
Hening....
Setelah kepergian Amelia, Pras dan Juminarti saling bertatapan dalam diam. Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Sebenarnya Juminarti merasa kecewa dengan keputusan Amelia yang menolak lamaran Pras. Sebenarnya saat Pras mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Amelia, dia sangat senang dan bahagia. Bagaimana tidak, dia sangat menyayangi Amelia dan sudah menganggapnya sebagai putri kandungnya sendiri. Semenjak Amelia berada di pesantren, dia merasa tidaj kesepian karena ada Amelia yang selalu menemaninya, apa kagi saat Azka lahir, ia semakin bahagia.
"Sabar nak, mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk kalian taaruf. Atau dia bukan jodoh yang dikirim Tuhan untukmu." Ujar Juminarti.
"Aku akan bicara dengannya Mah." Ujar Pras kemudian keluar dari kantornya. Ia menuju gudang untuk melihat proses pengeringan daun teh. Dan memeriksa stock barang yang akan mereka kirim ke pusat kota.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Amelia kembali ke pesantren. Amelia langsung membersihkan diri kemudian mencari Azka.
Azka Narendra Mahesa, putra Amelia itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Ergan, mulai dari hidung, mata, Alis, dan rambut, hanya bibirnya yang agak tipis seperti Amelia. Ia juga pintar dan cepat tanggap. Jika diperhatikan sifatnya juga sangat mirip dengan Ergan, bicara seperlunya, tatapannya datar dan dingin serta suka mengintimidasi.
Setelah setengah hari bekerja, ia sangat merindukan anaknya. Amelia menitipkan Azka pada Yuli pada saat ia bekerja. Yuli tidak masalah karena pada dasarnya Azka anak yang tenang dan penurut. Sambil mengajar anak-anak ngaji di pesantren, Yuli juga sengaja mengajak Azka untuk mendengarnya. Azka anak yang cerdaz hingga meski umur baru dua tahun sudah menghafal beberapa surat pendek ayat suci alquran, seperti surat Al-fatihah, Al-ikhlas, surat Al-falaq meskipun masih terpotong-potong tapi cara menyebut tajwidnya juga bagus.
"Azka..." Panggil Amelia, ia langsung mengambil Azka dari pangkuan Yuli.
"Mam..mam.." Azka mengulurkan tangannya minta digendong.
"Sayang... hari ini belajar ngaji lagi ya?" Tanya Amelia.
Azka tersenyum sambil mengangguk, ia mengalungkan kedua tangan mungillnya pada leher Amelia. Bibir mungilnya mendekat mencium pipi Amelia.
"Coba Azka ngaji Mama mau dengar." Amelia mencubit pipi gembul Azka membuat Azka menarik wajahnya mundur.
Cup! cup! cup!
Ciuman bertubi-tubi Amelia berikan diwajah Azka yang menggemaskan.
"Azka mau ngaji Mam."
"Oke. Kita mulai."
Azka mulai mengaji, mengulang kembali apa yang diajarkan Yuli pada anak-anak di pesantren. Azka begitu tanggap mendengar apa yang diajarkan hingga dia bisa menghapal dengan cepat.
Awalnya Yuli tidak percaya saat pertama kali mendengar Azka tiba-tiba bisa mengaji karena anak itu sedang bermain. Ternyata meskipun tangannya memainkan mobil-mobilan tapi telinganya fokus pada apa yang ia dengar.
__ADS_1
Azka mulai melantunkan surat An-nas dengan suara kecilnya yang merdu. Membuat Amelia mematung mendengarnya. Sejuk sekali rasanya hati dan perasaannya saat Azka mengaji. Dalam hati ia sangat bersyukur memiliki Azka disaat terendah dalam hidupnya. Sekarang Azka adalah prioritas dan kebahagiaannya.
Setelah Azka menyelesaikan ngajinya, Amelia bersorak gembira, ia menghadiahi anaknya dengan ciuman dan kue yang ia beli saat pulang dari kebun teh.
"Anak pintarnya siapa sih ini?"
"Mommy." Jawab Azka mengeratkan pelukannya.
"Pinter..! Sekarang Azka mandi ya?" Ajak Amelia ia membawa Azka menuju kamarnya, membuka pakaian Azka kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Setelah Azka pakaian, Amelia membawanya bermain bersama santri. Ia harus membantu ibu Juminarti dan Yuli menyiapkan makan malam untuk santri yang ada di pesantren.
Dua jam berlalu, akhirnya makanan sudah tersedia di atas meja makan panjang. Semua santri mengantri untuk mengambil makanan kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. Sebelum makan mereka berdoa, tidak lupa cuci tangan lalu makan bersama.
Malam hari, setelah Azka tidur, Amelia membursihkan dapur kemudian menuju halaman rumah. Ia duduk di bangku taman seorang diri. Sudah menjadi kebiasaannya duduk disana hingga tengah malam karena susah tidur.
Pras memperhatikan Amelia dari belakang, sesekali Amelia memeluk tubuhnya karena kedinginan. Meskipun sudah memakai sweater, tapi udara pada malam hari dipegunungan sangat dingin.
Pras tidak habis pikir, kenapa Amelia sangat suka duduk menyendiri dimalam hari hingga tengah malam.
"Kamu disini?" Suara bariton dari belakang membuyarkan lamunannya.
"Aku nggak bisa tidur."
"Butuh ini?" Pras menyerahkan secangkir teh panas untuk Amelia.
"Buat kamu aja." Tolak Amelia, Hatinya sedang galau gundah gulana.
Prasetyo ikut duduk disamping Amelia. Kali ini ia akan bicara dengan Amelia dari hati ke hati.
"Kamu sangat mencintainya hingga tidak bisa berpaling? jika kamu tidak keberatan, aku akan ke kota untuk mencarinya."
"Tidak usah mencarinya. Dia pasti sudah bahagia bersama keluarganya. Aku tidak mau lagi menjadi benalu dalam hidupnya. Aku sudah merasa damai tinggal disini." Pandangan Amelia kosong kedepan. Tanpa terasa air matanya kembali menetes. Sudah tiga tahun ia pergi tapi air matanya tidak berhenti mengalir tiap malam.
"Kamu tidak takut jika suatu saat dia datang untuk mengambil Azka?"
Pertanyaan Pras seketika membuat Amelia menoleh. Amelia memicingkan matanya, kenapa hal itu tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
__ADS_1
"Aku nggak akan biarkan itu terjadi. Maka dari itu lebih baik dia tidak tahu keberadaan aku dan Azka."
"Jika kamu tidak mau kehilangan Azka, Menikahlah denganku agar aku bisa melindungi kalian. Aku janji, tidak ada lagi kebohongan yang kamu dapatkan. Hanya kebahagian yang akan aku berikan. Aku butuh kamu melengkapi hidupku. Kita bisa membesarkan Azka dan Rangga bersama-sama.
Netra Pras tidak pernah lepas dari wajah cantik Amelia. Pras berharap Amelia menerima permintaannya meski belum ada rasa cinta untuknya. Meskipun jauh tinggal di pedesaan, tapi Amelia merawat wajahnya dengan baik. Ia menggunakan bahan-bahan alami sebagai masker diwajahnya.
Amelia kembali menatap kedepan, tatapannya kosong memikirkan keputusannya.
"Baiklah, bismillah..! aku mau terima lamaranmu." Amelia mengangguk yakin, setelah berperan batin, mungkin ini adalah keputusan yang tepat untuk melupakan Ergan dan memulai hidup baru.
"Alhamdulillah.." Pras mengucap syukur seraya berdoa kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "Terimakasih Mel, sudah menerima aku." Tanpa sengaja Pras langsung menggenggam tangan Amelia.
"Belum muhrim, Pras." Amelia mengingatkan membuat Pras menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehehe, maaf." Pras begitu bahagia, matanya berbinar dan senyumnya tidak pernah lepas. Seandainya saja tidak ada Amelia disana, ia sudah salto-salto saking senangnya.
...............................
Ergan naik private jet menuju lokasi pembangunan jembatan. Saat sampai disana, Ia sangat puas dengan hasil kerja anak buahnya. Mereka merampungkan semuanya tepat waktu.
Ergan menuju villa yang sudah disediakan, ia harus beristirahat sebelum acara peresmian jembatan dimulai.
"Tir, lo pernah kesini nggak? Tanya Ergan saat mereka sedang duduk di ruang tamu villa sambil menikmati kopi.
"Pernah, kalau nggak salah tiga kali. Gw kesini untuk melihat langsung kualitas bahan yang mereka gunakan. Kenapa emangnya?"
"Nggak apa-apa, gw hanya merasa nyaman dan tenang disini. Setelah peresmian jembatan, lo temenin gw jalan-jalan, udara disini sejuk dan nyaman, gw suka." Puji Ergan.
"Siap bos, gw bakal bawa lo ketempat terindah didesa ini."
"Tempat apa?"
"Kebun teh. Pemandangannya sangat indah sejauh mata memandang, udaranya sejuk menembus relung hati, pokoknya lo nggak bakalan nyesel ikut gw deh." Jawab Tirta kemudian menyesap kopi dari cangkir.
.
.
__ADS_1
Bersambung......