Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Pergi dari Pesantren


__ADS_3

"Hikss, hikss, Mel, jangan lupakan aku. Aiu pasti akan merindukanmu." Yuli menangis memeluk Amelia.


"Iya Yul, jangan sedih. Kita pasti akan ketemu lagi. Aku akan kesini menjenguk kalian, jangan khawatir," ujar Amelia sambil mengelus pundak Yuli.


Yuli melepaskan pelukannya kemudian mengambil Azka dari tangan Pras yang sedari tadi tidak berhenti dicium, dipeluk, dan dielus oleh Pras.


"Azka sayang..., jangan lupain Tante Yuli ya? jangan lupa ngaji. Tante pasti merindukanmu sayang, hikks.." Yuli memeluk Azka dan menciumnya, air matanya kembali keluar meskipun sudah menahannya.


"Azka tidak pergi Tan, cuma mau main ke rumah Daddy, jangan nangis ya?" ujar Azka dengan suara anak kecil, Azka menghapus air mata Yuli, memberi pengertian jika dia tidak akan lama dan pasti akan segera kembali. Andai saja ia mengerti yang sebenarnya, dia pasti tidak mau ikut pulang karena merasa pesantren adalah rumahnya sendiri.


"Pras, Bu, Yuli, kami pergi, Assalamualaikum..." pamit Amelia.


"Waalaikumsalam.." jawab semuanya dengan mata berkaca-kaca.


Amelia mengambil Azka dari Yuli kemudian masuk kedalam mobil disusul Ergan. Tirta yang sudah duduk lebih dulu dikursi kemudi mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Pras menatap kepergian Amelia hingga mobil mewah milik Ergan menghilang, tatapannya sendu, hatinya terluka, perih, namun tak berdarah. Tanpa ia sadari setetes air bening keluar dari sudut matanya. Sungguh ini terlelu sakit, bahkan lebih menyakitkan ketika kehilangan istrinya. Dua orang sekaligus pergi dari hidupnya membuat hatinya semakin hancur.


"Pras, sabar nak, ikhlaskan," ujar Ibu Juminarti sambil menepuk pundak Pras.


Tanpa berkata-kata Pras masuk kedalam ruang kerjanya, melewati santri dan pengajar yang menyapanya namun pandangannya kosong. Hampa dan sesak dadanya melihat kepergian Amelia.


............................


Didalam mobil Ergan menggenggam tangan Amelia, menarik kepalanya bersandar di lengannya.


"Jangan sedih sayang, nanti Azka ikut nangis. Mas janji akan membawa kalian kesini kapanpun kamu mau." Ergan mengelus puncak kepala Amelia penuh kasih, mengecup sekilas keningnya lalu mengambil Azka ke pangkuannya.


Tirta yang melirik kaca spion mendesah pelan. Ergan begitu bahagia menemukan Amelia. Setelah tiga tahun terpuruk, baru hari ini Tirta melihat Ergan bahagia. Dalam hati ia menyesal karena telah menyembunyikan Amelia selama ini.


Mereka menuju lapangan tempat private jet milik Ergan. Azka sangat senang melihat pesawat besar didepan matanya. Biasanya ia hanya melihat mainan pesawat dan mobil-mobilan.


"Itu pesawat Dad?" Azka menunjuk pesawat dari dalam mobil.


Tirta baru saja memarkirkan mobilnya.


"Ia sayang, pesawat itu milik Azka," jawab Ergan.


"Wahh.. besar sekali Dad, seperti raksasa." puji Azka dengan mata berbinar.


"Ayo kita turun! kita naik itu pulang ke rumah," ujar Ergan.


"Yeee... Azka naik pesawat," teriak Azka penuh semangat.


Mereka naik pesawat bersama-sama. Tirta ikut sambil membawa tas kemudian memberikan pada kru awak kabin.

__ADS_1


Setelah mereka duduk dan memasang seat belt, pesawat mulai terbang melintasi langit yang tinggi.


"Azka suka naik pesawat?" tanya Amelia.


"Suka Mom, lihat itu awan." Semangat Azka melihat keluar jendela menunjuk awan putih.


"Iya sayang, Azka makan dulu trus bobo ya?" bujuk Amelia.


Ergan meminta pramugari mengambilkan makanan untuk mereka, sedangka Azka memiliki makanan sendiri dari pesantren.


Amelia menyuapi Azka dengan telaten. Mulut Azka terus berceloteh sambii makan. Banyak hal yang ia ingin tahu, semua fasilitas dalam pesawat ia tanyakan apa fungsinya. Pramugari sampai kelelahan menjawabnya. Ergan sampai tidak percaya jika anaknya secerdas itu.


"Apa di seperti itu setiap hari?" Tanya Ergan.


"Iya semua hal baru akan dia tanyakan sedetailnya. Aku juga kadang nggak bisa menjawab pertanyaannya," jawab Amelia.


Setelah Azka makan, Azka mulai asik bermain robot-robotan.


Amelia menatap menu makanan western yang tertata diatas meja, spaghetti, pizza, sirloin steak, french-fries, dll. Sudah lama Amelia tidak menikmati makanan itu membuat cacing diperutnya seketika meronta minta diisi.


"Kamu kok bengong, makan dong sayang..! kamu nggak akan kenyang jika hanya diam melihatnya," ujar Ergan.


"Iya Mas, sudah lama aku nggak makan makanan seperti ini." Amelia mulai mengambil makanan.


"Azka mau kentang french-fries?" tanya Ergan kemudian memberi satu potong ketangan mungil Azka. Azka memgangnya lalu memasukkan kedalam mulutnya.


"Enak?" tanya Ergan.


"Enak, Dad, Azka suka," jawab Azka.


"Kalau Azka suka, ini buat Azka, tapi makannya satu-satu ya? jangan langsung banyak, oke?" Ergan meletakkan piring berisi french-fries dihadapan Azka membuat Azka semakin berbinar.


Ergan tersenyum melihat Azka begitu mudah berinteraksi dengannya.


Setelah makan, mereka menuju kamar, Azka yang sudah lincah berjalan bahkan berlari bergegas naik ketempat tidur. Ia melompat-lompat saking senangnya.


"Mommy, tempat bobonya enak, bisa lompat-lompat," ujar Azka. Tubuh Azka melayang naik turun diudara.


Ergan bersandar di pintu, kedua tangannya terlipat dan kakinya menyilang. Hatinya teriris merasa bersalah karena anaknya tidak pernah melihat tempat tidur seempuk itu.


"Ia sayang tapi hati-hati nanti kamu jatuh." Amelia memegang tangan Azka agar tidak jatuh.


Cukup lama Azka melompat hingga kelelahan, dadanya kempas-kempis, napasnya terengah, membuatnya langsung membuang tubuhnya berbaring.


"Main lompat-lompatnya sudah ya, sekarang waktunya Azka bobo."

__ADS_1


"Azka bobo disini?"


"Iya sayang...!"


"Oke Mom."


Amelia memiringkan tubuh Azka lalu ikut berbaring disampingnya. Amelia menepuk bokong Azka hingga terlelap. Begitu napas Azka beraturan, ia menarik selimut menyelimuti tubuh Azka.


Ergan mendekat, berjalan dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Azka.


Amelia menutup mulutnya dengan satu jari.


Ergan yang dilarang mendekat malah menarik Amelia bangun kemudian memeluknya posesif. Jantung mereka kembali berdetak lebih kencang, rasa cinta yang hampir mati, kini hadir kembali. Tidak mau mebuang waktu lagi, Ergan mencium bibir Amelia. Ciuman yang sudah lama tidak rasakannya kini kembali menikmati manisnya bibir Amelia. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi rakus saat Amelia memberi celah, Ergan semakin menikmati setiap inci didalamnya. Tangan Ergan tidak diam, mulai mencari area sensitif Amelia, Ergan mulai memeinkan squisi kembar milik Amelia. Amelia yang sudah terbuai ikut menikmati hingga suara desah keluar tak tertahankan.


Ergan menyeringai membawa tubuh Amelia ke sofa. Baru saja Ergan ingin membuka pakaian Amelia, Amelia menahan tangannya.


Ergan mengernyitkan keningnya saat Amelia menahannya, apa amelia belum siap? Ah, mungkin dia butuh waktu untuk melakukannya, pikir Ergan.


"Mas." panggil Amelia.


"Hmm.."


"Aku lagi dapet."


"Dapet apa?"


"Itu..?"


"Astaga... Meli, kenapa nggak bilang dari tadi?" Ergan mengusap wajahnya dengan kasar, matanya memerah karena hasratnya mulai menggebu, dadanya kempas-kempis menahan amarah.


"Hehehe, sabar Mas, belum waktunya," ujar Amelia tersenyum membuat Ergan semakin kesal menatapnya, namun detik kemudian ia tersenyum lalu membawa Amelia kedalam pelukannya.


"Sayang..." langgil Ergan.


"Hmmm.." sahut Amelia.


"Kamu tega baget! sudah tiga tahun puasa, masa sekarang harus main solo lagi," keluh Ergan.


"Sabar Mas, nanti juga buka puasa, hehehe..."


.


.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2