Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Anemia


__ADS_3

"Sepertinya dia anemia, itu karena dia kecapean," terka Bram dengan diagnosis tepat.


"Aku memang ada riwayat anemia dok." Sela Amelia.


"Saya sudah berikan resepnya pada Ergan. Setelah makan diminum obatnya dan istirahat yang cukup." Jelas Dokter.


"Iya Dok, terimakasih." Balas Amelia.


"Itu nggak berbahaya kan? apa perlu kita membawanya ke rumah sakit?" tanya Ergan masih khawatir dengan keadaan Amelia.


"Nggak perlu, dia hanya butuh istirahat. Ingat, jangan melakukan hubungan suami-istri selama tiga hari." Ujar Bram kemudian mengambil tasnya yang berisi perlengkapan medis, "Aku pamit pulang, semoga istrimu cepat sembuh." Bram menepuk pundak Ergan kemudian keluar dari kamar.


Ergan mengantar Bram hingga di depan pintu Apartemen.


"Bram, mengenai hubungan suami-istri apa bisa di tawar sehari saja puasanya?" Ergan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasanya sehari tidak menyentuh Amelia itu sangat berat, apalagi Bram menyuruhnya tiga hari.


"Nggak bisa Ga. sudahlah, kamu nurut dikit kenapa sih? Setelah tiga hari terserah kamu mau lakukan apa aja. Kamu bebas." Kesal Bram, ia tahu bagaimana keras kepalanya Ergan jika menginginkan sesuatu.


"Dua hari deh. Masa kamu tega? masa kamu nggak punya obat untuk mempercepat kesembuhannya." Melas Ergan menaikkan dua jari.


Bram menghembuskan napas dengan kasar.


"Ga, jangan ngada-ngadi! obat itu punya dosis dan takarannya sendiri. Jika dikasih ketubuh manusia secara berlebihan itu bisa bahaya." Tegas Dokter Bram dengan rahang mengeras, emosinya sudah terpancing dengan sikap kekanak-kanakan Ergan.


"Jadi, nggak ada cara lain nih?" Ergan belum juga menyerah.


Bram melotot sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya deh.." pasrah Ergan karena rupanya Bram tidak bisa diajak bernegosiasi.


"Aku pulang, aku harus kembali kerumah sakit." Pamit Bram kemudian melangkah keluar.


"Oke, terimakasih Bram". Ujar Ergan kemudian menutup pintu setelah Dokter Bram pergi memasuki lift.


..................


Selama tiga hari, Ergan merawat Amelia di Apartemennya hingga sembuh. Ia sudah mengirim surat keterangan dokter jika Amelia harus istirahat selama tiga hari ke maskapai penerbangan tempat Amelia bekerja. Selama tiga hari juga Amelia tidak beranjak dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi. Semuanya sudah di siapkan oleh Ergan, mulai dari makanan, obat, dan lain-lain. Ergan juga tidak masuk kantor dan menyuruh Tirta membawa pekerjaannya ke Apartemen.

__ADS_1


Amelia duduk di tempat tidur menatap Ergan saat keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk dipinggangnya. Buliran air jatuh dari rambutnya yang basah turun ke perutnya yang sixpeck. Amelia sampai menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikirannya yang tidak-tidak. Wajahnya semakin memerah saat Ergan berjalan mendekati tempat tidur.


"Kamu kenapa? terpesona dengan suamimu ini?" Goda Ergan. Ia menangkup wajah Amelia hingga tatapan mereka bertemu dengan jarak beberapa senti.


Sudah tiga hari Ergan puasa menahan diri untuk tidak melakukan hubungan suami-istri dengan Amelia. Ia menyunggingkan senyum tipis saat melihat istrinya sedang duduk menatapnya dengan intens.


"Mas, malam ini apa boleh aku kembali ke mes? besok aku harus kembali bekerja." Tanya Amelia ragu-ragu. Ia tidak yakin Ergan mengijinkannya mengingat dia masih harus istirahat.


Ergan menghela napas berat, rupanya Amelia memikirkan hal yang lain. Rasanya belum rela jika harus pisah rumah dengan Istrinya.


"Boleh kan?" Tanya Amelia kembali dengan wajah memelas membuat Ergan tidak bisa melarangnya.


"Baiklah. Tapi sebelumnya mas ingin...."


Tidak tahan, Ergan langsung menarik bibir manis Amelia, seluruh aliran darahnya berdesir, wajahnya memerah dan panas.


Keduanya meremang, memekik, dan menggeliat bersama, hingga larva mengalir di dalam rahim Amelia.


...............


Ergan menurunkan Amelia didepan pintu mes. Setelah Amelia masuk kedalam rumah. Ergan memutar mobilnya masuk ke halaman rumahnya.


Satu jam kemudian Karmen, Sindi dan Citra pulang kerja, mereka langsung masuk kedalam kamar. Betapa terkejutnya Karmen saat melihat Amelia yang sedang terlelap tanpa membuka sepatu, bahkan kopernya dibiarkan begitu saja di dekat pintu.


"Dasar pemalas!" Gerutu Karmen sambil membuka sepatu Amelia lalu memperbaiki posisi tidurnya.


Tidak mau mengganggu Amelia, Karmen menuju kamar mandi membersihkan diri, setelah itu ia makan malam kemudian kembali ke kamar.


"Dasar kebbo! lo pingsan apa tidur?" Geram Karmen.


Terlalu banyak yang ingin Karmen tanyakan pada Amelia, tapi Amelia tidak juga bangun setelah satu jam kedatangannya.


"Lia, bangun! lo nggak laper?" Karmen mengguncang tubuh Amelia. Sudah kebiasaan dia membangunkan Amelia dengan cara seperti itu.


Amelia membuka mata, samar-samar ia melihat Karmen berdiri disampingnya, lima menit kemudian ia kembali tertidur membuat Karmen semakin geram.


"Woii, Kebakaran..." Teriak Karmen.

__ADS_1


Untung tidak sampai kedengaran di kamar Sindi dan Citra. Jika mereka dengar, mereka jadi panik dan bisa jadi heboh hingga ke tetangga.


Amelia tiba-tiba bangun, celingkungan menoleh kekiri dan kekanan mencari dimana sumber api.


Tapi ada yang aneh, kenapa asap tidak ada?


Amelia menatap Karmen yang sedang tertawa dengan girang. Sungguh sangat menyenangkan melihat wajah panik Amelia yang lucu.


Lucu buat Karmen ya? tapi tidak dengan Amelia.


Amelia mengambil bantal kemudian melemparnya kearah Karmen, namun dengan sigap Karmen menepisnya ala pemain karate yang sangat jago bela diri.


"Dasar sahabat tidak ada akhlak! ngapain teriak kebakaran?" Kesal Amelia sambil beranjak menuju kamar mandi.


"Hehehe... habis lo nggak mau bangun. Lo belum makan malam kan? sana, makan. Setelah itu lo harus cerita kemana aja lo selama ini." Selidik Karmen.


"Apa yang harus gw ceritain? selama ini gw nggak kemana-mana. Gw cuma ijin cuti pulang ke Surabaya, tapi saat gw mau pulang penyakit animea gw malah kambuh. Jadilah aku istirahat tiga hari lagi." Jawab Amelia sebelum menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Setelah mandi, Amelia menuju meja makan di ikuti karmen di belakangnya. Ia mengambil satu paket mekdi kemudian berjalan menuju sofa.


Karmen menatap heran padanya tapi tetap mengikuti langkahnya.


"Kenapa lo makan disini?" Tanya Karmen.


"Terserah gw dong mau makan dimana aja." Jawab Amelia sambil menyalakan tv memutar drama korea kesukaannya.


Karmen ikut duduk, karena mereka sama-sama pecinta drakor. Jadilah Karmen melupakan semua yang ingin ditanyakan pada Amelia.


Ameli menikmati makannya sambil nonton, sesekali ia tertawa dan kadang bersedih sampai matanya berkaca-kaca. Ia membulatkan mata saat adegan ciuman yang begitu romantis. Seketika ia mengingat Ergan. Ada rasa rindu yang menyelinap di relung harinya yang terdalam. Apa yang sedang dilakukan suaminya sekarang?


Amelia menoleh melihat Karmen. Ternyata dia sudah tidur mendengkur di sofa. Pantas gadis cerewet itu hanya diam.


Setelah drakor habis, Amelia menuju balkon, matanya membulat saat melihat Ergan sedang menatapnya sambil tersenyum. Pria itu berada tepat dihadapannya.


Ergan menggerakkan tangannya memberi kode, tidak lama kemudian suara ponsel Amelia berdering.


.

__ADS_1


.


Bersambung......


__ADS_2