Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Menerima Keluarga Kecil


__ADS_3

"Amelia dan cucu Mama, Papa." Jawab Ergan.


Membuat mereka terkejut, sesaat kemudian tersenyum bahagia.


"Kalian sudah punya anak?" Tanya Karisma dengan mata membulat saking terkejutnya.


Ergan mengangguk.


"Cucu Papa laki-laki atau perempuan?" Tanya Andreas antusias.


"Biar nanti jadi kejutan Pah, Mah. Kalian pasti akan senang melihatnya. "Ujar Ergan.


Bugh!


Karisma memukul pundak Ergan .


"Ayo katakan! Bikin kami penasaran aja." Kesal Karisma.


"Besok aja Mah, sekali lagi makasih ya Mah, Pah, sudah menerima keluarga kecil kami. Oiya, Ergan titip Aqilah lagi ya? soalnya besok mau jemput Amelia. Doain semoga Amelia mau pulang bersama Ergan. Ergan Pamit." Ujar Ergan.


"Iya nak, doa kami selalu menyertaimu." Balas Karisma.


"Eh, ngomong-ngomong kamu temuin Amelia dimana?" Ta ya Karisma.


"Di Desa Teratai, saat menghadiri peresmian jembatan disana. Ternyata selama ini dia tinggal di pesantren Darussalam Al-kharan, dan dia bekerja di kenmbun teh milik


Ergan berdiri kemudian menuju meja makan. Disan masuh ada Brian dan Aqilah yang bermain. Mereka sudah selesai makan, tapi tetap duduk bermain dan tertawa karena sikap Brian yang suka jahil.


"Brian, Kakak mau ngomong."


"Sekarang?"


"Tahun depan! ya sekarang lah..?"Kesal Ergan kemudian meuju ruang tamu.


"Aqilah sayang..! mutiara hatinya Om Brian yang gantengnya nggak ketulungan...! Main sama Oma, Opa di taman ya? Om mau bicara dengan Papa dulu."


Ergan yang mendengar Brian memutar bolanya malas. Tingkat kepercayaan diri Brian semakin meningkat semenjak menjadi pimpinan di perusahaan Andreas. Bisa dibilang terlalu berlebihan jika memuji diri sendiri. Tapi sangat berbeda di luar, dia menutup diri untuk semua wanita yang berusaha mendekati dirinya.


"Oke, Uncle." Aqilah menaikkan jempolnya tanda setuju.


"Nah gitu dong, panggilan Uncle kayaknya lebih menyenangkan." Brian mencubit pipi Aqilah dengan gemas kemudian menyusul Ergan duduk di ruang tamu, sedangkan Aqilah menuju taman belakang diantar oleh Bibi.


"Ada cucu Opa." Andreas merentangkan tangannya kemudian mengangkat Aqilah duduk dipangkuannya.


"Qila sudah gede Opa, sudah berat. Kalau dipangku terus nanti tulang-tulang Opa patah." Ujar Aqilah.


"Hahahaha.. cucu Oma kalau ngomongsuka bener." Tawa Karisma pecah mengejek Andreas hingga air mata keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


"Terus saja ketawain Papa. Asal Mama bahagia, Papa rela." Gumam Andreas sambil memeluk Aqilah yang duduk dipangkuannya.


Di ruang tamu, Ergan dan Brian duduk berhadapan, mereka memang sudah berdamai semenjak Brian lulus kuliah. Waktu itu semua anggota keluarga ke Singapore untuk menghadiri acara kelulusan Brian. Biar bagaimanapun mereka tetap saudara. Brian mengalah dam mulai berdamai dengan keadaan. Jika Amelia dan Mikhayla bukan jodonya, berarti Tuhan menyiapkan jodoh yang lain dan lebih baik untuknya.


"Ck, Kak, kita ini mau bicara atau tatap-tatapan sih?! Gerutu Brian sambil menepuk kedua lututnya. Sudah sepuluh menit ia menunggu Ergan untuk bicara, namun mulutnya tetap terkunci rapat.


Ergan menatap Brian dengan mata sendu. Mulutnya membeku, lidahnya keluh, tenggorokannya tercekat, otaknya berputar seperti halilintar. Ergan tidak mau melukai perasaan Brian, tapi dia juga harus bersama istri dan anaknya.


"Kakak nggak tau harus memulai dari mana, Yan."


"Maksudnya?"


Ergan memperbaiki posisi duduknya. "Yan, Dari lubuk hati yang paling dalam Kakak minta maaf sebelumnya."


"Maaf apa?"


"Kakak tidak bermaksud menyakiti dan melukai perasaanmu."


"Duh.. Kakak ini ngomong apa sih? nggak jelas gitu. Intinya aja deh!" Brian semakin kesal.


"Sebenarnya Kakak sudah menemukan Amelia. Jika kamu tidak keberatan, rencananya besok Kakak akan menjemputnya." Ergan menatap lekat Brian.


"Kenapa Kakak meminta ijin ke aku? dulu Kakak menikah nggak bilang-bilang kenapa sekarang bertanya padaku? Terserah Kakak mau melakukan apa. Aku juga sudah nggak punya perasaan padanya. Jemput Kakak ipar dan mulailah hidup bahagia."


"Kamu nggak marah jika Kakak bersama Amelia?"


"Baguslah kalau begitu, Kakak harap kamu melupakan Amelia dan mencari wanita lain."


Brian membeku, hatinya sakit, perih dan hancur. Meskipun ia sudah berusaha melupakan tapi tetap saja rasa cinta itu tersimpan dari lubuk hati yang paling dalam. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menyembunyikan perasaannya. Ia tak tahu harus senang atau menangis karena saking kebasnya luka dihatinya. Brian rapuh, terluka dan sesak. Rasanya pasokan oksigen diruangan itu hampir habis. Lebih baik ia keluar mencari angin segar dari pada duduk berhadapan dengan Ergan dan mendengar cerita tentang Amelia.


"Iya Kak." Jawab Brian.


Brian beranjak kemudian menuju pintu rumah membawa ponsel dan kunci mobilnya.


"Mau kemana kamu?" Tanya Ergan.


"Aku ada janji dengan temen-temen." Ujar Brian kemudian segera keluar.


Ergan menghela napas lega, setidaknya ia sudah mengatakan pada Brian tentang niatnya membawa pulang Amelia. Sebenarnya Brian setuju atau tidak, Ergan tetap akan membawa Amelia kembali, namun dia juga haru menjaga perasaan adiknya. Ergan ingin dikemudian hari mereka dapat berdamai menjadi satu keluarga.


Ergan berjalan menghampiri Aqilah dan Karisma yang baru saja masuk ke dalam rumah. Ergan berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Aqilah, menyelipkan rambut Aqilah di telinga kemudian mencium keningnya.


"Aqilah, besok Daddy mau keluar kota lagi. Aqilah jangan nakal ya? dengerin apa kata Oma."


"Yah... Daddy mau pergi lagi, besokkan ulang tahun Aqilah." Aqilah mengerucutkan bibirnya. Ia sangat kecewa karena Ergan akan pergi dihari ulang tahunnya.


"Daddy janji akan cepat pulang."

__ADS_1


"Promise?" Aqilah menaikkan jari kelingkingnya.


"Yes, I promise." Ujar Ergan sambil menautkan jari kelingkingnya mereka.


"Okey."


"Mah, Ergan pulang dulu ya. Besok pagi-pagi Ergan berangkat." Pamit Ergan.


"Hati-hati dijalan, suruh Tirta jangan ngebut." Pesan Karisma.


"Iya Mah."


Ergan keluar dari rumah, Tirta sudah mengirim pesan padanya jika dia sudah datang dan menunggu di luar.


Tirta tersenyum melihat Ergan dari dalam rumah tapi tidak balas oleh Ergan.


"Ada apalagi dengannya?" Batin Tirta kemudian membuka pintu mobil untuk Ergan.


"Kita kemana bos?" Tanya Tirta setelah mobil melaju meninggalkan rumah mewah orang tua Ergan.


"Winner Shot, kita sparring! gw belum puas mukulin lo. Lo harus tebus kesalahan lo karena sudah lancang menyembunyikan Amelia dari gw." Tegas Ergan membuat hawa dingin AC didalam mobil semakin dingin.


Tirta menelan salivanya dengan kasar. Jika dia tahu Ergan akan mengajaknya ke Winner Shot, pasti dia tidak akan menjemput Ergan dengan alasan sakit perut.


"Yang bener aja bos! masa sparring lagi. Hukumannya yang lain aja. Perutku sakit." Tawar Tirta.


"Nggak bisa. Pokoknya siapkan fisik dan mental lo menghadapi kemaran gw."


"Maaf boss! kan sudah gw bilang apa alasannya. Melindungi Istri dan anak bos. Jika sekarang sudah ketahuan menurut gw nggak masalah. Bukankah Tuan besar sudah merestui? jadi menurut gw sekarang sudah aman." Jelas Tirta sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.


"Alasan, cepetan jalan! tangan gw sudah gatal nih mau mukulin orang." Ujar Ergan membuat Tirta mendengus kesal.


Tirta memarkirkan mobil di basement kemudian membuka pintu mobil untuk Ergan.


"Bos duluan aja, perut gw mules banget."


Masih alasan yang sama sambil memegang perutnya, Tirta memegang pintu mobil. Ergan menyeringai kemudian menarik kerah baju Tirta dari belakang. Mereka masuk kedalam lift tanpa memperdulikan tatapan aneh tiga orang yang ada didalam lift.


"Ganti baju lo, Lima menit gw tunggu!" Perintah Ergan.


"Mampus gw! tau kayak gini dari dulu gw nggak bantuin Amelia." Batin Tirta.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2