Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Demam


__ADS_3

"Deal, asalkan itu tidak mengganggu pekerjaanku." Amelia mencoba bernegosiasi.


"Jadi, aku di nomor duakan?" Ergan tidak terima, bisa-bisanya Amelia lebih memilih pekerjaan dari pada dirinya.


"Bukan begitu, maksudku... ini hanya sementara, sampai kontrak kerjaku selesai." Ungkap Amelia.


Drrtt.. drrtt... drrtt...


Suara ponsel Amelia membuat mereka diam seketika. Ergam melirik Amelia yang sedang membuka sling bagnya mengeluarkan benda pipih lalu menggeser layarnya.


"[Halo.]"


"[Lo dimana? kenapa handphone lo nggak aktif tiga hari? lo ijin kerja tanpa memberitahu gw. Gw jadi khawatir, lo baik-baik aja kan? kalau lo ada masalah, cerita ke gw.]" Cecar Karmen membuat Amelia mendengus.


"[Nggak usah lebay deh! lo tenang aja gw baik-baik aja. Nanti juga pulang ke mes.]" Balas Amelia.


"[Ya sudah, gw matiin handphone-nya sebentar lagi pesawat take-off. Bye-bye.]" Karmen memutuskan sambungan telepon karena harus berangkat ke Kuala Lumpur.


"Khemm." Dehaman Ergan membuat Amelia seketika menoleh.


Ergan menggoda Amelia dengan menaikkan kedua alisnya dan mengedipkan sebelah matanya.


Sudah dapat Amelia tebak apa yang diinginkan suaminya itu. Tapi dia sangat lapar.


"Aku lapar." Cengir Amelia memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Kamu lapar? kenapa nggak bilang dari tadi?"


"Laparnya baru sekarang, gimana dong? aku ke dapur cari makan dulu."


"Nggak usah kedapur, kita delivery aja." Ujar Ergan kemudian mengambil ponselnya.


Ergan sibuk memilih makanan disofa, sedangkan Amelia memilih masuk kedalam kamar. Ia merasa tidak enak badan. Saat dipesawat ia hanya makan sedikit karena tidak berselera.


Lagi-lagi Amelia tercengang melihat isi kamarnya, interior yang dominan warna krem menyerupai kamar hotel mewah, tempat tidur dengan ukuran king size, tv, meja rias minimalis berisi skin care mahal, sofa panjang, walk in closet, dan kamar mandi.


Amelia menuju walk in closet, ia penasaran apa saja isi lemari besar yang ada di sana. Apa mungkin pakaian Ergan sebanyak itu? Amelia membuka lemari satu persatu, matanya melotot melihat pakaian Ergan tertata sangat rapi disana, mulai dari jas, kemeja, celana panjang, dan baju kaos. Di laci bawah sebelah kanan semua di isi dengan pakaian dalam sedangkan di laci kiri berisi dasi dan jam tangan yang jika dihitung mungkin ada puluhan jumlahnya.

__ADS_1


Pandangan Amelia tertuju pada satu jam tangan rolex keluaran terbaru. Ia masih ingat beberapa hari yang lalu melihat jam tangan yang sama dimall harganya mencapai ratusan juta. Itu baru satu jam tangan, bagaimana dengan harga jam tangan yang lainnya. Dalam hati ia bertanya sekaya apa suami yang telah dinikahinya beberapa hari yang lalu.


Amelia kini berpindah ke lemari yang disampingnya, tangannya membuka satu persatu lembaran dres dan gaun yang tergantung disana, semuanya dari brand ternama. Pakaian dalam juga tertata rapi di dalam laci.


Kini matanya beralih kelemari kaca dan transparan. Mulai dari sepatu, sendal, dan tas branded dengan harga ratusan juta menghiasi isi lemari. Rasanya ia sangat betah disana, ia bahkan mencoba sepatu dan flat shoes dari lemari, semuanya sangat pas dan cocok dikakinya.


"Milik siapa ini? Apa mungkin semua ini milik istri Ergan? Astagfirullah..!" Monolog Amelia kemudia menutup mulutnya. Ia geleng-geleng kepala memikirkan jika Ergan benar-benar memiliki istri. Rasanya wajar jika dia curiga karena mereka tidak melewati proses saling mengenal sebelum menikah.


Gamang.


Jika pikirannya benar, bagaimana dengan dirinya?


Amelia kemudian menuju kamar mandi yang cukup besar. Ia membersihkan diri kemudian merebahkan tubuhnya diatas tempatnya tidur king size.


Saat Ergan masuk dalam kamar, Amelia segera menutup mata, pura-pura tidur tapi akhirnya malah tertidur pulas.


Sambil menunggu makanan yang dipesan Ergan datang, Ergan lebih dulu membersihkan diri kemudian melanjutkan pekerjaannya di sofa. Ia juga memeriksa beberapa email dari Tirta lewat laptop yang ada dipangkuannya.


Sesekali matanya melirik Amelia yang sedang tidur. Tapi lama kelamaan sepertinya Amelia gelisah. Ergan menghampirinya, memperhatikan wanita cantik yang tampak pucat dengan keringat didahi.


Ergan mengernyitkan keningnya, ia memegang dahi Amelia yang hangat kemudian menghapus buliran keringatnya.


"Kamu demam sayang..!" Ergan mulai panik, wajahnya tampak cemas melihat Amelia sedang menggigil. ia kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi dokter keluarganya.


Tidak lama kemudian bunyi bel berbunyi.


Ergan segera membuka pintu dan mengambil makanan yang diantar oleh kurir, kemudian Ergan meletakkan di atas meja makan.


Sebelum masuk kamar, Ergan mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres dahi Amelia. Setelah itu ia mengambil makanan dipiring kemudian meletakkan diatas nakas. Ia merasa bersalah karena Amelia kelaparan sampai sakit seperti ini. Dengan telaten Ergan merawat Amelia hingga dokter datang memeriksa keadaannya.


Wajah Ergan sangat serius memperhatikan Bram memeriksa Amelia.


Dokter memeriksa suhu tubuh Amelia, detak jantung dan organ vitalnya. Kemudian membuatkan resep obat untuk diminum.


"Dia kenapa dok?" Tanya Ergan pada dokter Bram. Pria yang seumuran dengannya itu menatapnya penuh selidik.


"Siapa gadis ini? kenapa ada di apartemen kamu?" Bukannya menjawab Bram malah balik bertanya membuat Ergan mendengus kesal. Ia curiga kenapa ada wanita lain yang berada dikamar Ergan bahkan berbaring ditempat tidurnya. Dari dulu ia sangat mengenal Ergan, ia tidak pernah membiarkan perempuan lain tidur di ranjangnya selain Rania istrinya.

__ADS_1


"Ck, dia istriku." Ergan tidak bisa menutupi pernikahannya dari Bram. Mengingat mereka pasti akan sering bertemu apa lagi jika Amelia sedang sakit.


"Kamu menikah lagi? apa Tuan besar tau?" Selidik Bram.


"Tidak ada yang tau selain Tirta dan kamu. Jadi, jangan sampai rahasia ini terdengar oleh keluarga besarku. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan mereka." Jelas Ergan.


"Lebih cepat lebih baik, jangan sampai Rania menyakitinya. Aku sangat yakin jika Rania tau, dia pasti akan mencari cara untuk memisahkan kalian." Ujar Dokter Bram.


"Mmhh.." Amelia menggeliat kemudian membuka mata dengan perlahan, ia mengedarkan pandangannya sambil memegang kepalanya yang masih sakit, handuk kecil yang menempel didahinya terjatuh akibat menekan pelipisnya.


"Mas.." Lirih Amelia membuat Ergan dan Dokter Bram segera menoleh.


Ergan dan Dokter Bram saling pandang. Dalam hati mereka bertanya apa Amelia mendengar percakapan mereka.


"Apa ada yang sakit? bilang aja sayang selagi ada dokter disini." Ergan segera menghampirinya dan duduk si sisi ranjang tepat disamping Amelia.


Amelia berusaha bangun namun tubuhnya lemas tak bertenaga.


"Jangan banyak bergerak dulu, kamu masih sakit sayang..!" Ergan kembali menidurkan Amelia.


"Aku pusing, rasanya mual ingin muntah." Lirih Amelia.


Ergan mengambil air minum kemudian memberinya pada Amelia setelah itu mengambil makanan diatas nakas.


"Kamu makan dulu sebelum minum obat." Bujuk Ergan.


"Aku bisa sendiri." Amelia meraih piring dari tangan Ergan kemudian mulai menikmati nasi campur kesukaannya.


Ergan menatap Bram seolah minta penjelasan. Tapi dokter itu hanya diam menyaksikan interaksi Ergan pada Amelia. Menurutnya perhatian Ergan pada Amelia sangat berlebihan. Memang jika dibandingkan dengan Rania, Amelia lebih cantik meskipun tanpa make-up.


"Dokter, sebenarnya dia sakit apa?" Tanya Ergan tidak sabar lagi.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2