Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Bertemu Aqilah


__ADS_3

# Flashback-On #


Aqilah mengambil dua Kindderjoy yang terletak di rak bagian bawah depan kasir. Ia memeluknya karena merasa itu miliknya. Anak yang baru berumur hampir empat tahun itu tidak tahu jika mengambil barang yang ada di mini market itu harus dibayar dikasir.


Pada saat karyawan kasir menanyakan orang tuanya, ia hanya bilang Daddy kerja. Pegawai kasir jadi bingung, jadi dia putuskan mencari orang tuanya didalam, tapi tidak ada yang mengenal anak kecil itu. Dua karyawan yang berjaga mencoba meminta kindderjoy yang diambilnya, namun Aqilah tidak mau melepaskannya.


"Nggak mau, ini milik Aqilah! hikss.. hikss.. Daddy..!" Aqilah berteriak histeris sambil menangis. wajahnya bingung melihat kekiri dan kekanan mencari Ergan. Sampai saat ini ia belum sadar jika yang membawanya pergi adalah Ayu, bukan Ergan.


"Ada apa ini?" Suara Amelia membuat para karyawan menoleh.


Amelia sedang mampir ke mini market untuk membeli minum dan cemilan dikamarnya. Ia baru saja ke kantor pusat untuk menghadap ke atasannya karena ada perubahan jadwal untuk rute penerbangannya.


"Anak ini mengambil kindderjoy tapi nggak punya uang, Mbak." Jawab salah satu dari mereka.


"Lho, orang tuanya mana?" Tanya Amelia kembali.


"Nggak ada di sini mbak." Jawab yang lainnya.


"Kalian sudah mencarinya?" Amelia mengernyitkan keningnya, ia sungguh tidak tega melihat Aqilah yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Sudah mbak, tapi beneran nggak ada." Jawab karyawan lagi.


Amelia ikut bingung, ia mengelus rambut Aqilah kemudian menghapus air matanya.


"Ya sudah, coklatnya aku yang bayar." Amelia mengeluarkan uang didompetnya. Ia membayar kindderjoy dan minuman dingin yang dipegangnya di kasir. Setelah selesai, ia berjongkok dihadapan Aqilah, mensejajarkan wajah mereka dan menggenggam tangan Aqilah.


"Hei anak manis..! nama kamu siapa?" Tanya Amelia dengan nada lembut agar Aqilah tidak ketakutan seperti tadi saat karyawan mini market menanyainya.


Bola mata Aqilah menatap nanar wajah Amelia. Melihat Amelia tersenyum dan lembut ia merasa nyaman didekatnya.


"Aqilah." Jawab Aqilah.


"Oo namanya Aqilah, cantik sekali namanya, Aqilah sama siapa kesini sayang..?" Tanya Amelia.


"Daddy, Tante Ayu." Jawab Aqilah.


"Daddy sama Tantenya kemana? kenapa Aqilah sendiri disini?"


Aqilah hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.


"Ya sudah, nanti kita cari sama-sama ya? kamu tau nggak, nomor handphone Daddy atau Mama kamu? biar Tante hubungi mereka agar menjemput Aqilah disini." Tanya Amelia dengan lembut.


Aqilah kembali menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tante cantik, bukain." Melas Aqilah menyodorkan satu kindderjoy ke tangan Amelia.


Amelia tersenyum lalu membukanya, setelah memberinya pada Aqilah, ia mencubit pipi bakpao Aqilah karena gemas. Amelia melihat tas di punggung Aqilah, ia penasaran dengan isi tasnya.


"Wahhh.. tas Aqilah imut banget, apa isinya?"


"Mainan Aqilah."


"Boleh nggak Tante liat isi tasnya?"


Aqilah berubah menjadi anak penurut. Biasanya ia tidak mau jika orang lain memegang barang miliknya. Tapi bagai terhipnotis Aqilah menyerahkan tasnya begitu saja pada Amelia.


Baru saja Amelia ingin membuka tas Aqilah, dua pria berbadan tegap dengan setelan serba hitam menghampiri mereka.


"Maaf mbak, ini Nona kami, kami akan membawanya pulang." Ujar salah satu anak buah Tirta sambil memgang tangan Aqilah.


Amelia menatap mereka dari atas ke bawah, ia tidak mudah percaya dengan dua orang itu. Bisa saja mereka komplotan pencuri anak yang sekarang merajalela.


"Lepas!" Sentak Amelia memukul tangan pria itu. Ia menarik Aqilah kedalam pelukannya. "Aqilah sayang... Aqilah kenal dengan mereka?"


Aqilah tidak menjawab ia mundur berlindung dibelakang Amelia.


"Nona, jangan mempersulit pekerjaan kami jika tidak ingin terluka." Ancamnya.


Orang itu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Tirta. Tirta menyuruhnya untuk pergi dari sana tapi tetap mengawasi Aqilah.


# Flashback-Off #


"Gimana bos, apa kita biarkan mereka dulu?" Tanya Tirta.


"Ya, biarkan saja mereka bersama agar lebih akrab, dengan begini aku tidak perlu repot-repot mendekatkan mereka lagi." Seringai licik muncul di bibir Ergan. Bukan suatu kebetulan takdir mempertemukan anak dan istrinya di waktu yang tepat.


"Ayu gimana bos? jadi dipecat, apa nggak?" Tanya Tirta membuat Ergan menatap tajam pada Ayu.


Ayu semakin gemetar mendengar pertanyaan Tirta.


"Habislah gw! sudah lengkap penderitaanku jika dipecat. Sudah berstatus jomblo akut, sekarang bertambah pengangguran! Ya Tuhan.. bantu aku kali ini, kirimkan dewa atau dewi penyelamat. Aku janji jika dia laki-laki maka aku bersedia jadi pacarnya asalnya dia masih single tapi jika perempuan aku akan menganggapnya sebagai saudara" Batin Ayu.


"Kenapa kamu masih disitu? sana kerja. Siapkan laporan akhir bulan dalam waktu dua jam." Perintah Ergan membuat Ayu segera mengangkat wajahnya.


"Sa.. saya.. nggak dipecat Pak?" Tanya Ayu gugup.


"Kamu mau saya pecat beneran?" Tanya Ergan penuh penekanan.

__ADS_1


Sebenarnya Ergan juga tidak ingin memecat Ayu karena hanya Ayu yang sanggup bertahan bekerja dengannya selama setahun lebih. Sekertaris sebelumnya selalu mengeluh dan tidak betah menghadapi sikap Ergan yang arogan. Ayu lah wanita yang sabar menghadapinya, mungkin karena kebutuhan ekonomi yang membuatnya bertahan dan menerima segala perlakuan Ergan. Tapi menurut Ayu, sikap Ergan yang tegas dan disiplin sebagai pimpinan itulah yang mampu membuat perusahaannya berkembang dengan cepat.


"Ngg.. nggak Pak, terimakasih banyak. Saya keluar sekarang." Buru-buru Ayu membalikkan badan menuju pintu sebelum Ergan berubah pikiran.


"Tunggu. Lain kali jangan lalai dalam bekerja termasuk menjaga anakku."


"Iya Pak, Ayu janji." Ayu menghela napas lega setelah keluar dan menutup pintu ruangan bosnya. Ia duduk di kursinya lalu kembali bekerja.


Tidak lama kemudian Tirta keluar dari ruangan CEO, ia berjalan melewati meja Ayu dengan cuek seolah tidak ada tragedi Aqilah menghilang hari ini.


Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Ayu tidak dipecat sementara Aqilah belum ditemukan.


"Pak Tirta." Panggil Ayu kemudian menyusul Tirta ke ruangannya.


Tirta menoleh saat satu tangannya mendorong pintu masuk ruangannya. Ia tidak jadi masuk karena Ayu memanggilnya.


"Ada apa?" Tanya Tirta.


"Apa Aqilah sudah ditemukan?"


"Jika belum, kamu pasti sudah dipecat!"


"Trus dimana Aqilah?"


"Dia bersama orang yang tepat, lebih baik kamu lanjutkan pekerjaan kamu. Jangan membahas masalah ini lagi di depan Ergan jika tidak ingin dipecat."


"Baik Pak, dan terimakasih sudah membantu saya." Ujar Ayu tersenyum manis dengan wajah yang memerah.


Tirta mengernyitkan keningnya melihat wajah Ayu. "Kamu sakit, Yu?"


"Ah, nggak kok Pak." Sergah Amelia sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau nggak sakit kenapa wajah kamu memerah?" Tanya Tirta semakin mendekatkan wajahnya menatap pipi Ayu. Tangannya terangkat memegang dahi Ayu membuat jantung Ayu bergetar tak karuan.


"Tirta, ikut aku." Tiba-tiba saja Ergan datang dan memergoki mereka yang hampir tak berjarak. Ergan langsung menuju lift meninggalkan Tirta yang salah tingkah.


Ayu berbalik segera pergi ke mejanya sedangkan Tirta menyusul Ergan menuju lift.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2