Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Extra Part 1


__ADS_3

.............


Karmen menyipitkan matanya kala sinar matahari mulai masuk melalui celah jendela kaca. Saat matanya terbuka lebar, netranya menangkap wajah pria tampan bak dewa Yunani sedang terpampang nyata didepannya dengan jarak begitu dekat. Saking dekatnya, Karmen dapat merasakah dengkuran halus yang keluar dari mulut pria itu. Tangan Brian memeluknya erat seakan tidak ingin melepasnya walau sebentar. Dengan perlahan Karmen menyingkirkan tangan Brian, takut Brian akan bangun dan akan menganggapnya sebagai wanita penggoda. Bukankah semalam Karmen yang memulainya? Rasanya Karmen ingin bersembunyi diujung dunia agar Brian tidak bisa melihatnya lagi.


Karmen mengamati sekelilingnya, kamar berdesign begitu mewah telah menjadi saksi bisu percintaannya terlarangnya dengan Brian.


"Astaga... apa yang sudah aku lakukan?" Karmen memukul kepalanya yang masih pusing karena kurang tidur. Kesucian yang selama ini dia pertahankan sudah tidak ada artinya lagi. Brian telah mengambilnya dengan paksa. Ah, tepatnya Brian begitu pintar merayunya dan menggodanya dengan sentuhan hingga ia rela memberikannya dengan sukarela.


Menyesal? tentu saja, tapi nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya bisa menangis dalam hati menyesali perbuatannya. Jika pun tidak ada laki-laki yang mau menerimanya lagi, ia sudah pasrah, baginya pekerjaan tetap nomor satu.


"Sudah jam berapa ini?" Karmen segera melihat jam diponselnya, "Gawat! aku ketinggalan pesawat!" Monolog Karmen. Ia membuka selimut dan begitu terkejut melihat tubuh polosnya mirip mqcan tutul dan merasa sakit dibagian intinya.


"Aww... kenapa sesakit ini?" Karmen mengingat kejadian semalam, bagaimana Brian tidak ingin berhenti menikmati tubuhnya. Wajahnya memerah karena malu, sebaiknya dia segera pulang sebelum Brian bangun tidur.


Karmen beringsut ke sisi tempat tidur kemudian turun dengan perlahan, dengan perlahan mulai melangkah menahan perih dan memungut satu persatu pakainnya di lantai.


"Dasar mesum! pakainku saja dilempar kemana-mana," gerutu Karmen.


Setelah mendapatkan semua pakainnya, ia menuju kamar mandi, membersihkan diri sebentar kemudian keluar dari hotel setelah berpakaian lengkap.


Sebelum pergi ia berbalik menatap Brian, pria itu masih terlelap begitu tenang dengan wajah tidak berdosanya.


Karmen mengambil pulpen dan kertas kecil diatas nakas kemudian menulis sesuatu untuk Brian, setelah selesai ia segera keluar.


Pelan-pelan Karmen membuka pintu kamar, begitu pintu tertutup kembali ia bernapas dengan lega. Karmen memesan taksi online kemudian masuk kedalam lift untuk turun dan menunggu di loby.


Lima menit kemudian taksi datang di depan loby. Karmen segera masuk kemudian kembali pulang kerumah. Ia mengirim pesan pada atasannya untuk meminta orang lain mengganti dirinya dengan alasan sakit.


Beberapa menit kemudian, Karmen sudah tiba di rumah. Ia langsung menuju kamarnya. Teman-temannya sudah berangkat ke bandara. Ia menuju dapur, cacing diperutnya sudah berteriak minta diisi.


Karmen mengambil dua bungkus mie goreng instan didalam kabinet dapur. Ia menyalakan kompor kemudian merebusnya. Semangkuk mie ditambah telur setengah matang, serta irisan cabe rawit siap untuk disantap. Ia langsung melahapnya dengan semangat.


Ting.. tong.. ting... tong...


Suara bel puntu menghentikan suapannya, Karmen segera minum air kemudian keluar melihat siapa yang datang.


"Kamu!" Pekik Karmen saat melihat wajah Brian didepan pintu. Tanpa permisi Brian langsung masuk. Ia.langsung menuju dapur karena aroma menyengat dari mie goreng dimeja makan.


"Eh, tunggu! siapa yang menyuruhmu masuk?" Kesal Karmen sambil mengikuti langkah Brian masuk kedalam. Tapi langkahnya kalah cepat saat Brian sudah duduk dikursi.

__ADS_1


"Mau ngapain kamu?" tanya Karmen, dia mulai waspada melihat makanannya.


"Makanlah! kamu makan sendiri tanpa mengajakku? Kamu tau nggak, tenagaku juga terkuras habis semalam. Kamu pikir cuma kamu saja yang lapar?" Brian memegang sendok mengaduk mie didalam mangkuk.


"Dasar tidak ada akhlak! kalau ngomong difilter sediki kenapa?"


Pukk!


Karmen memukul tangan Brian, tidak membiarkan Brian menikmati makanannya.


"Pelit amat sih sama calon suami sendiri," gerutu Brian.


"Siapa yang mau menikah denganmu? kamu nggak baca surat wasiat yang kubuat diatas nakas?" sengit Karmen.


"Baca."


"Terus..?"


"Aku nggak setuju, itu tidak sah dimata hukum dan agama. Enak saja suruh lupain kejadian semalam. Setelah kita sama-sama menikmatinya dan aku menitip benihku disitu, mana mungkin aku bisa melupakannya, hem? aku malah ingin mengulangnya sekarang." Brian menunjuk perut Karmen dengan dagunya, kemudian menggoda Karmen dengan menaikkan kedua alisnya membuat Karmen melotot menatap tajam padanya.


"Dasar mesum! sana pulang dan jangan injakkan kaki lagi disini." geram Karmen menarik tangan Brian untuk berdiri.


"Kalau tidak mesum kamu nggak ak


Tatapan mereka bertemu, Brian tersenyum penuh kemenangan, satu tangannya memeluk pinggang Karmen yang satu lagi menyendok makanan.


"Lepasin!" berontak Karmen tapi usahanya sia-sia. Tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Tenaga Brian masih kuat meskipun belum makan.


"Jangan pikir tenagaku sudah habis untuk membuatmu mengerang menyebut namaku, bahkan aku masih bisa melakukannya berkali-kali jika kamu mau, bagaimana sayang..?" bisik Brian. Mengerjai Karmen sepertinya mampu membuatnya bahagia.


Wajah Karmen memerah, membayangkan yang semalam saja sudah membuat bagian intinya sakit, apalagi jika Brian benar-benar melakukannya. Tidak, Karmen tidak mau itu terjadi lagi.


"Apa sih mau kamu datang ke..." ucapan Karmen terpotong saat sendok berisi mie masuk kedalam mulutnya. Dengan terpaksa ia makan dan menelannya. Detik selanjutnya Brian juga makan. Brian menyuapi Karmen bergantian dengan dirinya hingga mie gorwng habis.


"Enak, selain masak mie, kamu bisa masak apa?" Tanya Brian setelah memberi Karmen minum.


"Masak air," ketus Karmen sampai makanan habispun Brian masih betah menahan Karmen duduk dipangkuannya.


"Hahahaha..., kalau masak air anak kecil juga bisa sayang...!" ejek Brian.

__ADS_1


"Jangan panggil sayang, geli!" Karmen bergidik.


"Kenapa geli? bukannya kamu suka kalau geli?" Tanya Brian mulai mencium bibir Karmen.


Hanya kecupan, karena dia tidak mau menyakiti Karmen jika melakukannya sekarang.


"Aku kesini bawakan kamu obat," ujar Brian.


"Obat apa? aku nggak sakit," tanya Karmen.


"Obat untuk mengurangi rasa perih akibat ulahku semalam. Kamu tau dong, dibagian mana?"


"Ih, apaan sih!" Karmen tersipu malu, wajahnya seketika meronta bagai buah cerry.


"Tidak usah malu. Aku suka kamu dari pertama kita bertemu di pesta. Terimakasih sudah menjadikan aku yang pertama menyentuhmu," ujar Brian tapi satu tangannya sudah berada di area inti Karmen.


Karmen melot waspada, ia segera berdiri begitu ada kesempatan.


"Sini obatnya, aku bisa sendiri mengobatinya. Kamu sudah makan kan? sekarang kamu boleh pulang," ujar Karmen.


"Oke, aku pulang tapi aku akan kembali menjemputmu besok," ujar Brian.


"Menjemputku?"


"Ya."


"Aku sibuk! nggak ada waktu,"


"Kalau begitu nanti malam kita ketemu lagi, sampai jumpa," Brian berdiri kemudian mencium kening Karmen.


"Kamu ini, paling suka nyosor ya? apa kamu seperti ini pada semua perempuan?" kesal Karmen.


"Hehehe.... cuma ke kamu, yang lainnya.. itu hanya masa lalu," jawab Brian tanpa beban sedikitpun.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2