan kedepan, sedangkan tangan yang satunya lagi memegang perutnya yang sakit.
"Memang itu tujuan gw."
Dengan santainya Ergan menjawab. Ia membuka sarung tangannya, mengambil handuk kemudian mengelap keringat di wajah, leher, dan pundaknya.
"Tega amat sih lo." Lirih Tirta.
"Nih minum. Dasar cengeng. Kalau berkelahi diluar jagoan. Kalau diajak sparring mengeluh." Ejek Ergan sambil menyerahkan satu botol air mineral ke Tirta.
Tirta membuka sarung tangannya kemudian mengambi botol air minum dari tangan Ergan lalu meminumnya hingga tandas.
"Ya, iya lah! masa gw lawan bos gw sendiri. Mana tega gw. Gw masih punya hati nurani. Tidak kayak lo." Sengit Tirta.
"Ck, bilang aja lo kalah melawan gw." Ergan berdecak.
__ADS_1
"Bukannya gw nggak mau melawan. Kalau lo terluka dan masuk rumah sakit duluan, siapa yang rugi coba?" Sergah Tirta.
"Siapa?!" Potong Ergan.
"Gw... siapa yang menggaji gw kalau lo sakit."
Ergan dan Tirta menuju loker, mengambil pakaian kemudian masuk kedalam kamar mandi. Setelah pakaian, Tirta mengantar Ergan pulang ke rumah.
...................
Desa Teratai.
Senja mulai menghilang, awan semakin menghitam, azan sudah di kumandangkan. Waktunya shalat magrib dilakukan. Para santri sudah berjejeran mengambil saf di dalam mesjid. Mereka segera melakukan shalat magrib berjamaah dilanjutkan pengajian hingga waktu isya. Kegiatan ini setiap hari dilakukan di dalam pesantren Darussalam Al-kharan.
Setelah shalat isya mereka makan malam bersama kemudian istirahat.
Amelia membantu Ibu Juminarti dan Yuli membereskan meja makan dan dapur. Setelah selesai, Amelia menyusul Pras untuk bicara di ruang kerjanya. Di pesantren Pras memiliki ruang khusus untuknya bekerja. Biasanya Pras berada di sana setelah makan malam.
Disinilah mereka berdua, duduk berhadapan di sofa.
"Mmm..." Amelia ingin bicara namun tidak tahu bagaimana harus memulainya. Melihat tatapan teduh Pras membuat mulutnya seketika membeku. Jari-jari tangannya saling terpaut dan bergerak.
Pras yang melihat Amelia seperti itu jadi bingung,
Amelia menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah, Azka mana? kenapa nggak bawa kesini, apa dia sudah tidur?" Tanya Pras kembali.
"Sudah."
"Baiklah, ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Pras karena biasanya Amelia akan menemuinya jika ingin membicarakan sesuatu yang penting.
"Mmm.. Pras, aku minta maaf sebelumnya. Sepertinya rencana pernikahan kita harus dibatalkan." Ungkap Amelia sedikit gugup. Netranya terpaku saat melihat mata teduh Pras.
"Kenapa? bukanka kemarin kamu sudah setuju? kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" Pras semakin menatap Amelia. Ingin sekali Pras menggenggam tangan Amelia, namun itu tidak mungkin karena mereka bukan muhrim.
"Maafkan aku Pras, sebenarnya aku memang ingin memulai hidup baru denganmu. Tapi Papa Azka sudah menemukanku. Sampai sekarang kami masih suami-istri, karena ternyata dia tidak pernah menceraikan aku."
"Kamu tahu dari mana? jangan mudah percaya, bisa jadi dia berbohong agar kamu mau kembali padanya."
"Dia sendiri yang mengatakannya."
__ADS_1
"Kamu ketemu dia?"
"Iya."
"Kapan?"
"Tadi pagi." Jawab Amelia.
Sakit, pedih, perih.
Pras mengusap wajahnya dengan kasar nampak raut wajahnya berubah pias, matanya sendu menatap Amelia. Pikirannya terputar mengingat siapa saja yang ditemui Amelia hari ini. Jawabannya adalah Ergan dan Tirta. Tapi menurutnya Amelia tidak terlalu berinteraksi dengan Tirta.
"Apa jangan-jangan Ergan? ah, siial! ternyata aku sudah membawa orang salah ke pesantren ini. Seandainya saja aku tidak mengajak mereka ke sini, mungkin hubunganku dengan Amelia akan baik-baik saja. Dan kami akan menikah bulan depan." Batin Pras.
"Pak Ergan?" Tebak Pras dengan tepat.
Amelia mengangguk membuat Pras seketika memundurkan punggungnya bersandar pada kursi. Tubuhnya seketika lemas dan tak bertenaga. Siapa sangka jika wanita yang selama ini dia idam-idamkan adalah istri Ergan. Pengusaha kaya raya yang memiliki banyak bisnis terutama dibidang konstruksi.
"Pantesan, saat aku melihat Amelia berhadapan dengan Ergan ada yang berbeda dengan sikap mereka, terlihat sangat canggung. Aku dapat melihat tatapan Ergan pada Amelia begitu sendu. Azka dan Ergan juga sangat dekat dan wajah mereka sangat mirip. Saat melihat Azka dan Ergan, mereka juga sangat dekat, wajah mereka sangat mirip, pasti karena Ergan adalah Ayah Azka. Ya.. Allah.. apa yang harus aku lakukan? Aku sangat mencintai Amelia, disaat dia sudah mulai membuka hati untukku, Engkau kembali menjauhkan kami." Batin Pras.
"Pras, jujur aku merasa nyaman berada di sini, menjadi bagian keluarga kamu dan ibu terasa begitu hangat dan damai. Tapi, aku tidak bisa egois. Jika aku tetap disini, aku yakin Ergan akan mengambil Azka dariku. Kamu tau kan bagaimana berkuasanya dia? dia dapat menemukanku dimanapun aku sembunyi. Hanya masalah waktu. Dan sekarang dia sudah melihatku, aku tidak mungkin lagi bisa lari darinya. Sebenarnya Tirta sudah menemukan aku beberapa bulan setelah aku disini. Tapi aku memintanya untuk merahasiakan keberadaanku pada Ergan. Entah aku bahagia hidup bersamanya dimasa depan, aku juga nggak tahu." Jelas Amelia.
"Amel, jika kamu tidak yakin hidup bahagia dengannya maka jangan pergi dariku. Jika hati kecilmu ingin tetap disini bersamaku, aku bisa melindungimu dari dia. Aku akan melakukan apapun jika kamu tetap ingin bersamaku." Ungkap Pras.
"Kamu tidak mengenalnya dengan baik. Meskipun aku tidak mau ikut dengannya, ia tidak akan melepaskan aku, apalagi ada Azka diantara kami. Maka dari itu, biarkan aku pergi. Besok dia akan menjemputku. Maafkan aku Pras, aku bukan wanita yang tepat dikirim Tuhan untukmu, aku harap suatu saat nanti kamu mendapatkan yang lebih baik dariku. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, maukah kamu menganggap aku sebagai saudara saja?" Melas Amelia.
"Mana mungkin aku menganggapmu saudara. Aku mencintaimu sepenuh hati. Rasanya begitu sakit mendengarmu akan pergi. Apa kamu sudah memikirkannya?" Prasetyo masih berharap Amelia akan mengubah keputusannya.
"Ini yang terbaik untuk semuanya Pras. Aku yakin!"
Pras menghela napas berat. Sesak didadanya membuatnya tidak bisa bernapas dengan nyaman. Tatapannya sendu, hatinya perih bagai ditusuk pedang berkali-kali. Rasanya begitu sulit melepaskan orang yang ia sayang setelah kepergian istrinya. Amelia lah yang akhir-akhir ini menjadi penyemangat hidupnya.
"Pras."
"Pergilah, aku ingin sendiri."
Pras mengakhiri pembicaraan mereka. Ia tak sanggup duduk berhadapan dengan Amelia. Seandainya berpelukan bukan dosa, ingin sekali ia memeluk Amelia dan mengatakan 'jangan pergi, tetaplah disini bersamaku hingga maut memisahkan'.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....
.......