
Ergan mengabaikan Tirta, kemudian masuk ke kamarnya memuju balkon untuk menenangkan diri. Cukup lama ia berdiri disana, menatap bintang-bintang dan juga rembulan, hatinya sedang gundah gulana, hingga matanya tertuju pada Amelia yang baru saja berada dibalkon.
Hatinya masih sakit dengan penolakan Amelia. Baginya menghindar untuk sementara waktu mungkin akan mengurangi sedikit rasa bersalahnya. Selain itu ia ingin memberi waktu untuk Amelia untuk menenangkan diri. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bicara dengan Amelia.
Begitu netra keduanya bertemu, Ergan segera masuk ke dalam rumah, menutup pintu balkon dan jendela kemudian duduk di ranjang, punggungnya bersandar dan kedua tangannya dilipat diatas perut.
Tok.. tok.. tok..
"Boleh masuk bos?"
Tidak biasanya Tirta meminta ijin jika hendak masuk ke kamar bosnya. Melihat wajah Ergan saat masuk rumah tadi, ia merasa khawatir, bosnya mungkin butuh teman untuk meminta saran.
"Ada apa? biarkan gw sendiri Tir, gw nggak ingin diganggu."
"Siapa yang mau mengganggu? gw bw informasi penting."
"Nggak minat, besok aja dikantor. Sana lo gw mau istirahat."
"Wah,, beneran nih gw keluar? nggak mau tau tentang orang tua Amelia? Baiklah, gw pergi." Tirta baru saja memutar knop pintu untuk keluar, namun Ergan segera menghentikannya.
"Nggak usah berbasa-basi, cepat katakan!"
"Orang tuanya tinggal di bandung, Ayahnya sudah meninggal dan ibunya dagang barang campuran di dekat pasar tradisional. Jika ingin datang melamar Amelia, gw sudah punya alamatnya." Jelas Tirta.
Berita yang disampaikan Tirta sontak membuat Ergan bersemangat kembali. Walaupun Amelia menolak kehadirannya untuk saat ini, tapi dia akan ke rumah Lidya di bandung.
"Thank bro, sekarang gw tau apa yang harus gw lakukan." Semangat Ergan sambil menepuk pundak Tirta dengan keras.
"Aaa, sakit.. bosqu" Pekik Tirta berteriak.
"Hahaha.. lebay..! teriakanmu kayak anak perawan saat belah duren aja." Ejek Ergan sambil tertawa.
"Ini beneran sakit bos!" Kesal Tirta sambil mengusap pundaknya berkali-kali.
............................
Dua minggu telah berlalu Amelia tidak pernah melihat Ergan di balkon, ia juga tidak pernah melihat mobil Ergan terparkir di depan rumahnya. Rumah Ergan selalu gelap saat malam hari. Tidak ada cahaya lampu selain di teras depan.
__ADS_1
"Kemana Ergan?" Batin Amelia, hatinya mulai gelisah. Entah sejak kapan dia mengharapkan akan melihat wajah Ergan dibalkon. Sama saat mereka sering bertemu disana. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinya setelah tidak melihat pria itu.
Mungkinkah itu rindu?
Amelia mendengus kesal, mengerucutkan bibirnya sambil menahan dagunya dengan tangan dipinggiran tiang besi balkon.
Ada rasa kecewa menyelimuti hatinya saat tidak menemukan Ergan disana.
"Kemana dia? apa dia sudah melupakan aku?" Monolog Amelia.
"Siapa yang lupain lo?" Tanya Karmen tiba-tiba berdiri disamping Amelia.
"Aaaaa...."
Amelia tersentak kaget, Karmen muncul dengan masker wajah berwarna putih, rambut terurai panjang, dan baju tidur warna putih, untung Karmen bukan kunti beneran ditengah malam. Hampir saja Amelia pingsan saat itu juga. Tapi mendengar suaranya, ia yakin kalau itu sahabatnya.
"Apaan sih! muncul dengan penampakan seperti itu, ngeri tau!" Kesal Amelia sambil memukul lengan Karmen.
"Hehehe..., lo sih..! habis pulang kerja, bukannya istirahat, malah duduk disini tiap malam, nggak takut apa, ada kunti beneran." Ujar Karmen dengan mulut sedikit terbuka takut maskernya retak.
"Biarin aja, aku nggak takut dengan mbak kunti," Balas Amelia, "Yang aku takutkan tetangg sebelah jika tiba-tiba muncul." Batin Amelia.
"Itu karena gw kaget." Sergah Amelia.
"Alesan! tunggu bentar, gw cuci muka dulu." Karmen masuk kedalam kamar, menuju kamar mandi kemudian membersihkan wajahnya. Setelah selesai, ia kembali ke balkon dengan dua minuman kaleng dan sebungkus biskuit ditangannya.
"Nih, buat nemenin kegalauan lo. Gw perhatiin akhir-akhir ini lo kurang makan. Lo diet lagi ya?"
"Nggak, cuma males makan aja."
"Jangan males makan dong, sebagai wanita karir yang memiliki banyak tanggungan hidup, tubuh kita juga butuh asupan gizi. Jika kita sakit bagaimana dengan keluarga kita? mereka berharap lebih pada kita. Belum lagi kalau lo pingsan, gw juga kan yang repot." Jelas Karmen. Nasib Karmen hampir smaa dengan Amelia, mereka sama-sama dari keluarga pas-pasan dan sekarang menjadi tulang punggung keluarga.
"Siap ustadzah, gw akan makan tepat waktu." Ujar Amelia kemudian membuka minuman kaleng dan biskuit berlogo kelapa dihadapannya.
"Eh, lo masih utang penjelasan tentang cowok ganteng yang datang waktu itu. Siapa dia? gebetan lo ya?" Ujar Karmen sambil menyenggol bahu Amelia.
"Sudahlah, nggak penting bahas dia."
__ADS_1
"Ih, kok gitu sih! tiap kali gw tanya, jawaban lo selalu kayak gitu, kessel deh! Bikin penasaran aja." Kesal Karmen.
"Nanti juga lo tau sendiri."
Karmen membuka tutup kaleng dengan kasar. Amelia selalu mengatakan seperti itu saat Karmen bertanya tentang Ergan.
Dia tidak tau aja kalau mereka tetanggaan.
"Tunggu, tunggu deh, perasaan gw pernah melihatnya sebelum kerumah, tapi dimana ya? wajahnya kayak nggak asing gitu." Karmen mencoba berpikir, merasa pernah melihat Ergan tapi entah dimana pastinya, dia sudah lupa.
Bagaimana mau ingat coba, jika ratusan penumpang yang mereka temui tiap hari.
"Nggak pernah."
"Gw yakin seratus persen pernah melihatnya, tapi tepatnya kapan dan dimana gw lupa. Kenapa gw jadi pelupa kayak gini ya? belum juga tua tapi udah pikun." Ujar Karmen.
"Sudah, nggak usah dipikirin, mendingan kita tidur karena besok harus kerja." Bujuk Amelia kemudian berdiri dan masuk ke kamar lebih dulu.
"Mel, tunggu!" Teriak Karmen karena takut ditinggal sendiri.
..................
Keesokan harinya Amelia kembali bekerja, setelah memberikan pengarahan untuk penumpang didalam pesawat, matanya seketika melotot, jantungnya berdetak lebih cepat saat tatapan Ergan juga tertuju padanya.
Ergan tiba-tiba muncul dihadapannya dengan tatapan datar dan dingin seolah mereka tidak saling mengenal.
Ergan segera mengalihkan pandangannya pada majalah yang ia pegang karena tidak mau menatap Amelia lebih dalam. Bukannya ia tidak rindu, tapi lebih tepatnya ingin tahu bagaimana perasaan Amelia padanya saat ini.
"Kenapa dia sangat cuek seolah tidak kenal dengan aku? apa dia sudah melupakan aku? ah, bodo amatlah, kenapa juga aku kesel!" Sungut Amelia setelah pergi dari kelas bisnis.
Tak terasa pesawat sudah mendarat di bandara Changi Singapore, Ergan turun dari pesawat dengan tatapan datar, bahkan melewati Amelia yang berdiri dedepan pintu begitu saja.
Amelia mendengus kesal, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dihatinya. Ia tidak terima dengan sikap cuek dan tidak perduli Ergan padanya. Bahkan saat dipesawat, ia selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian Ergan, namun sayang pria itu mengabaikannya dan membuat Amelia semakin kesal padanya.
"Mel, Kamu kenapa sih, hari ini begitu aneh." Tanya Karmen menghampiri Amelia yang sedang duduk melamun.
.
__ADS_1
.
Bersambung......