
"Malam itu gw melihatnya berdiri dibalkon rumah sambil berteriak. Sepertinya dia lagi patah hati." Pikiran Ergan menerawang, mengingat saat pertama kali bertemu dengan Amelia.
"Oh.. jadi yang lo tanyain pagi itu, Amelia?" Kesal Tirta seakan Ergan sedang main umpet dengannya.
"Hmm.." Ergan mengangguk.
"Kurang asem! Anjrit!" Sungut Tirta.
Ergan tidak perduli dengan kekesalan Tirta, dirinya terhanyut mengingat kenangan bersama Amelia. "Kebetulan pada saat gw ke Singapore, dia bertugas dipenerbangan yang sama denganku. Dia yang melayaniku di kelas bisnis. Lo tau sendiri kan apa yang gw lakukan?"
"Memanfaatkan kesempatan dengan menggodanya." Cibik Tirta.
"Tepat! Saat itu aku memberinya kartu nama, tapi dia tidak pernah menghubungiku."
"Kesal dong?" Ejek Tirta.
"Ya, tapi kami kembali bertemu di Club dan habiskan malam bersama."
"Gila lo..!"
"Gw memang sudah gila, Tir. Gw pikir dia sudah biasa melakukan itu karena pergaulannya bebas, glamor, dan jauh dari orang tuanya kan? ternyata gw salah! Gw yang pertama baginya."
"Karena itu lo ingin menikahinya?"
"Bukan hanya itu, sepertinya gw sudah jatuh cinta padanya."
"Trus Rania dan Aqilah mau dikemanain bos? Bagaimana dengan rasa cintamu pada Rania?"
"Mereka tidak akan kemana-mana. Gw yang akan tinggal dengan Amelia."
"Yakin?"
"Yakin."
"Ya sudah, gw pergi." Tirta berdiri kemudian meraih gagang pintu ruangan.
"Mau kemana lo, gw belum selesai bicara?"
"Panggil OB bersihin meja." Jawab Tirta sambil menunjuk meja kerja Ergan yang kotor.
Tirta keluar dari ruangan Ergan dengan langkah lebar. Menuju meja sekertaris yang bernama Ayu.
"Ayu, suruh OB bersihin meja bos." Perintah Tirta kemudian menuju ruangannya sebelum Ayu bicara.
Seperti biasa Ayu hanya geleng-geleng kepala kemudian melakukan perintah dari Tirta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Amelia, Sindi, Karmen dan Citra. Saai ini mereka sedang menikmati makan malam bersama di meja makan.
Mereka sama-sama heran siapa yang datang bertamu malam-malam begini. Bukankan ini sudah pukul sepuluh malam lewat? Seketika mereka saling melirik satu sama lain.
"Siapa yang datang malam-malam begini? apa kalian ada janji?" Tanya Citra membuat yang lainnya segera menggelengkan kepalanya.
"Satpam komplek kali?" Tebak Karmen.
__ADS_1
"Biar aku yang buka pintunya." Sindi beranjak dari kursinya.
"Hati-hati, liat dari jendela dulu mungkin aja itu pencuri." Ujar Citra.
"Mana ada pencuri ketuk pintu." Ujar Amelia membuat mereka terkekeh.
Sindi mengintip di jendela kemudian membuka pintu setelah melihat seseorang sedang berdiri di luar.
"Hai..!" Sapa Ergan tersenyum.
"Ha.. hai." Balas Sindi tidak percaya seorang pria tampan memakai baju kaos dan celana pendek sedang berdiri dihadapannya.
"Bisa panggilkan Amelia?"
"Amel?" Sindi mengernyitkan keningnya.
"Ya."
"Ada urusan apa?" Jiwa kepo Sindi mulai meronta-meronta. Ia tidak percaya Amelia memiliki teman yang sangat tampan dengan gaya casual seperti Ergan.
Sindi mengalihkan perhatiannya kebelakang, mencari kendaraan yang dipakai Ergan. Tapi sayang, dia tidak menemukan apapun.
Sindi kembali menatap Ergan penuh selidik, menilai penampilan Ergan dari atas kebawah, membuat Ergan kesal karena merasa sedang diintimidasi.
"Dari penampilannya sih sangat tampan. Tapi sayang kere, masa ia ngapel ke rumah cewek jalan kaki." Batin Sindi kemudian bergidik, dari penampilan Ergan memang termasuk tipe cowok idamannya, tapi sayang cowok kere tidak masuk dalam kriterianya.
"Panggilkan aja, bilang penting. Saya tidak perlu membahas urusan pribadi saya dengan orang lain." Tegas Ergan dengan wajah datar dan dinginnya.
"Gila! jutek amat nih cowok, untung tampan, kalau nggak, aku sudah tompol wajahnya." Geram Sindi dalam hati.
Sindi kembali masuk kedalam rumah, tidak lupa menutup pintu terlebih dahulu agar Ergan tidak masuk.
"Apa seperti ini sikap mereka yang sebenarnya? kenapa sangat berbeda saat didalam pesawat?" Gumam Ergan sambil geleng-geleng kepala.
"Siapa yang dateng Sin?" Tanya Citra.
"Ada cowok kere yang nyariin Amelia. Masa ia ngapel ke rumah cewek jalan kaki, nggak modal banget. Tampan sih ia, penampilan juga oke, tapi kalau nggak bermodal mau diapain? nggak guna. Ih,, amit-amit deh punya pacar kayak gitu." Ejek Sindi kemudian duduk dikursinya.
"Siapa yang cariin lo ya Mel?" Tanya Karmen penasaran.
Amelia menaikkan kedua bahunya, ia juga tidak tahu siapa yang datang mencarinya.
"Cepat temuin, katanya mau bicara penting." Ujar Sindi kembali lalu mulai menyantap makannya.
"Siapa sih!" Kesal Amelia kemudian minum air putih lalu keluar.
"Gw ikut." Karmen segera berdiri kemudian menyusul Amelia keluar.
Amelia membuka pintu rumah, begitu melihat siapa yang sedang berdiri menunggunya diluar, ia kembali menutup pintu. Namun tiba-tiba Ergan menahan daun pintu dengan sebelah tangannya. Amelia berusaha mendorong tapi kekuatan Ergan tidak sebanding dengannya.
"Kalian ngapain?" Tiba-tiba suara Karmen muncul dari belakang Amelia.
Amelia mendengus kesal.
"Pergi! jangan ganggu aku!" Amelia mengusir Ergan, sorot matanya tajam penuh kebencian.
"Tidak! aku nggak akan pergi sebelum kita bicara."
__ADS_1
"Kalian ada apa sih!" Sela Karmen.
"Diam!" Sentak keduanya membuat Karmen seketika menutup mulutnya rapat-rapat.
Suasana menjadi hening, mata Karmen melirik Amelia kemudian melirik Ergan. Keduanya sama-sama diam dengan mata saling bertatapan. "Aku merasa tak dianggap. Sadar woyy.. ada gw juga di dunia ini." Batin Karmen.
"Ngapain masih disini? sana pulang." Amelia kembali mengusir Ergan. Namun bukan Ergan namanya jika menyerah begitu saja. Ia tetap berdiri dihadapan Amelia.
"Nggak!" Sentak Ergan.
"Mel, jika kalian punya masalah, mending dibicarain baik-baik. Ayo, masuk kedalam." Ajak Karmen.
"Tidak usah, kami akan bicara diluar." Ketus Amelia. Jelas saja dia tidak mau bicara di dalam. Jika teman-temannya tahu masalah mereka, pasti akan menambah masalah baru untuknya.
"Oke, tapi jangan lama-lama, Lo utang penjelasan ke gw." Bisik Karmen kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Amelia menarik tangan Ergan menuju halaman rumah. Sedangkan Ergan hanya menurut mengikuti arah langkah kaki Amelia.
"Cepat bicara." Ketus Amelia.
"Bisakah kita bicara dengan kepala dingin?" Pinta Ergan mencoba bicara dengan lembut.
Amelia hanya diam menatap Ergan tanpa ekspresi.
"Aku datang kesini karena ingin...."
"Tapi aku tidak ingin bertemu kamu lagi."
Ergan tertegun, perkataan Amelia begitu melukai perasaannya. Ia tidak menyangka kedatangannya untuk menyelesaikan masalah akan ditolak oleh Amelia.
"Soal malam itu..." Ergan kembali mencoba bicara, namun lagi-lagi Amelia memotongnya.
"Tidak usah dibahas lagi!"
"Kenapa? itu perlu kita bahas."
"Sudahlah, anggap saja kita tidak pernah bertemu."
"Mana bisa begitu?"
"Karena itu yang terbaik! Saat kamu didekatku, aku nggak tau harus berbuat apa. Kita seharusnya tidak saling mengenal. Lebih baik kita tidak bertemu lagi. Apa kamu paham?" Tegas Amelia kemudian berlari menuju pintu rumah lalu menutupnya.
Rupanya Amelia menjaga jarak dengannya. Ergan tidak terima penolakan, bahkan Amelia menolaknya sebelum memberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah mereka.
Tanpa mereka sadari ada dua orang yang sedang menatap mereka dari tempat yang berbeda. Karmen melihat mereka dari balkon kamarnya, sedangkan Tirta dari depan rumah Amelia.
Setelah Amelia pergi, Ergan kembali kerumahnya. Ia hanya melirik Tirta saat melihat sahabatnya berdiri di depan pintu, terus berjalan dengan raut wajah putus asa.
"Sepertinya ada yang patah hati nih!" Sindir Tirta.
Asistennya yang satu ini benar-benar minta dipecat.
.
.
Bersambung......
__ADS_1