
"Kamu tinggal disini?" Tanya Brian setelah mereka tiba di depan Mes.
"Iya, ini Mes kantor. Maaf tidak bisa ajak kamu masuk. Mesnya khusus pramugari."
"Iya nggak apa-apa, terimakasih Amel, sudah bersedia datang ke rumahku. Aku harap kamu nggak keberatan jika aku ajak kamu keluar lagi."
Amel tersenyum kemudian membuka seat beltnya.
"Sama-sama. Aku duluan ya? kamu hati-hati dijalan." Ujar Amelia kemudian turun dari mobil.
.........................
Amelia sedang duduk diatas tempat tidur. Ia melirik Karmen yang sedang memakai skin care diwajahnya.
"Kar, besok pagi Gw pulang ke Surabaya ya? gw kangen Mama." Ujar Amelia.
Karmen menghentikan aktivitasnya, meletakkan krim di meja rias kemudian berbalik melihat Amelia.
"Kok mendadak, sudah ajukan cuti belum?" Tanya Karmen.
"Nggak perlu ijin cuti?"
"Berapa lama?"
"Nggak lama, malamnya juga balik kok!"
"Oo, kirain mau lama-lama. Baiklah, titip salam buat Mama Lidya ya?"
"Sipp.." Amelia menaikkan satu jempolnya.
Keesokan harinya Amelia menuju bandara, kali ini dia terbang bukan sebagai pramugari tapi sebagai penumpang. Amelia duduk bersandar di kursi kelas ekonomi, menikmati perjalanan dengan jarak tempuh satu jam tiga puluh menit.
Pikirannya tertuju pada Ergan, apa benar pria itu akan menikahinya. Mengingat bagaimana Ergan mengabaikan dirinya saat dirumahnya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, bahkan menyapa Amelia juga tidak sama sekali.
Apa keputusannya sudah benar menikah dengan Ergan. Menikahi pria yang lebih tua empat tahun darinya, dan tidak mengenalnya sesikitpun. Tapi jika tidak menikah dengan Ergan, apa masih ada pria yang mau menerimanya yang sudah tidak suci lagi? Bagaimana jika dia hamil? tanpa ia sadari air matanya berlinang tak tertahankan. Rasanya begitu berat beban hidup yang dia alami.
Tak terasa pesawat mendarat dengan sempurna, Amelia menghela napas lega, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya mengisi rongga pernapasannya.
Setelah turun dari pesawat, Amelia menarik kopernya keluar dari bandara, memesan taksi online kemudian menuju rumah orang tuanya.
"Mama..." Teriak Amelia setelah turun dari taksi.
Lidya yang sedang menyiram bunga menoleh, ia menatap Amelia dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia tidak percaya jika Amelia akan datang hari ini.
"Meli.. anakku!" Seru Lidya, membuang selang air yang dipegangnya kemudian segera menyambut Amelia dalam pelukannya.
"Meli kangen Mah." Ujar Amelia dalam pelukan Mamanya.
"Mama jug kangen sayang." Balas Lidya kemudian melepas pelukannya, "Kenapa nggak bilang mau pulang? Mama kan bisa jemput di bandara." Lanjut Lidya.
"Surprise Mah."
__ADS_1
"Gimana pekerjaan kamu nak? kamu baik-baik aja kan? Kamu nggak ada masalah hingga tiba-tiba pulang kan?" Tanya Lidya sedikit khawatir dengan kedatangan Amelia yang tiba-tiba.
"Baik Mah, jangan khawatir."
"Alhamdulillah.." Ujar Lidya kemudian bernapas dengan lega, "Ayo masuk, kebetulan Mama sudah masak nasi dan rawon kesukaan kamu, kita makan yuk!" Semangat Lidya.
"Aku selalu rindu masakan Mama, tapi kok Mama masak nasi rawon?" Ujar Amelia kemudian merangkul pinggang ibunya masuk kedalam rumah.
"Beberapa hari ini Mama kepikiran kamu terus, jadi masak masakan kesukaan kamu biar obatin rasa rindu Mama, Eh, tau-taunya kamu tiba-tiba nongol. Alhamdulillah.. bisa makan bersama."
"Meli juga kengen Mah, karena itu Meli pulang."
"Kamu nggak bawa pakaian?" Tanya Lidya karena Amelia tidak membawa koper, hanya tas kecil di punggungnya.
"Untuk apa Mah, pakaianku disini banyak. Aku juga nggak lama, nanti malam harus balik Jakarta lagi. Penerbanganku besok subuh ke Singapore." Jelas Amelia dengan nada sedih.
"Ya... hanya sehari dong ketemu Mama?" Ujar Lidya dengan kecewa.
"Yang penting kan Amelia jenguk Mama." Ujar Amelia kemudian menarik kursi lalu duduk.
Amelia dan Lidya menikmati sarapan bersama, tidak lama kemudian bel berbunyi.
Ting.. tong.. ting.. tong...
"Siapa yang dateng pagi-pagi Mah?" Tanya Amelia.
"Mama juga nggak tau, tunggu sebentar ya Mama liat dulu." Ujar Lidya kemudian mendorong kursinya kebelakang untuk berdiri.
Amelia keluar membuka pintu rumah. Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang bertamu ke rumahnya.
"Kau." Tunjuk Amelia dengan mata melotot. Ia tidak percaya kenapa Ergan bisa tau rumah orang tuanya. Amelia tidak pernah memberi tahu alamat rumahnya di Surabaya pada siapapun termasuk Karmen.
Ergan menyunggingkan senyum tipis, sudah dia tebak bagaimana reaksi Amelia saat melihatnya nanti.
"Kejutan sayang...!" Sapa Ergan merentangkan tangannya untuk memeluk Amelia.
"Apaan sih kamu!" Amelia segera menepisnya kemudian bergeser dari hadapannya.
"Apa seperti ini caramu menyambut kedatangan calon suami?" Tanya Ergan dengan datar.
"Kok kamu bisa ada disini? tau dari mana kamu tahu rumah Mama? atau jangan-jangan kamu ngikutin aku ya?" Tanya Amelia ketus.
"Tanya-nya satu-satu dong cantik..! Tentunya saja untuk menemui calon istri dan mertuaku." Jawab Ergan.
"Untuk apa? mendingan kamu pulang deh, kami nggak terima tamu. Apalagi tamunya kayak kamu." Kesal Amelia.
"Apa kamu lupa kita akan menikah? Tentu saja untuk melamar kamu, sayang...!" Ergan kembali mengingatkan jika mereka akan segera menikah.
"Siapa yang datang Mel?" Tanya Lidya dari dalam dengan suara sedikit keras.
"Orang salah alamat Mah." Balas Amelia sedikit membesarkan suaranya.
__ADS_1
"Kok salah alamat? bilang calon suamiku Mah, gitu.. !" Ujar Ergan kemudian menerobos masuk tanpa ijin.
"Eh, siapa yang memberimu ijin masuk?" Ketus Amelia.
Ergan tidak perduli, ia terus masuk bahkan langkah kakinya sampai didepan meja makan. Amelia menyusulnya setelah menutup pintu, tapi langkahnya kalah cepat dengan Ergan. Ergan telah berdiri dihadapan Lidya.
"Assalamualaikum Tante..." Sapa Ergan.
"Waalaikum sa..lam." Balas Lidya berbalik menatap Ergan. Pria tampan dengan setelan jas datang pagi-pagi bertamu di rumahnya. Lidya bingung siapa laki-laki yang berdiri dihadapannya, sepertinya ia tidak pernah melihatnya sebelumnya.
"Kamu siapa?" Tanya Lidya bingung masih duduk dikursi.
"Maaf mengganggu sarapan Tante. Saya Ergan, pacar Amelia." Jawab Ergan mencium tangan Lidya, membuat Amelia yang berdiri dibelakangnya tercengang.
"Pacar?" Ulang Lidya bingung sambil melirik Amelia.
"Bukan Mah." Sergah Amelia sambil menarik tangan Ergan untuk segera pergi, namun Ergan menahannya hingga dia sendiri yang tertarik ke dalam pelukan Ergan.
"Lepas!" Kesal Amelia sambil memukul lengan Ergan.
"Ada apa dengan kalian? Yang bener yang mana? Mama jadi bingung."
"Kedatangan saya ke sini untuk bicara dengan Tante. Apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya Ergan penuh harap.
"Bicara dengan Tante? Masalah apa ya?" Tanya Lidya.
"Masalah hubungan kami, Tan." Jawab Ergan.
"Baiklah, Ayo duduk dulu, sekalian sarapan dengan kami. Meli duduk!" Jawab Lidya kemudian mempersilahkan Ergan untuk duduk di kursi meja makan untuk ikut sarapan, sedangkan Amelia dengan kesal melirik Ergan.
Amelia tidak pernah berpikir Ergan akan datang ke Surabaya menemui Mamanya secepat ini. Padahal ia berencana akan bicara dengan Lidya lebih dulu agar Mamanya tidak terkejut. Tapi rupanya Ergan tidak main-main dengan perkataannya untuk segera menikahinya. Terbukti karena pria itu sekarang berada di rumahnya.
"Makan dulu, nanti aja bicaranya." Ujar Lidya kemudian mulai mengambil makanan di piringnya.
"Iya Tante." Ujar Ergan kemudian melakukan hal yang sama begitupun dengan Amelia.
Betapa senangnya hati Ergan mendapatkan perlakuan baik dari calon mertuanya. Padahal awalnya ia juga gugup takut calon mertuanya galak dan menolaknya.
Setelah menikmati sarapan, Lidya beranjak ke ruang tamu dan mengajak Ergan untuk bicara disana, sementara Amelia membersihkan dapur dan mencuci piring.
"Nak Ergan dari Jakarta?" Tebak Lidya.
"Iya Tante."
"Teman kerja Meli ya?" Tanya Lidya setelah Ergan duduk dikursi.
.
.
Bersambung......
__ADS_1