
Tiga bulan kemudian
Andreas tidak main-main dengan ancamannya. Ia menarik saham dan aset-asetnya dari perusahaan Ergan karena Ergan tidak mau menceraikan Amelia.
Tirta sampai kesulitan mencari investor baru. Saat Ergan masuk kantor, ia harus bekerja keras untuk memulihkan keadaan perusahaannya yang hampir bangkrut.
"Tir, gimana? kamu sudah mendapatkan investor?" Tanya Ergan.
"Belum, tapi barusan sekertaris Mr. Roland menelpon, mereka mengajak kita ikut meeting membahas proyek yang akan dilelang. Jika kita ikut dan berhasil mendapatkan proyek itu. Kemungkinan besar kita nggak perlu mencari investor. Gimana?"
"Oke, kita ikut meetingnya."
"Tapi..."
Drrtt.. drrtt.. drrt...
"Sebentar." Ergan mengangkat tangannya pada Tirta kemudian mengambil ponselnya diatas meja kerjanya.
"[Halo.]" Jawab Ergan.
"[Halo Pak Ergan, Saya sekertaris Mr. Roland, ingin mengundang Bapak untuk ikut meeting membahas proyek pembangunan jembatan. Tapi ini sifatnya terbuka dan kekeluargaan, jadi diharapkan bapak membawa keluarga.]"
"[Iya, saya akan kesana bersama keluarga.]"
"[Baik Pak, Terima kasih.]"
Ergan menatap Tirta begitupun dengan Tirta.
"Kamu mau bilang apa tadi?" Tanya Ergan.
"Nggak jadi, sekertaris Mr Roland sudah menelpon kamu kan?"
"Iya dia juga menghubungiku, mungkin mereka ingin memastikan. Semoga kita yang mendapatkan tender ini." Ujar Ergan penuh harap.
"Kamu mau bawa siapa? Rania atau Amelia?" Tanya Tirta mengingat bosnya memiliki dua istri sekarang.
"Menurutmu?"
Tirta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Itu artinya Ergan akan membawa Amelia.
.........................
Karisma sudah memohon berkali-kali pada Andreas untuk membantu Ergan, namun Andreas tidak mau melakukannya. Ia tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
"Kalian sama-sama keras kepala." Geram Karisma.
Karisma mengambil tasnya kemudian keluar dari rumah besar itu. Diantar oleh supirnya menuju rumah Rania. Karisma dan Rania menuju Apartemen Ergan saat Ergan berada dikantor.
Ting.. tong.. ting.. ting...
Suara bel berbunyi dan Amelia segera membukanya, Amelia sedang duduk disofa ruang tamu menikmati film drakor yang sangat disukainya.
"Mbak Rania, Tante." Lirih Amelia saat melihat Rania dan Karisma berdiri dihadapannya.
"Minggir!" Tanpa permisi Rania langsung masuk setelah mendorong bahu Amelia kesamping dengan kasar, "Ayo Mah!" Ajak Rania berbalik karena Karisma masih berdiri didepan.
Punggung Amelia sampai terbentur pada daun pintu,
Amelia menunduk saat Karisma masuk, ia tidak berani menatap wajah wanita paruh baya itu.
"Jadi disini kamu tinggal? lumayan juga ya? Berapa ya kira-kira uang yang dikeluarkan suamiku untuk pelakor licik kayak kamu.
"Apa maksud Mbak?"
"Ck, nggak usah pura-pura polos, aku tau wanita seperti kamu menginginkan apa? kamu sengaja menjual tubuh kamu dengan memanfaatkan suamiku untuk memberimu kehidupan mewah, iya kan?"
"Aku nggak pernah memanfaatkan Mas Ergan."
Plak!
Tamparan lima jari dilayangkan Rania membuat Amelia meringis memegang pipinya yang memerah.
Amelia menatap Rania dengan tajam. Sudah cukup ia bersabar menerima perlakuan kasar dari Rania, bahkan ia hampir depresi karena tertekan akibat videonya sebagai pelakor jadi viral. Jika Tirta tidak segera menghentikannya mungkin Amelia akan jadi gila.
"Rania hentikan! Kita kesini bukan untuk melukainya. Jika kamu seperti ini Ergan akan marah." Bentak Karisma.
Karisma duduk disofa kemudian menatap kedua menantunya secara bergantian. Apa dosa dia hingga memiliki dua menantu sekaligus seperti ini. Memang dia menginginkan dua menantu, satu istri Ergan dan satu lagi istri Brian, bukan dua-duanya istri Ergan.
"Kalian duduk!" Tegas Karisma.
Rania duduk disamping Karisma sedangkan Amelia di depannya.
"Amelia, kamu tau kan pernikahan kalian itu tidak resmi?"
"Maaf Tante, tapi pernikahan saya dan Mas Ergan resmi dimata hukum dan agama. Kami memiliki surat nikah."
"Ck, surat nikah palsu. Aku akan menuntutmu!" Cibir Rania.
__ADS_1
"Rania!"
"Mah, langsung aja, nggak usah bicara baik-baik dengan pelakor ini."
Karisma mengambil cek dari dalam tasnya ia menyerahkan cek itu pada Amelia
"Ini maksudnya apa ya Tante?" Tolak Amelia.
Karisma meletakkannya diatas meja membuat Rania melotot tidak percaya jika karisma akan memberikan cek tanpa angka pada Amelia. Ia pikir Karisma telah menulis nainya, satu milyar atau dua milyar tapi ternyata...
"Kamu tau pasti apa maksud Tante. Perusahaan Ergan dalam masalah besar. Ia hampir bangkrut karena tidak mau menceraikanmu. Hubungan Brian dan Ergan juga semakin menjauh karena ulahmu. Jika kamu menceraikannya dan pergi dari kehidupan Ergan, maka Papa Ergan akan membantunya bangkit seperti semula. Kamu tulis aja berapapun yang kamu mau sebagai biaya kompensasi, asal jangan kembali lagi pada Ergan dan muncul dihadapan kami." Tegas Karisma.
Deg!
Hati Amelia seperti diremas, sakit dan pedih, wanita yang ia hormati bisa bicara seperti itu padanya. Sungguh Amelia merasa harga dirinya sedang di injak-injak. Apa semurahan itu dirinya dimata orang lain?
"Kenapa bengong? kamu butuh uang kan? Ambil dan tulis berapapun yang kamu inginkan, tapi dengan satu syarat, cerikan Ergan dan pergi sejauh mungkin." Timpal Rania.
"Jika Tante mengira aku menikah dengan Mas Ergan karena harta, Tante salah! Jika Tante menganggap saya murahan, Tante juga salah! silahkan ambil cek Tante karena saya tidak membutuhkannya. Meskipun Tante menyerahkan semua harta Tante pada saya untuk meninggalkan Ergan, saya nggak akan malakukannya, kecuali Ergan yang meninggalkan saya!" Ujar Amelia denga dada bergemuruh menahan amarah dan air matanya.
"Dasar perempuan tidak tahu diri, ambil!" Geram Rania karena Amelia menolak cek dari Karisma.
Bug!
Rania melempar bantal kursi kewajah Amelia.
"Rania! Mama bilang jangan pakai kekerasan!" Bentak Karisma.
"Dan kamu..? Sudah cukup selama ini aku diam, Aku tidak melawan bukan berarti aku lemah, itu karena aku masih menghormatimu. Jika Ergan berpaling darimu, jangan salahkan aku! Seharusnya kamu bercermin kenapa Ergan mencari wanita lain. Apa kamu memperlakukannya layaknya suami? Apa kamu mampu membuatnya tersenyum? apa kamu tahu yang dia inginkan? Tidak! Tidak sedikitpun perhatian yang kamu berikan padanya. Dia kesepian hingga mencari kesenangan diluar. Kamu pikir aku wanita penggoda? Dia sendiri yang mendekat padaku, dia menggodaku, dia mengejarku kemanapun aku pergi, dia yang menginginkanku dan dia memaksaku menikah dengannya. Apa kamu puas? jika ingin memisahkan kami. Suruh Ergan meninggalkanku! Sudah cukup kalian menghinaku. Lebih baik kalian pergi dari sini." Amelia segera berdiri membuka pintu apartemennya. Dadanya naik turun tetasa sesak dan sulit bernapas.
"Kamu mengusir Tante?"
"Maaf Tante, tapi saya rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Silahkan bawa pulang ceknya."
Karisma melirik cek diatas meja kemudian berdiri di ikuti Rania. "Tante tidak akan membawanya karena sekarang itu milikmu. Jangan egois! Pikirkan baik-baik, Ergan bisa hancur jika kamu tidak segera pergi." Ujar Karisma kemudian keluar dari Apartemen.
"Pelakor pembawa sial!" Bisik Rania kemudian menyusul Karisma.
Setelah kepergian Karisma dan Rania. Amelia segera menutup pintu apartemennya. Air mata yang ia bendung akhirnya lolos keluar.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....