
"Hikss, hikss, kamu tega sama aku Mas, aku begitu mencintaimu tapi kenapa kamu selingkuh? ingat Aqilah Mas! Dia akan bersedih jika keluarga kita hancur." Rania menangis, Sejak dari kantor Amelia, dia langsung kerumah orang tua Ergan. Ia terus menangis hingga Andreas dan Karisma tiba dari Jerman.
"Hentikan air mata palsumu Rania! Jika sifatmu tidak berubah menjadi liar dan tidak terkendali, aku tidak akan mendekati wanita lain yang bisa memberiku ketenangan dan kenyamanan." Sentak Ergan.
"Ckk, apa hebatnya pelakor itu? dia hanya wanita sialan yang menginginkan harta kamu Mas!" Decak Rania.
"Bagaimana denganmu? lihat dirimu sendiri, apa kamu nggak pernah ngaca?" Entah mengapa setiap kali bertemu dengan Rania emosinya selalu terpacu.
Bukannya menarik simpati Ergan agar tidak menceraikannya malah berusaha menjelek-jelekkan Amelia. Jelas Ergan tidak terima, dia sudah cukup mengenal Amelia dengan baik. Selama tinggal bersamanya, Amelia tidak terlalu banyak menuntut. Amelia bahkan tidak pernah meminta uang padanya. Kartu Black card, dan Kartu kredit yang pernah diberikan Ergan, tidak pernah dipakai Amelia. Untuk apa lagi belanja ini itu jika semua kebutuhannya sudah terpenuhi.
"Ceraikan Amelia." Tegas Andreas membuat Ergan berbalik menatapnya.
"Tidak Pah, itu tidak mungkin! aku tidak ingin melukai perasaannya." Tolak Ergan.
"Trus, kamu tidak memikirkan perasaan Rania dan Aqilah? Mama kecewa Ergan, selama kamu pergi dari rumah, kamu semakin tidak terkontrol." Karisma kembali bersuara.
"Ergan, kepercayaan Papa pada kamu sudah berkurang. Papa tidak mau melihat kamu jatuh kejurang yang lebih dalam. Tinggalkan perempuan itu! Kalau tidak, Papa akan menarik semua saham dari perusahaanmu." Tegas Andreas.
Deg!
"Pah!"
Ergan membeku, bagaimana mungkin Andreas mengancamnya seperti itu.
Dengan tatapan dingin Ergan berkata, "Oke, silahkan Pah. Lakukan apapun yang Papa mau. Ambil semua saham dan aset dari perusahaan Ergan. Biarkan Ergan hancur! Tapi jangan harap aku meninggalkan Amelia. Ergan pergi!" Balas Ergan.
Ergan mencium tangan Karisma kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah besar dan mewah itu. Sedangakn Rania menangis meraung-raung minta Ergan kembali.
"Diam Rania! Mama pusing, Sudah berapa kali Mama peringatkan kamu untuk terus mendekati Ergan, tapi kamu malah asik jalan-jalan keluar negeri. Ini akibat kelalaianmu sebagai seorang istri. Seharusnya kamu ikut kemanapun suamimu pergi. Bukannya pergi bersenang-senang sendiri." Karisma meninggalkan Rania yang masih bergeming menuju kamarnya.
"Papa sudah berusaha menahan Ergan. Kamu tau sendiri bagaimana keras kepalanya anak itu. Jika Papa dan Mama tidak bisa menghentikannya, maka kamu sendiri yang harus berusaha menarik hatinya kembali." Pesan Andreas kemudian menyusul Karisma masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Rania menghapus air matanya, ia tidak terima begitu saja dengan pernikahan Ergan. Sampai kapanpun ia tidak akan mau dipoligami, dimadu, apa lagi diceraikan.
"Baiklah Amelia, aku bersumpah akan merebut Erganku kembali. Dia akan membuangmu suatu hari nanti." Monolog Rania kemudian mengambil ponselnya.
Rania menghubungi temannya yang berprofesi sebagai pengacara. Ia membuat janji temu di sebuah restoran untuk membahas masalah dokumen pernikahan Ergan.
Sebelum masuk kedalam mobil Ergan melihat Brian turun dari mobil. Tatapannya tajam mengarah pada Ergan.
Bugh! Bugh! Bugh!
Tanpa ampun Brian langsung memukul kakaknya tanpa ampun.
"Ergan, Brian..!" Jerit Rania saat melihat Brian memukul Ergan.
Brian dan Ergan menoleh, sesaat kemudian mereka kembali bertatapan dengan tajam.
"Brengsekk!" Tangan Brian kembali mengepal kemudian terangkat memukul Ergan kembali.
"Brian! sudah..!" Rania menghampiri Ergan karena cemas melihat darah keluar dari sudut bibirnya.
ART yang melihat perkelahian bersaudara itu segera melapor pada Karisma. Karisma segera keluar kamar meninggalkan suaminya di kamar mandi. Saat di depan pintu, ia dikejutkan dengan aksi Brian dengan brutal memukul Ergan. Beruntung Kakaknya itu tidak melawan. Jika ia, maka sudah dipastikan Brian akan kalah.
"Brian! kamu mau kakak kamu mati? Jika kalian seperti ini lebih baik bunuh Mama saja." Jerit Karisma.
Brian langsung menghentikan aksinya menoleh pada Karisma. Ditatapnya wajah sang Mama dengan tatapan sendu dan penyesalan. Napasnya masih memburu menahan emosi. Dia tidak berniat memukul Ergan tapi hatinya begitu hancur saat mengetahui jika wanita yang dicintainya telah menikah dengan kakaknya sendiri yang statusnya sudah menikah dan memiliki anak.
Ergan menyunggingkan senyum tipis sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Ia sadar telah melukai hati adiknya. Melawanpun percuma karena semua sudah terjadi.
"Maafkan kakak. Kakak mengaku salah." Lirih Ergan.
"Kakak tau aku sudah jatuh cinta padanya, tapi kenapa masih menikah dengannya, hah?!" Brian frustasi, hatinya perih bagai tertusuk pedang. Ia baru saja membuka hati pada Amelia tapi kenapa kakaknya merebut wanita itu.
__ADS_1
"Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut Ergan.
Brian tersenyum menaikkan sudut bibirnya. "Kakak egois! tidak cukupkah hanya dengan satu wanita saja? Kenapa harus Amelia? apa tidak ada gadis lain? Dia milikku kak!"
"Dia istri Kakak!"
Skak mat. Brian langsung bungkam. Tubuhnya lemas bagai raga tak bernyawa. Ia tidak menyangka jika hubungan mereka sudah sejauh itu. Beberapa kali Brian menghubungi Amelia untuk mengajaknya jalan, tapi Amelia selalu menolaknya dengan alasan bekerja atau di luar negeri.
"Sejak kapan?"
"Beberapa hari setelah dia datang ke rumah. Kakak sengaja menyembunyikan pernikahan kami karena kakak masih terikat pernikahan dengan Rania, sedangkan Amelia masih terikat kontrak kerja dengan Maskapai." Jelas Ergan.
"Jadi saat dia di rumah Kakak dan dia sudah?"
"Ya, kami saling mengenal, kakak punya alasan sendiri kenapa menikah dengannya. Sendainya kakak bisa memilih, kakak tidak akan memilihnya karena kakak tau kamu suka padanya. Kakak harap kamu mengerti." Ergan menepuk pundak Brian kemudian measuk ke dalam mobilnya.
...............
Sudah beberapa hari berlalu setelah kejadian menggemparkan dunia maya. Amelia masih takut keluar dari Apartemennya. Ia sangat malu, meskipun video itu cepat menghilang, namun sebagian masyarakat sudah melihatnya. Amelia juga tidak mau makan jika tidak dipaksa oleh Ergan.
Untuk sementara Amelia tidak memegang ponselnya karena disimpan oleh Ergan, ia juga tidak di perbolehkan menonton tv. Ergan tidak ingin Amelia semakin tertekan. Melihatnya tidak mau makan saja sudah membuatnya frustasi. Apalagi jika Amelia membuka medsos dan melihat cibiran dari para netizen dan pesan dari teman-temannya, Amelia bisa depresi karenanya.
Ergan membuka pintu kamar, dengan perlahan ia mendekati Amelia yang duduk dilantai bersandar pada dinding kamar dekat jendela. Kedua lututnya ditekuk, matanya sembab memperlihatkan kesedihan yang mendalam.
Semalam Lidya menelponnya untuk pulang ke Surabaya jika dirinya sudah tidak tahan. Namun sayang Ergan mengurungnya dalam Apartemen.
Amelia mengangkat wajahnya datar dan dingin menatap Ergan. Ia tahu jika Ergan tidak penah ke kantor karena dirinya. Pria berkharismatik itu lebih banyak di Apartemen menyelesaikan pekerjaan.
"Sampai kapan kamu menyiksa diri seperti ini?" Ergan mendekatkan wajahnya, mengangkat wajah Amelia dengan mencapit dagunya.
.
__ADS_1
.
Bersambung....