
Ergan mengambil ponselnya menghubungi Amelia. Ia sangat senang saat Amelia bicara dengannya apalagi mendengar suara Aqilah yang terus bicara pada Amelia. Biasanya anak itu tidak mudah didekati oleh orang lain, namun bersama dengan Amelia seolah mereka sudah lama saling mengenal.
"[Kamu lagi ngapain?]" Suara Ergan dibalik telepon selulernya.
"[Lagi di taman dekat mini market.]"
"[Belum berangkat kerja?]"
"[Belum Mas, penerbangan pertama cancel, jadi aku berangkat kerjanya agak siang.]"
"Tante cantik, aku mau itu." Sela Aqilah, tangannya yang mungil menarik Amelia untuk membelikannya permen kapas.
"[Itu siapa sayang..?]" Tanya Ergan dibalik telepon.
"[Ini Mas, ada anak kecil yang kehilangan orang tuanya di mini market tadi. Aku kasihan karena dia terus menangis, jadi aku bawa dia bermain di taman. Menurut kamu, aku harus gimana? apa aku bawa anak ini kekantor polisi?]" Tanya Amelia.
"[Tunggu aja orang tuanya disana sayang, kalau orang tuanya datang terus kamu ke kantor polisi gimana?]"
"[Bener juga sih Mas. Ya udah aku tunggu satu jam lagi deh sambil main.]"
Setelah menutup telepon, Amelia menemani Aqilah membeli permen kapas. Mereka makan bersama sambil bermain ayunan. Sungguh, Aqilah sangat bahagia hari ini karena puas bermain di luar tanpa ada yang melarangnya.
"Tante cantik, nanti ajak Aqilah main lagi ya?"
"Iya sayang." Amelia tidak ingin mengecewakan harapan Aqilah, meskipun ia sendiri tidak tahu apa mereka dapat bertemu kembali.
Setelah satu jam, akhirnya Aqilah dijemput oleh baby sitternya dan supir. Aqilah menangis tidak mau berpisah dengan Amelia, bahkan ia terus memeluk Amelia dan tidak mau pulang bersama baby sitternya.
Dengan susah payah Amelia membujuknya tapi Aqilah tetap tidak perduli. Sampai pada akhirnya Amelia memberikan nomor ponselnya pada baby sitter agar Aqilah dapat menghubunginya sewaktu-waktu.
"Sampai jumpa lagi Tante cantik..! Bye-bye.." Aqilah melambaikan tangan pada Amelia sebelum supir melajukan mobilnya.
Amelia tersenyum dan membalas lambaian tangan Aqilah. Setelah mobil Aqilah menghilang, Amelia memesan taksi online untuk kembali ke mes.
............
Amelia kembali bekerja seperti biasa. Pesawatnya transit di Kuala Lumpur pada pukul Empat sore. Amelia dan teman-temannya istirahat di hotel yang telah bekerja sama dengan maskapai penerbangan Butterfly Airlines.
__ADS_1
Ergan menyusulnya ke Malaysia karena rindu dengannya. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan istri barunya yang selalu menggetarkan hatinya.
Amelia keluar dari kamar hotel saat Ergan menjemputnya dengan alasan ingin jalan-jalan. Tadinya Karmen ingin ikut tapi perutnya tiba-tiba sakit akibat terlalu banyak makan sambel. Amelia bernapas lega karena Karmen tidak jadi ikut, ia tidak perlu lagi mencari alasan pada Karmen karena Amelia tidak mau hubungannya dengan Ergan diketahui oleh sahabatnya.
Saat di lobi hotel, Amelia menghampiri Ergan yang sedang duduk bersandar di sofa.
Ergan segera berdiri merentangkan tangan menyambut Amelia. Ia meraih tubuh Amelia dan mendekapnya sangat erat. Ciuman bertubi-tubi mendarat di kepalanya. Tubuh mungil Amelia seakan tenggelam pada raga kokoh milik pria bertubuh tinggi besar itu. Aroma maskulin khas Ergan menguar hingga melemahkan seluruh saraf tubuh Amelia.
"Aku merindukanmu sayang.." Bisik Ergan hangat ditelinga Amelia.
Jujur Amelia bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta. Tapi saat bersama Ergan, Amelia merasa nyaman dan bahagia. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan ketika bersama Heri dulu. Namun Amelia belum yakin jika itu adalah cinta.
Entah sudah berapa lama Ergan memeluknya hingga Amelia merasa sesak.
"Mas..."
"Hmm..."
"Udah dong peluknya, malu diliat orang."
"Aku sesak Mas, pelukanmu tetalu kencang."
"Sebentar lagi, please...!"
Ergan malah semakin mengeratkan pelukannya, nyaman, hangat dan menenangkan.
Ergan mengajak Amelia jalan-jalan mengelilingi Kuala Lumpur selama tiga jam. Ergan benar-benar memanjakannya, membelikan apapun yang Amelia suka. Meskipun Amelia menolak, tapi Ergan memaksanya.
Setelah puas jalan-jalan dan belanja, Ergan dan Amelia kembali ke hotel. Ia juga membuking salah satu kamar presidential suit di hotel itu.
"Kamu nginap disini juga?" Tanya Amelia heran karena Ergan membawanya masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas.
"Iya sayang, aku tidak bisa jauh-jauh darimu."
Setelah lift terbuka Ergan membawa Amelia masuk ke kamarnya.
Amelia meletakkan paper bag dari tangannya keatas meja. Netranya menyisir seluruh isi ruangan yang luas dan mewah. Jika dibandingkan dengan kamar yang dia tempati dengan teman-temannya, mungkin empat kali lipat luasnya. Ia sudah tahu untuk apa Ergan membawanya kesana. Sepanjang perjalanan Ergan terus menggodanya hingga wajahnya merona. Rasa cinta mulai tumbuh tanpa ia sadari. Ia memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Ergan karena sepertinya Ergan memang tidak membutuhkannya. Pria itu terlalu pemaksa seolah cukup dia saja yang mencintai tanpa perduli perasaan Amelia padanya.
__ADS_1
Sungguh Ergan pria egois.
Tanpa aba-aba Ergan langsung mengangkat tubuh Amelia ala bridal style menuju tempat tidur king size. Ia membaringkan Amelia dengan perlahan Tangannya membelai wajah Amelia dan tatapan mereka terkunci. Netra hitam Ergan menatap Amelia penuh damba, napasnya mulai memburu dan debaran jantungnya berdebar semakin cepat.
Amelia tahu jika sudah begini, Ergan pasti meminta haknya. Amelia hanya pasrah melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
...............
Waktu terus berlalu, Ergan dan Amelia sering meluangkan waktu bersama saat Amelia sedang transit. Entah itu di Surabaya, Bali, Bandung atau diluar negeri, Ergan pasti menyusulnya jika Ergan sempat, karena hanya waktu itulah mereka bisa bertemu tanpa sepengetahuan orang lain.
Siapa yang mengatur pertemuan mereka? tentu saja Tirta sang asisten yang selalu bisa diandalkan.
Surat kontrak kerja Amelia sudah selesai. Ergan memintanya untuk tidak melanjutkan dan berhenti menjadi pramugari. Semua keperluannya sudah Ergan penuhi, bahkan Ergan membelikan empat ruko sekaligus untuk Lidya, dan sekarang dijadikan supermarket terbesar di kota kelahiran Amelia.
Sekarang mereka dirumah Ergan. Setelah pulang dari bandara, Amelia membersihkan diri kemudian kerumah Ergan malam-malam, Lagi-lagi tanpa sepengetahuan Karmen.
Siapa suruh selalu cepat tidur, nggak tau apa-apa kan si Karmen. Selalu aja penasaran tapi nggak mau cari tahu. Jika mengharapkan Amelia yang bicara mungkin tunggu lebaran monyet kali ya?
Amelia duduk bersandar di atas raga bidang Ergan, mereka baru saja melakukan ritual suami istri. Masih dengan tubuh polos tertutup selimut putih.
"Kapan kontak kamu berakhir?" Tanya Ergan, tangan kirinya mengelus lengan Amelia dengan lembut.
"Bulan ini." Singkat Amelia.
"Mas minta kamu resign aja. Tanpa kamu bekerja, aku masih sanggup membiayai hidupmu dan Mama." Bujuk Ergan.
"Mas, aku tidak mau resign dari pekerjaanku. Aku mohon biarkan aku bekerja sampai aku hamil. Aku janji akan berhenti saat itu juga." Melas Amel.
"Nggak bisa sayang. Justru ini adalah waktu yang tepat. Kita bisa fokus untuk program hamil kamu. Aku ingin memiliki anak dari wanita yang aku cintai. Jika kamu terus bekerja, kamu terlalu lelah dan sulit punya anak, kamu ingat kan apa kata dokter?" Tolak Ergan.
"Aku mohon.." Melas Amelia kembali.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1