
Deg!
"Kenapa Yu? apa yang membuatmu menolakku? apa aku terlalu terburu-buru?" tanya Tirta, kedua tangannya menangkup wajah Ayu denga tatapan sendu.
"Aku takut..." lirih Ayu.
"Takut kenapa Yu?"
"Aku takut menikah Pak." jawab Ayu.
Perceraian kedua orang tuanya meninggalkan tarauma yang cukup dalam baginya. Ayu sering menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya didepan matanya, bahkan ia melihat ayahnya memukul ibunya saat di dalam kamar karena pintu setengah terbuka.
"Kenapa? kamu nggak yakin denganku? Yu, kita sudah lama saling kenal, ya walaupun kita tidak terlalu deket, tapi aku yakin kita bisa hidup bersama. Aku sudah cukup mapan untuk berumah tangga. Umurku juga sudah tua untuk bermain-main. Tapi kalau kamu tidak mau, aku bisa apa? aku tidak akan memaksamu. Oiya, bunganya buang aja kalau nggak suka," ujar Tirta.
Tirta melepaskan tangannya dari wajah Amelia, hatinya sakit dan hancur mendengar penolakan Ayu. Tirta menuju pintu, membuka untuk Ayu agar mereka segera keluar.
"Kenapa masih bengong? nggak usah dipikirin. Anggap aja aku nggak pernah mengatakan ini padamu. Ayo pulang, " ajaknya dengan suara bergetar menahan sesak didada.
"Pak Tirta.."
"Sudah Ayu, jangan bicara penolakan lagi, hatiku akan semakin sakit," ujar Tirta kemudian keluar mendahului Ayu.
Suasana dalam mobil begitu canggung dan hening. Tirta hanya fokus melihat kedepan, tapi tangannya menggenggam setir mobil dengan erat, sedangkan Ayu melirik jalanan diluar jendela mobil.
Setelah sepuluh menit berkendara, akhirnya mereka tiba dikantor. Tirta membuka pintu mobil untuk Ayu kemudian menitip kunci mobilnya pada satpam.
"Tir, maafkan aku."
Ayu berjalan lebih cepat mengejar langkah Tirta menuju lift. Begitu lift khusus terbuka, mereka langsung masuk tanpa memperdulikan tatapan karyawan lain.
Tirta tidak menjawab, wajahnya datar dan dingin, sedangkan Ayu berusaha agar Tirta mengerti dan memberinya sedikit waktu untuk memikirkannya.
Saat lift terbuka, Tirta langsung menuju ruangannya, dia harus menenangkan diri, pikiran, dan hatinya sebelum berhadapan dengan Ergan.
"Tir.."
"Lupakan kejadian tadi!" bentak Tirta membuat bahu Ayu terangkat karena kaget.
Ayu hanya bisa melihat Tirta dari belakang dengan tatapan sendu, tanpa terasa air matanya keluar begitu saja. Apa yang ada dipikirannya tidak sinkron dengan hatinya. Ia kemudian duduk mengerjakan pekerjaannya.
Tiga puluh menit kemudian, Tirta menuju ruangan Ergan. Ia melewati Ayu begitu saja seakan tidak ada orang dikursi Ayu.
Baru saja Ayu ingin melaporkan jika besok Pak Burhan akan datang menemui Ergan, tapi Tirta sudah menutup pintu. Ayu menghela napas kasar, hatinya sakit diperlakukan seperti itu oleh Tirta.
Tirta langsung duduk dikursi depan meja Ergan. Mengambil berkas yang belum ditangani dan mempelajarinya.
"Azka sudah pulang bos?" tanya Tirta mencari keberadaan Amelia dan Azka.
__ADS_1
"Belum, Azka lagi tidur di dalam," Ergan menunjuk pintuk kamar khusus pada Tirta dengan dagunya.
Mereka berdua bekerja dengan serius, sekali-kali Ergan meminta pendapat Tirta mengenai proyek yang mereka kerjakan.
Ergan menghubungi Ayu lewat sambungan telepon kantor.
"Ayu, jika ada seorang gadis bernama Karmen, suruh dia langsung ke ruanganku," ujar Ergan kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Tidak lama kemudian seorang gadis cantik keluar dari lift menghampiri Ayu.
Ayu segera berdiri menampilkan senyum ramah diwajahnya. Dapat ia lihat jika wanita yang dihadapannya sangat anggun dan cantik sepeti model. Rambutnya dicepol keatas dan berpakaian seperti pramugari. Karmen baru saja turun dari pesawat dan langsung menuju kekantor Ergan karena Amelia menelponnya jika dia sedang berada disana. Karmen langsung menyusul karena dia tidak punya banyak waktu, dia harus berangkat kebandara empat jam lagi.
Ayu masih melamun, dalam hati ia bertanya siapa gadis ini dan ada perlu apa menemui Ergan, tapi didalam ruangan bosnya juga ada Tirta, siapa gadis cantik ini sebenarnya?
"Mbak Karmen?" tebak Ayu.
"Iya Mbak," jawab Karmen.
"Silahkan." Ayu mengantar Karmen menuju ruangan Ergan.
Tok.. tok.. tok...
Ayu mengetuk pintu kemudian masuk bersama Karmen.
"Permisi Pak, Mbak Karmen sudah datang," ujar Ayu.
"Iya, makasih, Yu," balas Ergan.
"Kalau tidak ada lagi saya permisi Pak," pamit Ayu, sekilas melirik Tirta yang enggan untuk melihatnya.
Tirta menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, ia segera menoleh kearah Karmen.
"Karmen? nggak nyangka ya bisa ketemu lagi, makin cantik aja. Apa kabar?" Tirta menyapa Karmen sambil mengulurkan tangannya.
"Baik Tirta, kamu juga apa kabar," balas Karmen.
"Kurang baik, lagi patah hati," ujar Tirta sambil melirik Ayu yang belum menutup pintu ruangan.
"Hehehe... kamu bisa aja, selalu bercanda saat kita ketemu," Karmen menanggapi Tirta sedang bercanda.
Begitu pintu tertutup rapat, Tirta kembali duduk di depan Ergan.
"Karmen, Meli ada disana, masuk aja." Ergan menunjuk pintu kamar.
"Baik Pak,"
"Jangan panggil Bapak, kamu bukan karyawan aku kan? panggil nama aja," ujar Ergan.
__ADS_1
"Baik, Ergan. Aku kesana dulu, sudah kangen banget dengan Nyonya besar itu," ujar Karmen.
"Cuma kangen Amel? aku nggak? kasihan sekali aku," gumam Tirta membuat Ergan meliriknya tidak percaya.
"Iya deh.. kangen kamu juga, nanti kita ngobrol ya, aku kesana dulu," ujar Karmen kemudian masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk Ergan.
Setelah Karmen masuk Ergan melirik Tirta, tatapannya tajam mengintimidasi.
"Gimana makan siang lo dengan Ayu?" tanya Ergan. Jika dilihat dari wajah Tirta yang ditekuk, bisa dia tebak jika Tirta gagal menembak seorang gadis.
"Kepo!" ledek Tirta.
"Hahaha..." tawa Ergan pecah, dugaannya tidak salah melihat wajah ketus Tirta.
"Ck." Tirta mendengus kesal. Pasti Ergan menertawakannya karena cintanya ditolak.
"Pasti kamu ditolak, ya kan? keliatan banget dari wajah kusut lo, biarpun lo tutupin dengan candaan, gw bisa tau jika lo sedang patah hati. Apa perlu gw campur tangan?" tawar Ergan.
"Nggak usah, ini masalah pribadi gw, jangan khawatir, gw baik-baik aja," ujar Tirta sambil mengerjakan pekerjaannya.
Ergan melirik ruangannya, mengingat Karmen sahabat Amelia.
"Ingat kata pepatah, mati satu tumbuh seribu, pucuk dicinta ulampun tiba. Kalau Ayu nggak mau, masih ada Karmen kan? sepertinya dia gadis yang baik, buktinya sudah lama bersahabat dengan Amelia, ya kan? coba deketin dulu," nasihat Ergan membuat mata Tirta sekwtika membola.
"Lo pikir gw cowok apaan?" kesal Tirta.
"Kalau sudah ditolak nggak usah ngarep lagi," balas Ergan.
"Eh, sana ngaca, lo sendiri kenapa nggak cari cewek lain setelah Amelia pergi?" sengit Tirta.
"Ck, itu beda oon, Amelia itu istriku, ya wajarlah saya tidak mencari wanita lain, sedangkan lo? ah..., sudahlah percuma ngomong dengan orang patah hati! Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung goblok!" Ergan kembali fokus pada pekerjaannya, membiarkan Tirta berperang dengan hati dan otaknya.
...................
Didalam ruangan menyerupai kamar. Karmen langsung memeluk Amelia.
"Aku kangen banget, Amel," ujar Karmen.
"Aku juga," balas Amelia.
Setelah puas menyalurkan rasa rindu dan menghapus air mata disudut mata mereka. Mereka sama-sama tersenyum saat melihat Azka yang sedang tertidur.
"Dia anak kamu?" tanya Karmen sambil menatap Azka yang begitu lucu sedang terlelap dengan suara mendengkur halus.
.
.
__ADS_1
Bersambung....