
Saat pintu lift terbuka, Ergan dan Tirta kaget melihat pemandangan yang tidak menyenangkan dihadapannya. Rania sedang menarik rambut salah satu karyawannya.
"Pak, tolong saya." Melas Riris sambil memegang rambutnya yang ditarik Rania. Riris memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik perhatian Ergan. Bersiri di belakangnya sambil memegang ujung jas Ergan. Kapan lagi memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan bosnya.
"Rania, apa yang kamu lakukan, lepaskan dia!" Bentak Ergan.
Rania melihat Ergan dan Tirta kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Riris. Seandainya saja Ergan tidak datang, rambut Riris pasti sudah rontok dan acak-acakan.
"Ikut Aku." Ergan menarik paksa tangan Rania keluar dari perusahaan. Sementara tangan Riris terlepas begitu saja dari jas mahal Ergan.
"Lepaskan! aku belum puas memberi pelajaran perempuan lancang itu." Berontak Rania.
Ergan melepaskan pergelangan tangan Rania setelah Tirta membuka pintu mobil untuknya.
"Ini yang terakhir kali kamu menginjakkan kaki disini. Jika kamu masih berani datang dan memhuat kekacauan, maka aku nggaka akan segan-segan lapor polisi." Ancam Ergan kemudian masuk kedalam mobil.
"Pak usir perempuan ini dari kantor." Lanjut Ergan dengan tegas memerintah kedua satpam yang berdiri dihadapannya.
"Siap Pak." Serentak keduanya sambil memberikan hormat.
"Brengsek kamu, Ergan!" Rania menendang body mobil hingga meringis karena sepatunya copot. Matanya tidak berhenti menatap geram mobil Ergan hingga berbelok ke arah jalan raya.
"Lepasin, aku bisa sendiri." Rania menepis tangan satpam saat ingin menyentuhnya. Ia terpaksa pergi dari perusahaan Ergan dengan kesal karena tidak mendapatkan apapun dari Ergan. Agency temoatnya bekerja sudah memutuskan kontrak dengannya, hingga terpaksa ia menemui Ergan untuk meminta modal. Namun kenyataan tidak sesuai dengan harapannyaharapannya. Bukannya mendapatkan uang, taoi malah diusir dengan cara memalukan.
Rania menyeringai, kini harapannya adalah Aqilah, Aqilah sudah besar dan pasti sudah bisa diajak kerja sama. Ia akan memanfaatkan kepolosan anak itu untuk mendapatkan keinginannya.
Sebelum pulang ke rumah, Ergan menjemput Aqilah di sekolah. Aqilah sudah menunggu bersama guru dihalaman sekolah. Saat Ergan turun dari mobil. Semua mata guru perempuan tertuju padanya. Mereka selalu mencari perhatian pada Ergan dengan cara mendekati Aqilah. Dari informasi yang mereka dengar, Daddy Aqilah sudah menduda selama dua tahun, tapi sampai sekarang belum menikah lagi entah apa alasannya.
"Yeee... Daddy sudah datang." Teriak Aqilah dengan girang. Jika Ergan sudah pulang itu artinya dia sudah bisa kembali pulang ke rumah bersama Ergan.
"Selamat siang Pak." Sapa Miss Safira dengan nada lembut dan sopan. Miss Safira adalah wali kelas Aqilah disekolah.
"Siang Miss." Sahut Ergan kemudian menunduk pada putri kecilnya. Ergan membelai rambut Aqilah dengan lembut lalu menggendongnya, "Bagaimana pelajarannya hari ini? nggak sulit kan?" Tanya Ergan.
"Iya Dad, nggak sulit kok, tadi disuruh kerjain matematika oleh Miss Safira, dan Aqilah dapat nilai seratus. Daddy mau liat nggak?" Tanya Aqilah sambil membuka tas dari punggungnya.
"Nanti aja di mobil ya, sekarang pamit sama Miss Safira dulu." Bujuk Ergan.
Aqilah turun dari gendongan Ergan kemudian berpamitan pada Miss Safira.
"Miss Safira, Aqilah pamit pulang dulu ya, see you tomorrow Miss, Bye-bye." Aqilah melambaikan tangannya kemudian menggenggam tangan Ergan.
"Bye-bye Aqilah. .." Balas Miss Safira sambil menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Aqilah. Ia menangkup wajah Aqilah dengan lembut sambil tersenyum manis pada Aqilah.
"Miss terimakasih sudah menemani Aqilah menunggu saya, Permisi." Pamit Ergan kemudian menggenggam tangan Aqilah menuju mobil.
"Sikap Daddy Aqilah masih tetap cuek dan dingin, sudah dua tahun aku mencoba menarik perhatiannya tapi kenapa dia tidak menatapku sama sekali. Wanita macam apa sih yang bisa membuatnya jatuh cinta." Gumam Miss Safira sambil menatap kepergian Ergan dan Aqilah dengan tatapan sendu.
Lagi-lagi Miss Safira menelan kekecewaan karena sikap Ergan yang dingin. Susah payah dia mendekati Aqilah agar anak itu menurut dan menyukainya, namun Ergan sama sekali tidak perduli.
__ADS_1
Selama tiga puluh menit diperjalanan melewati kemacetan dan lampu merah di ibu kota, Tirta memarkirkan mobilnya di depan rumah besar milik orang tua Ergan.
Ergan masuk kedalam rumah bersama Aqilah sedangkan Tirta memilih kembali ke apartemennya.
"Om Brian..." Teriak Aqilah langsung memeluk Brian.
Brian yang baru saja turun dari tangga langsung menyambut Aqilah.
"Sudah pulang sekolah ya?"
"Iya Om."
"Mau temenin Om makan?"
"Boleh, Qila juga lapar."
"Kak, ikut makan yuk!" Ajak Brian.
"Kalian aja, Kakak sudah makan di kantor. Mama, Papa mana?" Tanya Ergan.
"Tuh di taman. Biasa lagi pacaran." Brian menunjuk ke arah taman dengan dagunya.
"Aku temuin mereka dulu, titip Aqilah sebentar ya." Ergan menepuk pundak Brian kemudian berjalan menuju taman.
"Aqilah, lets go!"
Dengan semangat dan senyum mengembangkan di bibirnya, Aqilah menuju meja makan dan duduk berdampingan dengan Brian.
"Qila sayang, mau makan apa? nasi goreng, atau ayam krispy." Tanya Brian.
"Ayam krispy aja Om. Tapi yang sayapnya, biar bisa terbang, hehehe.."
"Hehehe... lucu banget sih kamu, kalau sudah besar mau jadi apa?"
"Mau jadi pramugari." Jawab Aqilah membuat Brian seketika mengingat seseorang dimasa lalunya dan Ergan.
"Ameli kamu dimana sekarang? kembalilah pada Kak Ergan. Aku tidak apa-apa, aku sudah ikhlas asal kamu bahagia." Batin Brian.
"Om kok melamun?" Tanya Aqilah.
Brian tersadar dari lamunannya. Ia mengambil makanan ke piring Aqilah kemudian mengambil makana untuknya.
"Kenapa Qila pengen jadi pramugari? kan bisa jadi dokter, astronot, guru, atau yang lainnya?" Tanya Brian penasaran.
"Karena pramugari kemana-mana naik pesawat. Tidak seperti Qila yang naik mobil." Jawaban Aqilah membuat Brian terkekeh.
"Hehehe.. wajarlah peramugari naik pesawat, kan pekerjaannya melayani penumpang di dalam pesawat. Kalau melayani penumpang dalam mobil namanya supir. Ayo, sekarang makan banyak biar cepat besar dan jadi pramugari." Brian geleng-geleng kepala kemudian menikmati makannya bersama Aqilah.
Sedangkan di taman Ergan berjalan mendekati Karisma dan Andreas.
__ADS_1
"Mah, Pah." Sapa Ergan.
"Eh, Ergan, kamu sama Aqilah?"
"Iya Mah, lagi makan dengan Brian."
"Tumben kamu nyusul sampai kesini. Pasti ada yang mau diomongin kan?" Tanya Karisma.
"Iya Mah, Pah, bisa bicafa sebentar nggak?" Tanya Ergan.
"Oke, tunggu." Andreas mencuci tangannya di keran air disul Karisma. Setelah itu mereka duduk di kursi taman.
"Ada Apa? kamu lagi ada masalah?" Tanya Andreas.
Tanpa aba-aba Ergan langsung duduk berlutut di hadapan Karisma dan Andreas, membuat mereka tercengang dan saling melirik.
"Pah, Mah, sebenarnya ini soal Amelia." Ungkap Ergan dengan wajah menunduk, ia tidak berani menatap mata kedua orangtuanya, takut mereka emosi berujung pertengkaran.
Karisma menghela napas berat begitupun dengan Andreas. Mereka jadi bingung kenapa Ergan tiba-tiba berlutut seperti itu.
"Kenapa kamu seperti itu? ayo bangun." Karisma memegang pundak Ergan ingin membantunya bangun, namun Ergan tetap bergeming.
Nggak Mah, sebelum Mama dan Papa merestuiku bersama Amelia.
"Merestui? Kamu sudah menemukannya?" Tanya Karisma.
"Iya Mah." Ergan mengangguk.
"Lalu kenapa kamu nggak bawa dia kesini?" Tanya Karisma. Ia melirik Andreas kemudian tersenyum.
Ergan langsung mengangkat wajahnya menatap Karisma dengan tatap sendu. Sesaat kemudian menatap Andreas.
"Mama, Papa nggak keberatan kalau Aku dan..."
"Bawa mantu Mama pulang. Sudah lama kamu menderita karena dia. Sebenarnya Mama dan Papa menghawatirkanmu, kamu semakin menutup diri semenjak dia pergi. Mama dan Papa juga ingin kamu bahagia. Jika kamu sudah menemukannya, jemput dia dan kita akan membuat pesta pernikahan untuk kalian. Iya kan Pah?" Karisma meminta pendapat suaminya.
"Iya Mah." Jawab Andreas.
Ergan segera menggenggam tangan Karisma dan menciumnya setelah itu tangan Andreas.
"Makasih Mah, Pah, Aku akan membawa mereka besok." Semangat Ergan.
"Mereka?" Serentak Karisma dan Andreas.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1