Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Rumah Orangtua


__ADS_3

Brian diam sejenak kemudian mengingat kembali saat dirinya merayu Mikhayla. "Dulu, aku suka dengan seorang gadis, aku sering merayunya untuk mendapatkan cintanya. Dan hasilnya kami pacaran. Tapi sayang Tuhan berkehendak lain. Kami tidak berjodoh."


"Kenapa tidak berjodoh?" Tanya Amelia penasaran.


"Karena dia lebih dulu dipanggil Tuhan, tepatnya dua tahun yang lalu. Setelah itu aku memilih pindah kuliah di Singapore. Dan baru pulang sekarang. Aku sadar, aku harus melanjutkan hidupku dan mencoba membuka hati untuk yang lain." Jelas Brian sambil fokus menyetir mobil.


Dua puluh menit berlalu akhirnya mereka tiba di rumah. Amelia sangat takjub saat melihat taman yang luas dan rumah yang sangat besar dihadapannya.


"Ini rumah kamu?" Tanya Amelia mengalihkan pandangannya pada Brian.


"Bukan, ini rumah orang tua aku, aku masih kuliah, kalau kita sudah menikah, aku akan belikan rumah yang lebih besar lagi untukmu." Goda Brian.


"Kamu bisa aja bercandanya." Kekeh Amelia membuat Brian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, rupanya gadis pujaannya tidak mudah untuk dirayu, tapi itu tidak membuat Brian putus asa. Baginya semakin sulit hati wanita diluluhkan berarti wanita itu sangat berharga dimatanya.


"Siapa yang bercanda aku serius. Ayo turun! atau mau aku bukakan seat beltnya lagi?" Tanya Brian.


"Nggak usah, aku bisa sendiri." Jawab Amelia kemudian membuka seat beltnya.


Brian juga membuka seat beltnya kemudian keluar dan membuka pintu mobil untuk Amelia.


Mereka memasuki rumah dan langsung menuju ruang makan. Semua anggota keluarga sudah duduk disana menunggu kedatangan mereka.


Deg!


Ergan tertegun melihat kedatangan Amelia bersama Brian. Begitupun Amelia saat netra mereka bertemu.


"Ergan! kenapa dia ada disini? apa hubungan Ergan dan Brian?" Batin Amelia. 


"Malam semuanya, kenalin ini Amelia. Teman Brian." Ujar Brian memperkenalkan Amelia dihadapan Karisma, Andreas, Brian dan Rania.


Amelia menyalami mereka satu persatu, tak terkecuali Ergan. Amelia hanya menyentuh tangan Ergan sedikit karena Ergan menatapnya begitu tajam seakan ingin membunuh mangsanya.


"Gawat! apa yang dilakukan Amelia di sini? dan sejak kapan mereka kenal? apa mereka pacaran, atau dia gadis yang Brian bicarakan? Bagaimana jika dia tahu aku sudah menikah dan memiliki anak? dia pasti tidak mau menikah denganku lagi." Batin Ergan kemudian mencari keberadaan Aqilah, untung anaknya masih betah bermain di kolam dari pada ikut bergabung makan.


"Cantik sekali kamu nak, sini duduk dekat Rania." Sapa Karisma dengan semangat, ia sangat senang melihat Brian mulai membuka hati untuk orang lain. Apalagi saat melihat Amelia yang sopan dan kelihatannya baik, ia langsung setuju jika mereka pacaran.


"Terimakasih Tante." Amelia tersenyum kemudian duduk disamping Rania, sedangkan Brian duduk di samping Ergan, kini posisi mereka saling berhadapan.


"Sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Rania penasaran karena dia tahu bagaimana Brian selama ditinggal Mikhayla.


"Belum pacaran Kak, kami hanya temenan." Jawab Brian tersenyum kemudian melirik Amelia.

__ADS_1


"Belum pacaran artinya PDKT dong..?" Sindir Rania sambil tersenyum.


"Doain aja." Jawab Brian lagi.


"Amel, kamu masih kuliah atau kerja?" Tanya Karisma.


"Kerja Tante." Jawab Amelia.


Entah kenapa setiap selesai menjawab pertanyaan, mata Amelia selalu tertuju pada mata Ergan. Mungkin karena takut salah bicara atau takut Ergan marah.


Entahlah, Amelia juga bingung sendiri.


Ergan bersikap cuek dan dingin seolah tidak mengenalnya, membuat Amelia ragu dan ikut berpura-pura tidak kenal. Ia tidak mau nantinya disangka sok kenal dengannya.


"Kerja diperusahaan mana?" Tanya Rania.


"Dia pramugari." Sela Brian.


"Wah,, hebat kamu, waktu kecil aku bercita-cita jadi pramugari, tapi sayangnya aku keburu nikah. Kalau ada waktu ceritain dong gimana rasanya jadi pramugari, apa aja yang dilakukannya didalam pesawat gitu." Semangat Rania.


Wah, sudah mulai mendekati rahasia terbongkar nih, jika dibiarin terus, habislah Ergan.


Mereka mulai mengambil nasi dan lauk dipiring masing-masing. Rania ingin mengisi piring Ergan, namun Ergan menepisnya dan mengambil sendiri makanan untuknya.


"Ayo nak, jangan malu-malu anggap aja rumah sendiri." Ujar Karisma sambil mengambilkan makanan untuk Andreas.


"Iya Tante." Balas Amelia kemudian melirik piring Ergan yang hanya sedikit makanan dipiringnya.


Tidak ada yang bersuara selama makan, hanya suara dentingan sendok dan garpu diatas piring.


Jika yang lainnya sibuk dengan makanan masing-masing, berbeda dengan Ergan, kakinya dibawah meja makan tidak pernah diam mengganggu Amelia. Amelia sesekali melotot membuatnya menahan tawa.


"Dasar nyebelin! pura-pura nggak kenal tapi kakinya nggak bisa diam." Gerutu Amelia dalam hati kemudian menekuk kakinya kebawah kursi agar kaki Ergan tidak menyentuhnya.


Kaki Ergan terus mencari kaki Amelia, ia kembali tersenyum tipis bahkan hampir tidak kelihatan sambil mengunyah makanan. Kakinya kembali menemukan apa yang dia cari. Tapi, kali ini Amelia tidak bereaksi atau marah membuat Ergan kesal.


Ergan melirik Rania yang sedang tersipu malu sambil menatapnya. Ternyata dia salah, kaki yang sedang disentuhnya milik Rania. "Kurang asem! dia mengerjai aku. Oke, akan aku balas kau." Batin Ergan kemudian menarik kakinya dan diam.


"Kamu harus makan banyak, Mel." Ujar Brian kemudian menambahkan lauk ke piringnya. Ini salah satu bentuk perhatian Brian saat mendekati seorang gadis.


So sweet bangeett!

__ADS_1


"Sudah cukup." Tutur Amelia agar Brian tidak menambah makanan diatas piringnya.


Amelia merasa tidak enak diperhatikan dengan yang lain. Tapi mereka hanya tersenyum, sedangkan Ergan berbeda, sorot matanya tajam, wajahnya datar dan memerah menahan amarah, serta tangannya mengepal sendok dan garpu yang dipegangnya. Seandainya sendok itu plastik, pasti sudah patah dibuatnya.


Cemburu, bilang bos!


"Khemm..! aku sudah selesai." Deham Ergan, kemudian segera beranjak.


"Mau kemana?" Tanya Andreas setelah mengusap bibirnya dengan tisu.


"Tirta menungguku dibandara Pah." Jawab Ergan, mengambil kunci mobilnya kemudian berpamitan dengan Karisma, setelah itu ia keluar tanpa melihat siapa-siapa lagi, termasuk Amelia dan Rania.


"Mah, Ergan kenapa? aneh!" Tanya Brian sambil mengernyitkan alisnya.


"Mana Mama tau? dia kam memang seperti itu, sudahlah." Jawab Karisma tidak mau dibuat pusing dengan sikap Ergan.


"Tante, aku juga pamit pulang ya?" Pamit Amelia karena dia hanya pamit ke Karmen akan keluar sebentar.


"Lho, kok buru-buru, padahal Tante masih pengen ngobrol sama kamu." Balas Karisma dengan nada sedikit kecewa.


Rasanya Karisma belum rela jika Amelia cepat pulang. Ia ingin mengenalnya lebih jauh lagi untuk meyakinkan jika Amelia gadis yang tepat untuk Brian.


"Lain kali aja Mah, aku pasti akan membawanya ketemu Mama, mungkin Amelia harus siap-siap untuk berangkat." Sela Brian.


"Oh, iya Mama sampai lupa kalau dia pasti sibuk. Kamu wanita hebat dan mandiri. Mama suka dengan kamu." Puji Karisma.


Wah, wah, lampu hijau sudah menyala tuh! tapi restunya untuk siapa ya? Ergan atau Brian?


Setelah berpamitan dengan semua orang, Amelia kembali pulang diantar oleh Brian.


Brian mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia sengaja karena masih ingat berlama-lama bersama Amelia.


Sepanjang perjalanan mereka terus bicara hingga mereka mulai akrab. Mereka membahas masalah pekerjaan Amelia sebagai pramugari dan aktivitas Brian di Singapore.


Amelia hampir tidak percaya jika Brian disana kuliah sambil membuka Coffee Shop. Benar-benar pria yang mandiri meski usianya masih cukup muda.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2