
"Itu buat Mr arrogan! Katanya gini 'Aku minta satu lagi air mineral. Suruh Amel yang antar, aku nggak mau dilayani dengan yang lainnya. Jika dia nggak mau, maka kalian berdua akan menanggung akibatnya' Gila aja tuh orang, ngancem cuy..!" Kesal Karmen kemudian memukul meja. Untung makanan dan minuman diatasnya tidak ada yang tumpah.
"Masa sih..? Gawat!" Pekik Amelia.
"Apanya yang gawat?"
"Aku tidak mau lagi berurusan dengan orang itu."
"Trus, aku gituh yang kesana? Ogah banget gw!" Karmen semakin kesal. Ia mulai mengeluarkan bahasa tidak formalnya.
"Trus aku harus gimana?"
"Cepetan deh anter tuh minuman, sebelum macan jantan itu ngamuk!"
"Sebentar."
"Mau ngapain?"
"Berdoa." Mulut Amelia komat-kamit, entah doa apa yang dibacanya sebelum bertemu dengan Ergan.
"Doain aku ya?"
"Lho, kan kamu sudah berdoa?"
"Bantuin berdoa napa? Soalnya kadang doaku agak lambat dikabulkan." Ujar Amelia dengan wajah memelas.
"Sudah, sana!" Karmen mendorong bahu Amelia dengan kedua tangannya menuju pintu kelas bisnis.
Amelia menarik napas dalam-dalam lalu menghempaskannya dengan perlahan.
"Bismillah." Amelia mulai melangkah menuju kelas bisnis, ia lebih dulu meletakkan satu botol air mineral di meja penumpang yang lain karena lebih dulu memesan.
"Air mineralnya Tuan. Silahkan." Sapa Amelia dengan ramah dan lembut.
"Terimakasih cantik." goda penumpang laki-laki itu dengan mengedipkan sebelah matanya.
Ergan yang duduk di depan hanya mendengar, tentu saja sebagai laki-laki yang sangat berpengalaman dalam menggoda wanita, dia sangat tahu apa yang dilakukan penumpang itu. Kedua tangannya mengepal, seandainya saja ini bukan pesawat, sudah dipastikan jika laki-laki itu sudah lebam akibat tonjokan maut dari tangannya yang besar.
Amelia hanya tersenyum dan tidak memberi jawaban. Pujian semacam itu sudah sering terjadi dan bagai angin lalu di telinganya.
__ADS_1
Amelia berdiri didepan Ergan bagian samping kursi, Tatapan mata Ergan yang tajam membuat nyalinya kembali menciut meskipun sudah berdoa berkali-kali. Belum sempat meletakkan air mineral yang Ergan minta, dia sudah dicecar dengan pertanyaan yang membuatnya ingin bersembunyi sejauh mungkin.
"Dari mana saja kamu? Kamu tidak mau bertemu denganku hingga menyuruh orang lain melayaniku? Atau kamu takut kejadian semalam akan terulang lagi?"
Suara Ergan yang sedikit keras membuat penumpang yang lain menoleh. Terutama pria yang tadi menggoda Amelia, matanya sampai melotot. Apalagi kata 'kejadian semalam' membuat penumpang yang lain bertanya-tanya kejadian apa diantara mereka semalam. Ingin rasanya Amelia menyumpal mulut Ergan dengan sandwich. Tapi sayang sandwich dipiringnya sudah habis.
'Ya Tuhan... kenapa ada pria seabsurd ini ya? Nggak tau tempat lagi.' Batin Amelia kemudian menoleh kekiri dan kekanan. Terbuktikan? Kalau mereka denger? Tuh, tatapan mereka aja jadi horor. Malunya setengah mati cuy!
Amelia menutup mata sejenak menahan malu, rasanya ingin terjun ke dalam sumur yang paling dalam. Mencoba menetralkan kembali detak jantungnya yang tidak bisa tenang.
Jika berdekatan dengan Ergan pasti detak jantungnya tidak bisa dikondisikan.
"Maaf Tuan, kami kerja tim. Tidak boleh hanya melayani satu penumpang saja." Jawab Amelia dengan lembut.
Ergan menaikkan sebelah keningnya. Ternyata wanita dihadapannya cukup sabar menghadapi sikapnya yang arogan. 'Oo.. masih bisa bicara lembut juga rupanya. Oke, kita akan lihat sampai dimana batas kesabaranmu.' Batin Ergan.
"Aku tidak perduli dengan aturan kerja. Bawa piring ini lalu kembali kesini." Perintah Ergan.
Pada saat Amelia menunduk mengambil piring sisa makanan Ergan, tiba-tiba terjadi turbulensi menyebabkan badan pesawat terguncang. Amelia yang tidak siap, hilang keseimbangan dan terjatuh pas diatas pangkuan Ergan dengan posisi kedua tangannya dileher Ergan. Sedangkan tangan Ergan sontak menahan pinggang Amelia agar tidak terjatuh.
Netra hitam Ergan bertemu dengan netra coklat Amelia yang indah. Detak jantung keduanya berdebar semakin cepat. Wangi citrus dari tubuh Ergan membuat Amelia lupa diri. Ergan menurunkan pandangannya di bibir mungil Amelia. Ingin rasanya merasakan kembali bibir manis Amelia yang sudah membuatnya kecanduan. Tangan Ergan mulai meraba wajah Amelia hingga ke bibir. Dan anehnya Amelia hanya diam merasakan belaian tangan Ergan.
"Mau dong dipeluk juga." Sindir penumpang perempuan yang duduk di seberang kursi Ergan.
Amelia tersadar dan segera berdiri. Untung goncangan pesawat hanya sebentar.
"Jangan sentuh aku!" Kesal Amelia melepaskan diri kemudian berdiri merapikan pakaiannya.
"Hehehe, apa aku tidak salah dengar? Yang duduk di pangkuan ku siapa? Pakai peluk-peluk leher lagi." Ejek Ergan membuat Amelia melotot saking kesalnya.
"Tapi kamu juga peluk aku."
"Mau gimana lagi? Terpaksa! Itu juga agar kamu tidak jatuh." Sergah Ergan.
Amelia mengambil piring dengan kasar lalu segera pergi.
"Kamu kenapa? Wajah cantik kok ditekuk? Semua penumpang dikelas bisnis amankan? Soalnya tadi ada sedikit masalah." Ujar Citra saat mereka berada di ruang khusus untuk pramugari.
"Aman, hanya ada satu penumpang yang rese." Kesal Amelia.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, anggap aja angin lalu, toh mereka akan segera turun." Citra melihat jam tangannya, "dua puluh menit lagi pesawat lending. Kita harus siap-siap." Ujar Citra.
"Andai aja kamu tau seberapa nyebelinnya tuh orang? kamu nggak akan ngomong setenang itu."
"Masa sih?"
"Kalau nggak percaya liat aja sendiri, Kursi 1B."
Karena penasaran Citra menuju kelas bisnis, ia hanya lewat seolah mengambil sesuatu lalu kembali ke tempat Amelia.
"Gila, cakepnya kebangetan Mel, Kalau dilihat dari penampilan juga sepertinya Sultan. Kamu salah kali menilai orang? Sepertinya nggak mungkin deh, cowok itu nyebelin!" Ujar Citra dengan antusias.
"Ya... cakepnya memang kebangetan, tapi nyebelinnya juga kebangetan cuy..!" Kesal Amelia.
"Jangan terlalu benci sama orang, besti! bisa aja suatu saat benci jadi bucin."
Citra mengingatkan membuat Amelia semakin kesal.
"Ihh... amit-amit." Amelia mengetuk meja berkali-kali membuat Citra geleng-geleng kepala.
Sebentar lagi pesawat akan mendarat di Singapore Changi Airport. Suara Amelia kembali terdengar membacakan announcement pada saat pesawat akan lending.
Ergan tersenyum kemudian menutup mata, suara Amelia begitu merdu dan lembut ditelinganya. Apalagi setelah mendengar kalimat terakhir yang Amelia ucapkan 'Sampai jumpa di penerbangan selanjutnya dan semoga hari anda menyenangkan.'
"Sampai jumpa lagi Amelia dan hari-hari kita pasti akan menyenangkan." Gumam Ergan tetap duduk di kursinya. Ia menunggu penumpang yang lain untuk turun lebih dulu karena tidak suka berdesak-desakan.
Ergan penumpang terakhir yang turun dari pesawat, seandainya saja urusannya di Singapura tidak mendesak, dia pasti akan ikut kemanapun Amelia terbang.
Melihat Amelia berdiri di depan pintu sambil menutup kedua tangannya mengucapkan 'terima kasih'. Ergan mengambil kartu nama di dompetnya lalu memberikan pada Amelia saat mereka berhadapan.
"Telpon aku jam dua belas malam jika tidak bisa tidur." Ujar Ergan seolah tahu kebiasaan Amelia.
"Maaf Tuan, kami tidak menerima barang dari penumpang." Tolak Amelia.
"Ambil atau aku akan menciummu disini." Bisik Ergan ditelinga Amelia sambil meletakkan kartu di tangannya.
Deg!
.
__ADS_1
.
Bersambung....