Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Dimana Aqilah


__ADS_3

Amelia mengambil ponselnya disaku celana kemudian tersenyum. Hatinya berbunga-bunga saat melihat siapa yang menelponnya di layar. Ia melempar senyum pada Ergan kemudian menggeser layar ponselnya keatas.


Tatapan mereka bertemu kembali. Amelia berbicara sambil menatap Ergan yang juga menatapnya di balkon depan rumah.


"[Halo Mas.]"


"[Sudah makan?]"


"[Sudah.]"


"[Kenapa belum tidur?]"


"[Belum ngantuk. Mas sendiri kenapa belum tidur?]"


"[Kangen Istriku yang cantik.]"


Wajah Amelia seketika memerah karena malu, makin hari Ergan semakin pandai merayunya.


"[Kesini dong...!]" Melas Ergan.


"[Nggak ah, nanti Karmen mencariku.]"


"[Kamu nggak asik!]"


"[Maaf.]"


"[Ya sudah, besok pesawat kamu transit dimana?]" Tanya Ergan.


"[Kuala Lumpur.]"


"[Jam berapa?]"


"[Jam Empat sore.]"


"[Transitnya berapa jam?]"


"[Enam jam]"


Ergan berpikir sejenak, menurutnya waktu enam jam cukup untuknya menghabiskan waktu bersama dengan Amelia.


"[Kita ketemu disana ya?]"


"[Emangnya Mas nggak ada kerjaan?]"


"[Kerjaanku banyak, tapi aku rindu kamu. Tidurlah! sampai jumpa besok.]"


Ergan menutup telepon, ia mencium ujung jarinya kemudian meniupnya kearah Amelia.


Amelia geleng-geleng kepala melihat tingkah Ergan seperti anak ABG yang baru mengenal cinta. Ia pun membalasnya dengan menangkapnya lalu meletakkan tangan ke dada.


Ergan mengambil ponselnya kemudian memerintahkan Tirta menyiapkan jet privatenya besok. setelah ia pulang dari kantor, Ia langsung berangkat ke Kuala Lumpur menemui Amelia.


Setelah urusan dengan Tirta selesai, ia masuk kedalam kamar untuk istirahat.

__ADS_1


...........


Pagi harinya sebelum Ergan berangkat kerja, Ergan menemui Aqilah di rumah Rania. Ternyata gadis kecil itu hanya sendiri, sudah seminggu Rania tidak pulang-pulang membuat anak itu merasa kesepian karena kesibukan kedua orang tuanya. Jika Ergan sibuk dengan bekerja, sedangkan Rania sibuk keliling dunia menghabisakan uang Ergan.


"Daddy.." Teriak Aqilah kegirangan, matanya berbinar menyambut kedatangan Ergan. Aqilah bergelayut manja dalam pelukan Ergan.


Ergan mengangkat dalam gendongannya kemudian duduk disofa.


"Daddy bawa apa?" Tanya Aqilah saat melihat empat paper bag terletak di atas meja.


"Mainan untuk putri kesayangan Daddy dong..!"


"Boleh buka Dad?"


"Boleh sayang."


Dengan semangat empat lima Aqilah membuka paper bag itu satu persatu. Aqilah terus berceloteh memuji mainan dan pakaian yang Ergan belikan untuknya.


Ergan membawa Aqilah ke kantor karena Aqilah masih ingin bermain dengannya. Gadis kecil itu memang tidak rewel, ia sangat penurut jika sudah di belikan kindderjoy coklat kesukaannya.


"Aqilah tunggu sebentar disini ya? ditemenin Tante Ayu, Daddy mau meeting dengan Om Tirta.


Aqilah hanya mengangguk karena sedang sibuk memasang hadiah kindderjoy-nya.


Ergan bernapas lega, ia menekan interkom di ruangannya memanggil Ayu sekertarisnya masuk ke dalam.


"Ayu, tolong jagain Aqilah selama saya meeting." Perintah Ergan.


"Baik Pak." Balas Ayu kemudian duduk di sisi Aqilah dan menemaninya bermain.


"Kasihan banget anak selucu ini sering ditinggal ibunya. Pasti ibu Rania masih diluar negeri sampai-sampai Aqilah dibawa ke kantor lagi." Batin Ayu. Ia tahu dimana Rania sekarang karena sering melihat status media sosial yang diunggah Rania. Sudah menjadi rahasia umum jika Istri bosnya itu sudah terkenal dengan hidupnya yang glamor. Banyak karyawan di kantor yang kagum dengan penampilan Rania jika datang kekantor. Bahkan beberapa dari mereka iri karena hidup Rania begitu sempurna, suami baik dan pekerja keras, setia, tampan, kaya, dan mereka memiliki anak yang lucu.


Siapa tidak mau coba.


Satu jam berlalu Ergan baru selesai. Ia menuju ruangannya namun tidak menemukan Aqilah dan Ayu.


"Tir, telpon Ayu sekarang, suruh bawa Aqilah le ruanganku." Perintah Ergan.


Tirta segera mengambil ponselnya kemudian menghubungi Ayu.


"Bos, Ayu nggak angkat telponnya." Lapor Tirta.


"Hubungi lagi." Perintah Ergan.


Tirta kembali menghubungi Ayu beberapa kali tapi nihil. Ayu masih belum menjawab telponnya.


"Biar gw cari di luar, mungkin ada yang melihat dilantai mana mereka bermain." Ujar Tirta.


Ergan hanya mengangguk kemudian Tirta segera pergi mencari Ayu.


"Tiara, Kamu lihat Ayu dan Aqilah nggak?" Tanya Ergan saat melewati salah satu kubikel karyawan.


"Tadi mereka masuk ke lift pak. Tapi saya nggak tahu di ke lantai berapa." Jawab Tiara.

__ADS_1


Tirta segera masuk ke dalam lift menuju rooftop. Rooftop diatas gedung Ergan memang sangat unik. Disana dibuat menjadi food court dan taman agar karyawan tidak merasa jenuh dan dapat bersantai menikmati indahnya pemandangan sambil menikmati makan siang.


Ting!


Tirta keluar dari lift, pandangannya menyisir seluruh ruangan yang sangat luas. Tapi dia tidak melihat Ayu. Tirta kembali menelponnya tapi Ayu masih belum juga menjawabnya.


"Kamu dimana sih Yu? bikin susah aja! awas aja jika Aqilah sampai kenapa-napa. Kamu pasti aku pecat!" Monolog Tirta dengan geram. Baru kali ini sekertaris cantik itu membuatnya marah selama dua tahun bekerja diperusahaan Ergan.


"[Ayu, kamu dimana sih! bawa Aqilah ke ruangan bos sekarang!]" Isi pesan singkat Tirta namun hanya centang satu yang terlihat diponselnya.


Tirta memutuskan turun ke lobi sambil menunggu balasan dari Ayu. Setelah keluar dari lift, ia segera menghampiri resepsionis.


"Kalian lihat Ayu dan Aqilah?" Tanya Tirta pada dua resepsionis yang sedang duduk dibalik meja.


"Ibu Ayu keluar kantor bersama Nona Aqilah, Pak." Jawab salah satu dari mereka.


"Kalian tahu kemana mereka?" Tanya Tirta lagi.


"Ayu bilang mau beli es krim di cafe depan, Pak. Nona Aqilah terus merajuk minta dibeliin es krim." Jelas resepsionis yang satunya lagi.


Sebelum Ayu keluar kantor, ia sempat menghampiri resepsionis untuk menitip pesan. Siapa tahu ada klien yang mencarinya saat ia keluar bersama Aqilah.


Tirta mengetuk jarinya beberapa kali diatas meja sambil berpikir. Apa mungkin Ayu tidak membawa ponselnya?


Tirta kemudian segera keluar menyusul Ayu ke cafe depan. Hampir saja ia tertabrak karena Ia menyeberang jalan dengan terburu-buru. Saat sampai di Cafe, ia segera masuk ke dalam mencari ayu dan Aqilah.


Matanya tertuju pada seorang gadis yang cantik yang sedang duduk di kursi membelakanginya. Dia sangat yakin jika itu Ayu karena pakaiannya sama.


"Tunggu! Itukan Ayu? tapi Aqilah mana?" Batin Tirta.


Tirta segera menghampirinya sambil berkacak pinggang. Kedua tangannya mengepal kuat hingga uratnya tertarik. Wajahnya sudah memerah menahan Amarah. Sungguh, Ayu membuatnya sangat lelah karena harus mencarinya dari rooftop sampai keluar gedung dan menyebrangi jalan.


"Ayu! kenapa nggak angkat telpon dan balas pesanku! dimana Aqilah?" Sentak Tirta membuat Ayu berbalik dengan mata sembab karena menangis.


Suasana cafe cukup ramai membuat pengunjung yang lain juga menoleh kearah Tirta.


Raut wajah Tirta seketika berubah, ada rasa kasihan yang muncul begitu saja saat melihat air mata dan wajah ketakutan Ayu.


"Kamu kenapa? dimana Aqilah?" Tirta memelankan suaranya agar tidak mengganggu pengunjung yang lain.


"Hikss.. hikss.." Bukannya menjawab, Ayu malah semakin menangis sambil menunduk.


Tirta jadi tidak tega, ia menarik kursi kemudian duduk di sisi Ayu.


"Kenapa kamu nangis? dimana Aqilah?" Tanya Tirta semakin bingung dengan tingkah Ayu.


Ayu hanya diam dengan isak tangisnya.


"Jangan bilang Aqilah hilang, Ayu!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2