Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Agenda


__ADS_3

"Arghh! sepertinya aku harus menyuruh Tirta menghilangkan Agenda meeting pagiku. Rasanya aku nggak mau berpisah denganmu sayang.."


Semenjak kehadiran Amelia dan Azka, Ergan merasa malas pergi kekantor.


"Mas.. jangan seperti itu, kasihan Tirta sudah mengurus semuanya, masa dibatalkan begitu saja."


"Jangan suka membelanya sayang... nanti dia besar kepala," kesal Ergan kemudian menarik kursi untuk sarapan.


"Iya, iya, sekarang ayo kita sarapan."


Amelia dan Ergan sarapan berdua tanpa Azka karena masih tidur.


"Mas, aku bangunkan Azka dulu ya?" tanya Amelia beranjak untuk pergi, namun tangan Ergan menahannya untuk tetap duduk.


"Nggak usah sayang, biarkan saja dia tidur. Sekarang temani dulu suamimu sarapan," ujar Ergan.


"Iya Mas." Amelia kembali duduk.


Amelia mengambilkan makanan untuk suaminya kemudian mereka makan bersama. Kehangatan dalam rumah tangga kembali dirasakan Ergan. Memiliki istri yang mengurus segala keperluannya, mengurus anaknya dengan baik dan penuh kasih sayang, serta Amelia menyempatkan diri untuk membuatkannya makanan.


"Makasih sayang..." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Ergan.


"Makasih apa ya Mas?!" tanya Amelia bingung.


"Sudah bersedia kembali dan berdampingan dengan Mas. Sudah melahirkan Azka dan membesarkannya dengan baik, dan mencintai Mas tanpa syarat. I love you, Amelia." ujar Ergan sambil menggenggam tangan Amelia lalu menciumnya.


"I love you too sayang.." balas Amelia tersenyum.


"Dad.. Mom..!"


Panggilan Azka dari arah pintu kamarnya membuat mereka seketika berbalik. Azka baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan sambil mengucek matanya. Memakai piama berbahan kaos lengan panjang dan celana panjang berwarna biru bergambar mobil tayo, membuatnya semakin lucu dan menggemaskan.


"Anak Mommy sudah bangun? sini, mau sarapan barengan Daddy?" tangan Amelia terulur memanggil Azka.


Azka berjalan pelan menghampiri Amelia, ia merangkul leher Amelia saat mengangkat tubuh mungilnya untuk duduk di kursi.


"Azka mau makan apa?" tanya Amelia.


Azka memperhatikan makanan dimeja, "Roti coklat," jawab Azka.


Amelia tersenyum kemudian memberikan roti coklat ke tangan Azka. Setelah itu ia mengambil susu yang sudah disiapkan khusus untuk Azka.


"Minum susu dulu ya?" bujuk Amelia.

__ADS_1


Azka mengangguk kemudian minum susu disuapi Amelia. Hanya minum beberapa teguk saja Azka sudah bergenti lalu mulai menikmati rotinya.


Ergan memperhatikan cara Amelia memperlakukan Azka. Begitu hangat, lembut, dan penuh kasih sayang. Dalam hati ia bersyukur karena beruntung sekali dirinya mendapatkan wanita seperti Amelia dalam hidupnya.


Setelah sarapan Ergan keluar dari rumah diantar Amelia dan Azka. Amelia mencium tangan Ergan dan Azka melakukan hal yang sama setwlah itu mereka melambaikan tangan.


Ergan masuk kedalam mobil setelah Tirta membuka untuknya. Ergan langsung membuka kaca mobil karena masih ingin melihay istri dan anaknya.


"Bye- Daddy, semangat kerjanya ya..." Amelia meniru suara Azka menyemangati Ergan.


"Tentu sayang, kalian jaga diri di rumah ya? pulang kantor kita ke rumah Mama bawa Azka," ujar Ergan sebelum Tirta melajukan mobilnya.


Tirta melaju dengan kecepatan rata-rata, melewati jalanan ibu kota yang macet, lampu merah dan gedung-gedung menjulang tinggi.


Setelah tiga puluh menit, mereka tiba di kantor, Ergan berjalan sisamping Tirta menuju lift melewati karyawan yang baru datang.


"Selamat pagi Pak," sapa karyawan satu-persatu.


"Selamat pagi," balas Ergan membuat mereka seketika tercengang.


Selama tiga tahun, baru kali ini Ergan menjawab salam sapa mereka. Biasanya wajah Ergan datar dan dingin namun tetap berkharisma dimata mereka.


Tirta menekan tombol lift tanda keatas disisi kanan lift.


Ting!


"Hari ini agenda gw apa aja?" tanya Ergan.


Tirta membuka ponselnya, melihat catatan yang sudah disimpannya kemarin.


"Jam sembilan meeting dengan CEO PT. Baja Mas Pak Jefri, jam dua belas makan siang bersama Pak Tirta. Jam satu meeting di Hotel Smile bersama Pak Lukito. Jam tiga meeting dengan Pak Erlangga di Restoran seafood Zizio," jelas Tirta.


"Coba ulang jam dua belas." Ergan menyipitkan matanya ke Tirta, alisnya berkerut dengan tatapan mata tajam.


"Jam dua belas makan siang bersama Pak Tirta." Tirta membeo dengan suara tebata-bata.


"Schedule di jam dua belas cancel. Gw mau makan siang bersama istri dan anak gw." tegas Ergan.


"Lho, kok gitu sih bos! itu juga penting demi kelangsungan hidup perusahaan Jaya Mandiri Group." kesal Tirta tidak terima. Setidaknya jika makan bersama Ergan dia tidak perlu mengeluarkan uang pribadinya.


Mendingan untuk para jandaku, pikir Tirta.


Ting!

__ADS_1


Lift lift kembali terbuka dilantai dua puluh dua dimana ruangan CEO dan Asistennya itu berada. Mereka keluar lift dengan langkah lebar menuju ruang CEO. Ayu sudah menunggunya di depan pintu dengan tumpukan berkas ditangannya. Ergan mendengus kesal melihatnya, rasanya ingin kembali pulang ke rumah bermain dengan istri dan anaknya.


"Lo bisa makan sendiri kan? gw sudah bosan, selama tiga tuhun terakhir gw makan siang bareng lo terus." Ergan melirik wajah Tirta yang sudah ditekuk.


"Selamat pagi Pak," sapa Ayu sedikit membungkuk.


"Pagi," Jawab Ergan kemudian langsung masuk ke ruangannya.


Tirta dan Ayu saling melirik, sesaat kemudian Ayu memicingkan matanya menatap Tirta. Sepertinya sikap bosnya sudah lebih baik hari ini, tapi kenapa berbanding terbalik dengan wajah Tirta yang ditekuk?


"Pak Tirta marahan ya dengan bos?" tanya Ayu penasaran.


"Mau tau kenapa?" tanya Tirta mendekatkan wajahnya.


Ayu mengangguk, setidaknya ia tahu apa yang terjadi dengan mereka agar dirinya dapat mengantisipasi keadaan.


"Kepo!" bisik Tirta kemudian masuk melewati Ayu.


Ayu menghentakkan kakinya kemudian mengikuti Tirta masuk ke dalam.


"Pak, ini berkas yang harus Bapak periksa dan tanda tangani," ujar Ayu langsung meletakkan berkas diatas meja kerja Ergan. Setelah itu ia keluar dan melirik Tirta sebelum menutup pintu ruangan.


"Apa yang kamu lihat?" Ergan memicingkan matanya, menatap Tirta penuh selidik, kemudian melirik pintu yang baru saja tertutup.


Rupanya terjadi sesuatu dengan Sekertaris dan Asistennya itu. Ergan duduk dikursi kebesarannya, mengambil satu map berisi laporan penjualan. Punggung kokohnya bersandar pada kursi, matanya fokus melihat deretan huruf dan angka yang tertera di atas kertas putih itu.


"Kalo suka jangan diliatin aja, di pepet, kalau perlu nyosor langsung, keduluan laki-laki lain nya' ho lo! nyesel!" ejek Ergan sambil membaca berkas yang ada di tangannya.


"Ck, gimana mau di pepet? Lo buat aturan nggak boleh pacaran dalam kantor. Kalau ketahuan maka keduanya harus dipecat," jelas Tirta kesal.


"Memang benar, tapi gw nggak ngelarang karyawan pacaran. Gw hanya melarang pacaran dalam kantor, kalau diluar kantor terserah mau ngapain. Asal jangan menodai kantorku yang suci ini. Lo ngerti dong maksud aturan gw! hehehe... kenapa sekarang otak lo jadi lemot? lo sendiri yang buat aturan tapi nggak tau maksudnya," balas Ergan geleng-geleng kepala, masih tidak mengalihkan pandangannya dari kertas yang dia pegang.


"Ck, kenapa nggak bilang dari dulu?" Tirta berdecak kemudian segera keluar dari ruangan Ergan dan membanting pintu cukup keras, membuat Ergan tersentak dan tersenyum.


Didepan meja Ayu, Tirta menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Ayu yang masih bingung dengan sejuta pertanyaan diotaknya, ada apa dengan meraka?


"Kita meeting jam makan siang," ujar Tirta kemudian menuju ke ruangannya tanpa menunggu jawaban Ayu.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2