
"Ya ampun sayang...! kamu masih belum percaya juga?" Ergan tidak habis pikir kenapa Amelia belum juga mau percaya dengannya. Apa mungkin sebegitu pembohongnya dia dimasa lalu hingga Amelia tidak mudah mempercayai dirinya.
"Mommy, mau minum, Azka sudah kenyang." Azka menggelengkan kepalanya saat Amelia ingin menyuapi makanan lagi.
Amelia mengambilkan minum kemudian membersihkan sisa makanan di mulut Azka dengan tisu.
Ergan juga sudah selesai, ia menghabiskan nasi, udang tepung, sup, dan ikan tuna bakar yang ada didalam kotak bekalnya.
"Oke, aku percaya kok Mas. Aku hanya nggak habis pikir bisa menikah denganmu. Itu artinya aku istri bos dong ya?!" ungkap Amelia.
"Iya sayang, diantara sejuta wanita yang menginginkanku, kamu wanita beruntung yang bisa membuatku jatuh cinta,"
"Ih.. narsis!"
"Iya dong, memang itu kenyataannya, sayang... aku tidak bisa hidup tanpamu, karena seluruh isi hatiku sudah kamu ambil, tidak ada lagi yang tersisa untuk wanita lain," ungkap Ergan membuat wajah Amelia merona, memerah seperti strawberry.
Jika sekarang Ergan disibukkan dengan menggoda istrinya, beda halnya dengan Tirta dan Ayu yang sedang makan siang bersama.
Tirta mengajak Ayu masuk kedalam restoran makanan jepang, ia memesan ruang VIP agar makan siang mereka tidak terganggu. Anggap saja Tirta tidak mau dipermalukan jika seandainya cintanya ditolak oleh Ayu.
"Pak Tirta, Bapak nggak salah ngajak aku makan siang disini? maksud saya apa kita akan meeting?" tanya Ayu karena biasanya jika akan meeting bersama kliennya, mereka memesan ruang VVIP untuk menjamu dengan alasan menjaga privasi.
"Nggak, ayo duduk!" Tirta menarik kursi kemudian Ayu duduk disana. Setelah itu ia duduk dihadapannya.
Tidak lama kemudian pelayan datang membawakan makanan untuk mereka.
"Permisi Pak, Mbak," ujar pelayan kemudian menata makanan dan minuman diatas meja, tidak ketinggalan seikat rangkaian bunga yang sangat indah di letakkan disamping Ayu.
"Silahkan," ucap pelayan kembali kemudian segera keluar meninggalkan mereka.
"Khemm!" deham Tirta karena sejak dari tadi Ayu hanya diam melihat makanan diatas meja.
"Ayo makan, kita nggak punya banyak waktu," ujar Tirta.
"Kita hanya mekan berdua?"
"Ya."
"Dengan makanan sebanyak ini?"
"Ya, Karena aku nggak tau selera makanan kamu apa, jadi aku pesan sumua menu favorit diresto ini," jawab Tirta membuat mata Ayu seketika melotot.
__ADS_1
"Kenapa nggak nanya dulu? aku pikir kita akan makan siang dengan klien, ternyata hanya berdua?"
"Kamu kenapa sih, bawel banget, makan aja, kalau nggak habis bungkus aja. Tenang, gw yang traktir."
"Tentu saja kamu yang traktir, kan kamu yang ajakin aku makan."
"Cepat makan, sebelum Tuan Ergan menelpon kita untuk balik kekantor."
"Iya, ini juga sudah nau makan."
Ayu mengaduk jus berwarna hijau didepannya, memutar pipet didalam gelas, lalu meminumnya beberapa teguk. Setelah itu baru mengambil sumpit. Ayu mulai menikmati ramen yang menggugah selera makannya.
Tirta juga mulai mengambil sumpit lalu menikmati sushi dan beberpa makanan lainnya.
Suasana tampak canggung karena mereka menikmatinya makanan tanpa suara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Ih! nyebelin banget sih, romantis dikit kek, rayu kek, ini kayak memerintah kerjain berkas dikantor aja," gerutu Ayu dengan suara hampir tidak terdengar.
"Kamu ngomong apa? aku nggak denger, Yu?" tanya Tirta sambil mendekatkan telinga.
"Habisin tuh makanan, nggak boleh disisa, mubazir tau?!" ujar Ayu.
"Bungkus aja sisanya, makan dirumah atau kasih ke orang lain biar nggak mubazir kan?"
Beberapa menit kemudian mereka selesai makan.
"Yu, sebenarnya aku... aku..." ujar Tirta gugup.
Tirta tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan pada wanita lagi. Sudah sepuluh tahun ia menutup diri dan tidak mau jatuh cinta dan sekarang rasanya begitu sulit untuk memulai suatu hubungan.
"...".
"Yu, aku.. sebenarnya.. aku...mau.."
"Kamu mau apa Tir?" Ayu jadi penasaran, baru kali ini ia melihat Tirta gugup. Bahka jika menghadapi klien ia tidak pernah bersikap seperti ini. Laki-laki itu selalu tampil percaya diri dan berbicara dengan lancar. Tapi kali ini Tirta sangat berbeda, kepercayaan dirinya hilang seketika berhadapan dengan Ayu.
Entah kenapa mulut Tirta tiba-tiba menajdi keluh, lidahnya tercekat, dan tenggorokannya kering, kata-kata yang sudah dia rangkai dari pagi hingga siang menghilang begitu saja.
"Kamu sakit Tir?" tanya Ayu memastikan keadaan Tirta baik-baik saja. Tangannya menyentuh dahi Tirta yang sudah berkeringat dingin. "Nggak panas kok!" ujar Ayu setelah memastikan jika Tirta tidak demam.
Tirta memgambil tangan Ayu dari dahinya kemudian mengambil yang satu lagi, dijadikan satu dalam genggamannya kemudian menatap Ayu dengan teduh. Detak jantungnya semakin berdetak lebih kencang seperti baru lari maraton keliling lapangan sepak bola. Perasaannya campur aduk berharap permohonan cintanya diterima oleh Ayu.
__ADS_1
Ayu hanya diam membiarkan Tirta melakukan keinginannya karena penasaran dengan tingkah aneh atasannya itu selama seharian.
Tirta berlutut didepan Ayu, satu kakinya lututnya didepan, dan satu lagi menopang tubuhnya, tangannya memegang seikat rangkaian bunga mawar putih dan pink.
"Yu, sebenarnya aku suka kamu, WILL YOU MERRY ME?"
Akhirnya kalimat itu keluar juga dengan sekali tarikan napas. Tirta mengambil seikat bunga yang ada diatas meja, menyerahkan pada Ayu dengan tatapan penuh harap.
"Hah?!" mulut Ayu terbuka lebar, matanya tidak berkedip, detak jantungnya berdetak tak karuan. Benarkan Tirta baru saja melamarnya tanpa pacaran terlebih dahulu? rasanya itu tidak mungkin mengingat bagaimana sikap cueknya Tirta selama ini padanya.
Ayu diam berpikir, dalam hati ia merasa bahagia karena Tirta mengungkapkan isi hatinya, disisi lain ia takut dipecat jika ketahuan menjalin hubungan dengan teman sekantornya.
"Tapi, kita nggak boleh pacaran sekantor, Tir. Bagaimana jika Tuan Ergan tahu hubungan kita, bisa dipecat aku karena kamu nggak mungkin dipecat olehnya. Aku masih butuh biaya untuk keluargaku." tolak Ayu.
"Ah, bodo amat dengan aturan bos! aku yang buat aturannya sekarang boleh. Kita juga nggak pacaran, aggap saja kita ta'aruf. Gimana kamu mau kan?"
"Aku...."
"Aku tau kamu pasti kaget dengan lamaranku yang tiba-tiba. Tapi aku tidak ingin pacaran karena menurutku itu hanya buang-buang waktu. Aku sudah mengenalmu selama empat tahun. Aku rasa itu sudah cukup," jelas Tirta.
"Aku..."
"Oke, trimakasih sudah menerima lamaranku. Mulai hari ini kita resmi tunangan," potong Tirta karena tidak mau menerima penolakan.
"Ih, kamu apa-apaan sih! aku belum selesai ngomong mau terima apa nggak? main potong aja! kalau aku nolak gimana?" kesal Ayu, tapi sesaat kemudian wajahnya berbinar menampilkan senyum termanisnya dengan pipi memerah.
"Aku nggak terima penolakan, jika kamu punya pacar putuskan saja karena kita akan segera menikah," tegas Tirta.
Ayu sampai tidak bisa berkata-kata, matanya semakin melotot, bahkan kalimat terakhir Tirta lebih mengejutkan dari kata lamarannya. Ayu sampai berpikir bagaimana bis ada laki-laki seperti Tirta? benar-benar manusia langka.
"Kok diem! bunganya diambil dong, pegel ini?"
Tirta mengambil tangan Ayu kemudian meletakkan bunga di telapak tangannya. Setelah itu dengan bebas berdiri dan merenggangkan otot-ototnya.
"Kita pulang yuk!" ajak Tirta, sebentar lagi jam makan siang selesai. Mereka harus berada dikantor sebelum Ergan mencarinya.
"Tir, maaf aku tidak bisa terima ini," ujar Ayu
Deg!
.
__ADS_1
.
Bersambung.....