
Meskipun Brian tampaknya baik-baik saja dari luar, tapi siapa yang tahu jika hatinya sangat sakit melihat Amelia kembali bersama Ergan. Bagaimana bisa dia melalui hari-harinya jika sering melihat kedekatan Amelia dan Ergan. Ia berusaha menghibur dirinya dengan candaan agar semuanya tertutup dengan rapat, cukup dia sendiri yang tahu bagaimana luka yang sudah menganga itu sembuh atau tidak.
Setelah makan malam selesai, Amelia menuju toilet, diam-diam Rania mengikutinya dari belakang.
"Hai.. Amel.. lama tak jumpa, rupanya setelah sekian lama menghilang kamu jauh lebih norak!" Rania menarik hijab Rania dengan kasar hingga terlepas. Rania tidak dapat lagi menahan amarahnya melihat kedekatan Aqilah dan Amelia didalam pesta.
Amelia yang baru saja mencuci tangannya terkejut, kedatangan Rania membuatnya tersentak.
"Kenapa kamu tidak mau menyapa istri pertama Ergan yang berhasil kau singkirkan? ah, tepatnya mantan istrinya." Rania mencibir menatap sinis wajah Amelia tanpa hijab.
"Rania, berikan hijabnya!" Sentak Amelia, ia lebih fokus pada hijab yang dirampas paksa Rania dari pada mendengar ucapannya.
Rania menyembunyikan hijab dibelakangnya, ia belum puas mengerjai Amelia.
"Dengar Mel, sampai kapanpun aku nggak akan biarkan kamu mendekati anakku. Jika hari ini kamu merasa menang, itu tidak akan bertahan lama, karena apa, hah? karena aku akan menjauhkan anakku dari wanita pelakor sepertimu," ancam Rania membuat Amelia tercengang.
Rania melempar hijab Amelia di washtafel kemudian pergi meninggalkan Amelia. Cepat-cepat Amelia mengambilnya, rupanya sebagian dari hijabnya basah kena air. Ia tidak mungkin keluar tanpa memakai hijab. Akhirnya ia mengeringkan hijabnya terlebih dahulu dengan hand dryer.
Rania menghampiri Karisma yang sedang duduk sendiri. Brian baru saja pergi bersama temannya, sedangkan Ergan menghilang entah kemana. Rania menarik kursi kemudian duduk di depan Karisma.
"Pestanya sangat ramai ya?" puji Karisma melihat banyaknya tamu yang datang mengucapkan selamat ulang tahun untuk cucunya.
"Mah, Apa Mama sudah berubah pikiran? hanya karena Amelia memiliki anak, Mama sekarang luluh menerimanya menjadi ibu tiri Aqilah?" tanya Rania dengan kesal.
"Rania! jaga bicaramu, tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu ke Mama, kamu seperti wanita yang tidak berpendidikan," hardik Karisma, matanya melotot tajam tapi tidak membuat nyali Rania menciut.
"Memang benar kan Mah? Rania nggak nyangka Mama setega itu sama Rania. Sampai kapanpun Aqilah hanya anak Rania dan Ergan, bukan anak wanita udik itu." Geram Rania.
"Rania! sepertinya kamu tidak mengenal Mama dengan baik. Jangan pikir Mama akan diam melihat sikapnu seperti ini!Kamu sama sekali tidak menghormati Mama lagi. Ternyata lulusan dari luar negeri tidak menjamin seseorang memiliki attitude yang tinggi. Mama begitu menghormati orang tuamu dan menganggapmu sebagai putri Mama sendiri. Meskioun kamu sudah bercerai dengan Ergan, kasih sayang Mama masih tetap sama. Tapi semua itu ternyata membuatmu ngelunjak!" Karisma menarik napas dalam-dalam, dadanya kempas-kempis menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Rania nggak mau saja Mama bersikap baik dengan Amel," tegas Rania.
"Ergan anak Mama! sekarang Amelia menantu Mama, mereka menghormati Mama dan menyayangi Mama, menurutmu Mama harus bersikap seperti apa lagi?" bentak Karisma membuat orang-orang yang duduk di meja lain menoleh kearah mereka.
__ADS_1
Andreas yang tidak jauh berdiri dari mereka berbalik saat mendengar suara istrinya muali meninggi.
"Sayang.., Rania ada apa ini?" tanya Andreas sambil mengelus pundak istrinya.
"Ah, tidak apa-apa Pah, kami hanya mengobrol saja. Rupanya mantan menantu Papa ini nggak terima jika kasih sayang kita Aqilah terbagi dengan menantu baru. Bukan salah kita juga lan jika menyayangi Amelia? itu kan alibat ulahnya sendiri yang tidak becus menjaga suami dan anaknya." sindir Karisma masih menyimpan rasa kesal dihatinya.
"Rania, mulai sekarang bersikaplah lebih dewasa dan bijak menghadapi masalah. Jangan selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padamu," nasihat Andreas.
Rania hanya menunduk tidak berani membantah, begitu Andreas berdiri meninggalkan mereka, Rania menyunggingkan sudut bibirnya. Sikap keras kepalanya tidak bisa mengubah apapun. Mungkin dia butuh shock terapi agar otaknya bergeser menjadi normal.
................
Setelah setengah jam Amelia baru keluar. Ergan sudah berdiri di depan toilet wanita. Karena khawatir dengan Amelia yang sudah dari tadi belum kembali, ia memutuskan memyusul ke toilet.
"Kenapa kamu lama?" tanya Ergan.
"I..itu, tadi hijabku kena air, jadi aku harus mengeringkannya," jawab Amelia sedikit gugup.
Tidak masuk akal!
"Tidak apa-apa Mas, ayo! kita cari Azka." Tidak mau Ergan mencurigainya, Amelia segera menarik tangannya pergi. Amelia sangat malu karena Ergan didepan toilet wanita, sedangkan Ergan santai saja meskipun para wanita menatap aneh padanya.
Dengan sejuta pesona ia berjalan mengikuti kemana Amelia membawanya pergi. Dalam hati Ergan berkata, 'bawalah aku kemanapun engkau pergi'.
"Cie... yang udah balikan... sudah seperti perangko aja nggak mau lepas," ejek Tirta yang baru saja datang entah dari mana.
"Kenapa lo baru nongol? acara sudah selesai, lo sengaja datang mau cuci piring?" balas Ergan mengejek.
"Ah, lo gimana sih, kan sudah gw bilang kalau gw harus selesaikan sebagian kerjaan dulu. Untung sudah kelar, kalau nggak, mana mungkin gw ada disini." Tirta membela dirinya, baru sajania ingin mengejek Ergan, Andreas sudah mengajaknya untuk makan.
"Tir, jangan hiraukan Ergan, ayo kita makan," ajaknya kemudian berjalan menuju meja makan di ikuti Tirta.
Tirta menjulurkan lidahnya mengejek Ergan, merasa menang karena Andreas menyelamatkannya.
__ADS_1
Ergan melotot kesal dengan manik tajam.
"Ayo Mas, ambil Azka disana, dia juga harus makan bersama Aqilah," ujar Amelia.
Ergan mengangguk kemudian menghampiri kedua buah hatinya dan mengajaknya untuk makan.
Di meja makan, Amelia mengambilkan makanan untuk Aqilah, saat Aqilah mulai makan, ia menyuapi Azka bubur khusus yang Ergan pesan.
Rania ikut bergabung membuat Ergan kesal. Bagaiman tidak jika mereka yang tadinya duduk berempat jadi berlima dengan Rania.
"Aqilah sayang... mau nggak Aqilah nginap bersama Mama, Mama kangen banget dengan putri salju Mama." Rania mengelus dagu Aqilah dengan lembut mencoba untuk menarik hati anaknya kembali.
"Apa boleh Dad?" Tanya Aqilah.
"Terserah Aqilah saja, tapi ingat! besok tetap harus sekolah," jawab Ergan. Dari lubuk hati yang paling dalam ia tidak mau memisahkan Aqilah dengan Rania meskipun mereka sudah resmi bercerai. Ia tahu jika ikatan anak dan orang tua tidak akan pernah terpisahkan. Ia tidak mau Aqilah menjadi anak yang broken home karena perceraian kedua orang tuanya. Makanya ia selalu memberi ruang untuk Rania bertemu dengan Aqilah kapanpun dia inginkan. Sejahat-jahatnya Rania selalu meninggalkan Aqilah saat dibutuhkan, tapi Ergan tidak pernah berniat memisahkan mereka.
"Thank you Dad, kata Daddy boleh Mom," Aqilah tersenyum kemudian melanjutkan makannya.
"Dede Azka boleh ikut nggak, Dad?" Pertanyaan Aqilah membuat semua seketika diam. Mana mungki Rania bisa menjaga anak sekecil itu, anaknya saja bukan dia yang urus apalagi ini anak wanita yang sangat dibencinya.
"Dede Azka nggak bisa jauh-jauh dari Tante cantik sayang. Aqilah aja ya?" bujuk Amelia membuat Aqilah seketika mengangguk.
Rania bernapas lega, hampir saja rencananya gagal jika azka benar-benar ikut. Rania mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Matanya tajam menatap Azka penuh arti.
Azka juga menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, datar dan dingin sambil mengunyah makannya.
"Ih.. dasar bocah tengik! kenapa tatapannya lama kelamaan seperti Ergan jika sedang aku bohongin, begitu tajam penuh intimidasi!" batin Rania. Ia akui memang Azka begitu mirip dengan Ergan. Bahkan sifatnya pun hampir sama jika dibandingkan dengan seksama.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1