
"Nggak ahh," Tolak Brian kemudian duduk di kursi samping Karisma, sedangkan Ergan duduk dilantai beralas karpet untuk menemani Aqilah bermain, "Rahasia, nanti aja kalau sudah jadian. Lagian kami baru kenalan saat dibandara. Tapi pertemuan sebentar itu membuat detak jantungku berdebar begitu kencang. Yang pasti dia gadis yang berbeda, cantik, baik, sopan, ramah, tipe idaman aku banget. Doain ya, agar aku bisa meluluhkan hatinya dan membawanya secepat mungkin kehadapan kalian." Semangat Brian.
"Amin.. kami selalu doakan yang terbaik untuk kamu nak." Tulus Karisma Karisma.
"Ga, kamu kapan pulang kerumah? kalian itu sudah dewasa, seharusnya menyelesaikan masalah dengan bijak, bukannya tinggal berpisah seperti sekarang. kasihan Aqilah yang menjadi korban keegoisan kamu."
"Mah, jangan membahas masalah Ergan disini."
"Kalau tidak sekarang, kapan lagi? kamu kan sibuk dan sulit untuk dihubungi, kumpul dengan keluarga juga jarang." Kesal Karisma.
"Bi... Bawa Aqilah main di kolam, aku akan menyusulnya disana ." Ergan langsung meminta Bi Uda membawa Aqilah.
Bi Uda membujuk Aqilah kemudian membawanya ke kolam renang, tidak lupa mampir di dapur mengambil jus dan makanan kecil untuk Aqilah.
"Ia Mas, kami ingin kamu pulang, kasihan Aqilah nanyain kamu terus." Melas Rania.
"Rania, Aku tidak mungkin hidup terus-menerus dengan wanita sepertimu. Semenjak kamu mulai minum dan berjudi, aku sudah tidak mengenalmu, kau menghabiskan seluruh uangku hingga aku bangkrut tapi aku masih diam. Aku tahu diluar sana pergaulan sosialita kamu kayak gimana. Sudah berapa laki-laki yang menemanimu mabuk, aku juga tahu, tapi aku sudah tidak perduli. Jadi jangan harapkan aku kembali hidup denganmu. Aku sudah tidak memiliki apa-apa yang bisa kau habiskan. Apa yang kau lihat padaku sekarang semua milik Papa. Papa yang minjemin uang untuk meneruskan perusahaan, asal kau tahu itu." Jelas Ergan.
"Tapi.. aku sudah berubah, aku janji tidak akan melakukannya lagi." Melas Rania.
"Tapi sayangnya aku sudah tidak percaya. Sudah berapa kali aku mendengarnya, tapi buktinya kau tidak benar-benar berubah. Aku sudah alihkan rumah itu atas nama Aqilah. Kamu bebas tinggal disana, tapi ingat! jangan mengganggu kehidupan aku lagi." Ancam Ergan.
"Apa maksud kamu Mas? kau ingin kita bercerai? sampai kapanpun aku nggak akan mau Mas." Tegas Rania.
"Tidak, aku tidak akan menyakiti hati Aqilah dengan perceraian kedua orang tuanya. Kita hanya tinggal terpisah. Aku tetap bertanggung jawab pada kalian. Aku akan memberimu uang bulanan, tapi sesuai kemampuanku saja, tidak lagi sebanyak dulu karena black card kamu sudah aku blokir." Sergah Ergan.
__ADS_1
"Apa? kamu memblokir black card-ku? aku nggak mau." Rania tidak terima jika uang bulanannya dibatasi.
"Aku sudah tidak punya uang lagi Rania. Kamu nggak malu jika memakai uang Papa?" Bentak Ergan kemudian mengalihkan pandangannya pada Karisma, "apa Mama juga rela membagi uang Papa?" Tanya Ergan.
Karisma segera menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. Tapi berbeda dengan Rania yang diam seperti manekin, dia terlalu syok dengan kenyataan yang harus ia terima. Berharap dengan berkumpulnya keluarga seperti saat ini, akan mendamaikan dirinya dan Ergan namun kenyataannya sebaliknya.
"Beneran Papa minjemin uang pada Ergan?" Kini Karisma yang bertanya karena tidak percaya jika Ergan sudah tidak memiliki apa-apa.
Andreas mengangguk, "Tentu saja Mah, Aku nggak mungkin biarin anak kita jatuh bangkrut kan Mah?"
Andreas menggenggam tangan istrinya, selama ini dia diam-diam membantu Ergan untuk bangkit.
"Terimakasih sayang, selalu ada untuk anak-anak kita." Ujar Karisma dengan mata berkaca-kaca.
"Itu sudah kewajiban kita sebagai orang tua sayang." Balas Andreas kemudian menghapus air mata Karisma.
Karisma menatap Rania ia tidak percaya jika menantu kesayangannya berfoya-foya menghabiskan uang anaknya. Selama ini ia selalu mendukung hubungan Rania dan Ergan, ia sangat sedih saat mereka pisah rumah. Selama ini ia tidak mau bertanya masalahnya apa karena tidak mau mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Bahkan ia lebih memihak dan membela Rania jika mereka sedang bertengkar.
"Rania, tak kusangka kau yang selama ini Mama bela ternyata mengecewakan Mama. Mama sayang kamu sama seperti anak kandung Mama sendiri. Tapi inikah balasan yang kau berikan? Mama sangat kecewa, untuk kali ini Mama tidak bisa membela kamu lagi. Aku serahkan semua keputusan pada Ergan. Kau selesaikan sendiri masalah rumah tanggamu." Ujar Karisma dengan perasaan yang sangat kecewa didalam hatinya.
"Mah, Raniamohon, bantu Rania kali ini, bujuk Ergan agar tidak meninggalkan Rania. Rania sangat mencintainya Mah." Melas Rania.
"Aku juga sangat mencintaimu Rania, tapi kesalahanmu yang tidak menghormatiku dan tidak menganggapku sebagai kepala keluarga itu sudah melewati batas kesabaranku. Kau lebih memilih bersenang-senang bersama teman-temanmu dari pada mengurus anak dan suamimu dirumah." Tegas Ergan.
"Tapi, dulu kamu tidak keberata Mas, kenapa sekarang dipermasalahkan?"
__ADS_1
"Sekali, dua kali tidak masalah, tapi yang kau lakukan sudah menjadi kebiasaan. Tiap hari kamu keluar runah nggak jelas. Tiap bulan liburan keluar negeri tanpa membawa Aqilah. Aqilah butuh kamu dirumah bukan baby sitter." Jelas Ergan.
Ergan mengungkit semua kelakuan Rania dalam rumah tangganya, ia sudah lelah karena selama ini Karisma selalu menyalahkannya jika Ergan selalu sibuk dan tidak punya waktu untuk pulang. Tapi Ergan sengaja sibuk karena pulang kerumah juga percuma, tidak ada Rania disana. Yang ada hanya ART, baby sitter dan Aqilah, jadilah dia yang menjaga Aqilah meskipun dia sudah sangat lelah karena seharian bekerja.
"Apa seperti itu Rania?" Tanya Karisma.
"Maaf, Mah." Tidak ada lagi kata-kata yang bisa keluar dari bibir Rania saat ini selain kata maaf.
"Ya Tuhan... Rania...Mama tidak percaya ini." Karisma geleng-geleng kepala sambil menekan pelipisnya karena kepalanya mulai pusing.
Karisma memang tahu jika Rania sering keluar rumah, tapi dia tidak tahu apa yang dilakukannya. Sebenarnya dia tidak mempermasalahkan jika Rania menghabiskan uang Ergan jika itu dipergunakan untuk keperluan keperluan yang wajar, tapi jika dipergunakan untuk berjudi dan mabuk, tentu saja dia tidak setuju.
"Mas, maafkan aku, apa kita tidak bisa lagi bersama? aku bisa jelaskan kenapa aku seperti itu. Itu karena aku kesepian dirumah."
"Itu bukan alasan! Biarkan aku menenangkan pikiranku, tanpa kamu jelaskan juga semua sudah aku tau. Mataku masih berfungsi dengan baik untuk melihat apa yang kau lakukan." Ujar Ergan dengan datar, meskipun Rania berusaha mengelak denga semua tuduhan Ergan, tapi Ergan sudah tidak ingin mendengarnya.
"Hikss, hikss, aku masih sayang dan cinta kamu Mas. Kenapa begitu sulit menerimaku kembali?" Rani mulai menangis, air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya lolos melewati pipi mulusnya.
"Karena aku tidak mau salah lagi dengan memberimu kesempatan," Tegas Ergan, "Aku harus menemani Aqilah, permisi." Pamit Ergan kemudian segera pergi menuju kolam renang.
Brian menyusul Ergan, ia tahu jika suasana hati kakaknya sedang tidak baik, kondisi rumah tangganya sedang berada diambang kehancuran. Mungkin dengan menemaninya bicara akan meringankan sedikit bebannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....