
Suasana dalam ballroom muali sunyi, satu persatu tamu pulang setelah berpamitan dengan Aqilah yang berulang tahun. Aqilah sangat bahagia karena mendapatkan kado yang sangat banyak. Semua kado sudah di kumpulkan dalam kantong plastik besar warna hitam kemudian dibawa oleh petugas hotel menuju mobil.
Mereka keluar dari ballroom menuju lobi, mereka menunggu mobil datang dibawa oleh petugas valet.
"Oma, Aqilah nginep di rumah Mommy ya? Kadonya jangan dibuka dulu, besok setelah pulang sekolah aja kita bukanya," ujar Aqilah dengan lembut.
"Om Yan aja yang buka kadonya," sela Brian membuat Ergan mendengus kesal menatapnya.
"Jangan Om Yan!" Aqilah mengerucutkan bibirnya dengan mata berkaca-kaca, sedikit lagi air matanya akan tumpah.
Pukkk!
Ergan memukul lengan Brian.
"Diem nggak?! kalau lo masih ngomong.. muka lo yang jadi sasaran." Ergan mengancam Brian, matanya melotot dan rahangnya mengeras. Ingin rasanya Ergan menelannya hidup-hidup.
"Ih, sensi banget sih jadi Bapak, santai bro..!" Tirta menepuk pundak Ergan, tapi Ergan segere menepis tangan Brian.
"Sana pulang lo, jangan ngebut."
Ergan menunjuk mobil Brian yang sudah berada di depan lobi. Tidak lama kemudian, mobilnya juga tiba.
"Mah, Pah, kami duluan ya?" pamit Ergan
"Mah, Pah, Azka pulang dulu." pamit Amelia kemudian mencium tangan Karisma dan Andreas setelah itu berpamitan dengan Aqilah, "Kakak Aqilah sayang.. Dede Azka pulang dulu ya? sekali lagi selamat ulang tahun, semoga Kakak Aqilah panjang umur, makin pinter, dan sehat selalu, tapi maaf Dede Azka nggak bawa kado, habisnya Daddy nggak bilang-bilang kalau mau ajak Dede Azka ke ulang tahunnya Kakak. Nanti kita main lagi ya, oke?" Amelia menirukan suara anak kecil seolah Azka yang bicara sambil mengulurkan tangan Azka.
Aqilah tersenyum menyambut tangan Azka, mencubit pipi cubbi-nya lalu menciumnya. "Oke, Dede Azka. Sampai jumpa lagi. Bye-bye...." Aqilah melambaikan tangannya.
Amelia mencium pipi Aqilah lalu masuk ke dalam mobil bersama Ergan dan Azka.
"Bye-bye Kakak, Om Yan, Oma, Opa..." Azka melambaikan tangannya pada semuanya.
"Bye-bye," balas semuanya.
Setelah kepergian mobil yang yang dikendarai Tirta. Aqilah memegang tangan Karisma. "Oma, kenapa Tante cantik pulang dengan Daddy?" tanya Aqilah.
"Kan Daddy Aqilah yang mengajak Tante cantik datang, jadi Daddy juga yang harus mengantarnya pulang." Jawab Karisma. Ingin rasanya ia bilang jika Amelia adalah istri Daddy-nya, namun ia tahan karena biar Ergan yang menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Aqilah mengangguk kemudian berpamitan, setelah mencium tangan semuanya, ia segera masuk ke dalam mobil Rania. Rania melajukan mobilnya setelah Karisma dan Andreas masuk ke mobil Brian yang ada didepannya.
Mereka sama-sama meninggalkan hotel dengan tujuan yang berbeda.
...........................
Keesokan harinya Rania terlambat bangun, ia sibuk mengurus Aqilah yang akan ke sekolah, mulai dari membuatkan sarapan, membangunkan, dan membantu Aqilah memakai seragamnya.
"Mom, pakaikan dasi Aqilah.. Mom jam tangan Aqilah... Mom ikat sepatu Aqilah gimana?" mulut Aqilah tidak berhenti menyuruh Rania ini dan itu, membuat Rania mendengus kesal. Ia menyesal telah memecat ART dirumahnya setelah bercerai dengan Ergan.
Setelah Aqilah siap dengan seragamnya, Rania mengajaknya makan.
"Kita sarapan dulu ya?" Ajak Rania.
"Nggak usah sarapan Mom, Aqilah sudah telat," tolak Aqilah dengan wajah cemberut. Ia sangat kesal karena terlambat bangun dan mengakibatkan harus terburu-buru bersiap ke sekolah.
Sebenarnya Aqilah anak yang mandiri dan bisa melakukannya sendiri. Tapi jika harus melakukan semuanya hanya dalam waktu tiga puluh menit, tentu saja ia tidak bisa melakukannya sendiri.
"Kalau begitu, kamu sarapannya di mobil aja, tunggu sebentar." Rania memasukkan sarapan ke dalam kotak bekal, ia tidak mau Aqilah kelaparan saat di sekolah. Setelah selesai, Rania mengambil kunci mobilnya dan tasnya. Ia segera keluar dari rumah sambil menarik tangan Aqilah hingga Aqilah tersandung di sofa, untuknya tidak sampai jatuh.
"Mah, sakit," Aqilah meringis memegang lututnya.
Setelah Aqilah duduk dan memasang seat belt di depan bersama dengan Rania, akhirnya mereka berangkat menuju sekolah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi, Aqilah anak terakhir masuk sekolah setelah itu pagar dikunci menandakan yang terlambat sudah tidak bisa ikut pelajaran hari ini. Aqilah bernapas dengan lega. Baru kali ini datang terlambat ke sekolah.
Rania kembali pulang ke rumahnya setelah mengantar Aqilah. Dalam hati ia mengakui bagaimana susahnya mengurus seorang anak. Baru kali ini setelah Aqilah lahir dirinya benar-benar mengurus Aqilah. Dalam hati ia mengakui bagaimana repotnya seorang baby sitter mengurus anaknya dulu. Capek sudah pasti, belum lagi selalu mendapatkan omelan darinya. Jika bukan karena gajinya yang tinggi, sudah pasti baby sitter Aqilah sudah lama melarikan diri.
"Apa semua wanita didunia ini merasa kerepotan mengurus anaknya? ah, aku rasa cuma aku saja, karena mereka tidak pernah mengeluhbahkan bisa mengurus empat sampai lima anak." Monolog Rania kemudian bergidik ngeri membayangkan bagaimana repotnya memiliki anak banyak.
"Ah, bodo amatlah, yang penting aku nggak mengalami masa-masa itu." lanjutnya.
Rania tersenyum puas, satu malam bersama anaknya, ia merasa sudah memenangkan hati anaknya kembali. Tinggal beberapa langkah lagi tujuannya akan tercapai.
"Harapan Mommy cuma kamu Aqilah, semoga saja kamu bisa bekerja sama dengan Mommy." Monolog Rania dengan seringai licik diwajahnya.
.....................
__ADS_1
Ergan turun dari tangga menuju dapur tempat istrinya bertempur dengan perabot dapur. Satu tangannya memegang jas dan satu lagi memegang dasi. Di simpannya jas diatas sandaran kursi kemudian memberikan dasinya pada Amelia.
"Lho, dasinya kok nggak dipasang?" tanya Amelia.
"Karena sudah ada kamu disini, jadi mulai sekarang, ini tugas kamu sayang...!" ujar Ergan.
"Mmhhhh.... manjanya suamiku ini," Amelia geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Ergan sudah mulai memperlihatkan sisi manjanya lagi.
"Hehehe..." Ergan terkekeh, istrinya sangat menggemaskan jika dia sedang ingin dimanja.
"Menunduk sedikit Mas.." pinta Amelia.
Ergan menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Amelia.
Cup!
Satu kecupan dikening Amelia membuat Amelia melotot. Kedua tangannya begitu terampil mengikat dasi dalam waktu beberapa menit saja.
"Sudah." Amelia meluruskan dasi Ergan agar rapi.
"Hah?!" Ergan melongo, rasanya belum puas menikmati wajah cantik istrinya. Meskipun tanpa make-up dan hanya menggunakan celemek warna pink, tapi Amelia tampak menggoda dimata Ergan.
"Ayo kita sarapan," ajak Amelia.
"Ini belum selesai sayang... belum rapi." goda Ergan.
Ergan masih ingin berlama-lama di depan Amelia. Ia menarik kembali dasinya hingga longgar membuat Amelia mendengus kesal.
"Awas ya kalau dilepas lagi. Aku nggak mau pasangkan dasi kamu lagi." Amelia merajuk, tidak mau melakukan pekerjaan hingga berulang kali. Tapi tetap saja merapikan dasi Ergan.
Cup!
Kali ini kecupan mendarat di bibir Amelia. Ergan bisa saja melakukan lebih, tapi dia tidak melakukannya karena takut semakin menuntut. Selain itu dia juga harus meeting dan landasan pacunya sedang becek.
"Sudah rapi, jangan dirusak lagi, atau kamu pasang sendiri dasinya!" Ancam Amelia dengan mata membola membuat Ergan tidak takut malah tersenyum bahagia.
.
__ADS_1
.
Bersambung......