Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Mulai Terbang


__ADS_3

Pesawat mulai terbang dan para penumpang mulai bersuara setelah beberapa menit hening untuk mendengar dan melihat instruksi awak kabin.


Ergan terkekeh mengingat bagaimana dirinya mengelabui Tirta yang enggan membiarkan dirinya pergi sendiri. Tujuan utama sebenarnya adalah untuk bertemu dengan Amelia karena Ergan sangat penasaran dengan gadis yang secara tidak sengaja membuat hatinya dan pikirannya kacau.


Ergan menyeringai, kali ini dewi fortuna sedang berpihak padanya. Niatnya naik pesawat untuk mencari informasi tentang Amelia pada pramugari lain, tapi ternyata Amelia sudah berdiri tepat dihadapannya.


Sungguh! Otak licik Ergan mulai jalan!


"Permisi." Amelia meletakkan satu nasi box dan satu botol air minum di hadapan Ergan. Dengan senyum ramah dan lesung pipi yang membuat Ergan semakin terpesona.


"Aku ingin kopi. Tidak pahit dan tidak terlalu manis." Perkataan Ergan lebih pada perintah bukan permintaan.


Amelia mengernyitkan keningnya dan berhenti bergerak, mengamati wajah Ergan dihadapannya yang seperti tidak asing baginya.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Sebagai pramugari yang biasa melayani penumpang dengan baik, Amelia tidak protes meskipun Ergan memerintahnya.


Beberapa menit kemudian, Amelia datang membawa satu cup kopi sesuai dengan permintaan Ergan.


"Silahkan Tuan."


Amelia meletakkan kopi diatas meja kecil depan Ergan


"Bawa kembali makanan itu, aku mau sandwich."


Suara Ergan kembali mengingatkan Amelia pada seseorang yang tidak asing baginya. Tidak mau terlalu lama berpikir, akhirnya Amelia membuka mulutnya.


"Maaf Tuan, kami tidak menyediakan sandwich di pesawat ini." Tolak Amelia sedikit menunduk. ia tidak tahu harus berkata apa karena memang tidak ada menu sandwich untuk hari ini.


"Jadi seperti ini pelayanan maskapai kalian pada penumpang? Aku naik kelas bisnis tentu saja untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik dari kelas ekonomi. Untuk apa bayar mahal-mahal jika pelayanannya sama? " Bentak Ergan dengan nada sedikit meninggi, membuat tiga penumpang yang lainnya menoleh kearahnya.


Dasar Ergan seenaknya saja menyuruh pramugari, emang dia pikir pesawat itu jet pribadi miliknya? Semua perintahnya harus dituruti?


Ergan membuka kacamata hitamnya, menampakkan wajahnya yang tampan dan mempesona. Hidungnya yang mancung dengan rahang kokoh ditumbuhi bulu halus didagu membuatnya semakin digilai kaum hawa. Sekilas ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, ia benar-benar menikmati detik-detik keterkejutan Amelia.


Amelia tertegun tidak percaya. Baru saja semalam dia berdoa agar tidak bertemu dengan Ergan lagi. Tapi sekarang pria itu malah duduk dihadapannya dengan gaya coolnya.


"Kenapa Tuhan secepat ini mempertemukan kami kembali? Ah.. Mungkin aku kurang khusuk saat berdoa." Batin Amelia.


"Ka.. kamu.." Tunjuk Amelia dengan gugup.


Amelia berbalik ingin pergi, namun tangan Ergan segera meraih tangannya.


"Jangan kurang ajar Tuan!" Amelia menarik tangannya tapi tangan Ergan lebih kuat menahannya.


"Buatkan aku sandwich, aku ngak biasa sarapan dengan nasi." Pinta Ergan kembali.

__ADS_1


Amelia berpikir sejenak lalu tersenyum tipis. Kali ini ia akan mengerjai Ergan.


"Baiklah, tunggu sebentar." Ujar Amelia dengan ketus.


"Mbak, tolong minumnya satu lagi dong?" Pinta salah satu penumpang laki-laki yang duduk di belakang Ergan lalu mengedipkan sebelah matanya.


Amelia tersenyum manis. "Baik Tuan, tunggu sebentar." Ujar Amelia kemudian segera keluar dari ruang kelas bisnis.


'Giliran penumpang yang lain dia tersenyum manis, sementara ke aku dia begitu ketus! awas saja, aku akan perlihatkan pada mereka siapa aku bagimu.' Batin Ergan.


Saat Amelia membuka bekal untuk sarapannya, ia dikejutkan dengan kehadiran Karmen, "Kamu lagi ngapain?" Tanya Karmen.


"Panasin bekal." Jawab Amelia sambil memasukkan dua sandwich didalam oven.


"Tumben, biasanya juga langsung dimakan."


Karmen kembali bersuara. Baru kali ini Amelia memanaskan sandwich di pesawat. Amelia memang sering membawa bekal dari rumah jika tidak sempat sarapan. Karena takut telat, ia membawa bekalnya dan akan sarapan saat pesawat terbang.


Setelah hangat, ia menata diatas piring dengan sangat menarik, tidak lupa memasukkan sambal lebih banyak. Tentu saja ini dia lakukan sebagai service kru pesawat, bukan untuk menyenangkan hati Ergan.


Ingat! Bukan untuk menyenangkan hati Ergan.


"Eh, tunggu! Jangan bilang kamu akan memberi ini untuk penumpang." Tanya Karmen penasaran, untuk apa sandwich milik Amelia ditata diatas piring.


"Emang iya."


Karmen mengingatkan. Mungkin sahabatnya yang satu ini sudah tidak waras karena mengubah menu dalam pesawat.


"Kamu pikir aku juga mau membagi makanan ku dengan penumpang lain? aku juga lapar, tapi Ini aku lakukan karena..." Amelia berhenti bicara, tidak mungkin dia mengatakan jika sedang mengerjai penumpang yang bernama Ergan.


Eh, namanya Ergan kan? kan semalam sempat kenalan, ya meskipun Amelia tidak membalasnya tapi telinganya masih tajam mendengar nama 'Ergan'.


"Karena apa?" Tanya Karmen penasaran.


"..."


"Jangan sembunyikan sesuatu Mel!" Kesal Karmen.


"Oke, karena ada penumpang gila yang minta dibuatin sandwich sebagai sarapannya. Untung aku bawa bekal sandwich, kalau nggak! Dia bisa ngamuk didepan penumpang yang lain." Kesal Amelia.


Karmen mengernyitkan keningnya, tidak biasanya ada penumpang yang minta menu duluar menu yang disediakan. "Masa sih, ada penumpang seperti itu?"


"Idiihh... nggak percaya, coba aja bawa makanan ini kesana." Amelia menyodorkan piring sandwich ke arah Karmen.


Karmen termenung, ia sama sekali tidak percaya dengan omongan Amelia.


"Malah bengong, cepetan bawa. Yang duduk di kursi 1B." Ujar Amelia melirik kearah pintu kelas bisnis. 'Yes! Untung ada Karmen yang membantuku, kali ini aku bisa bernapas dengan lega. Enak aja suruh buat sandwich! makan tuh bekal aku. Emang ini pesawat nenek moyangmu? Bambang sadar! Ini pesawat, bukan restoran.' Gerutu Amelia dalam hati.

__ADS_1


Karmen berjalan mendekati kursi 1B, meletakkan piring yang berisi dua sandwich diatas meja yang sudah ada kopinya disana.


'Bener juga, sarapan penumpang yang satu ini berbeda dengan yang lain. Kopi dan sandwich.' Batin Karmen. "Silahkan Tuan!" Ujar Karmen setelah meletakkan makanan dengan sempurna.


Ergan mengangkat wajahnya, memperhatikan wanita cantik di hadapannya. Sangat berbeda dengan yang dia inginkan. Meskipun semua pramugari di dalam pesawat itu sangat cantik dan menarik, tapi hanya ada satu pramugari yang dapat menarik perhatiannya.


Amelia.


Ergan mengernyitkan keningnya, menoleh ke samping dan belakang mencari keberadaan Amelia. Tapi dia sama sekali tidak menemukannya.


"Kenapa kamu yang antar? Temen kamu mana?" Tanya Ergan.


"Maaf, maksud Anda siapa?"


"Amelia." Singkat Ergan dengan wajah datarnya.


Entah mengapa aura yang dikeluarkan Ergan begitu dingin dihadapan Karmen. Padahal awalnya Karmen sangat terpesona dengan ketampanan Ergan.


"Tuan tau nama temen saya?"


"Tentu saja, tuh." Ergan menunjuk papan nama Karmen dengan dagu, sontak membuat Karmen segera menutup dadanya dengan nampan yang ia pegang.


"Oo.. Amel masih siapkan makanan untuk penumpang yang lain." Jawab Karmen berbohong.


"Baiklah, kali ini aku maafkan."


'Siapa yang minta maaf? perasaan aku nggak ngomong apa-apa deh!' Batin Karmen.


"Aku minta satu lagi air mineral. Suruh Amel yang antar, aku nggak mau dilayani dengan yang lainnya. Jika dia tidak mau, maka kalian berdua akan menanggung akibatnya." Perintah Ergan diiring dengan ancaman.


"Baik Tuan, permisi."


Karmen segera pamit, bicara dengan Ergan yang arogan akan menguras tenaga dan emosinya.


"Gila ya Mel, penumpang yang satu itu, rese banget jadi orang. Mentang-mentang ganteng dan kaya main nyuruh orang seenaknya. Emangnya kita ini pelayan dia apa?" Sungut Karmen sambil meletakkan nampan diatas nakas.


"Hehehe, tuh kan, apa yang aku bilang, bikin naik darah tinggi kan tuh orang?" Amelia terkekeh mengejek Karmen yang sudah mengerucutkan bibirnya seperti ikan lele.


"Mel, gw menyerah dengan penumpang yang satu itu. Tampan sih iya, melebihi aktor bollywood, tapi auranya itu lho, menyeramkan!" Kesal Karmen bergidik ngeri kemudian menambah satu botol air mineral lagi diatas nampan Amelia.


"Apa lagi ini?" Tanya Amelia.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2