
"Iya aku melihat semuanya. Rasanya sakit, Mel! ingin rasanya aku menghampiri Ergan lalu memukulnya, namun Tirta menahanku dengan berbagai cara." Kesal Pras.
"Maaf," lirih Amelia.
"Sudahlah, aku mengajakmu kesini untuk bernostalgia, bukan untuk membahas yang lain." Pras mengalihkan pembicaraan, sebenarnya ia tidak mau membahas masalah Ergan. Saat Amelia bicara dengan Ergan di Kebun teh, ia melihat semuanya, bahkan saat mereka berpelukan. Pras ingin kesana, tapi Tirta paling bisa mengalihkan perhatiannya hingga Pras tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam hati ia bertanya ada apa dengan mereka hingga berpelukan seperti sedang melepas rindu.
Pras ingin memanfaatkan sisa waktunya untuk bersama Amelia, melihat senyuman dan canda tawanya sebelum pergi. Meskipun hatinya tidak rela melepas Amelia, namun ia tidak mau menampakkannya.
Pras ingin Amelia bahagia dan merasa nyaman saat bersamanya, bukan sedih disaat semuanya berakhir.
Wajah Pras mulai serius, pandangannya lurus kedepan, memorinya berputar mengingat saat pertama kali bertemu dengan Amelia.
"Kamu ingat nggak, saat kamu pertama datang kesini, saat itu aku berpikir dari mana Ibu memungut bidadari secantik ini?" ungkap Pras.
"Ihh, nyebelin deh! enak aja bilang memungut, emangnya aku ini barang? nggak ada yang lain apa? mendapatkan, atau menemukan gitu," kesal Amelia.
"Satu lagi, aku paling ingat saat kamu jatuh di kali. Pakaian kamu basa dan kamu keluar sambil memegang belut, hahahaha... wajahmu sangat lucu waktu itu." Ejek Pras, ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan tertawa.
Tanpa sadar Amelia mencubit lengan Pras membuat Pras terkekeh sambil pura-pura meringis.
"Cubitan kamu makin sakit dan perih, bahkan lebih sakit dari sakit hatiku saat ini," canda Pras.
"Lebay... jangan bilang sakit hati lagi. Kamu pasti akan bahagia meski tidak ada aku disini."
Hening...
"Amel. "
"Hem.."
"Kok hem..?"
"Apa?!"
"Ah, sudahlah. Naik sepeda keliling yuk! mumpung kamu masih ada waktu bersamaku," ujar Pras.
Pras mengambol salah sati sepeda pekerja yang terparkir dipinggir jalan. Ia langsung naik kemudian memperbaiki posisinya didepan.
"Ayo naik."
"Aku belum bilang mau?"
"Nggak ada penolakan, cepetan naik!"
Amelia naik dan duduk di belakang Pras, ia berpegangan di ujung baju koko yang dipakai Pras karena takut jatuh.
__ADS_1
"Sudah siap?"
"Sudah."
"Oke, kita berangkat."
"Berangkat kemana?"
"Ah, kamu banyak nanya. Diam aja dan nikmati perjalanan kita. Kamu pasti akan merindukan aku." Dengan PD-nya Pras berkata.
"Iya, aku diam nih."
"Kenapa kita nggak bawa Azka dan Rangga ya? kan lebih seru lagi jika ada mereka," ujar Pras sambil mengayunkan kakinya disepeda.
"..."
"Lho kok diam?"
"..."
"Mel, kamu masih ada dibelakang kan?" Pras melirik kebelakang, memastikan jika Amelia tidak jatuh ditengah jalan.
"Tadi suruh diam."
"Hehehe, maksud aku jangan banyak nanya, jawab aja pertanyaanku."
Pras mengendarai sepeda dengan perlahan, menikmati dinginnya udara pagi dan pemandangan yang indah. Gunung yang tinggi dan Kebun teh serta pepohonan yang rindang. Mereka tersenyum saat melewati orang-orang yang melihatnya.
"Wah, Pak Pras dengan Mbak Amel pasangan serasi, kayak anak ABG lagi pacaran," seru salah satu warga Desa yang bekerja di Kebun teh.
"Ah, Ibu bisa aja," balas Amelia tersipu malu.
"Seru kan?" seru Pras.
"Seru banget! kenapa kita nggak lakuin ini dari dulu ya?" semangat Amelia.
Deg!
Pras seketika diam, merasa omongan Amelia ada benarnya juga. Jika Pras mendekati Amelia dengan cara sepeti ini, mungkin Amelia akan cepat jatuh cinta padanya. Ah, tapi sudahlah, semua sudah terlambat juga. Tidak perlu disesali, cukup menikmati kebahagiaan saat ini saja.
"Kamu jago naik sepeda juga," puji Amelia.
"Iya lah, sudah lama nggak naik sepeda sepertinya rasanya makin kaku. Kamu nyaman kan aku boncengin?" tanya Pras.
"Nyaman, tidak pelan dan tidak terlalu kencang," ouji Amelia kembali membuat Pras tersenyum baha.
__ADS_1
"Seandainya masih ada kesempatan, aku ingin kita menikmati hari-hari seperti ini, Mel," batin Pras.
Setelah merasa cukup jauh, Pras membelokkan setir sepeda untuk kembali ditempat semula. Amelia tak henti-hentinya tersenyum, begitup dengan pras. Mereka seperti ABG yang baru saja jadian. Siapa sangka jika sebaliknya, mereka akan berpisah.
Pras, menyimpan sepeda ditempatnya semula, kemudian berjalan berdampingan menuju pesantren. Sudah cukup jalan-jalannya karena mereka harus pulang untuk sarapan.
"Mel, jika kamu merasa tidak bahagia disana, kembalilah ke sini, aku menunggumu." Pras meyakinkan Amelia. Ia tidak ingin Amelia menderita bersama orang lain.
Amelia berhenti melangkah, ia menoleh memandang Pras dengan padangan sayu.
"Pras, jangan menungguku, itu sama saja kamu menyiksa diri. Aku tidak ingin memberi harapan lagi. Karena aku yakin Ergan akan membahagiakan Aku dan Azka. Jadi please.. buka hati kamu untuk yang lain." Amelia ingin mengakhiri hubungan mereka tanpa embel-embel menunggu. Mereka sudah selesai dan harus menjalani hidup masing-masing.
"Kita lihat saja nanti," ujar Pras sambil menaikkan kedua bahunya.
"Pras, jangan mulai deh!" Amelia mendelik kesal karena Pras tidak mau mendengarkannya.
"Iya, iya, kamu tenang aja. Aku akan mencari yang lain, tapi setelah memastikan jika kamu bahagia hidup bersama Ergan. Gimana?"
Pras meminta pendapat Amelia. Bagaimana mungkin dia mencari perempuan lain setelah Amelia dan almarhumah istrinya. Baginya cukup dua wanita di dalam hidupnya. Dia akan fokus mengurus Pesantren Darussalam Al-kharan dan membesarkan Rangga.
"Terserah kamu lah, capek aku ngomong sama kamu. Makan yuk!"
Mereka masuk kedalam, sarapan sudah disiapkan saat meraka jalan-jalan.
"Kalian dari mana?" tanya Ibu Juminarti.
"Dari jalan-jalan Bu, mumpung Amel masih disini." Pras mengambil piring lali mengisinya dengan makanan.
"Ibu senang melihat kalian seperti ini. Rasanya adem.. Ayo makan, kalian pasti capek jalan-jalan." Ibu Juminarti tersenyum melihat todak ada kesedihan di wajah Amelia dan Pras.
Mereka menikmati sarapan bersama, setelah itu mereka menuju ruang tengah.
"Kamu nggak kerja Pras?" tanya Amelia setelah duduk di kursi bersam Ibu Juminarti. Pras ikut duduk bersandar di kursi mencari posisi ternyamannya.
"Bagaimana mau kerja kalau kamu akan pergi? yang ada aku tidak fokus, mending aku disini bersamamu," jawab Pras dengan santai, melipat kedua tangannya di dada.
"Mel, kamu sudah bilang ke Mama kamu akan pergi dari sini?" tanya Ibu Juminarti.
"Sudah Bu, setelah aku pulang ke Jakarta aku akan membawa Azka ke Surabaya menemui Mama. Dia pasti bahagia melihatnya sudah besar," jawab Amelia.
"Ibu hanya mau mengingatkan. Jangan tinggalkan shalat. Jika kamu ada masalah dengan suami, bicaralah baik-baik, cari jalan tengahnya. Lebih banyak bersabar, dan jangan lupa bersujud dihadapan Allah. Sebaik-baiknya tempat mencurahkan isi hati dan keluh kesah, hanya pada Allah sang pemilik alam semesta tempat meminta pertolongan," nasihat Ibu Juminarti.
"Assalamualaikum..." Suara seseorang mengucapkan salam mengalihkan pandangan mereka.
.
__ADS_1
.
Bersambung......