Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Rahasia


__ADS_3

Tok.. tok .. tok..


Ergan mengetuk pintu kemudian masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.


Amelia berbalik melihat Ergan kemudian membelakanginya sambil mengusap air matanya.


"Ngapain kamu disini? aku nggak butuh teman bicara, sana pergi! biarkan aku sendiri, Hikss.. hikss.."


"Mel, jangan seperti anak kecil, berpikirlah secara dewasa." Bujuk Ergan.


"Apa aku tidak salah dengar? dia bicara sangat lembut padaku, tidak seperti biasanya yang selalu menyebalkan dan semaunya." Batin Amelia. "Berhenti bicara!" Sentak Amelia.


Ergan mengambil posisi duduk disamping Amelia, ia memegang pundak Amelia agar gadis itu mendengarnya meskipun itu terpaksa.


"Jangan berpikir jika kamu saja yang menderita karena hal ini. Lihat Mama kamu diluar, apa kamu nggak kasihan dengannya? Dia juga pasti menderita menutupi semua ini demi kebahagiaan kamu. Ambil hikmahnya saja, Jika Ayahmu tidak pergi bersama wanita lain, mungkin kamu tidak memiliki Papa yang sangat baik dan penyayang seperti Papa kamu. Iya kan?" Bujuk Ergan.


Amelia hanya diam, perkataan Ergan sedikitnya menyentuh hatinya. Amelia berbalik menatap manik Ergan. Ternyata laki-laki yang akan menikahinya bisa bicara bijak juga tidak seperti yang dikenalnya.


"Kamu nggak ngerti bagaimana perasaanku. Lebih baik kamu pergi dan biarkan aku sendiri."


"Lho kok gitu? ingat! sekarang aku calon suami kamu. Apapun masalah yang kamu hadapi, itu juga menjadi tanggung jawabku. Mulai sekarang jangan mernah merasa sendiri, aku akan selalu ada untukmu." Tangan Ergan menghapus air mata Amelia, menarik kepalanya untuk bersandar di dadanya.


Amelia hanya diam, air matanya kembali mengalir disaat Ergan membelai rambutnya.


"Kamu nggak marah kalau aku cari Papa kamu untuk menjadi wali nikah kita kan? Seburuk apapun dan sebesar apapun kebencian kamu padanya, dia tetap Ayah kandung kamu. Gimana?" Tanya Ergan.


Amelia hanya mengangguk, tangisannya menghilang, ada rasa nyaman dan tenang dihatinya saat bersandar disana. Namun ada sesuatu yang membuatnya terkejut.


Deg.. deg.. deg..!


Detak jantung Ergan yang memompa semakin cepat membuatnya segera menarik diri.


Ergan mengangkat wajah Amelia lalu mencapit dagunya dengan kedua jari. Tatapan matanya teduh memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Kamu sudah tenang?" Tanya Ergan.


"Hmm."


"Sekarang aku yang tidak tenang." Batin Ergan.


Ergan terdiam, ia mengingat saat Amelia datang ke rumahnya bersama Brian.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Kini Amelia yang bertanya.


"Apa hubunganmu dengan Brian?" Tanya Ergan.


"Kami hanya berteman."


"Mulai sekarang kalian tidak boleh bertemu."


"Kenapa? bukankah dia adik kamu?"


"Jangan pura-pura bodoh! dia suka kamu dan aku tidak suka itu!" Sentak Ergan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu cemburu?" Tanya Amelia manatap mata Ergan mencari kejujuran disana.


"Bisa nggak, kamu dengarkan aku saja! aku paling nggak suka dibantah!" Tegas Ergan.


Baru saja dia bersikap sangat lembut, sekarang dia sudah kembali seperti Ergan yang sebelumnya. Arogan!


"Iya." Pasrah Amelia.


"Bagus, jadilah gadis penurut, maka kamu akan aman disisiku." Ujar Ergan kemudian mendekap Amelia dalam pelukannya.


"Meli..."


"Iya Mah.." Sahut Amelia.


"Ada tamu.." Teriak Lidya kembali di dekat pintu kemudian mempersilahkan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu.


Amelia melangkah keluar di ikuti Ergan di belakangnya. "Siapa Mah?" Tanya Amelia namun langkahnya terhenti saat melihat Heri dan Dian duduk dikursi.


"Mel, Mama sudah menolaknya tapi mereka ngotot ketemu kamu." Ujar Lidya.


"Biarkan aja Ma, aku juga pengen tau apa maksud kedatangan mereka kesini."


"Ya sudah, Mama ke toko sebentar. Nak Ergan temenin Meli ya, ibu hanya bawain kunci untuk Lisa." Ujar Lidya, Lisa adalah pegawainya, kemudian berjalan menuju toko yang tidak jau dari rumahnya.


Ergan hanya mengangguk sebentar lalu duduk dengan santai disamping Amelia.


Heri menatap Amelia tak berkedip dengan tatapan sendu, ada rasa penyesalan karena telah menghianati cinta Amelia. Gadis yang berdiri di hadapannya sekarang sangat cantik dan anggun. Make-up tipis, bibir mungil dan kelihatan manis dengan sentuhan lipgloss berwarna pink, dress warna peach selutut dipadukan dengan blazer warna putih, rambutnya yang pendek sebatas telinga dibiarkan tergerai memperlihatkan lehernya yang jenjang, membuat Amelia semakin menarik dimatanya.


"Mel..." Heri mulai bicara namun terpotong oleh Amelia.

__ADS_1


"Mau ngapain disini? mau perlihatkan kemesraan kalian didepan mataku? atau mau pamer cincin pernikahan? apa belum cukup kalian menghianati dan menghancurkan perasaanku? berpura-pura baik didepanku tapi selingkuh dibelakangku?" Sentak Amelia.


Amelia meluapkan segala kekesalannya yang selama ini dia simpan hingga membuatnya berakhir ditangan Ergan. Niatnya pulang ke rumahnya untuk menenangkan diri, tapi nyatanya lebih menyakitkan melihat sepasang suami-istri itu berada di hadapannya. Bahkan mereka dengan tidak tahu malunya berkunjung ke rumahnya.


"Mel, maaf, aku yang salah karena berada diantara kalian. Aku ingin memperbaiki kembali persahabatan kita." Sela Dian.


"Baguslah kalau kamu sadar! tapi sayang, sudah terlambat, aku nggak butuh sahabat yang menusukku dari belakang." Tolak Amelia.


"Mel, kami kesini untuk meminta maaf, bukan untuk mendengarmu marah. Tenangkan dirimu dan dengar dulu penjelasan kami." Heri mulai emosi.


"Siapa yang meminta kalian kesini minta maaf? Kalian nggak perlu repot-repot melakukannya. Aku juga nggak butuh penjelasan karena bukti nyata sudah ada. Jangan ganggu aku lagi. Kalau perlu, kalian nggak usah muncul lagi dihadapanku. Urusan kita sudah selesai. Apalagi kamu Heri, jangan coba-coba menghubungi Mama untuk menanyakan kabarku." Tegas Amelia.


Dian langsung melirik Heri, membuat Heri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak tahu jika setelah menikah, Heri masih menghubungi Lidya untuk menanyakan kabar Amelia.


"Mas! kamu menghubungi mereka dibelakang aku?" Kesal Dian.


Heri tidak menghiraukan pertanyaan Dian, tatapannya yang sendu tetap pada Amelia yang sangat ia rindukan.


"Aku menghawatirkanmu, Mel. Aku tidak ingin kamu makukan hal yang diluar nalar." Ujar Heri.


"Apa maksud kamu, hah?! kamu sudah liat aku baik-baik aja kan? tentu saja aku masih hidup. Kamu pikir aku akan bunuh diri karena kalian?" Amelia menghela napas lalu tertawa, "Hahaha... Kalian salah! aku bahkan melakukan hal yang lebih gila lagi." Kesal Amelia.


Ergan menoleh, ia tidak percaya jika kata-kata Amelia sudah tidak terkontrol lagi. Hampir saja Amelia mengatakan jika dirinya mabuk dan melakukan one night stand dengan Ergan.


"Apa maksud kamu?" Selidik Heri.


Ergan menggenggam tangan Amelia yang mengepal menahan emosinya yang sudah meledak.


"Kalian nggak perlu tau." Jawab Amelia kembali memelankan suaranya.


"Dia siapa Mel?" Tanya Heri saat Ergan menggenggam tangan Amelia. Ia tidak suka pria lain menyentuh tangan Amelia.


"Aku Ergan, suami Amelia." Sela Ergan datar, sengaja memperkenalkan dirinya sebagai suami Amelia untuk melihat reaksi Heri apakah masih memiliki rasa pada Amelia. Ergan bahkan tidak segan-segan merangkul bahu Amelia.


Heri dan Dian terkejut karena tidak percaya, bagaimana mungkin Amelia sudah menikah sementara dia sibuk bekerja. Dan sepengetahuan Heri dia tidak pernah memutuskan Amelia hingga menikah dengan Dian. Sedangkan Dian, meskipun tidak percaya tapi dia berusaha memperlihatkan jika dia ikut bahagia atas perhikahan sahabatnya.


"Apa itu benar, Mel? aku ikut senang, kapan kamu menikah?" Semangat Dian langsung melupakan kekesalannya pada Heri.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2