
Tiga tahun Kemudian.
"Tir, kamu sudah menemukan jejak Amelia?" Tanya Ergan.
Setiap hari selama tiga tahun pertanyaan itu yang selalu Tirta dengar dari mulut Ergan saat bertemu dengannya. Dan setiap hari juga ia harus menggelengkan kepalanya sebagai jawaban yang selalu membuat Ergan mendengus kesal.
"Tidak becus! apa saja pekerjaan anak buah lo? ini sudah tiga tahun! lo mau tunggu gw jadi kakek-kakek baru bisa menemukannya?" Ergan mengerang dengan tangan terkepal kuat.
"Sabar dikit kenapa? ini juga lagi usaha. Mungkin doa bos yang nggak mujarab kali." Ungkap Tirta membuat kedua tangannya seketika menutup mulut.
"Brengsek lo!" Satu pulpen seharga puluhan juta melayang dikening Tirta.
"Aww... saki bos!" Ringis Tirta sambil memegang dahinya.
Mengabaikan ringisan Tirta, Ergan mulai menyibukkan diri memeriksa dokumen-dokumen yang sudah diletakkan Ayu diatas meja kerjanya. Sebentar lagi jam dua dan meeting akan dimulai.
Dua jam kemudian Meeting dimulai. Para kontraktor yang dipercayakan membangun jembatan di Desa Teratai menyerahkan laporannya karena pembangunan telah selesai dan bulan depan sudah bisa diresmikan.
Ergan menghela napas lega, selama tiga tahun terakhir ia dapat mengembangkan perusahaannya melebihi perusahaan yang dipimpin Andreas yang sekarang diserahkan pada Brian.
"Selamat atas kesuksesannya, bos!" Ujar Tirta setelah mereka selesai meeting.
"Selamat juga untukmu, ini juga hasil dari kerja kerasmu. Aku akan berikan bonus enam bulan gaji."
Ucapan Ergan membuat Tirta melompat kegirangan.
"Yes! transfer sekarang ya bos..!" Semangat Tirta kegirangan, tentu saja ia harus memintanya sekarang, jika menunggu lima menit kemudian, siapa yang menjamin jika Ergan tidak berubah pikiran. Apalagi jika Ergan sudah mulai menanyakan Amelia. Pria itu pasti lupa segalanya.
"Siaalan lo!" Kesal Ergan sambil tangannya mengetik sesuatu diponselnya.
"Takut bos berubah pikiran." Ujar Tirta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sudah."
"Terimakasih bos, bisa kirim uang lagi ke janda-janda gw." Gumam Tirta.
"Janda? lo pacaran sama janda?" Ergan menyipitkan matanya, menatap tajam Tirta penuh selidik.
Tirta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Tidak bos! Maksud gw, keluarga gw yang sudah jadi janda di kampung." Ungkap Tirta.
"Berapa banyak keluarga lo yang janda?" Tanya Ergan.
"Sebentar, satu, dua, tiga, empat, lima...," Tirta terus menghitung dengan jari-jarinya, setelah jari tangannya habis ia melihat sepatutnya dibawah. Membuat Ergan jengah melihatnya.
__ADS_1
"Lima bos!" Tirta mengangkat lima jarinya penuh keyakinan.
"Kurang ajar lo! kalau hanya lima kenapa menghitung sampai ke jari kaki?" Kesal Ergan memukul jidat Tirta dengan pulpennya. Jika Ergan lempar, pasti Tirta menghindarinya.
"Siapa yang menghitung pakai kaki? gw cuma liat sepatu baru gw." Sergah Tirta.
Ergan mengambil ponselnya diatas meja kemudian keluar disusul Tirta.
"Kita mau kemana bos? meeting sudah selesai." Tanya Tirta sambil mensejajarkan jalannya dengan Ergan.
"Ikut gw, kita sparring." Tegas dan datar.
"Hah?! Please.. jangan sekarang, tubuh gw masih sakit, belum juga sembuh akibat ulah lo kemarin." Keluh Tirta sambil memegang pundaknya yang masih sakit.
"Tidak ada penolakan." Tegas Ergan.
Ayu hanya geleng-geleng kepala melihat Tirta memelas seperti anak kecil yang tidak mau masuk sekolah tapi dipaksa ikut oleh Papanya.
Sepanjang perjalanan, Tirta hanya diam fokus memperhatikan jalanan. Siapa yang tau jika hatinya sedang mengumpat bosnya yang selalu membulinya habis-habisan.
Disinilah mereka sekarang, Winner Shot tempat Gym yang mereka buka saat Ergan mulai menyukai olahraga kickboxing.
Selama Amelia pergi, Ergan memiliki kebiasaan baru yaitu kickboxing. Emosi terpendam yang Ergan disimpan dilampiaskan ditempat gym, tempat rutinnya berlatih kickboxing. Ia melampiaskan kemarahan, kekesalan, dan rasa kehilangannya diatas ring.
Jika Ergan kesana, Tirta juga harus ikut dan latihan bersamanya. Meskipun sudah lama latihan bersama, tapi tetap saja Tirta selalu kalah dari Ergan.
Tirta dan Ergan menuju loker, ia meletakkan barang-barangnya kemudian mengganti pakaiannya. Setelah selesai mereka menuju ring.
"Warming up sebentar." Tukas Tirta mengulur waktu. "Siapapun yang ada di sana tolong gw..!" Seru Tirta dalam hati melihat kearah karyawan, instruktur, dan para member.
"Oke." Jawab Ergan membiarkan Tirta.
"Bos cari lawan yang lain dulu deh, instruktur Deris misalnya. Badan gw masih pegal, sumpah!" Tirta belum menyerah, meskipun sudah mengganti baju dan sarung tangan, ia masih berusaha membujuk Ergan untuk mecari teman sparring yang tenaganya sebanding dengan Ergan.
"Lo duluan, kalau lo udah kalah baru gw lawan Deris."
"Kalau begitu gw kalah sekarang aja deh. Gw panggil Deris dulu." Tirta berbalik hendak meninggalkan ring.
"Nggak bisa, enak aja menyerah sebelum babak belur. serang gw sekarang!" Bentak Ergan membuat Tirta pasrah.
Beberapa karyawan dan pemilik member curi pandang pada Ergan dan Tirta. Sudah dapat mereka pastikan jika Tirta akan kalah sama seperti sebelumnya. Hanya saja mereka penasaran bagian tubuh mana lagi yang akan menjadi sasaran. Mereka sampai bergidik ngeri membayangkannya.
"Lama banget, jangan mengulur waktu, serang gw sekarang!" Kesal Ergan.
__ADS_1
Tirta mulai penyerangan pertama, ia langsung maju dan melayangkan tendangan kearah perut. Ergan menghindar tapi tiba-tiba mendapat serangan siku diwajah. Ergan menangkis tepat waktu sambil menyeringai.
Tidak mau membuang waktu, Tirta kembali melayangkan tendangan berputar dari arah belakang. Lagi-lagi Ergan menepis kemudian menyerang balik dengan memukul perut Tirta.
Bugh! Bugh!
Tubuh Tirta langsung condong kedepan membuat para penonton memegang perut sambil meringis.
"Cukup! sudah, gw nyerah." Tirta menyerah. Satu tangannya memegang perut dan satu lagi diangkat kedepan agar Ergan menghentikan pukulannya. Baru dua kali kena pukulan Tirta sudah menyerah.
"Ahh, cemen lo! baru begitu aja sudah nyerah." Ejek Ergan sambil membuka sarung tangannya.
"Gimana nggak nyerah, tubuh gw masih lemas, lo main pukul aja. Seharusnya lo itu ngalah sama yang lemah." Sungut Tirta sambil duduk di lantai, membuka sarung tangannya kemudian meneguk air mineral dari dalam botol.
Mereka kembali menuju loker, mengganti pakaiannya kemudian kembali ke rumah. Aqilah sekarang tinggal bersama Ergan dirumah yang berhadapan dengan mes Amelia dulu. Kini Ergan menjadi single dad setelah menceraikan Rania.
Rania dan Ergan sudah bercerai satu tahun setelah Amelia pergi. Hak asuh anak jatuh pada Ergan karena secara finansial Ergan mampu membiayai hidup Aqilah. Pada saat persidangan Ergan membeberkan semua yang dilakukan Rania. Termasuk saat tidur dengan seseorang yang Rania suruh untuk menghabisi Amelia. Namun orang itu tidak melakukan apa-apa karena Amelia lebih dulu menghilang.
Rania begitu kesal karena merasa pria itu membodohinya. Dia sudah rela tidur dengannya tapi pria itu tidak membunuh Amelia. Jika tahu akan seperti itu, di tidak akan mau menukar tubuhnya dengan perjanjian.
"Daddy..." Teriak Aqilah penuh semangat. Anak kecil berumur delapan tahun itu menghambur dalam pelukan Ergan.
"Gimana sekolah kamu?" Tangan Ergan membelai rambut Aqilah.
"Baik Dad" Jawab Aqilah. Aqilah termasuk anak yang pintar disekolah, ia sering mendapat juara kelas karena memiliki IQ yang tinggi.
"Daddy mau bicara, sini." Ergan menggendong Aqilah menuju sofa ruang tamu. Setiap Ergan hendak melakukan perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri, ia pasti akan pamit pada Aqilah karena anak itu akan dititip di rumah Karisma.
"Daddy mau pergi lagi?" Aqilah mulai cemberut, matanya menatap sendu pada Ergan. Jika Aqilah sudah seperti ini, mana tega Ergan meninggalkannya.
"Aqilah sayang... Aqilah kan sudah besar. Sudah ngerti pekerjaan Daddy. Jika Daddy nggak kerja, bagaimana Aqilah bayar sekolah?" Bujuk Ergan.
"Kan uang Daddy sudah banyak, untuk apa bekerja lagi,?" Protes Aqilah.
"Bukan masalah uang saja sayang. Daddy juga punya tanggung jawab di kantor. Jika Daddy tidak bekerja, bagaimana Daddy membayar gaji karyawan? Daddy boleh pergi ya?" Bujuk Ergan kembali.
"Iya deh. Tapi aqilah mau ketemu Tante cantik." Pinta Aqilah membuat Ergan seketika membeku.
.
.
Bersambung.......
__ADS_1