
"Lidya, maafkan aku, aku egois karena dulu lebih memilih harta, tapi sekarang aku sadar, harta bukan segalanya. Maaf atas segala dosa-dosaku yang pernah menyakiti hatimu dan anak kita. Aku tahu, aku tidak pantas untuk dimaafkan, dosaku pada kalian terlalu besar. Terimakasih telah membesarkan anak kita dengan baik, dia sangat cantik dan lembut sama sepertimu. Jaga dirimu dan kesehatanmu. Aku pergi." Pamit Sudrajat kemudian melangkah meninggalkan ballroom hotel.
Lidya hanya mengangguk, rasanya masih tidak percaya bertemu laki-laki itu kembali.
Tirta mengantar Sudrajat ke bandara kemudian kembali ke hotel mengurus sisa acara pernikahan bosnya.
.........................
Ergan membawa Amelia masuk kedalam kamar pengantin, kamar presidential suit yang sudah dipersiapkan Ergan untuk menikmati malam keduanya bersama Amelia. Kamar yang begitu luas dengan dekorasi bunga dan lilin yang mendominan. Kelopak bunga bertaburan diatas ranjang king size, lilin kecil yang menyala di setiap sudut ruangan, aroma terapi yang begitu menenangkan menyeruak di indra penciuman, serta gulungan dua handuk berbentuk love seperti bebek yang sedang berciuman diatas tempat tidur.
Amelia tertegun melihat isi kamar. Ia tidak percaya jika Ergan yang arogan bisa seromantis ini. Menyiapkan kamar pengantin yang sangat indah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Amelia melirik Ergan yang sedang duduk di sisi tempat tidur, pria itu sedang sibuk membuka sepatu dan kaos kakinya.
"Mau sampai kapan berdiri disitu?" Tanya Ergan dengan tatapan tajam, ia berdiri kemudian mendekati Amelia yang masih bergeming.
Tanpa aba-aba Ergan langsung mengangkat Amelia ala bridal style menuju tempat tidur, membaringkannya kemudian mengungkung dibawahnya.
Wajah Amelia merona karena malu, entah sejak kapan Ergan berubah menjadi laki-laki romantis.
"Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Amelia.
"Apanya yang berlebihan?" Tanya Ergan balik sambil mengernyitkan keningnya.
"Tempat acaranya, aku pikir, pernikahan kita hanya..."
"Sstt...Tidak ada yang berlebihan untuk istriku." Jawab Ergan sambil meletakkan jari telunjuknya dibibir Amelia.
Mendengar kata 'Istriku' wajah Amelia semakin memerah seperti buah cerry.
"Hari ini kamu sangat cantik! Kamu pengantin tercantik yang pernah aku lihat." Puji Ergan sambil mengusap wajah Amelia dengan jari-jarinya.
"Hari ini saja?" Tanya Amelia.
__ADS_1
"Hehehe... dimataku kamu selalu cantik." Puji Ergan kembali.
Cup!
Ergan mengecup bibir Amelia kemudian menatapnya dengan lekat.
Amelia tidak berkedip saat kedua netra mereka bertemu, dengan jarak yang seperti ini, baru kali ini Amelia berani menatapnya. Wajah tampan Ergan sangat terlihat jelas dibanding dilihat dari jauh. Rahangnya yang kokoh dan simetris serta bulu halus di sekitarnya sukses membuat Amelia terperanga akan ciptaan Tuhan yang sempurna ini. Alis tebal, bibir tipis diatas dan penuh dibawahnya yang sangat nikmat berada dimulutnya. Amelia bahkan membayangkan bagaimana bibir itu memberinya kenikmatan. Kini dadanya mulai berdebar semakin cepat. Apakah benar pria yang sempurna ini suaminya?
"Boleh sekarang?" Tanya Ergan dengan suara parau.
Amelia mengangguk, kini dia sudah resmi menjadi istri Ergan. Tidak ada alasan lagi untuk menolak pria itu. Semua yang ada padanya kini menjadi milik Ergan.
"Aku akan membawamu terbang menikmati surga dunia." Bisik Ergan ditelinga Amelia membuat bulu kuduknya merinding.
Tanpa aba-aba Ergan menyerang bibir Amelia, menciumnya dengan lembut dan semakin dalam. Tanpa melepas pagutannya, kedua tangannya membuka kancing kebaya yang Amelia kenakan satu persatu, membuka semua pakaian yang menutupi tubuh Amelia kemudian melemparnya ke sembarang arah. Ergan tidak mau membuang waktu lagi.
Dengan kaku Amelia membalas Ergan.
Amelia melenguh tak tertahankan lagi. Rasanya begitu nikmat bagai terbang kelangit ketujuh.
Aku akan memulainya, kamu sudah siap?" Tanya Ergan dengan wajah yang sudah tidak bisa menahan hasrat lagi.
Amelia hanya mengangguk dan tersenyum. Ergan mencium kening Amelia kemudian memulai penyatuannya membawa Amelia menikmati indahnya surga dunia.
Amelia menggigit bibir bawahnya menahan suara aneh yang ingin keluar dari bibirnya.
"Bersuara lah sayang! jangan menahannya, aku ingin mendengar suaramu yang indah menyebut namaku." Pinta Ergan.
Tanpa mengingat rasa malunya, Amelia mulai mengeluarkan suara aneh dan kadang menyebutkan nama Ergan, dan itu yang membuat Ergan semakin bersemangat menggagahinya.
"Bagus sayang, terus sebut namaku."
__ADS_1
Buliran keringat yang keluar dari tubuh keduanya menjadi saksi mereka saling menikmati satu sama lain. Teriakan keduanya menggema saat pertarungan telah mencapai puncak. Ergan mengeluarkan bibitnya di dalam diri Amelia berharap akan tumbuh menjadi Ergan junior. Ia sudah tidak perduli jika Amelia hamil dalam waktu dekat. Jika Amelia dipecat pun nggak masalah baginya. Uang yang dia miliki tidak seberapa jika harus membayar kompensasi untuk Amelia.
"Kamu sangat nikmat sayang." Lirih Ergan kemudian berbaring di samping Amelia.
Keduanya diam saling berpelukan dalam beberapa menit untuk menetralkan detak jantungnya.
Mereka melakukannya entah sampai berapa jam, bahkan rasanya Ergan tidak ingin berhenti malam ini. Ia mengulangnya berkali-kali hingga Amelia lemas dan tulangnya terasa remuk.
Ergan menatap Amelia yang tidur terlelap, begitu damai dan sangat menenangkan, dirinya merasa bersalah karena tidak jujur. Tapi jika dia jujur Amelia tidak akan mungkin menikah dengannya. Ergan memindahkan bantal kepala Amelia, menjadikan satu tangannya sebagai bantal lalu memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku sayang..! aku tidak mau kehilanganmu hingga melakukan semua ini. Aku janji tidak akan ada yang menyakitimu dan selalu memberimu kebahagiaan." Gumam Ergan sambil mencium kening Amelia dengan lembut.
Ergan mengambil ponselnya diatas nakas lalu mengaktifkannya. Banyak sekali telpon dan pesan yang masuk terutama dari Rania.
"[Mas, kamu dimana sih, kenapa nggak angkat telponku? Aqilah mencarimu? jangan menghindar terus, ayo dong mas, kita mulai dari awal lagi.]" Isi salah satu dari pesan Rania diikuti gambar emoji marah karena beberapa pesan sebelumnya tidak pernah dibalas.
"[Ga, Kamu baik-baik aja kan? Kenapa ponselmu nggak aktif?]" Isi pesan Karisma.
Ergan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak menyangka dirinya bisa menghianati pernikahannya dengan Rania. Wanita yang dulu sangat dicintainya bahkan rela memberikan nyawa untuknya.
Ergan membalas satu persatu pesan yang masuk kemudian membalikkan ponselnya, ia lelah memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, bagaimana menghadapi kedua orang tuanya, Brian, Rania dan Aqilah. Kepergiannya dari rumah untuk menenangkan diri telah membuatnya melangkah lebih jauh. Kini ada wanita cantik dan baik disampingnya. Entah sampai kapan ia akan menutupi semua kebohongannya dari Amelia.
Ergan bangun menuju kamar mandi, ia membersihkan diri kemudian menatap wajahnya di depan cermin washtafel.
"Aku harap dengan menikah dengan Amelia hidupku akan lebih baik." Gumam Ergan, ia mengha napas berat kemudian keluar kamar mandi menuju tempat tidur. Merebahkan tubuhnya yang lelah disamping Amelia kemudian memperbaiki posisi tidurnya.
Ergan menarik tubuh Amelia masuk kedalam pelukannya, mengecup keningnya penuh kasih kemudian menutup mata.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....