Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Dentuman Musik


__ADS_3

Disudut ruangan yang sama. Ergan, Tirta, Randi, dan Bima sedang berpesta di club itu. Mereka duduk ditemani empat wanita cantik disampingnya sambil menuangkan minuman beralkohol di gelas. Mereka menikmati pesta sambil bercanda, mengejek, dan tertawa.


Berbeda dengan Ergan, ia lebih banyak diam menikmati brendy digelasnya, jelas sekali jika dia tidak menikmati pesta ini. Hanya Amelia yang ada dikepalanya. Ergan dapat merasakan aura Amelia walaupun dirinya tidak bersama gadis itu. Entah mengapa pikirannya selalu dipenuhi wajah polos Amelia. Bagaimana amelia marah, cemberut, dan saat gadis itu tersenyum. Semua yang ada pada Amelia seolah mulai terbiasa di hidupnya.


Suara dentuman musik yang begitu nyaring di telinga, pria dan wanita yang sedang bergoyang diatas panggung mengikuti lagu dan irama musik, minuman beralkohol, asap rokok yang tebal, wanita-wanita cantik dan seksi, dan pria-pria butuh hiburan memenuhi isi ruangan club. Namun Amelia sama sekali tidak terganggu dengan semua itu seolah dunia ini hanya milik sendiri.


Ingat! bukan milik berdua ya?


"Penghianat! kenapa kau lebih memilih Dian, hah?" Teriak Amelia lalu kembali meminum wine dengan dua kali tegukan. "kurang apa aku?" Rancau Amelia kemudian meletakkan gelas diatas meja dengan kasar.


Untung tidak sampai pecah.


Dasar Amelia, sok pesan tiga botol wine, tapi baru minum setengah botol aja sudah bicara tidak karuan.


Amelia berdiri mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia berjalan tidak seimbang mencari pria yang menurutnya paling tampan malam ini. Dirinya perlu bertanya pada orang lain apa kekurangannya agar dia tahu diri.


Brugh!


Tubuh Amelia terjatuh karena hilang keseimbangan diatas pangkuan seorang pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya.


Ergan tertegun tidak percaya, dari mana datangnya gadis cantik itu, wanita yang selama ini dia rindukan dan tunggu untuk menelponnya. Ergan mengucek matanya berkali-kali, mungkin karena sudah minum beberapa gelas dia mulai halu. Tapi ternyata tidak salah lagi, gadis yang dirindukannya kini duduk di pangkuannya.


"Wiiih.. bening banget bro!" Puji Randi teman Ergan.


"Boleh juga nih buat nemenin kita. Apa dia juga ?" Tanya Bima.


Tidak ada jawaban.


"Biar gw bereskan bos." Ujar Tirta kemudian berdiri hendak menyentuh Amelia.


"Jangan menyentuhnya! biarkan saja dia disini." Tegas Ergan membiarkan Amelia bergelayut manja di dadanya.


"Tapi dia mabuk, dan mengganggu kita." Ujar Tirta.


"Tidak."


"Lo kenal dia?" Tanya Randi pada Ergan.


Belum sempat Ergan menjawab, Amelia malah merancau. Menatap mata Ergan sambil mengelus wajah dan dagunya.


"Kamu sangat tampan! aku suka pria sepertimu." Puji Amelia sambil tersenyum.


Ergan hanya diam, menikmati sentuhan jemari Amelia mengelus seluruh wajahnya.


"Katakan dwngan jujur! apa aku tidak cantik?"

__ADS_1


"Cantik."


"Tidak menarik?"


"Menarik."


"Tidak seksi?"


"Seksi."


"Tidak menggoda?"


"Sangat menggoda."


"Bohong! kamu bohong!" Amelia memukul dada Ergan.


"Nggak!"


"Kalau benar, kenapa dia meninggalkan aku? hikss, hikks.. apa salahku?" Tangis Amelia pecah seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesayangannya. Membuat Ergan dan teman-temannya tercengang.


Setelah meluapkan kekesalannya, Amelia menyandarkan kepalanya didada bidang Ergan sambil mengelusnya. Air mata Amelia membasahi kemeja yang dikenakan Ergan bahkan bekas lipstiknya juga menempel disana.


"Kamu tidak salah! Dia yang bodoh meninggalkanmu." Ujar Ergan dengan lembut sambil membelai rambut Amelia.


"Hah...?" Ketiga sahabat Ergan melongo, semakin shokk saat melihat Ergan membelai rambut Amelia dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tapi dia memilih sahabatku. Aku dicampakkan begitu saja. Sekarang aku tidak punya pacar. Sungguh menyebalkan!" Rancau Amelia sambil mengerucutkan bibirnya, ia tidak terima statusnya sebagai jomblo baru.


"Sekarang apa yang kamu inginkan cantik? mau cari pacar?" Sela Randi menawarkan diri kemudian melirik Ergan. Kehadiran Amelia yang berani duduk dipangkuan Ergan seolah menjadi hiburan tersendiri bagi mereka malam ini.


Seandainya mereka tahu pekerjaan Amelia yang sebenarnya, mereka pasti tidak akan percaya. Mereka pikir Amelia salah satu wanita penghibur yang baru di Club Elite.


Amelia berbalik, melihat satu persatu wajah teman Ergan. Sesaat kemudian tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya yang semakin menambah kecantikannya.


"Gila, senyumnya sangat manis bro! ihh... makin gemes deh!" Puji Randi semakin terpesona. Randi bahkan mengusap wajahnya dengan kasar saking gemesnya.


"Kalian sangat tampan. Siapa yang mau jadi pacarku?" Tanya Amelia.


"Aku mau." Serentak Randi dan Bima penuh semangat, tapi begitu melihat tatapan mata tajam Ergan, nyali mereka langsung menciut.


Berbeda dengan Tirta, matanya menyipit dan keningnya mengerut. Ia menaruh curiga dengan Ergan. Baru kali ini Ergan membiarkan wanita lain dekat dengannya selain Rania. Bahkan membiarkan wanita itu duduk di pangkuannya begitu saja. Bergelayut manja di tubuhnya dan membiarkan Amelia menyentuh sesuka hatinya.


'Sepertinya ada sesuatu yang aku tidak tahu?' Batin Tirta.


"Tidak boleh!" Tegas Ergan.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Ga! gantian dong, gw juga mau deketin dia." Kesal Randi kemudian membujuk Amelia. "Nona yang manis dan cantik dan baik hati, sini diatas pangkuan abang yang tampan dan rupawan ini, mau ya..?" Bujuk Randi sambil menepuk kedua pahanya.


Amelia kembali menyandarkan kepalanya. Bersandar didada Ergan yang begitu hangat dan menenangkan. Kedua tangannya ia tempatkan dileher membuat jarak diantara mereka semakin dekat. Kepalanya mulai pusing dan berdenyut, rasanya semakin lama semakin berat untuk diangkat. Amelia menekan pelipisnya berkali-kali tapi penglihatannya tetap berputar bagai komedi putar.


"Hehehe.. tidak mau, aku hanya mau dia, dia lebih tampan." Tolak Amelia mengelus dagu Ergan yang ditumbuhi bulu halus.


"Tepat sasaran! Kalian cocok, kebetulan dia juga butuh belaian dan kasih sayang." Ejek Tirta sambil menyesap wine masuk kedalam tenggorokannya.


"Diam!" Bentak Ergan membuat Tirta segera meletakkan gelasnya.


"Tahan bos, tahan..." Bukannya takut, Tirta malah kembali mengejeknya.


Ergan memejamkan mata, membiarkan Amelia melakukan apa saja pada tubuhnya. Lama kelamaan ia semakin menikmatinya, sesuatu dibawah sana sudah mulai on saat Amelia bergerak dengan manja diatas pangkuannya.


"Sepertinya ada yang mulai on nih! wajahnya sudah memerah, kita ngalah aja deh Bim! Gw sudah pesan kamar diatas, ini kuncinya. Tapi kalau lo sudah bosan, serahkan dia ke gue." Ujar Randi.


Randi meletakkan kunci kamar diatas meja. Kamar di club itu sama persis dengan fasilitas bintang lima. Harga perkamarnya mencapai sepuluh juta permalam. Tak heran jika yang datang ke sana sebagian besar crazy rich.


"Shittt..." Wajah Ergan memerah saat sentuhan tangan Amelia semakin menjelajah diarea leher dan telinga.


Tanpa kata-kata, Ergan menyambar kunci kamar. Mengangkat tubuh Amelia ala bridal style menuju lift.


Setelah menghilang didalam lift, Randi menatap tajam pada Tirta. Ia juga curiga dengan sikap Ergan yang tiba-tiba berubah.


"Tir, apa lo kenal gadis itu? Sepertinya dia baru di club ini." Tanya Randi penasaran.


"Gw juga nggak tau, tapi sepertinya Ergan mengenalnya. Jika tidak, Dia nggak mungkin membiarkan gadis itu menyentuhnya. Tapi Ergan mengenalnya dimana ya? kan gw selalu bersamanya."


"Di Singapore kali? Dia kan cuma pergi sendiri."


"Nggak mungkin! gw tau kemana dan dengan siapa dia disana." Tirta berpikir sejenak kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Dimana ya? ah, bodo amat lah!" Kesal Tirta karena tidak menemukan jawabannya.


"Sudah, nggak usah mikirin Ergan. Biarkan dia bersenang-senang dengan mainan barunya. Lebih baik kita juga ikut berpesta malam ini, ciiirs.." Mereka bersamaan mengangkat gelas kemudian meminumnya dengan sekali tegukan.


"Cirrs..."


Randi merangkul gadis yang duduk di sampingnya begitu juga dengan Bima dan Tirta sambil menikmati alunan musik dan minuman diatas mejanya.


Dikamar atas, Ergan meletakkan Amelia diatas tempat tidur king size. Amelia kembali duduk, antara sadar dan tidak sadar ia kembali menatap Ergan.


"Kamu siapa?" Tanya Amelia dengan wajah bingung.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2