Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Pencarian


__ADS_3

Ergan milih pulang kerumahnya yang berhadapan dengan mes Amelia. Ia ingin menemui Karmen saat ini. Mungkin saja sahabat Amelia tahu kemana Amelia pergi.


"Suruh anak buah kita mencari Amelia sampai dapat. Di semua terminal, bandara dan pelabuhan. Jika mereka tidak menemukannya hari ini, pecat semuanya dan ganti yang lain." Perintah Ergan.


Tirta menarik napas, dia akan melakukan yang terbaik untuk menemukan Amelia secepatnya, tapi mana mungkin dia memecat orang-orang kepercayaannya. Aneh!


Saat sampai di mes, ternyata para pramugari itu nelum kembali, Ergan dan Tirta masuk kedalam rumahnya sambil menunggu. Biasanya mereka akan kembali tengah malam nanti.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Ergan yang sedang duduk dibalkon mengenang pertemuannya bersama Amelia langsung berdiri saat melihat mobil Pak Asep masuk kehalam rumah depan. Buru-buru Ergan keluar kamar menuruni tangga kemudian bejalan menuju mes.


"Malam Pak Ergan." Sapa Asep sediki heran karena Ergan kesana disaat Amelia sudah tidka bekerja lagi jadi pramugari


"Malam Pak Asep. Saya mau bicara dengan Karmen." Sahut Ergan kemudian mengalihkan pandangannya pada Karmen yang baru saja turun dari mobil bersama Sindi, Cathrine yang menggantikan Amelia dan Citra.


"Dasar laki-laki pembohong! Mau apa lagi kamu? belum puas nyakitin hati Amel?" Geram Karmen ia menarik tangan Ergan untuk menjauh dari teman-temannya.


Karmen melepaskan tangan Ergan setelah merasa aman untuk bicara.


"Amelia pergi, apa kamu tau dia dimana?" Tanya Ergan


"Kenapa tanya ke gw? kamu kan suaminya?" Karmen balik bertanya sambil melipat kedua tangannya didada.


"Kalau aku tau dia dimana, aku nggak mungkin datang kesini mencarimu. Aku sudah menyuruh pengawalku mencarinya tapi mereka kehilangan jejak di terminal. Please bantu aku menemukannya." Egan memelas menutup kedua telapak tangannya didepan.


"Percuma tanya ke gw, gw nggak tau dia dimana. Dia memang menghubungi gw sebelum pergi, tapi dia nggak nggak ngomong mau kemana. Lebih baik kamu lupain aja Amel dan kembali ke keluarga kamu yang selalu mengancamnya. Amel butuh ketenangan, bukan kehidupan yang tiap hari membuatnya menangis." Cecar Karmen membuat Ergan seketika diam.


Mengancam?


"Siapa yang mengancamnya?"


"Siapa lagi kalau bukan Istri pertama dan Mama lo! Semenjak Rania ngelabrak dia, Amelia selalu ketakutan dan tidak tenang. Asal kamu tau aja, dia hampir depresi, dia steres, hatinya gelisah. Penyakit insomnianya kembali kambuh, rasa khawatirnya berkebihan, dia bisa gila jika terus bertahan bersamamu. Mungkin ini yang terbaik untuk kalian, biarkan dia pergi menenangkan diri."


Ergan menatap Karmen tanpa berkedip, netranya yang tajam dan menusuk seolah menembus mata Karmen penuh intimidasi.


"Gila! tatapan matanya begitu tajam dan dingin. Pantas Amelia nggak bisa berkutik jika berhadapan dengannya." Batin Karmen.


"Tidak, aku tidak akan membiarkannya pergi, aku mencintainya, aku tidak bisa hidup tanpanya, jika kamu tidak tau dimana dia, aku bisa mencarinya sendiri." Ergan frustasi mengusap wajahnya dengan kasar. Percuma bicara dengan Karmen sepertinya ia tidak tahu kemana Amelia.

__ADS_1


Karmen tertegun melihat bagaimana frustasinya Ergan kehilangan Amelia, ia jadi tidak tega, tapi dia benar-benar tidak tahu, bahkan sekarang dia menghawatirkan keadaan Amelia.


"Gw beneran nggak tau." Lirih Karmen.


"Jika dia menghubungimu, beri tahu aku. Ini nomor ponselku." Ergan memberikan kartu namanya pada Karmen kemudian pergi dari sana.


Karmen kembali masuk kedalam mes. Saat di ruang tamu ia melihat Sindi, Citra, dan Cathrine.


"Kenapa kalian nggak ke kamar?" Tanya Karmen dengan mata menyipit.


Mereka hanya menatap Karmen penuh tanya.


"Kenapa dia datang sendiri? dimana Amelia?" Tanya Citra.


"Amelia sakit, dia nggak bisa hubungin gw karena ponsel gw mati. Dia datang kesini karena ingin meminta gw temenin Amelia." Jawab Karmen berbohong. Ia tidak mau jika Citra dan Sindi tau Amelia menghilang.


"Ooo..." Beo Citra dan Sindi kembali mereka masuk kedalam kamar masing-masing.


...................


Ergan masuk ke dalam rumahnya yang megah, Tirta yang sudah terlelap dialam mimpinya tidak tahu jika Ergan keluar rumah. Dia pikir Ergan kerumahnya untuk menenangkan diri karena tidak sanggup tinggal di Apartemennya sendiri tanpa Amelia.


"Brengsek!" Kesal Ergan memukul tempat tidur.


Ergan kembali mencari nama seseorang kemudian menghubunginya.


"Halo bos!" Jawab seseorang lewat telepon selulernya.


"Dimana Rania?" Tanya Ergan. Ergan selalu menempatkan anak buahnya untuk mengikuti kemana Rania pergi. Dan mereka hanya akan melapor jika Ergan bertanya.


"Di Club bersama seorang pria bos!" Lapor anak buahnya.


Ergan mengernyitkan keningnya. "Pria? siapa? sejak kapan Rania memiliki teman Pria?" Batin Ergan. Setahu Ergan, Rania tidak pernah berteman dengan pria lain. Mengingat kepribadiannya yang sombong dalam menilai pria. Hanya Ergan lah yang menurutnya sempurna karena selain tampan dia juga memiliki kekayaan yang tidak ada habisnya.


Mungkin Ergan ke GR-an kali ya?


"Awasi mereka dan berikan laporanmu besok." Perintah Ergan kemudian menutup telponnya.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Ergan masih terjaga, dia tidak tidur semalaman karena menghawatirkan Amelia. Berkali-kali hembusan napasnya terdengar berat. Baru juga sehari Amelia jauh darinya, hati Ergan sudah tidak tenang, takut terjadi apa-apa dengan Amelia diluar sana.


"Kamu dimana sayang... pulang lah! aku merindukanmu. Bagaimana aku melewati hari esok jika sehari kau pergi rasanya setahun?" Ergan mulai meracau. Ia masih betah duduk di balkon tanpa sweater ataupun selimut. Tubuhnya mulai gemetar dan berkeringat.


Dua botol wine dan gelas berserakan diatas meja.


Ergan minum hingga pagi.


Dilantai bawah Tirta sudah bangun dan membuat sarapan ala cheff Juni di dapur. Dua gelas susu dan dua Sandwich sudah siap disantap, namun Tuan rumah belum juga turun dan memperlihatkan batang hidungnya.


"Ckk." Tirta berdecak kesal. Lagi-lagi ia harus olah raga naik tangga untuk membangunkan Ergan. Saat didepan pintu, Tirta mengetuk pintu kemudian masuk tanpa menunggu jawaban. Ia yakin jika saat ini Ergan masih tidur.


"Kemana dia? apa sedang mandi?" Monolog Tirta.


Tirta heran saat tempat tidur sudah kosong kemudian menuju kamar mandi.


Tok.. tok... tok...


"Bos... lo didalam?" Teriak Tirta sambil mendekatkan telinga pada daun pintu.


"Gw disini.."


Tirta menjauhkan telinganya kemudian menoleh kekiri dan kekanan, matanya nyipit, keningnya berkerut, kenapa suara Ergan datang dari arah lain?


"Lo gw pecat Tir, lo nggak bisa nemuin istri gw." Racau Ergan kembali.


Tirta menuju balkon yang pintunya terbuka lebar. Ergan sedang duduk meluruskan kaki kedepan dengan gelas berisi wine ditangannya.


"Ckk, lo mabuk?" Decak Tirta saat melihat botol wine diatas meja.


"Nggak, siapa yang mabuk? gw cuma minum sedikit." Sergah Ergan masih setengah sadar.


"Ayo masuk! kita banyak pekerjaan hari ini." Ajak Tirta sambil membantu Ergan untuk berdiri.


"Tunggu! Kenapa tubuh Ergan panas? ahh... Siial, dia demam!" Batin Tirta.


.

__ADS_1


.


Bersambung........


__ADS_2