
"Nih bocah ketawain lagi, gue culik baru nya' ho' lo!" lirih Tirta.
Tentur saja Tirta tidak berani mengatakan itu di depan Ergan. Ia mengatakannya setelah menutup pintu mobil menuju pintu kemudi.
Tirta menginjak gas menuju rumah Ergan yan berada di depan mes Amelia.
Didalam mobil Azka kembali ceria. Azka terus melihat kearah jendela memperhatikan gedung-gedung yang tinggi, dan tempat hiburan anak-anak yang mereka lewati.
Tidak lama kemudian mereka tiba dirumah, Ergan mengambil memegang Azka turun dari mobil karena Azka tidak mau digendong. Melihat halaman yang sangat luas dan rumah besar membuat Azka semakin girang.
"Daddy, Azka mau main bola disini ya?" Aska mengungkapkan keinginannya.
Ergan mengusap puncak kepala Azka hingga rambutnya berantakan. "Ia sayang, tapi kita mainnya di taman belakang aja, semua sudah Daddy siapkan disana, gimana?" tanya Ergan.
"Oke Daddy." Azka menaikkan satu jempolnya, kemudian masuk kedalam rumah berpegangan tangan pada Ergan.
"Mommy ini rumah siapa?" Azka menoleh kebelakang melihat Amelia yang melangkah dengan pelan.
"Rumah kita sayang... rumah Daddy, Mommy dan juga Azka." Ergan menjawa setwlah Amelia meliriknya.
"Mas, Apa Karmen masih sering ke mes?" tanya Amelia. Sebelum mobil masuk kedalam rumah tadi, ia melirik mes di depan rumahnya. Sepertinya sangat sunyi karena waktu masih sore.
"Mana aku tau sayang... aku nggak ada waktu memperhatikannya. Kecuali dulu, saat kamu tinggal didepan. Hampir tiap malam aku menunggumu pulang kerja dan duduk di balkon hingga aku kena tipuk kaleng. Ah, suatu kenangan yang mengesankan," jawab Ergan, memorinya berputar mengingat saat-saat dirinya melihat Amelia pertama kali dengan balutan piama tipis memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Jadi, dulu kamu sering ngintipin aku?" Amelia memukul lengan Ergan, bukannya marah Ergan malah terkekeh mengingat keisengannya.
"Hehehe.." Ergan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, secara tidak sadar ia telah membocorkan rahasianya sendiri.
Tirta yang masih berdiri dibelakangnya mendengus kesal dan melongo, satu rahasia lagi terungkap, dulu Ergan sering melarangnya menggoda pramugari di depan rumahnya, ternyata dia sendiri yang sembunyi-sembunyi mengagumi Amelia.
"Dasar Bos nggak ada akhlak!" Batin Tirta.
"Azka main sama Uncle yuk!" Kita ke taman belakang, ada banyak mainan disana," bujuk Tirta. Tirta jengah, merasa sudah cukup mendengar drama yang dibuat Ergan hari ini.
Sebelum mereka berangkat menjemput Amelia di Pesantren, Ergan memesan banyak mainan ke rumahnya. Tirta sampai kewalahan karena harus menyuruh anak buahnya menyelesaikan semuanya dalam waktu setengah jam. Bisa bayangkan sendiri, jika Ergan menyuruh mereka memasang ayunan, perosotan, rumah-rumahan tempat mandi bola, dan masih banyak lagi hingga taman belakang disulap menjadi taman bermain.
"Oke Uncle." Azka melepaskan tangan Ergan kemudian pergi bersama Tirta menuju taman belakang.
"Kamu mau istirahat?" tanya Ergan.
__ADS_1
"Nggak, aku mau mandi."
"Ya sudah, ayo kita kekamar." Ergan meletakkan tangannya diatas pundak Amelia, merangkul tubuh Amelia yang hampir sama tinggi dengannya.
Mereka pun menuju kamar melewati tangga, Amelia mengedarkan pandangannya saat masuk kedalam, melihat kamar Ergan yang sangat besar dan elegan. Tempat tidur king size serta perabot yang mewah, tampak jendela besar yang langsung melihat kearah taman bermain. Amelia melihat Azka dari atas, ia tersenyum melihat Azka tidak berhenti berlari dari mainan yang satu ke yang lainnya.
"Itu kamu buat?" tanya Amelia.
"Bukan sayang, Tirta ya g melakukannya, aku hanya memerintah saja." Sergah Ergan, membuat Amelia mendelik kesal.
"Sama aja."
Ergan menghampiri Amelia, memeluknya perutnya yang ramping dari belakang, dagunya bertopang pada pundak Amelia. Mereka sama-sama menatap Azka dari atas.
Tirta yang tidak sengaja melihat Erga dan Amelia dari tempat permainan semakin kesal. Sepertinya Ergan sengaja memperlihatkan kemesraan mereka.
"Brengsek!" maki Tirta, ia mengajak Azka masuk kedalam rumah kecil berwarna merah dan orange, mereka mandi bola dan saling melempar bola didalam.
Suara tawa Azka dan Tirta menggema ditaman belakang. Seorang ART yang usianya sudah mencapai empat puluh lima tahun ikut tersenyum. Ia baru bekerja kemarin karena Ergan tidak ingin Amelia lelah mengurus Azka, dirinya dan rumah. Jika ada ART, Amelia bisa fokus pada dirinya dan Azka saja.
Bibi Mina membawakan cemilan dan minuman untuk Azka dan Tirta.
"Tuan, camilannya untuk Tuan muda," panggil Mina sambil meletakkan nampan diatas meja taman.
"Enak Uncle.m," puji Azka menaikkan satu jempolnya.
"Kalau enak, Azka makan yang banyak, biar cepat gede seperti Uncle," ujar Tirta sambik menyuapi.
"Nasib.. nasib... begini amat ya nasib gw! sudah jadi asisten, jadi baby sitter juga," batin Tirta.
"Pak Tirta, biar Bibi yang suapin Tuan muda..." tawar Mina.
"Namanya Azka Bi, nggak apa-apa aku lagi nggak ada kerjaan, jadi mau temenin Azka aja," ujar Tirta, padahal kerjaannya dikantor sudah menumpuk karena seharian menemani Ergan.
"Baiklah, Bibi masuk lagi, Azka.. bibi masuk ya?" pamit Bibi Mina kemudian masuk kedalam rumah.
Setelah Azka makan, Tirta kembali bermain hingga malam mulai gelap. Tirta membawanya masuk dan mengantarnya ke kamar Ergan.
Tok.. tok.. tok...
__ADS_1
Tirta mengetuk pintu, sesaat kemudian Ergan membuka pintu kamar. Ia tersenyum pada Azka, menunduk dan mensejajarkan tubuhnya dengan Azka .
"Mmm... anak Daddy bau acem.." Ergan mencium Azka dengan lembut.
"Bos, gw pamit pulang ya, pekerjaan hari gw email. Oiya sebentar malam Nyonya besar adakan pesta ulang tahun Aqilah di Hotel De Max. Nyonya besar berpesan untuk membawa Nyonya Amelia dan Azka." ujar Tirta pamit.
"Oke, saya akan kesana, kamu juga ikut," pinta Ergan.
"Tapi saya harus selesaikan pekerjaan hari ini," tolak Tirta
"Selesaikan saja setelah pulang dari pesta,"
"Baiklah, aku akan menyusul Tirta pasrah, percuma saja dia berdebat dengan Ergan karena pada akhirnya dia juga kalah.
Setelah Tirta pergi Ergan membawa Azka masuk kedalam kamar. Azka langsung memeluk Amelia begitu melihatnya duduk disisi jendela.
"Azka mau mandi, Daddy bilang Azka bau acem," ujar Azka.
"Iya bener, anak Mommy bau acem! yuk, kita mandi." Amelia berjalan memegang tangan Azka ke dalam kamar mandi.
Azka tercengang melihat kamar mandi yang luas, ada shower, bathtub, dan tempat buang air terpisah "Mom, ini kamar mandinya? besar banget, kalah kamar mandi Nenek Ibu," puji Azka. Nenek Ibu adalah nama panggilan Azka pada Ibu Juminarti. Karena Amelia memanggilnya Ibu, dia ikutan menambahkan kata Ibu dibelakangnya.
"Iya sayang, Ayo buka bajunya." Dengan lembit Ammembuka seluruh pakaian Azka.
"Mom, ada kolam berenang," teriak Azka melihat ada aur hangat didalam bathtub.
"Itu air hangat untuk Papa Mandi."
"Azka mandi situ aja." Azka langsung masuk membuat Amelia kewalahan menanganinya karena Azka memukul air sampai membasahi baju Amelia.
"Azka jangan begitu nak, Mommy jadi basah."
"Seru banget! Azka mau mandi disini terus." Semangat Azka merasa mendapatkan mainan baru.
Setelah setengah jam di kamar mandi, Azka baru mau berhenti dan keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya.
"Bersiaplah, kita akan pergi malam ini. Semua baju kalian sudah Daddy siapkan diatas tempat tidur," ujar Ergan.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....