Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Memilih Pergi


__ADS_3

..........


Diluar apartemen, Rania menerima telpon dari pengacaranya. Tuntutan yang dia layangkan pada Ergan Ergan ditolak oleh pengadilan. Surat yang pernah ia tanda tangani menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Ia tidak menyangka jika Tirta akan melakukan hal selicik itu untuk menjebaknya, menandatangani surat pernyataan jika Ia Ikhlas dan rela jika Ergan menikah lagi dengan Amelia tanpa ia sadari.


Rania semakin geram karena tidak bisa membatalkan pernikahan Amelia dan Ergan. Pernikahan mereka sah, itu artinya haknya sebagai istri Ergan sama dengan Amelia.


Niatnya ingin melaporkan Ergan dengan pemalsuan dokumen agar bisa mengancam Ergan untuk menceraikan Amelia dan dia juga bisa meminta uang banyak jika Ergan meminta laporannya di cabut. Malah sekarang Rania harus menelan kekecewaan berujung gatol alias gagal total.


"Ada apa?" Tanya Karisma saat mereka berada didalam mobil menuju rumah Rania.


"Pernikahan mereka sah Mah, Rania harus gimana lagi?" Rania bingung karena semua usahanya gagal.


"Jangan menyuruh Mama berpikir, Mama pusing mau istirahat." Karisma memegang keningnya, masalah kedua menatunya sangat menguras energinya hingga membuat kepalanya pening dan pusing.


"Ck." Rania mendengus kesal melipat kedua tangannya didada. Ia tidak terima, ia harus menemui Tirta untuk membuat perhitungan dengannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil apa yang sudah menjadi milikku. Ergan dan hartanya hanya aku yang bisa memilikinya, aku tidak sudi membaginya apa lagi denganmu, pelakor sialan!" Batin Rania.


Rania mengetik sesuatu di layar ponselnya pada seseorang. Ia meminta orang itu untuk menemuinya di club tempat dia dan teman-temannya bersenang-senang.


"Temui aku di Club malam ini. Aku ada tugas untukmu."


"Siap, tapi tidak gratis."


"Ia aku tau, berapa yang kamu minta."


"Come on baby, aku tidak menginginkan uang, aku butuh kamu." Balas orang itu.


"Oke."

__ADS_1


Rania tersenyum, ia akan menyuruh seseorang untuk menyingkirkan Amelia karena Amelia adalan ancaman terberatnya untuk menguasai harta keluarga Ergan.


.........................


Amelia bersandar pada daun pintu, tubuhnya merosot kebawah menyentuh lantai, lututnya ditekuk, kedua tangannya memeluk lutut dan menelungkupkan wajah disana sambil menangis.


Bodoh! Amelia merutuki dirinya sendiri mencoba menerima dan bertahan hidup bersama Ergan. Berusaha mengabaikan omongan dan cibiran orang lain, namun nyatanya itu semakin menyakiti hatinya.


"Hiks.. kenapa? kenapa tidak satu orang pun yang mengerti perasaanku. Aku hanya mencintai tapi semua menyalahkanku, aku juga tidak ingin mencintai sedalam ini!" Teriak Amelia dalam hati.


Sayangnya, harapannya terlalu tinggi untuk hidup bersama Ergan malah menjatuhkan mentalnya. Ternyata ada banyak hati yang terluka disini.


Amelia menangis pilu, selama setengah jam mengeluarkan rasa sesak di dadanya. Iris matanya melirik selembar kertas kecil persegi panjang. Selembar cek yang dapat mengubah kehidupannya menjadi wanita kaya dalam sekejap.


Amelia kembali masuk ke dalam kamar. Meluruskan tubuhnya sambil bersandar pada kepala ranjang. Pikirannya melayang mengingat kejadian tadi. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang glowing.


"[Halo.]" Karmen menjawab panggilan Amelia, beruntung saat ini pesawatnya transit di Kuala Lumpur.


"[Kar, hikss...]" Amelia tidak dapat lagi menahan kesedihannya.


"[Amel! lo nangis lagi? Harus berapa kali gw ingatkan, hubungan kamu dengan Ergan hanya akan membuatmu menderita. Menangis setiap hari akan membuatmu tersiksa dan semakin terpuruk. Sampai kapan kau akan bertahan dengan hubungan yang rumit ini?" Pekik Karmen. Akhir-akhir ini Amelia selalu menangis jika menelponnya. Hanya Karmen tempatnya mengadu disaat butuh tempat mencurahkan isi hatinya.


"[Hiks.. rasanya gw sudah nggak sanggup pertahanin rumah tangga gw. Sakit Kar, Mamanya Ergan dan Rania memintaku bercerai dan pergi dari kehidupan Ergan. Jika aku tidak melakukannya, maka Ergan akan hancur, perusahaannya akan bangkrut. Aku mencintainya, aku nggak mau melihatnya hancur. Aku nggak tau harus berbuat apa untuk membantunya.]" Ungkap Amelia.


"[Mereka mengancammu? gw nggak habis pikir kenapa lo masih bertahan. Istrinya sudah melukai lo hingga dibawa kerumah sakit, sekarang mereka mengancam?gw nggak terima sahabat gw diperlakukan seperti itu. Sudah jangan menangis lagi, jika kamu ingin pergi, aku mendukungmu dari pada terus bertahan tapi hidup menderita. Hidup itu indah Mel, lo tau itu kan? masih banyak kebahagiaan diluar sana meski tidak hidup dengan Ergan bajingan itu!]" Geram Karmen.


Saat mengetahui Ergan ternyata sudah memiliki istri lewat video yang beredar waktu itu, Karmen meradang, ingin rasanya menonjok wajah Ergan seandainya ada dihadapannya. Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi, Karmen hanya tidak ingin melihat Amelia terus menderita jika bertahan sebagai istri kedua.


"[Baiklah, sudah dulu ya, nanti gw telpon lagi.]" Amelia memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Tangis Amelia mulai pelan, air matanya mulai mengering, namun sakit itu masih tertanam dan tidak akan pernah hilang.


"Amelia, bangkit, kamu bukan wanita lemah yang hanya bisa bergantung pada suamimu." Gumam Amelia menyemangati dirinya.


"Kamu hanya punya dua pilihan, bertahan dengan sakit hati yang belum tentu ada ujungnya, atau pergi membawa luka dan kenangan." Lanjut Amelia.


Setelah memantapkan hati dengan keputusannya, Amelia bergegas menuju walk in closet. Mengambil kopernya kemudian memasukkan beberapa lembar pakaian, dan barang-barang berharga miliknya. Ia mengambil satu kemeja putih milik Ergan yang sering ia pakai. Ie menciumnya, menghirup wangi tubuh suaminya sambil memejamkan mata. Setelah itu memasukkannya kedalam koper lalu menutupnya.


Amelia menatap cincin pernikahannya bersama Ergan. Sebuah cincin bermahkota berlian yang terukir nama Ergan didalamnya. Rasanya begitu berat pergi meninggalkan suaminya. Ia menciumnya kemudian mengedarkan pandangannya disetiap sudut kamar. Tangannya mengelus dengan lembut tempat tidur dan bantal. Bayangan mereka memadu kasih di kamar itu kembali muncul dipikirannya membuat hatinya semakin berat untuk melangkah. Amelia menghela napas berat sebelum ia menarik kopernya keluar dari kamar.


Saat di ruang tamu. Matanya tertuju pada cek itu lagi. Ia beralih pada nakas kecil putih, menarik laci kemudian mengambil pulpen dan kertas dari dalamnya.


Dengan perlahan ujung pena menyentuh kertas putih polos itu. Jantungnya berdebar, air matanya kembali berlinang saat tangannya mulai menulis rangkaian kata perpisahan untuk suaminya.


Hampir setengah jam ia menulis karena disetiap kalimat ia berhenti untuk menghapus airmatanya. Sungguh ini keputusan paling berat untuknya.


Setelah selesai menulis, ia memeluk kertas itu di dadanya. Mencoba menguatkan hatinya kembali jika ia tidak salah dalam mengambil keputusan. Mungkin ini adalah ucapan terakhirnya pada Ergan.


Amelia melipat kertas itu kemudian meletakkannya diatas meja bersama cek, kartu Black card, ATM dan kertas kosong yang sudah ditanda tanganinya.


"Aku pergi Mas." Lirih Amelia kemudian menghapus air matanya.


Amelia menarik kopernya keluar dari unit apartemen menuju lift. Ia harus pergi secepatnya sebelum Ergan pulang dari kantor.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2