Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Menjemput Istri


__ADS_3

"Waalaikumsalam..." Serentak mereka menjawab.


"Pak Ergan." Pras mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Ergan dan Tirta. Begitupun dengan Ibu Juminarti, "mari silahkan duduk," ujar Pras.


Ergan mengangguk kemudian duduk di kursi bersama Tirta.


"Maksud kedatangan saya kesini untuk menjemput istri dan anak saya." Singkat, jelas dan padat.


Tanpa basa-basi Ergan mengungkapkan niatnya. Ergan memang bukan orang yang suka berlama-lama dalam menyelesaikan masalah. Ia tahu jika Amelia pasti sudah mengatakannya pada mereka apa tujuannya datang kesana.


"Kamu sudah siap, sayang...!" tanya Ergan sambil menggenggam tangan Amelia.


Pras meliriknya, ada rasa tidak nyaman melihat kedekatan Amelia dan Ergan. Hatinya hancur tak bersisa, rasanya sangat perih hingga kejantung hatinya. Sungguh ia tidak sanggup menerima semua ini.


"Sebentar Mas, Azka masih bersama Yuli, Aku ambil Azka dulu ya?" Amelia beranjak menuju kelas yang letaknya melewati enam ruang kelas.


Setelah kepergian Amelia. Pras menatap Ergan begitupun dengan Ergan. Mereka saling tatap dengan tajam dan mengintimidasi satu sama lain.


"Khemm, Ibu buatkan minum untuk nak Ergan sebentar." Ibu Juminarti berdiri kemudian menuju pantri. Ia membuat teh panas untuk Ergan dan Tirta.


"Bos, aku tunggu di luar." Tirta ikut pergi, tidak mau berada ditengah-tengah pria yang mencintai Amelia.


Setelah Tirta pergi kini hanya mereka berdua diruangan itu. Ergan menghela napas kasar. Bagaimana bisa Pras mencintai wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.


"Pras, maaf sebelumnya karena pernikahan kalian harus batal. Dia masih istriku, sudah tiga tahun aku mencarinya kemana-mana, mulai dari dalam negeri sampai keluar negeri sudah aku lakukan, tapi anak buahku tidak menemukannya. Itu semua karena Tirta yang menutup akses untukku, ternyata dia sudah menemukan Amelia beberapa bulan setelah kepergiannya. Aku tidak mungkin melepasnya untuk orang lain karen aku sangat mencintainya. Aku tau jika kalian dekat, tapi aku yakin hati Amelia masih untukku." Ungkap Ergan.


Baru kali ini Ergan meminta maaf pada orang lain selain orang tuanya. Tapi melihat bagaimana Pras sangat baik pada Amelia dan Azka, ia rela merendahkan harga dirinya demi orang ya g ia cintai.


"Pak Ergan, aku hanya minta jangan menyakiti hati Amelia. Hari ini aku melepasnya bukan berarti aku tidak menginginkannya, aku mencintainya dan ingin melihatnya bahagia. Jika suatu saat aku mendengar ada menyakitinya lagi. Maka aku pastikan akan merebutnya kembali." Ancam Pras.


"Ck, kamu jangan khawatir, aku pastikan Amelia dan Azka bahagia bersamaku." Tegas Ergan.


"Ya, aku butuh bukti, bukan janji," tegas Pras.


"Anda lihat aja nanti," balas Ergan.


"..."

__ADS_1


"Oiya, sebagai ungkapan terimakasihku pada keluarga Anda. Maka saya ingin menjadi donatur tetap di pesantren ini. Bagaimana Pak Pras?"


"Tidak usah membalas kebaikan kami Pak. Lillahitaala.. kami ikhlas dan sangat senang Ameli dan Azka disini. Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Jadi anda tidak perlu membalasnya. Jika ingin menjadi donatur disini, Alhamdulillah... tapi lakukan karena Allah azza wa jalla, bukan karena utang budi." Jelas Pras.


"Baiklah, Pak Pras, aku tidak akan membalas budi pada kalian, tapi biarkan aku menjadi donatur tetap disini. Aku juga ingin mendapatkan pahala. Nanti Tirta yang akan mengurusnya. Berikan nomor ponsel Anda padanya," ungkap Ergan.


"Baiklah, terimakasih Pak Ergan," ungkap pras.


Tidak lama kemudian Amelia muncul bersama Azka dalam gendongannya. Ergan berdiri kemudian mengambil alih Azka. Ia mengelus pipinya kemudian menciumnya bertubi-tubi.


"Azka, ikut Daddy pulang ya? Papa udah beliin robot yang banyak dirumah," bujuk Ergan.


"Beneran Daddy? iya Azka mau main." Azka tersenyum manis kemudian mengangguk.


"Iya sayang," Ergan duduk kembali dikursi bersama Azka di pangkuannya.


Ibu Juminarti datang membawa teh dan cemilan diatas nakas. Ia mengaturnya diatas meja kemudian mempersilahkan Ergan menikmatinya.


"Lho nak Tirta mana?" tanya Ibu Juminarti.


"Diluar Bu. Biar Pras yang panggil." Pras beranjak kemudian keluar dari ruang tengah menghampiri Tirta.


Tirta masuk kedalam, duduk, kemudian minum teh bersama Ergan.


Mas, aku ke kamar sebentar ambil tas," ujar Amelia sambil berjalan masuk.


"Ambil berkas-berkas yang penting aja, keperluan kamu dan Azka sudah siap dirumah," ujar Ergan.


"Dad, mau teh." Azka ingin meraih gelas, namun Ergan segera menahan tangannya.


"Pakai sendok aja Azka." Pras mengambil sendok disamping gula pasir kemudian memberikan pada Ergan.


Ergan sangat bersyukur karena orang-orang disekitar anaknya sangat menyanginya. Seandainya saja ia terlambat sedikit, maka anaknya pasti sudah menjadi anak Pras. Untung dia mau mengadiri acara peresmian jembatan kembar itu, jika tidak maka ia akan kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya.


"Terimakasih." Satu kata keluar dari mulut Ergan membuat Tirta tersedak.


Purpfff...

__ADS_1


Teh yang diminum Tirta hampir saja menyembur keluar, jika dia tidak segera menutup mulutnya, maka cemilan dan teh diatas meja menjadi korbannya.


Tidak lama kemudian Amelia keluar memegang tas ditangannya.


Tirta segera berdiri kemudian mengambil alih tas milik istri bosnya.


"Sayang... kamu sudah siap?" tanya Ergan.


"Sudah." Amelia mengangguk.


Mereka kemudian berdiri kemudian keluar.


"Pak Ergan, bisa saya menggendong Azka? aku pasti akan merindukannya," melas Pras.


"Silahkan." Ergan menyerahkan Azka pada Pras kemudian berjalan lebih dulu menggandeng tangan Amelia keluar dari rumah.


Amelia merasa canggung dengan sikap Ergan, bisa-bisanya dia memamerkan kemesraan didepan Pras. Biar bagaimanapun Amelia tidak tega menyakiti hati Pras lagi. Baginya memutuskan pernikahan saja sudah membuat Pras terluka dan sakit hati. Untung Pras bukan tipe pria yang egois.


Pras selalu menggapi sesuatu dengan logika, selalu mengaitkan dengan syariat agama, dia sangat percaya akan takdir Tuhan yang terbaik. Manusia hanya berusah tapi Allah yang menentukan, sama dengan halnya dirinya, dia sudah berusaha untuk menjadikan Amelia istrinya namun Allah berkehendak lain, Amelia harus kembali pada suaminya.


Pras mengecup wajah Azka berkali-kali, tanpa terasa air mata keluar dari sudut matanya yang sendu. Hatinya bergemuruh, hancur, dan sakit, ia tidak ingin melepas kepergian Amelia dan Azka.


Ibu Juminarti menepuk pundak anaknya. Ia tahu bagaimana perasaan anaknya saat ini. Hancur dan kehilangan itu pasti.


"Ikhlaskan nak, mereka hanya titipan Allah yang harus kita jaga. Sekarang sudah waktunya mereka kembali ke keluarganya." Ibu Juminarti berusaha menenangkan sang putra. Air matanya ikut menetes saat membelai rambut Azkampenuh kasih sayang.


"Iya Bu, Ibu nggak usah khawatir, aku baik-baik aja." Lirih Pras sambil memeluk Azka.


Mereka sudah didekat mobil. Titra mebuka pintu mobil kemudian memasukkan tas Amelia, setelah itu baru membuka pintu kursi belakang untuk Ergan dan Amelia.


"Amel." Panggil Yuli dari arah dalam. Hampir saja ia terlambat dan tidak bertemu lagi dengan Amelia karena harus menyelesaikan jam mengajarnya.


Amelia berbalik, ia tidak jadi masuk kedalam mobil kemudian merentangkan tangannya memeluk Yuli.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2