Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Menggoda


__ADS_3

Ergan menghampiri Amelia setelah membersihkan diri. Ergan berjalan mengambil pakaian dengan lilitan handuk sebatas pinggang. Rambutnya basah dan airnya menetes ke dada membuatnya tampak semakin seksi.


Amelia melongo, mulutnya sedikit terluka menatap Ergan tak berkedip, tubuh Ergan sedikit kurus namun otot-ototnya masih tetap sixpeck. Sungguh Amelia tidak menyangka akan melihat suaminya kembali dalam keadaan seperti itu.


"Terpesona kan? tunggu sampai kamu selesai dapet, kamu bisa menikmati semuanya kembali, bukan begitu sayang, hem?!" goda Ergan mengedipkan sebelah matanya sambil memakai pakaian casualnya.


Amelia memalingkan wajahnya tersipu malu, wajahnya memerah seperti buah cerry. Tidak dapat ia pungkiri jika memang dirinya terpesona, bisa dibilang ia kembali jatuh cinta pada suaminya sendiri.


"Tuh kan... wajah kamu nggak bisa bohong. Nih aku kasih bonus." Ergan langsung memberi kecupan dibibir Amelia. Sesaat kemudian berbaring disamping Azka.


"Ih, siapa yang terpesona, Ge-er!" Amelia mengulurkan lidahnya membuatnya lebih menggemaskan dimata Ergan.


"Sini Mas pengen peluk kamu. Mas rindu berat, mengalahkan rindunya Dilan." Ergan menarik Amelia berbaring menghadapnya kemudian memeluknya dengan erat.


"Sayang, kamu nggak gerah pakai pakain tertutup seperti ini?" protes Ergan, ia merasa gerah melihat cara pakaian Amelia, memakai hijab dan pakaian syar'i menutupi seluruh tubuhnya. Ia sampai pangling saat pertama kali melihat amelia di Pesantren.


"Nggak Mas, sudah biasa," jawab Amelia.


"Tapi kalau dikamar buka aja. Aku lebih suka kamu nggak pakai baju." Ergan kembali menggodanya, berbisik ditelinga Amelia hingga membuatnya meremang merasakan desiran aneh dari dalam tubuhnya. Tangannya menarik hijab Amelia kemudian mencium aroma shampo yang menempel dirambut Amelia.


"Iya Mas, ini juga mau ganti tapi kamu langsung tarik aku," protes Amelia.


"Oiya, sejak kapan kamu memakai pakain seperti itu?" Ergan penasaran dengan istrinya. Sejak kapan Amelia yang dulu selalu memakai pakaian pas ditubuh memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah menjadi tertutup.


"Sejak aku tinggal di Pesantren. Semua wanita disana memakai hijab. Aku banyak belajar ilmu agama disana. Awalnya aku berpikir setelah pergi dari kamu hidupku akan menderita. Tapi Alhamdulillah, Allah Maha baik, aku dikelilingi oleh orang-orang bijak dan tidak memandang rendah orang lain. Dimata Allah semua manusia sama. Yang membedakan hanya amal dan keimanannya," jelas Amelia.


"Apa kamu nggak mersa anek dengan penampilan seperti itu, maksud Mas, kamu nggak risih jika orang-orang menganggap pakaian seperti itu kampungan?"


"Astagfirullah.. Mas! dalam agama wanita itu wajib menutup auratnya, islam memuliakan wanita yang menutup aurat di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya. Jika orang lain mengaggap aku kampungan, udik atau apalah, aku nggak perduli, aku akan tetap berpegang teguh pada apa yang aku anggap benar. Apalagi ini perintah dari Allah," ungkap Amelia.


"Kamu makin pinter ceramah seperti ustadzah Oki," puji Ergan.


"Kamu nggak kepikiran untuk melarangku memakai hijab kan?" selidik Amelia sambil menatap mata Ergan.

__ADS_1


"Kalau ia apa yang akan kamu lakukan?" Ergan semakin penasaran.


"Maaf Mas, aku tidak akan melepasnya! aku tau jika aku berdosa karena tidak mendengar perkataan suami. Tapi Allah akan murka jika aku melalaikan kewajibanku."


"Hehehe, Mas makin kagun dengan cara berpikirmu. Kamu banyak berubah sekarang, tapi aku suka karena itu perubahan yang positif. Tidurlah, aku nggak mungkin menyuruhmu melepas hijab karena hanya aku yang boleh menikmati semua ini." Spontan tangan Ergan meraba dada Amelia.


"Ih, Mas geli...!"


"Ssttt... diam dan rasakan saja," bisik Ergan membuat mata Amelia melotot.


"Dasar mesum! nggak berubah."


"Kalau yang itu nggak boleh berubah dong sayang, bagaimana Azka bisa memiliki dede' jika aku hanya diam melihatmu, hem?" Ergan mengecup kening Amelia.


Sentuhan Ergan yang lembut membuat Amelia merasa nyaman didekat laki-laki itu. Ergan membelai rambut Amelia hingga menutup mata dan tertidur. Ergan ikut memejamkan mata, memeluk pinggang ramping Amelia kemudian ikut terlelap kealam mimpi.


Pesawat sudah mendarat dengan sempurna, Ergan dan Amelia masih tidur sedangkan Azka lebih dulu bangun. Azka mengucek kedua matanya, ia heran kenapa melihat Ergan memeluk Amelia dengan erat, biasanya Amelia memkuknya jika tertidur, ini malah sebaliknya.


"Huaaa... huaaa..." suara tangis Azka membuat mereka tersentak bangun, Amelia segera memeluk Azka agar tenang.


Azka menggelengkan kepalanya masih terus menangis.


Ergan yang melihatnya mencoba mendekati Azka, menangkuo wajahnya kemudian menggendongnya. "Azka sayang kenapa kamu menangis? ada yang sakit? mana-mana coba Daddy lihat." tanya Ergan membuat Azka semakin histeris meronta ingin pergi ke Amelia.


Amelia mengambil Azka kedalam gendongannya, mengusap punggungnya dengan lembut, dalam beberapa menit tangisan Azka mulai mereda.


"Azka kenapa nangis?" tanya Amelia kembali, tidak biasanya Azka bangun tidur langsung menangis, biasanya ia mencium pipi Amelia atau membangunkannya langsung jika sudah membuka mata.


"Daddy mau ambil Mama dari Azka, hua..." tuduh Azka.


Ergan memicingkan mata kemudian melirik Amelia, begitu juga dengan Amelia, sesaat kemudian mereka tersenyum melihat kecemburuan anaknya.


"Dia sama sepertimu, cemburuan," bisik Amelia membuat Ergan terkekeh.

__ADS_1


"Ya sudah, jangan nangis lagi. Maafin Daddy, Daddy nggak akan ambil Mommy Azka." bujuk Ergan.


Tangis Azka langsung menghilang, kedua tangannya memeluk leher Amelia dengan positif, matanya memicing menatap Ergan dengan datar, seakan mengibarkan bendera perang dan ingin mengatakan 'Mommy milik Azka'.


Ergan keluar dari kamar, melihat Tirta sudah berdiri dihadapannya dengan mata melotot. Rupanya kebiasaan bosnya tidak berubah sejak tiga tahun yang lalu. Selalu membuatnya menunggu di depan kamar dengan segala umpatannya.


"Kampret! ngapain aja lo? sudah satu jam pesawat lending, lo masih betah di dalam. Nggak bisa nunggu sampai dirumah apa?" rutuk Tirta.


Ergan tersenyum manis memperlihatkan giginya yang putih, berjalan dengan santai mengambil air mineral botol lalu meminumnya sampai habis. Maniknya kembali melirik Tirta hingga muncul ide di kepalanya.


"Iri? bilang bos! ahh... rasanya begitu... nikmat.. setelah tiga tahun tidak bertemu," goda Ergan sengaja membuat Tirta semakin kesal. Ergan memang sudah berjanji akan menyiksa Tirta selama sebulan untuk menebus kesalahannya.a


"Ck," decak Tirta.


"Hahahaha..." Ergan tertawa puas melihat kekesalan Tirta.


"Semua tas sudah di mobil, tinggal nungguin bos untuk turun."


"Oke, tunggu sebentar," Ergan kembali masuk kedalam, tapi sebelum menutup pintu, kepalanya kembali mengintip, "tunggu disini jangan kemana-mana," lanjutnya.


"Bos gila!" rutuk Tirta melipat kedua tangannya sambil bersandar di dinding. Matanya melirik tajam tidak terima Ergan menyuruhnya menunggu lagi. Kalau Ergan bukan bosnya, mNa mungkin dia mau menunggu seperti itu.


Sepuluh menit kemudian Ergan, Amelia dan Azka keluar dari kamar setelah melewati bujuk rayuan karena Azka masih dalam mode bad-mood. Tatapan Azka dingin datar, tidak bicara dan tidak ada keceriaan. Pelukannya masih berada di leher Amelia membuat Amelia kewalahan menggendong turun dari pesawat.


"Tuh bocah kenapa bos?" tanya Tirta menunjuk Azka dengan dagunya.


"Lo bilang apa ke anak gw? sekali lagi gw dengar lo bilang bocah, gw potong leher lo!" Ancam Ergan tak terima sambil menggeserkan tangannya di depan leher pertanda mati.


Tirta langsung pias membungkam mulutnya yang lancang. Tapi jangan salah, itu tidak akan bertahan lama karena Tirta segera membuka pintu mobil untuk mereka.


"Hahahaha..." sontak Azka tertawa melihat Daddy-nya mengancam Tirta. Menurut Azka, raut wajah Tirta sangat lucu dan menggemaskan.


.

__ADS_1


.


Bersambung.......


__ADS_2