
Ergan berbaring di samping Amelia, menjadikan lengannya sebagai bantal kemudian menarik tubuh istrinya kedalam dekapannya. Dikecupnya kening Amelia penuh kasih lalu memejamkan mata untuk tidur. Selama beberapa hari Amelia tidak ingin disentuh, apalagi dipeluk, membuat Ergan frustasi karena tidak bisa menghirup aroma istrinya yang sudah menjadi candunya. Ergan lebih sering tidur di sofa atau di ruang kerjanya karena Amelia mengunci kamar dari dalam sebelum tidur.
Mumpung Amelia tidur lebih dulu, Ergan memanfaatkan kesempatan ini, mendekap tubuh istrinya hingga pagi.
.............
Pagi hari begitu cerah. Amelia bangun, saat membuka mata, netranya tertuju pada wajah suaminya yang begitu damai dalam mimpi indahnya. Sekilas senyum mereka dibibirnya, ia masih tidak percaya jika laki-laki yang tampan dengan sejuta pesona disampingnya adalah suaminya. Tangannya bergerak mengelus bulu halus didagu Ergan. Bagaimana mungkin ia sanggup berbagi suami dengan wanita lain jika suaminya setampan ini.
"Kenapa membuatku dalam posisi sulit seperti ini? kamu milik orang lain, bukan aku." Tatapan Amelia berubah sendu. Setes air keluar dari sudut matanya, hatinya belum bisa menerima kenyataan. Dia ingin melepaskan Ergan dan pergi darinya, namun sepertinya sangat sulit, Ergan bukan tipe pria yang mudah melepaskan sesuatu yang sudah menjadi miliknya.
Ia bergerak dengan perlahan meninggalkan tempat tidur. Perutnya sangat lapar karena tidak sempat makan malam. Langkahnya keluar dari kamar mencari dapur di dalam villa yang cukup luas dengan perabot modern. Beruntung saat di ruang tengah, Ia bertemu dengan Mang Kokom.
"Nyonya mau kemana?" Tanyanya.
"Kamu siapa?" Amelia balik bertanya.
"Saya Mang Kokom penjaga villa." Jawab Kokom memperkenalkan diri dengan menunduk.
"Oo.., Saya mau masak, dimana dapurnya?"
"Di sebelah sana, mari saya antar." Kokom berjakan luboh dulu menuju dapur, sementara Amelia mengikuti dari belakang sambil mengamati setiap sisi ruangan.
"Ini dapurnya Nyonya. Sebaiknya Nyonya nggak usah masak, karena itu tugas bibi, sebentar lagi bibi pulang dari pasar." Ujar Kokom ragu.
"Nggak apa-apa."
"Tapi saya takut Tuan marah."
"Aku yang tangguh jawab jika Tuan marah." Amelia mengambil bahan makanan di kulkas, tanpa memperdulikan Kokom lagi karena cacing di perutnya sudah meronta-meronta minta makan.
Kokom mengelus dadanya sambil berdoa. "Ya Allah, selamatkanlah aku dari amukan Tuan." Lirih Kokom kemudia pergi meninggalkan dapur menuju halaman rumah untuk merapikan rumput.
Amelia mulai memasak, kali ini hanya membuat nasi goreng biar lebih cepat. Saat asik mengaduk nasi di penggorengan, Ergan berjalan menghampirinya, meraih rambut Amelia lalu memainkannya.
"Kenapa kamu yang masak?" Bisik Ergan ditelinga Amelia.
Amelia melanjutkan masakannya tanpa memperdulikan Ergan sedang memainkan rambutnya. Setelah masakannya selesai, ia mematikan kompor. Amelia menoleh sambil memegang rambutnya, ternyata Ergan mengepang rambutnya meski tidak terlalu rapi.
Lihatlah bagaimana Ergan CEO dingin itu sangat pandai mengepang rambutnya, apa Ergan juga seperti itu pada Rania? Hati Amelia kembali bergemuruh.
"Mandi sana, sebentar lagi makanannya siap." Ketus Amelia.
__ADS_1
Ergan tersenyum mengacak puncak rambut Amelia kemudian segera pergi menuju kamar. Ia sangat senang meskipun Amelia masih bicara ketus, setidaknya Amelia sudah mulai bicara dengannya.
"Ergan...!" Pekik Amelia karena rambutnya kembali berantakan.
Setelah selesai menata makanan diatas meja, Amelia menuju kamar untuk menyiapkan pakaian suaminya. Walaupun Ergan tidak pernah memintanya, namu Amelia selalu melakukannya bentuk kewajibannya sebagai seorang istri.
Amelia meletakkan pakaian Ergan diatas tempat tidur. Ketika Amelia hendak keluar kamar. Ponsel Ergan berbunyi, bukannya sengaja sudut matanya melihat siapa yang menelpon.
Rania
Amelia melirik pintu kamar mandi, belum ada tanda-tanda Ergan akan keluar. Ia meraih lalu mengangkatnya. Ia penasaran apa yang akan Rania katakan.
Amelia menggeser tombol hijau tanpa bicara.
"Halo Sayang..! hari ini kamu pulang kan? Aqilah mencarimu." Sapa Rania.
"..."
"Sayang.. kok kamu diam, Nih Aqilah mau bicara."
"..."
"Halo dad..!" Sapa Aqilah.
"..."
"..."
"Mommy, daddy nggak mau ngomong" Aqilah menyerahkan ponselnya pada Rania.
Rania berpikir kenapa Ergan tidak mau bicara dengan Aqilah. Jika Ergan tidak mau bicara dengannya itu sudah biasa, tapi tidak dengan Aqilah. Apa jangan-jangan...
"Eh, pelakor rendahan! aku tau itu kamu kan? mana suami ku? dasar perempuan tidak tahu diri! berapa Ergan membayar tubuhmu hingga kau tidak mau meninggalkannya, hah? Dengar baik-baik, aku bersumpah akan membuat hidupmu menderita bahkan membunuhmu jika kamu tidak segera meninggalkan suamiku." Ancam Rania membuat tubuh Amelia lemas jatuh ke lantai.
Amelia meletakkan ponsel Ergan kembali ke tempat semula. Ia segera bangkit dan berlari keluar villa.
Ergan keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat pakaiannya diatas tempat tidur. Amelia memang tetap melakukan kewajibannya meskipun ia sedang marah pada Ergan. Masak, menyiapkan air hangat jika Ergan pulang kantor, menyiapkan pakaian setelah Ergan mandi, dan lainnya, kecuali kewajiban hubungan suami-istri Amelia menolak karena Amelia tidak mau disentuh.
Ergan melihat ponselnya sepertinya sedang menyala. Ua meraihnya kemudian mendengar suara Rania.
"Aku tidak main-main dengan ancamanku! tinggalkan suamiku jika kamu masih ingin bernapas!" Ancam Rania seketika membuat wajah Ergan memerah, dan urat-uratnya tertarik, tangannya mengepal kuat dan giginya saling bergesek.
__ADS_1
"Kau berani mengancamnya? Sedikit saja kau menyentuhnya maka aku akan menceraikanmu!" Bentak Ergan.
Deg!
Rania tersentak mundur, ponsel berlogo apel sepotong keluaran terbaru yang digenggamannya terjatuh dilantai. Pandangannya kosong kedepan dan detak jantungnya berdebar begitu kencang.
"Mommy, kenapa HP-nya di buang?" Aqilah yang sedang bermain ikut terkejut saat ponsel Rania menyentuk lantai.
".."
"Mommy!" Teriak Aqilah mengembalikan kesadaran Rania.
Rania mengambil ponselnya kemudian keluar dari kamar Aqilah begitu saja. Aqilah jadi sedih, Rania selalu mengabaikannya.
"Jangan sedih kan ada Kak Ros." Bujuk baby sitter Aqilah yang baru bernama Ros.
"Kak Ros, Mommy jahat! tidak sayang Aqilah, tjdak seperti Daddy." Adu Aqilah.
"Mommy nggak jahat sayang.. mungkin Mommy capek jadi harus istirahat. Aqilah juga bobo ya?" Bujuk Ros.
"Nggak mau, Aqilah masuh mau main." Rajuk Aqilah.
"Ya sudah, kita main aja dulu." Unar suster kemudian bermain bersama Aqilah.
............
Ergan mencari Amelia didalm rumah namun tidak menemukannya.
"Bibi liat istri saya nggak?" Tanya Ergan pada bibi Ati yang sedang didapur.
"Bibi nggak liat Nyonya, Tuan. Tapi ada gadis cantik yang duduk di halaman depan sepertinya sedang menangis. Bibi tanya doa siapa tapi hanya diam saja. Ya sudah, Bibi tinggal aja karena harus masak." Jelas Bi Ati.
"Ckk, dia istri saya Bi'!"
"Hah?! Tuan menikah lagi begitu? dengan gadis imut itu?" Pekik Bibi Ati tercengang.
"Biasa aja bi', nggak usah kaget kayak gitu. Ya sudah, aku akan menyusulnya."
Ergan keluar dari rumah, saat matanya melihat Amelia, Ia mendekat kemudian duduk di kursi taman sebelah Amelia.
.
__ADS_1
.
Bersambung......