Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Pertemuan 2


__ADS_3

"Saya rasa tidak perlu Pak, untuk apa mengenal laki-laki yang telah menyakiti hati calon istri saya? itu hanya bagian dari masa lalunya yang harus dia kubur. Lebih baik melupakan masa lalu yang menyakitkan dan mulai menata masa depan yang lebih baik. Bukankah begitu?" Jelas Pras.


"Ya, tapi bagaimana jika Ayah Azka datang untuk menjemput anak dan istrinya? apa yang akan Pak Pras lakukan?" Tanya Ergan penuh penekanan.


"Maaf Pak Ergan, saya rasa pembicaraan kita sudah terlalu jauh. Sebaiknya kita mulai sarapan, silahkan." Pras sudah merasa tidak nyaman dengan deretan pertanyaan yang keluar dari mulut Ergan. Ia tidak mengerti kenapa Ergan terlalu berpikir jauh kedepan.


"Aku hanya bertanya sesuai pikiranku Pak Pras, sebelum itu kejadian lebih baik anda mempersiapkan diri." Ujar Ergan tapi terasa memiliki makna yang tersembunyi.


Ergan menatap Amelia yang semakin tidak nyaman didekatnya. Istrinya itu semakin gugup dan gelisah.


"Maaf, Pak E.. Ergan, boleh saya ambil Azka?" Amelia mengulurkan tangannya.


"Tidak! aku masih ingin bersamanya." Ergan mundur bersama Azka dalam gendongnya. Seandainya saja disini tidak banyak orang, ingin rasanya Ergan membawa Amelia pergi dari sana.


"Sabar Ergan, belum waktunya." Batin Ergan.


"Biarkan saja Azka dengan Tuan Ergan. Tidak apa-apa." Ujar Pras mencoba menenangkan Amelia yang tampak menghawatirkan Azka. Padahal anak itu baik-baik saja dan merasa nyaman dipelukan Ergan.


"Baiklah, kalau begitu saya bantu ibu dulu." Amelia segera pergi sebelum Pras menjawabnya, Ia tidak mau terlalu lama berdekatan dengan Ergan. Otaknya menyuruhnya untuk pergi menjauh tapi hantinya ingin selalu didekatnya. Amelia jadi dilema, akhirnya memutuskan untuk menjauh.


Ergan menuju meja makan karena Tirta sudah mengambilkan makanan untuknya. Ia meletakkan Azka duduk dipangkuannya kemudian makan bersama.


"Enak?" Tanya Ergan pada Azka setelah menyuapi sedikit makanan.


"Enak Om." Ujar Azka tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang kecil.


"Daddy, panggil Daddy, oke?" Bisik Ergan.

__ADS_1


"Oke Daddy." Azka menaikkan jempolnya, ia masih terlalu kecil untuk mengetahui arti kata Daddy, Papa, Abi, atau ayah. Yang ia tahu, orang besar menyuruhnya bilang apa, itu yang ia katakan.


"Bagus, ayo makan lagi. Nanti Daddy belika robot-robot yang besar." Bujuk Ergan masih berbisik, ia mengelus puncak kepala Azka membuat Azka semakin semangat. Belum waktunya Pras tau siapa dia yang sebenarnya sebelum bicara dengan Amelia.


Pras mengernyitkan keningnya melihat keakraban mereka. Ia tidak menyangka jika Azka secepat itu dekat dengan orang asing.


Dari jarak jauh, Yuli dan Amelia sedang memperhatikan interaksi antara Ergan dan Azka.


"Mbak Amel, lihat Azka, kelihatannya sangat senang bersama Tuan Ergan. Kayak anak dan Papa gitu." Yuli menunjukkan Ergan dan Azka dengan dagunya.


"Andai kamu tau Yul, jika mereka memang anak dan Papa kamu pasti tidak akan heran melihatnya." Batin Amelia.


"Hei kok kamu malah bengong? lihat mereka, kalau diperhatikan dengan seksama wajah mereka juga mirip, hidungnya mancung, alis tebal, matanya hitam lekat dan tajam, dagunya juga sama, hanya bibir Azka yang mirip denganmu. Kok bisa ya? apa jangan-jangan dia itu..." Ucapan Yul terpotong memperhatikan wajah Amelia, Ergan dan Azka penuh selidik.


Yuli merasa curiga jika Ergan adalah Ayah Azka, tapi apa itu mungkin? melihat bagaimana kaya dan berkuasanya seorang Ergan dibandingkan dengan Amelia yang hidup sederhana.


Tidak dapat Amelia pungkiri jika Ergan memang sangat mirip dengan Azka. Azka bagaikan Ergan versi kecil. Hati Amelia menghangat melihat kedekatan mereka. Diam-diam ia mengambil gambar Ergan yang sedang tertawa bersama Azka. Kapan lagi melihat mereka bersama, apalagi jika Ergan sudah kembali ke Jakarta dan dirinya sudah menikah dengan Pras.


Apa mereka dapat bertemu lagi?


"Apa kabar mas, senang sekali bisa melihat mu lagi dalam keadaan sehat, tapi kenapa kamu lebih kurus? Rania pasti membahagiakanmu hingga kamu bisa kembali sukses seperti sekarang. Maafkan aku harus memisahkanmu dengan Azka, tapi ini yang terbaik karena aku tidak mau rumah tanggamu hancur karena aku. Sekarang Kamu pasti sudah tahu jika Azka adalah anakmu, darah daging mu. Maaf, Aku tidak bermaksud memisahkan kalian, tapi mungkin itulah yang terbaik, kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku akan menikah dan memulai hidup baru ku disini bersama Pras dan Azka." Batin Amelia.


Tanpa terasa air matanya mengalir, ia segera menghapusnya agar tidak ada yang melihat. Tapi Amelia tidak tahu jika sepasang mata sedang menatapnya dari kejauhan.


Pras menangkap ada yang aneh dengan sikap Amelia saat berkenalan dengan Ergan. Apalagi sekarang Amelia menghapus air matanya saat melihat Azka sedang bermanja pada Ergan.


Selesai makan bersama, Ergan dan Tirta serta Azka yang tidak mau lepas dari Ergan menuju kebun teh ditemani Pras dan Amelia. Pras menunjukkan betapa luasnya kebun teh miliknya. Sebenarnya Amelia tidak mau ikut tapi Pras memintanya untuk mendampingi dirinya.

__ADS_1


Para pemetik teh sangat antusias menyambut kedatangan Ergan. Tidak sedikit dari mereka melakukan foto bersama. Kapan lagi bisa berfoto dengan Pria tampan dan kaya raya itu jika tidak sekarang.


"Tir, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan?" Bisik Ergan.


Tirta berpikir kemudian mengangguk, Tirta menghampiri Pras kemudian mengajaknya memperlihatkan cara memetik dengan baik.


"Pak Pras, bisa perlihatkan cara memetik teh dengan baik?" Tanya Tirta.


"Oh, boleh, silahkan." Pras berjalan lebih dulu masuk ke perkebunannya disusul Tirta. Tadinya Pras pikir Ergan akan ikut, tapi ternyata hanya Tirta yang mengikutinya.


Amelia melangkah maju untuk ikut tapi Ergan menahan pergelangan tangannya.


"Sayang..." Ergan membalikkan tubuh Amelia menghadapnya, netranya bertemu dengan manik indah Amelia yang selalu ia rindukan, "Aku merindukanmu." Tanpa persiapan Ergan langsung mendekap Amelia dalam pelukannya bersama Azka. Kerinduan yang selama ini terpendam kini terobati dengan kehadiran wanita yang ia cintai.


Deg!


Jantung Amelia berdetak sangat cepat, hatinya berdesir hebat. Panggilan itu seakan meruntuhkan tembok pertahanan yang ia ciptakan sejak tiga tahun lalu. Perasaannya semakin tak menentu kala Ergan semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan yang tidak pernah ia dapatkan selama tiga tahun kenapa rasanya masih sama. Selalu hangat dan menenangkan.


"Pelukanmu masih sama Mas." Batin Amelia.


"Sayang.. kita pulang ya? sudah cukup marahnya. Kenapa kamu tega menghukum suamimu seberat ini? aku menderita tanpamu. Azka anak kita kan? aku sangat bahagia bertemu dengan kalian. Kalian ikut aku pulang ya?" Bujuk Ergan, ia mengecup kening Amelia kemudian kembali menyandarkan kepala Amelia diraganya.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2